Kategori
Film Review

THE COLORS WITHIN


Nonton ini mungkin udah sebulan lalu. Butuh waktu lama buat mengapresiasinya karena ceritanya sendiri ga seru. Ga ada drama atau konflik yang kentara. Cozy aja gitu. Namun, ga masalah sih kalau ada film yang sajian utamanya ‘vibe’ dengan animasi warna-warni dan musik yang asik seperti ini.

Anime ini bercerita tentang Totsuko, cewek yang bisa melihat ‘warna’ dari seseorang. Mungkin semacam bisa baca aura, tapi lebih kayak sinestesia. Ia melihat kalau warna orang kebanyakan itu pucet. Dia sendiri ga tahu warna dia sendiri seperti apa.

Sampai suatu hari dia ketemu Kimi yang punya warna yang cantik. Totsuko jadi semacam kepo atau terobsesi dengan Kimi. Saat Kimi tiba-tiba dropout dari sekolah, Totsuko mencari-cari Kimi dan menemukannya sedang latihan gitar sambil nyambi kerjaan di sebuah toko buku bekas terpencil. Di sana juga ia bertemu dengan Rui yang tertarik dengan suara gitar Kimi. Karena gugup bikin-bikin alasan mencari Kimi, Totsuko nyeletuk mau bikin band lalu mengajak Kimi dan Rui buat gabung.

Dibanding ceritanya, musiknya lebih menarik. Ada tiga lagu utama yang ceritanya dibikin oleh masing-masing karakter utama dan merefleksikan perasaan mereka. Aku baru denger lagi musik-musiknya sekarang dan makin suka. Kalau suka dengan J-POP alternatif atau indie, bakal langsung suka.

Karena Totsuko bersekolah di sekolah asrama Kristen, bandnya terkesan jadi band religi. Dengan waktu rilis yang deket Natal dan ada adegan natalan, kayaknya film ini memang dimaksudkan buat jadi film natalan.

Aku mencoba menghubungkan soal kemampuan Totsuko melihat warna dan tema musikal dalam film ini. Orang-orang yang warnanya cerah di mata Totsuko adalah yang suka bermusik. Totsuko juga baru bisa melihat warnanya sendiri saat sedang menari. Jadi, apa kata kuncinya? Musik? Seni? Passion? Apapun itu, aku setuju. Orang yang bisa musik dan punya passion, vibe-nya memang beda.

Sepertinya film ini sudah ga tayang di bioskop Indo. Kalau muncul di layanan streaming, aku tetep rekomendasiin.

Btw. Perspektif itu susah dan kenapa tiap  aku gambar selalu kekecilan? -_-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *