Akhirnya kesampean juga nonton film Malaysia di bioskop (Bront Paralae yang main di Dendam Malam Kelam aktor Malaysia sih, tapi ga diitung film Malaysia) dan yang ditonton adalah film terlaris kedua sepanjang sejarah perfilman Malaysia. Prestasi yang sangat pantas.
Bercerita tentang dua sahabat dalam perebutan kekuasaan di suatu keluarga gangster yang mengepalai sindikat “9 Naga”, film ini kualitasnya sudah setara dengan film-film aksi Hongkong yang bertema triad atau mafia. Bedanya di sini ada bumbu budaya Melayu. Koreografi pertarungan, maupun tembak-tembakannya yang seru berpadu dengan adegan drama dan komedi secara rapi dalam ceritanya yang sederhana. Plotnya cukup tipikal, tapi eksekusinya menjadikan film ini terasa fresh.
Memang banyak adegan klasik film aksi, seperti mobil yang meledak saat ditembaki, yang sebenarnya tidak mungkin terjadi. Tapi, persetan fisika. Yang penting rame! Lol.
Kalau mau dibandingin sama The Raid (rasanya tidak perlu), mungkin agak beda. The Raid lebih ke film aksi bela diri, seperti film-film Jet Li. Bara Naga lebih ke film aksi gangster, seperti film-film Chow Yun Fat.
Sepertinya film-film terlaris di Malaysia saat ini kebanyakan film aksi. Bisa jadi Malaysia akan mengambil alih Hongkong sebagai pusat produksi film-film aksi di Asia, atau setidaknya Asia Tenggara. Tapi entah ya. Film aksi Indonesia sendiri rasanya belakangan kurang booming. Masih kalah gaung sama horor.
Hal menarik lainnya dari film ini adalah penggambaran polisi yang… gak korup dan bertindak sesuai hukum, tapi nyebelin! Bos gangster lagi berkabung karena anaknya dibunuh. Kapten polisi dateng-dateng langsung nyinyir! Tetep aja saat lagi ngawal diserang gangster langsung mundur. Lol.
Ini menarik karena aku sekilas melihat logo pemerintahan Malaysia di awal film jadi kupikir film ini didanai atau setidaknya ada dukungan pemerintah dalam bentuk apapun. Kalau itu benar, lucu juga pemerintah Malaysia mengizinkan penggambaran polisi seperti itu. Kalau nanti di Indonesia Polri beneran bakal dilibatkan buat nyensor film-film lokal, aku ingin polisinya boleh ditampilkan cupu dan nyebelin juga, kalo ga boleh ditampilin korup.
Thriller lokal dengan plot twist yang bisa kutebak tapi salah mulu. LOL. Maksudnya, sepanjang film aku tahu bakal ada plot twist dan kupikir bisa menebak akan seperti apa plot-twistnya. Tetap tidak terduga. Padahal “pistol chekov”-nya sudah ditunjukkan dari awal. Cuman karena adegan-adegan lain sepanjang film, adegan yang menunjukkan “pistol chekov” itu jadi dilupakan. Inti dari plot twist drama “mayat hilang di malam kelam dan seorang detektif menginterogasi tersangka pembunuh/suaminya yang kena teror” ini adalah: siapa yang dendam?
Film yang seru buatku. Kalau saja akting pemeran pendukungnya ga terlalu kaku dan tata suaranya ga terlalu berisik.
Btw di film ini seragam polisinya sengaja dibuat beda dengan Polri beneran ya?
Untuk film pertama tahun ini, aku random aja datang tanpa rencana mau nonton film apa. Yang jelas, rasanya ‘haus kekerasan’; pingin nonton film aksi. Liat poster film ini di bioskop kayaknya meyakinkan. Kayak pernah dengar judulnya tapi ga tahu reviewnya.
Ini adalah film aksi Hongkong campur drama ruang sidang, meski di akhir lebih banyakan aksinya. Cukup memuaskan dahaga dengan aksi kungfu ala Donnie Yen yang berperan sebagai pensiunan polisi lanjut kuliah lagi buat jadi jaksa. Agak propaganda polisi dan sistem peradilan Hongkong, tapi menunjukkan juga sisi korupnya dikit.
Porsi aksi dan dramanya lumyan, meski ada adegan yang agak aneh seperti saat Donnie Yen masuk ruang sidang dengan muka bengep di penghujung film. Yah, tapi yang lebih konyol lagi sih, wig era Victorian yang masih wajib dipake hakim dan pengacara di ruang sidang di Hongkong. With all due respect sama tradisi ruang sidang di sana, tapi kalau perlu pakai tutup kepala, kenapa ga pakai topi tradisional ala Judge Bao?
1 Kakak 7 Ponakan
Remake dari sinetron 90’an yang diadaptasi dari novel (atau cerbung?) karya Remy Silado. Jujur dari sinetron itu yang aku ingat cuma Sandi Nayoan dan Novia Kolopaking, dua pemeran utamanya, beberapa adegan, serta lagu temanya. Bahkan, aku ga ingat 1 kakak dan 7 ponakan itu siapa aja.
Ceritanya, Moko, seorang calon arsitek harus menunda karirnya saat tiba-tiba kakak dan iparnya meninggal dalam waktu berdekatan. Pasalnya, Moko harus mengurus 2 ponakan, 1 ponakan almarhum kakaknya, dan tambah 1 lagi yang baru lahir. Oke, itu udah 4 ponakan. Lalu mantan gurunya datang dan memohon untuk menitip putrinya. Jadi 5. Lalu, kakak moko yang satu lagi, Osa (yang dulu diperankan Novia Kolopaking) dan iparnya, Eka, pulang dari Australia dan tinggal bersama mereka. Saat Maurin, pacar Moko, nyeletuk 7 ponakan itu termasuk kakak dan iparnya itu, penonton langsung ‘oooohh gitu’.
Moko yang harus berjuang dalam keluarga yang serba kekurangan, mengurus ponakan yang macem-macem, dan mencoba lagi meniti karir sebagai arsitek, merasa bertanggungjawab untuk menanggung beban itu sendirian. Bahkan dia sempat putus dengan pacarnya karena merasa masa depannya suram, sampai mereka dipertemukan lagi di tempat kerja baru Moko. Ponakan-ponakannya juga melihat Moko berkorban sendiri. Maka saat mereka didorong (atau dimanipulasi) oleh Eka untuk mencari kerja, meski kebanyakan mereka masih di bawah umur, mereka menurut saja karena merasa bersalah dan ingin membantu Moko.
Kunci film ini adalah saat Ais, anak titipan gurunya Moko yang suka main piano, bercerita pada Moko bahwa ia main piano untuk mengenang masa saat ia dan ayahnya masih bersama. Saat balik ditanya pakah Moko juga punya hal yang dilakukan untuk mengenang seseorang, kita diperlihatkan bahwa hal itu… ya semuanya; Alasan Moko mengurus ponakannya (dan mungkin juga menjadi arsitek, karena almarhum iparnya adalah arsitek juga) adalah untuk mengenang kakak dan iparnya. Di akhir, ia harus membagi perasaan itu dengan ponakan-ponakannya dan tidak menjadikannya beban sendiri.
Kecuali Eka.
Si brengsek.
Bagiku yang belum nonton remake Keluarga Cemara, semua karakter yang diperankan Ringgo itu ada aja brengsek-brengseknya. Film ini adalah standar atas kebrengsekan Ringgo.
Aku bersyukur ini film lokal pertama yang kutonton tahun ini. Pokoknya bagus. Tanya aja David Gadgetin.
Ah, terakhir, sebelumnya aku khawatir theme song yang lama ga dimasukin ke film ini. Soalnya, lagunya jadul dan kupikir ga akan bagus mau diremake kayak gimana juga. Ternyata lagunya ada. Meski ga jadi tema utama yang diulang-ulang. Lagu itu dimainkan oleh Ais pakai piano dan dinyanyikan bareng ‘adik-kakak’-nya sebagai adegan yang menyenangkan di tengah-tengah hidup mereka yang serba susah. Tentang bagaimana keluarga yang susah ini masih nyimpen piano, aku ga mau pikirin.
Perayaan Mati Rasa
Protagonisnya kurang bikin simpatik. Memang sih bapaknya jarang ada karena melaut, tapi bapaknya ini mencoba dekat sama anak-anaknya, meski kadang banyak nuntut sedikit ngajar. Si protagonis yang namanya aku lupa lagi ini kayak yang ngambek dengan ketidakhadiran bapaknya tapi malah menolak bapaknya pas lagi ada.
Ceritanya lumayan menarik sih. Pas bapaknya ini hilang di laut, si protagonis dan adeknya berusaha menyembunyikan ini dari ibu mereka yang lagi sakit jantung. Karena peristiwa perahu bapaknya yang hilang ini tersiar di berita-berita, mereka sampai motongin kabel-kabel TV di pasar kaen pas ibunya belanja. Lol.
Yang paling berkesan buatku di film ini malah Dinda anak tetangga yang lebih siaga jaga sang Ibu daripada dua anak cowoknya yang labil.
Flow
Animasi kucing nyelametin diri dari banjir ini pemenang Oscar kategori animasi. Ga ada dialog. Hanya animasi dengan gerakan yang semi realistik, tapi visual yang stylized. Sangat stylized, hingga setiap helai daun kayak yang digambar tangan satu-persatu.
Ceritanya sebenarnya kurang jelas, sih. Yang bisa kupahami, ceritanya si kucing yang kebanjiran dapet mimpi buat pergi ke tempat tertinggi. Berlayarlah ia pakai perahu. Di perjalanan, dia bertemu hewan-hewan lain yang ikut numpang dengan kelakuan yang beda-beda. Ada banyak adegan magis di film ini yang tidak terlalu jelas namun berperan dalam cerita.
Rasanya film ini memang lebih ke vibe saja daripada cerita, meski cukup jelas bahwa ini adalah soal pembelajaran agar si kucing yang biasa hidup sendiri bisa belajar hidup bersama hewan lain.
Oh, film ini produksi Latvia kalau ga salah, ko-produksi dengan Perancis dan Belgia. Hebat juga sih ada studio yang bisa ngalahin studio-studio Hollywood di Academy Awards. Well…. Selain Ghibli.
I’m Still Here
Film Brazil tentang keluarga yang bapaknya dihilangin sama militer. Film ini menang Oscar kategori film bahasa asing.
Menurutku, film-film seperti ini bisa jadi jembatan yang menghubungkan perasaan senasib buat negara-negara dengan masalah yang sama: militerisme diktatorial. Pengalaman luka satu keluarga yang akan terwariskan karena tidak ada kejelasan tentang anggota keluarganya yang dihilangkan, atau dieksekusi secara tidak adil, oleh pemerintah adalah universal. Bahkan bagi masyarakat di negara-negara ‘demokrasi’ sekalipun.
Dalam film ini, akta kematian bapaknya keluar setelah istrinya berpuluh tahun berjuang. Pelakunya? Jelas tak tersentuh. Ah, cerita klasik.
Hanya saja… karena keluarganya ini tergolong keluarga menengah atas yang berprivilege, aku kurang bisa bersimpati dibanding seperti saat nonton film Istirahatlah Kata-Kata atau Autobiografi.
Tapi, yah, dibrengsekin negara sakitnya sama saja kalau dah menyangkut nyawa. Berapapun duit yang kita punya.
Ne Zha 2
Ne Zha yang pertama kalau ga salah banyak yang ngomongin. Ne Zha 2 ini lebih banyak lagi yang ngomongin. Jadi, aku ajak Rais buat nonton ini di Garut.
Dan benar kata orang-orang. Animasi dan ceritanya epic. Yah, meski untuk segi cerita banyak pengadeganan yang kurang pas. Kalau dari segi animasi, mantap banget. Kayaknya aku sudah bisa melihat gaya animasi China yang detail sekaligus stylized terdefinisikan dalam film ini.
Gilanya, animasi yang epic itu ga turun-turun kualitasnya sepanjang film. Seperti ga pake konsep ‘sakuga’ (ngebagusin animasi di beberapa adegan penting saja). Dan gitu terus selama 2 jam! Hollywood could never…
Mungkin aku agak rasis kalau ngomong gini, tapi kayaknya cuma negara dengan 1,5 miliar penduduk yang bisa mengimajinasikan pertempuran dua pasukan orang dan siluman berterbangan di langit bagaikan dua gumpalan partikel-partikel yang bertumbukan dan berhamburan.
Men… China udah jauh banget.
Btw, kalau ga salah, film ini jadi film terlaris sepanjang masa di China. Dan kalau ga salah, Nez Zha dan sahabat/rivalnya, Ao Bing, jadi semacam gay icon di sana.
Mobile Suit Gundam GQuuuuuuX
Mungkin bukan titik awal yang tepat buat mengenal Gundam. Film ini diawali dengan adegan yang sepertinya berasal dari potongan film/seri Gundam terdahulu. Belakangan aku baru tahu itu adalah semacam alternate timeline dari cerita aslinya. Berarti, mereka meremake beberapa adegan dengan visual dan musik gaya 80’an dan hasilnya oke juga.
Itu makan setengah durasi filmnya. Setengahnya lagi, adegan beberapa tahun setelahnya dengan visual dan musik gaya anime masa kini. Musiknya diisi oleh VTuber… Suisei kalau ga salah? Dan sebenarnya itu yang bikin Rais ngajak aku nonton ini. Kami berdua belum pernah nontoon Gundam sama sekali. Well… aku pernah lihat Witch from Mercury sih, sekilas.
Film ini sebenarnya episode pertama dari serial yang bakal dirilis beberapa minggu setelah filmnya. Jadi ini adalah semacam prolog, tapi setengah film ini habis oleh prolog dari prolog-nya ini.
Intinya sih, ini tuh tentang Gundam GQUUUUUUUUUX yang dibikin buat mencari Gundam Red (kalau ga salah itu namanya) milik Char-Aznabel (meski bukan fans Gundam, aku sering dengar nama itu). Dan gak tahu kenapa tapi aku ngerasa ada semacam ‘gay tension’ di antara kedua robot ini.
Jumbo
Berdasarkan pengalaman nonton Battle of Surabaya dan Si Juki The Movie yang pertama, kunci menikmati animasi lokal adalah ekspektasi. Aku berekspektasi tinggi saat BoS. Hasilnya kecewa berat. Aku gak punya ekspektasi apa-apa waktu nonton Si Juki. Hasilnya, film ini lebih berkesan daripada Star Wars yang aku tonton dalam waktu berdekatan.
Jadi, aku agak hati-hati dalam berekspektasi soal film ini. Memang aku sudah nunggu film ini sejak lama. Aku ngikutin update film ini dari Twitter sutradaranya, Ryan Adriandhy, dan secara teknis kelihatannya menjanjikan. Secara cerita, aku gak yakin. Memang film animasi ini katanya ingin jadi film animasi anak yang bisa dinikmati orang dewasa juga. Tapi, aku gak yakin.
Dan yah, hasilnya begitulah. Ada momen-momen menarik di filmnya, ada pacing yang kurang pas dan alur adegan yang kayaknya putus. Visualnya kadang terasa detail, tapi kadang gambar yang detail ada pada style yang tidak proporsional. Entah gimana jelasinnya. Kadang muka orang sampai keliatan pori-pori, kadang terasa flat dan low render. Aku kurang suka musiknya. Kurang pas dinyanyikan sama karakter-karakter anak di dalamnya. Tapi, aku bisa paham kalau lagu ini bisa populer.
Soal elemen magis yang kurang dijelaskan, kambing yang terlalu warna-warni, color grading yang kecoklatan, dan… yah, kayaknya kalau nitpicking kekurangan-kekurangannya, ga abis-abis. Salah sih nonton ini abis nonton Ne Zha. Lol.
Namun, tantang bagaimana anak-anak menghadapi kesedihan dan kehilangan, dan adegan SAP! SAP! SAP! juga… Panitia Datar? Aubrey Plaza/Daria-coded character di film animasi bocah? Film ini melebihi ekspektasi di satu sisi dan di bawah ekspektasi di sisi lain. Jadi yah, sesuai ekspektasi lah. Lol. Aku ga keberatan film ini jadi salah satu film lokal terlaris sepanjang masa, dan mungkin terlaris tahun ini.
Ya, film ini baru saja tembus rekor terlaris sepanjang masa.
Saat aku nonton di Chiwalk, antrean masuknya panjang banget (entah kenapa pintu dibukanya lama banget). Lalu ada 2 orang dewasa yang nyelak antrean buat masuk. 2 Om-om. Nyelak antrian. Buat nonton film anak. Adult animation fans are the worst. Lol.
Ah, tapi yang penting, penonton memberikan aplaus saat film berakhir. Ponakanku Kira nonton di waktu yang lain, dan katanya habis nonton orang-orang pada tepuk tangan juga.
Film animasi ini cukup pantas menjadi baseline untuk industri animasi lokal. Lucu juga. Di Indonesia dan China, film terlaris tahun ini adalah film animasi.
Pengepungan di Bukit Duri
Agak kecewa karena berharap lebih epic. Trailernya seperti menunjukkan kalau film ini bakal menampilkan banyak adegan pengepungan oleh massa yang rusuh ke sebuah sekolah. Ternyata yang mengepung cuma berandal-berandal SMA yang teradikalisasi oleh rumah tangga yang rusak dan masyarakat yang menormalisasi rasisme.
Well… sebenarnya gak teradikalisasipun anak-anak SMA itu berbahaya banget. Energi mereka di puncak, tapi otak mereka masih mangkrak.
Jokowi- eh, Joko Anwar bohong saat bilang ga bikin film horor. Film ini horor. Hantunya adalah remaja-remaja labil.
Namun, dia ga bohong waktu diwawancara dan bilang kalau film ini buat ngertiin plotnya ga perlu mikir. Ini memang lebih mudah dicerna dibanding film-film Joko Anwar yang pernah kutonton.
Secara umum masih bagus sih. Hanya saja, tema rasisme yang sepertinya tadinya mau dijadikan bahan pembicaraan, sepertinya jadi gimmick yang terpinggirkan. Dan, mengingat isu yang populer belakangan, aspek yang mencuat jadinya soal kenakalan remaja. Perlu nulis lebih panjang soal itu.
Intinya, sebagai film yang ingin membicarakan soal rasisme, film ini kurang berhasil. Memang sih, kita perlu membicarakan bagaimana rasisme ini mempengaruhi generasi muda kita. Namun, kayaknya kalau untuk menangkal rasisme, menampilkan bahwa orang keturunan Tionghoa sama-sama berjuang dan susah seperti orang ‘pribumi’ seperti di film Cek Toko Sebelah, itu lebih efektif. Setidaknya, bagiku yang sebenarnya agak rasis juga.
Dan kenapa kalau soal rasisme yang selalu dibahas adalah antara ‘pribumi’ dan keturunan Tionghoa? Memang sih, biasanya agamanya berbeda, gaya hidupnya berbeda, dan ada peristiwa traumatis yang menjadi talking point terkait rasisme terhadap mereka (Kerusuhan 98). Masyarakat kita sebenarnya rasis (atau mungkin lebih tepatnya xenofobik?) terhadap orang yang berbeda suku dan atau agama, apapun suku dan agamanya. Aku gak tahu peristiwa apa yang bisa diangkat untuk membahas itu, tapi kalau kita masih mau ‘memancing diskusi’ seperti Joko Anwar di film ini, semoga ada filmmaker yang berani mengangkat konflik laten antar suku dan antar agama di masyarakat kita yang masih terjadi.
Aku tidak pernah selesai dengan Attack on Titan, karenanya aku menonton Attack on Titan: The Last Attack yang sebenarnya hanya rekap episode-episode terakhir anime tersebut. Setelah itupun, aku masih belum selesai. Ada perasaan, seperti tidak puas, mungkin kecewa, tapi juga tidak ada pilihan untuk tidak menerima, seperti terpaksa menerima. Kurang lebih, sama seperti yang aku rasakan bertahun lalu saat membaca episode terakhir dari manganya. Perasaan yang tidak pernah selesai.
Karenanya aku ingin menuliskan, lebih tepatnya menguraikan unek di hati ini agar lega. Harusnya aku menuliskannya, bukan mengetikkannya. Seperti ada yang lebih bisa menguras saat menulis di atas kertas. Namun, menulis seperti itu juga ada kekurangannya, dalam publikasi dan dalam merapikan pilihan kata yang tepat agar puas.
Suatu cerita dikatakan selesai, serta selesai dengan memuaskan, jika:
Permasalahan serta pertanyaan yang muncul dalam cerita telah terjawab dan terselesaikan
Nasib karakter-karakter utama di dalamnya dijelaskan di akhir; sub-plot masing-masing karakter selesai
Begitu menurutku. Apakah film ini membantu cerita Attack on Titan memenuhi keduanya?
PERTANYAAN SOAL MOTIVASI
Sulit untuk hanya memilih satu pertanyaan terbesar yang harus di jawab dalam cerita Attack on Titan. Begitulah kalau sebuah cerita terlalu banyak menyinggung banyak topik. Perang, kebebasan, rasialisme, dan genosida; intinya, Attack on Titan membahas paradoks kehidupan yang kejam namun sekaligus indah serta siklus kekerasan yang tidak ada habisnya. Dalam lingkup itu, ada beberapa hal yang menarik dibahas. [FF1]
Pembahasan ini bukan ingin menggali pesan moral atau semacamnya, karena itu tidak penting. Yang paling penting dalam konteks Attack on Titan, kita ingin ada alur logika yang masuk akal tentang motivasi setiap karakter. Khususnya, karakter protagonis yang berubah jadi antagonis seperti Eren. Memang sih, di kehidupan nyata, motivasi kebanyakan orang itu ga logis. Namun, dalam dunia fiksi, ini seperti sebuah kewajiban yang dituntut oleh penonton atau pembaca.
Aku pikir, yang sering bikin kita kesal adalah jika motivasi antagonis dipatahkan oleh protagonis dengan argumen yang lemah. Atau, jika motivasi atau landasan ideologis tiap karakter terlalu belibet, terlalu dalam atau terlalu dangkal, dan terasa seperti ‘alur plotnya begini karena keren aja kalau gini’. Jadi, aku ingin menilai, atau memahami lebih dalam, mengenai beberapa poin motivasi yang menarik dari karakter utama di cerita.
EUTHANASIA/EUGENICS DAN MENGAPA ZEKE MENYERAH SOAL INI
Rencana besar Zeke Yeager, salah satu antagonis sekunder dalam cerita, adalah menggunakan kekuatan Founding Titan untuk membuat orang Eldia tidak dapat mempunyai keturunan. Bangsa Eldia dibenci karena memiliki kemampuan untuk berubah menjadi Titan yang mengancam bangsa lain. Jika Eldia punah, urusan selesai. Baginya, ini solusi terbaik. Mencabut hak reproduksi, dan hak hidup generasi masa depan Eldian lebih baik daripada membiarkan dunia hidup dalam ketakutan terhadap orang Eldia sementara orang Eldia terus-terusan mendapat perlakuan kejam dan diskriminatif dari Marley dan seluruh dunia.
Lagian, buat apa sih hidup? Makhluk hidup cuma berkembang biak tanpa tujuan. Tidak ada yang spesial dari menyelamatkan hak hidup orang-orang Eldia. Tidak ada yang spesial juga dalam menyelamatkan dunia dari kehancuran oleh Rumbling (yang diterjemahkan secara gak enak sebagaii… ‘Guncangan Tanah’, yah, gak kepikiran alternatif lain sih aku juga).
Argumen Zeke, yang terjebak di alam “The Path”, ini dibenturkan kepada Armin yang ingin menyelamatkan dunia dari Rumbling. Sepertinya Armin tidak punya jawaban dari tujuan ‘kehidupan’ yang dipikirkan Zeke. Namun, Armin mencoba untuk mengalihkan pada satu momen. Momen kecil, seperti saat waktu kecil, Armin, Eren, dan Mikasa berlomba lari menuju pohon. Armin merasa bahagia sekali saat itu, sampai merasa bahwa itulah alasannya dilahirkan ke dunia. Ternyata, Zeke juga merasa punya momen seperti itu, Bagi Zeke, itu adalah saat ia bermain lempar bola dengan gurunya, Xavier. Dan untuk momen-momen kecil seperti itulah, yang tentunya berbeda-beda bagi tiap orang, hidup dan kehidupan layak diselamatkan.
Argumentasi Terkait Argumen Armin
Mungkin argumen Armin ini terdengar lemmmmmah, karena tidak semua orang punya momen bahagia seperti itu. Itu adalah sebuah ‘privilege’ bagi yang tidak terlahir dalam kecacatan, peperangan, kemiskinan parah (seperti Levi waktu kecil di kota bawah tanah), perbudakan (seperti Titan pertama, Ymir), atau situasi lain yang ekstrim tapi memang banyak dialami orang. Lagipula, secara rasional, kebahagiaan itu tidak memiliki guna dan tujuan juga.
Namun, argumen ini buatku masih bisa diromantisir dan dipertahankan dalam konteks cerita. Jika kebahagiaan itu penting dan semua orang berhak merasakannya, maka memperbersar kemungkinan terjadinya dengan memperbanyak kehidupan adalah sebuah ‘net positive’, kalau tidak bisa dibilang sebuah kebaikan. Selama kehidupan dipertahankan, kita bisa berupaya mengurangi kondisi-kondisi ekstrim seperti disebut di atas sehingga lebih banyak orang yang mengalami momen-momen kecil bahagia yang membuat mereka merasakan bahwa itulah alasan mereka dilahirkan ke dunia.
Argumen di atas terdengar naif, tapi setidaknya, cukup masuk ke karakter Armin yang aslinya… uh… softboy. Biasanya, menangkal argumen nihilisme pesimistis seperti Zeke bisa pakai argumen nihilisme optimistis; karena hidup ga ada tujuan, kita bebas menentukan tujuan hidup kita sendiri. Cukup cocok dengan tema ‘kebebasan’ di cerita ini, tapi secara keseluruhan kurang pas karena Rumbling dan genosida yang dilakukan Eren ini juga bentuk ‘kebebasan’, bukan? Juga, aku rasa tidak cocok dengan karakter Armin.
Diskursus yang dibawa Zeke dan Armin ini memang berat. Mungkin yang membuatnya menjadi kurang meyakinkan adalah bahwa perbedaan pandangan ini diselesaikan dalam satu diskusi singkat dan berhasil meyakinkan Zeke serta sebagian jiwa-jiwa karakter pengguna kekuatan Titan terdahulu, karakter-karakter yang dikenal Zeke dan Armin yang (entah bagaimana) bersemayam di “The Path”, untuk membantu Armin dan teman-temannya. Sepertinya memang perlu waktu atau adegan-adegan tambahan untuk terasa lebih meyakinkan.
KENAPA GENOSIDA?
Attack on Titan berubah setelah season ketiga, atau setelah arc pertempuran di Shiganshina untuk merebut Wall Maria dari pada Titan. Kebenaran di luar tembok terungkap. Eren menyadari potensi kekuatannya, masa lalu ayahnya, dan saat menyentuh tangan Historia yang mewarisi kekuatan Founding Titan, ia mendapat pengelihatan masa lalu dan masa depan sekaligus. Saat itulah Eren berubah.
Segala hal yang dilakukan Eren setelahnya, baik itu secara mandiri atau melalui berbagai kolaborator seperti Zeke, Floch, dan Yelena, berujung pada penggunaan kekuatan Rumbling untuk memusnahkan semua umat manusia di luar Pulau Paradis yang menjadi tempat tinggal orang Eldia. Genosida ini (terlepas apakah penggunaan istilah tersebut tepat atau tidak karena pembunuhan massal yang Eren lakukan tidak terbatas pada satu etnis atau ras tertentu, tapi seluruh umat manusia di luar Pulau Paradis, baik itu orang Eldia atau bukan) memusnahkan 80% populasi dunia. Hal itu, dari sudut pandang penonton, sangat berlawanan dengan karakter Eren yang ingin membasmi para Titan dan menyelamatkan umat manusia (yang awalnya kita kira hanya ada di dalam area yang dipagari tembok-tembok besar di Pulau Paradis).
Dialog terakhir Armin dan Eren membahas motivasi Eren dalam melakukan semuanya. Namun, bagiku, dan sepertinya bagi banyak penggemar lainnya juga, dialog ini kurang memuaskan. Aku tidak merasa mendapat jawaban jelas atas pertanyaan: “Kenapa ceritanya harus gini?”
Ada dua hal yang perlu disebutkan di sini. Pertama, ada perbedaan antara dialog akhir ini di manga dan anime-nya. Dialog di manga mengesankan bahwa Armin terlalu memaklumi genosida yang dilakukan Eren. Kalau tidak salah, hal ini diprotes banyak penggemar. Tidak heran kalau dialognya berubah. Namun, perubahannya tidak besar juga, sih. Kedua, Rumbling terjadi atas prakarsa dua orang: Eren dan Ymir, Titan pertama yang masih gentayangan di “The Path” untuk merawat kekuatan Titan dan melindungi keturunan Raja Fritz (yang berarti juga keturunannya) yang mewarisi kekuatan Founding Titan. Jadi, ada dua motivasi yang berpengaruh pada Rumbling. Meski Eren bisa dibilang memprovokasi Ymir untuk mendorong terjadinya Rumbling, Ymir punya motivasi terpendam yang tidak sepenuhnya dipahami Eren.
Karenannya untuk membahas pertanyaan “Kenapa genosida?” atau “Kenapa ceritanya harus gini?” kita perlu membahas kedua sudut pandang motivasi tersebut.
Sudut Pandang Eren: Melawan Dunia untuk Menyelamatkan Kawan
Dialog terakhir Armin dan Eren adalah kesempatan terakhir kita untuk memahami motivasi Eren. Yang aku tangkap dari dialog tersebut, Eren ingin agar Pulau Paradis, khususnya teman-temannya, selamat dari siklus peperangan yang tidak akan berhenti. Jika musuh-musuh di luar Pulau Paradis tidak dibasmi, mereka akan terus-terusan diserang dan penderitaan mereka akan terus berlanjut. Manusia di dalam dan luar pulau akan terjebak dalam siklus balas dendam tanpa akhir. Dengan genosida ini, peradaban manusia akan mundur ke tingkat yang setara dengan Pulau Paradis. Sementara dunia luar memulihkan peradaban, Pulau Paradis akan aman untuk mengejar ketertinggalan mereka. Jika sudah setara, Pulau Paradis akan lebih mampu mempertahankan diri.
Tambah lagi, untuk menghilangkan kebencian antara orang Eldia dengan yang lainnya, ia mendorong teman-temannya untuk membunuh dirinya, menghentikan Rumbling, lalu mereka yang merupakan orang Eldia dari Pulau Paradis ini akan menjadi pahlawan bagi dunia. Untuk melakukan ini, Eren sampai melakukan hal-hal yang membuatnya dibenci atau dijauhi oleh teman-temannya.
Pertanyaannya: “Apa perlu se-ekstrim itu untuk mencapai tujuannya?” Sebelum membahasnya, aku ingin menyebutkan ada motivasi-motivasi lain yang bikin runtutan motivasinya agak ruwet. Hal-hal yang bikin: “Bentar, jadi alasan Eren bikin Rumbling tuh apa sebenarnya?”
Motivasi Supplementer
Pertama, Eren kecewa terhadap dunia luar yang ternyata tidak seindah dan sebebas yang ia bayangkan. Penindasan terjadi di mana-mana, sama seperti yang terjadi di dalam tembok di Pulau Paradis. Bisa jadi Eren awalnya mengira penderitaan orang-orang di sekitarnya adalah karena adanya tembok yang mengurung mereka dan ancaman Titan. Ternyata tanpa tembok dan Titan, kekejaman dan penderitaan tetap ada. Namun, aku tidak ingat apakah hal ini pernah disebutkan secara eksplisit dalam cerita. Yang selalu disebutkan adalah, Eren dan Armin mengira dunia di balik tembok lebih indah dari tempat mereka. Kekecewaan ini mungkin juga dialami Ymir yang seumur hidup jadi budak di bawah Raja Fritz yang keji.
Sebenarnya, motivasi ini bisa jadi relatable bagi beberapa orang (yang tidak hidup dalam kondisi seperti Eren dan Ymir) yang memiliki pikiran-pikiran intrusif seperti ‘Kita perlu wabah untuk mengurangi populasi dan menyelamatkan planet Bumi’, atau ‘Kebanyakan orang itu memang brengsek, populasi manusia perlu di-restart’, atau ‘Thanos was right.’ Orang-orang yang ga perlu dianggap serius, tapi bisa dipuaskan dengan logika dangkal.
Kedua, Eren memuja kebebasan sampai-sampai menyebut dirinya sebagai ‘budak dari kebebasan’. Pernyataan yang paradoksial, mungkin karena konsep kebebasan itu sendiri sebenarnya paradoksial. Atau setidaknya relatif dan sangat terikat konteks. Eren sejak kecil memang suka ngelawan dan ngotot. Dalam konteks Eren yang lahir di dalam tembok dan mendapat trauma karena Titan, bebas artinya keluar dari tembok dan lepas dari bahaya Titan.
Namun, kembali ke poin sebelumnya, dunia luar tidak memberi kebebasan dan keamanan baginya dan kaumnya. Hanya sebagai Founding Titan yang meratakan tanah dengan Rumbling dia bisa bebas dan aman di dunia luar. Dalam perspektif lain, dorongan untuk bebas sampai harus melakukan Rumbling, yang sebenarnya Eren sendiri tidak ingin lakukan, justru tidak terlihat seperti sebuah kebebasan.
Ketiga, Eren ingin menghapus kekuatan Titan. Bukan karena Titan menjadi ancaman. Justru di akhir-akhir episode, Pulau Paradis memutuskan bahwa mereka harus memiliki kekuatan Titan untuk melindungi diri dari Marley yang juga punya kekuatan Titan. Namun, kita ingat bahwa untuk mewariskan kekuatan tersebut pada orang lain, orang itu harus memakan pemegang kekuatan Titan sebelumnya. Tambah lagi, pemegang kekuatan Titan juga berumur pendek. Jika ia meninggal tanpa dimakan, kekuatan Titan-nya akan muncul kembali secara acak di antara bayi orang Eldia yang lahir, yang mungkin bukan orang Eldia di Pulau Paradis. Karenanya, saling memakan untuk menjaga agar kekuatan ini tidak lepas ke tangan ‘orang lain’ akan rutin dilakukan.
Tak terkecuali pewaris darah bangsawan Reiss yang menjadi kunci untuk membuka kekuatan Founding Titan. Salah satunya teman Eren, Historia Reiss. Secara spesifik, Eren tidak ingin agar kehidupan Historia diatur-atur oleh masalah pewarisan kekuatan Titan. Aku lupa hubungan mereka bagaimana sehingga kurang yakin hal tersebut bisa jadi motivasi yang kuat. Yang jelas, Eren memberitahukan rencananya terkait Rumbling pada Historia sebelumnya. Ditambah lagi, ada teori bahwa Historia mengandung anak Eren, tapi ini tidak pernah dikonfirmasi. Historia jarang diceritakan di akhir-akhir episode, sehingga peran atau pengaruhnya pada motivasi Eren sulit ditakar.
Meski demikian, semua motivasi ini menurutku bukan argumen yang mengarahkan Eren secara personal untuk melakukan Rumbling. Kalaupun ngaruh, ini terasa seperti argumen sampingan yang mengikis hambatan-hambatan moral yang menghalanginya. Seakan argumen ini ditumpuk-tumpuk setelah pembaca kurang teryakinkan dengan langkah-langkah Eren di Season keempat dari animenya (atau paska time-skip di manga-nya).
Mungkin ‘Motivasi’ dan ‘Penyebab’ Adalah Dua Hal Berbeda
Kembali ke dialog Eren dan Armin, semua motivasi sampingan di atas disebutkan. Langkah Eren untuk menyelamatkan Pulau Paradis, khususnya teman-temannya, dengan menjadikan mereka pahlawan terasa runut dan mudah dipahami. Namun, motivasinya yang kurang meyakinkan. Sayangnya, kita hanya bisa menilai argumen yang secara eksplisit dan mungkin juga implisit disebutkan dalam cerita, dan memilih yang paling mudah kita pahami.
Hal yang perlu digarisbawahi dari dialog terakhir tersebut adalah… Eren sebenarnya hanya pemuda labil yang diberi kekuatan (dan tanggung jawab) terlalu besar. Sejak kekuatan Founding Titan-nya aktif saat menyentuh tangan Historia, dia mendapat ingatan masa lalu dan masa depan sehingga mengacaukan pikirannya. Tambah lagi, kekuatan seperti itu jatuh di tangan Eren yang memang sejak awal bukan orang yang paling cerdas atau sehat mentalnya.
Jadi… yah. Motivasi Eren melakukan semuanya adalah seperti yang dibahas di atas. Namun, penyebab Eren memilih secara spesifik tentang hal-hal yang dilakukannya, katanya (setidaknya yang dari yang aku tonton di film terakhir), adalah karena… Eren bego.
Jadi ingat video OSP tentang Idiot Plot. Idiot Plot itu plot yang tidak akan terjadi kalau semua karakter yang terlibat berpikir logis dan cerdas. Sebuah cerita bisa saja sama seperti suatu kejadian di dunia nyata; orang-orang yang terlibat tidak memiliki logika yang sempurna. Biasanya cerita seperti itu bikin garuk-garuk kepala; cacat logika yang kentara akan menghalangi orang untuk memahaminya atau menikmatinya. Namun, cerita seperti itu akan dapat diterima jika kebodohan yang terjadi memang sesuai dengan kepribadian dari karakter kunci dalam jalannya plot. Jadi, apakah karakter Eren memang membuat ceritanya jadi Idiot Plot yang dapat diterima?
Entahlah. Paska time-skip, Eren terlihat begitu meyakinkan dalam setiap langkahnya. Dia tidak terlihat ragu atau setengah-setengah dalam menjalankan rencananya. Kecuali, saat dia menyelamatkan seorang anak imigran di Marley, meski tahu bahwa dia akan membunuh anak itu dalam Rumbling. Kejadian ini ada di manga dan anime-nya, tapi aku rasa mendapat penekanan lagi di versi film-nya. Selain itu, Eren juga sudah mencoba memikirkan rencana-rencana lain, namun ingatan masa depannya menunjukkan kalau rencana lain tidak akan berhasil. Dia juga tidak mendapat jawaban lain terkait cara menyelamatkan Pulau Paradis dari orang-orang yang lebih pintar seperti Komandan Hange.
Secara umum, aku kurang teryakinkan bahwa Eren paska time-skip selabil Eren sebelumnya. Mungkin itu juga disadari oleh penulis cerita. Karenanya, dalam dialog Eren dengan Armin ada adegan Eren ‘merengek’ tidak ingin mati dan ingin bersama Mikasa. Namun, tetap saja Rumbling masih terasa seperti keputusan berdasarkan kalkulasi dingin, bukan keputusan bodoh dari bocah yang tidak mampu menemukan cara lain.
Jadi, yah, seluruh rangkaian adegan mulai dari Eren melakukan pembantaian di Marley hingga Rumbling, semuanya terasa terjadi karena “ceritanya bakal seru kalau begitu”. Namun, entahlah. Mungkin, kita lihat dulu saja sudut pandang yang satunya lagi.
Sudut Pandang Ymir: Cinta Adalah Perbudakan?
Di sisi lain, ada Ymir yang motivasinya lebih tidak jelas. Ymir yang memiliki kekuatan Titan pertama adalah budak, dan selir, Raja Fritz yang kejam. Meski hidupnya sedemikian menderita, namun Eren terkejut menemukan bahwa Ymir sebenarnya mencintai Raja Fritz. Entah semacam Stockholm Syndrome atau apalah, tapi ini agak gila. Ymir bahkan sampai melindungi Raja Fritz dari upaya pembunuhan dan malah meninggal karenanya. Ia lalu merawat kekuatan Titan dan melindungi bangsawan keturunan Raja Fritz dari dalam “The Path”. Bahkan sampai bisa menyelamatkan pewaris darah bangsawan seperti Zeke dari kematian.
Mungkin seperti seorang budak yang tidak tahu apa lagi yang bisa ia lakukan dalam hidup selain menghamba pada tuannya. Itu adalah cara dia berguna bagi orang lain. Dan dalam konteks Ymir, menggunakan kekuatan Titan-nya untuk kekuasaan Raja Fritz adalah caranya agar bisa terhubung dengan orang lain. Menurut Eren, Ymir merawat kekuatan Titan juga agar bisa terhubung dengan orang lain.
Yang Ditunjukkan oleh Mikasa
Aku coba memahami sudut pandang Ymir ini, dan tetap merasa bahwa ini gila. Ymir mungkin sadar bahwa dia diperbudak oleh penghambaannya dan cintanya pada Fritz, atau keinginannya untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Dan dia melihat bahwa Mikasa memiliki jawaban atas masalahnya. Ini juga tidak aku pahami. Mungkin rasanya sama seperti Eren yang tidak mengetahui apa yang akan Mikasa lakukan padanya di akhir, tapi tahu bagaimana hasilnya.
Di akhir, setelah Mikasa membunuh Eren, yang berdampak pada lenyapnya kekuatan Titan dari seluruh orang-orang Eldia, Mikasa bertemu dengan Ymir. Aku ingat ini adalah adegan tambahan yang tidak ada di versi awal dari manganya. Adegan ini menegaskan kembali bahwa Ymir diperbudak oleh cintanya pada Raja Fritz. Mikasa menunjukkan bahwa meski ia mencintai Eren, dia tetap dapat melawannya untuk menghentikan Rumbling. Mungkin, inilah yang ingin dilihat oleh Ymir; bahwa seseorang bisa membebaskan diri dari cinta. Setelah akhirnya tersadar dan membebaskan diri dari cintanya pada Fritz, Ymir tidak lagi merawat kekuatan Titan.
Jadi, semua plot yang mengantarkan kita pada Rumbling, adalah untuk meyakinkan Ymir untuk menghilangkan kekuatan Titan. Bukan membunuh Eren, tapi membebaskan Ymir dari penghambaannya lah yang membuat kekuatan Titan lenyap.
Aku baru menyadari ini saat nulis. Mungkin perlu waktu untuk mencernanya.
Ini benar-benar mengubah perasaanku terkait ending Attack on Titan.
Ah, baru nyadar juga. Eren pernah bilang kalau darah keturunan Ackerman seperti Mikasa dan Levi punya kecenderungan ‘menghamba’ pada seseorang. Ini sudah dikonfirmasi sebagai kebohongan. Namun, kondisi itu mirip seperti perasaan Ymir terhadap Raja Fritz. Menurutku, kalaupun teori soal keturunan Ackerman tersebut tidak benar, Ymir melihat perasaan Mikasa terhadap Eren mirip dengan yang ia miliki. Pada akhirnya, sikap mereka berbeda saat cinta mereka menjadi perwujudan kekejaman dunia; Ymir menyelamatkan Fritz, sedangkan Mikasa membunuh Eren. Itulah yang menghentikan siklus kekuatan Titan.
Ini Penting Nanti Saat Memahami Epilog Mikasa
Dialog (mungkin lebih tepatnya monolog) di akhir antara Mikasa dengan Ymir cukup menarik. Jiwa-jiwa yang hilang karena kekuatan Titan tidak akan kembali, Mikasa bilang, tapi ia berterima kasih kepada Ymir, karenanya lah ia hidup; karenanya lah orang-orang yang disayanginya dilahirkan. Itu menegaskan kembali tentang tema yang ingin disampaikan oleh Attack on Titan; bahwa lahir ke dunia adalah suatu anugerah yang indah.
EPILOG KARAKTER
Nasib-nasib karakter (yang masih hidup) di Attack on Titan cukup jelas, meski tidak akan pernah memuaskan. Sejujurnya, mengingat banyaknya kematian di awal-awal cerita, banyaknya karakter yang masih hidup cukup mengejutkan. Karakter-karakter utama seperti Armin melanjutkan upaya perdamaian, perlindungan Pulau Paradis, dan rekonstruksi paska Rumbling, sementara Pulau Paradis sendiri mulai dikuasai oleh… Nazi? Ada sedikit perbedaan di manga dan anime, tapi tidak begitu signifikan.
SEMUA DIMAAFKAN?
Hampir semua karakter utama memiliki ‘masalah’ dan ‘dosa’. Semuanya pernah melakukan pembunuhan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebagian bisa dimaklumi karena kondisi perang, tapi beberapa terlalu kejam bahkan untuk ukuran peperangan. Misalnya, Armin yang meledakkan pelabuhan di Marley dengan korban orang-orang sipil atau Reiner yang membobol tembok Maria dan mengakibatkan puluhan ribu kematian. Kasus Armin mungkin bisa dipahami sebagai strategi perang, kasus Reiner lebih sulit dimaklumi meski strategis (lagian, hei, setidaknya ia hampir bunuh diri karena menyesalinya), tapi yang paling sulit dimaklumi adalah: Annie.
Dosa-dosa Annie pada dasarnya sama strategis-nya dengan Reiner (termasuk saat ia membunuh seluruh anggota Squad Levi yang merupakan karakter-karakter penting), tapi adegan ia sebagai Female Titan memainkan mayat seorang anggota Survey Corps dan memutar-mutarkannya kayak yoyo, itu sangat berkesan buruk buatku karena seperti menunjukkan tidak adanya sisi kemanusian pada Annie. Aku suka Annie, dan kasus itu memang cocok dengan karakter Annie yang agak sadis. Namun, kalau Annie bakal bergabung dengan protagonis, rasanya masih perlu adegan lain yang membuat dosa-dosanya termaafkan. Memang, sih, aneh juga kalau aku memaklumi pembantaian-nya Armin, tapi tidak dengan kasus Annie itu.
Apapun itu, hanya Berthold dan Zeke yang ‘dihukum’ karena dosa-dosanya. Namun, Berthold, yang sama dosanya seperti Reiner, ‘dihukum mati’ karena dia ga sempet survive lebih lama aja sih seperti Reiner. Sedangkan Zeke, meski di akhir-akhir mendukung untuk menghentikan Eren, perlu dibunuh untuk memutus hubungan darah bangsawan dengan Founding Titan. Atau, agar Levi ada semacam ‘closure’ untuk menjalankan perintah terakhir dari mendiang Erwin untuk mengeksekusi Zeke. Yah, bisa diperdebatkan apakah Zeke layak diampuni jika Reiner bisa dimaafkan.
Secara umum, hampir semua yang punya kekuatan Titan punya dosa besar yang mungkin secara moral agak sulit dimaafkan meski sudah berkontribusi menghentikan Rumbling. Di dunia nyata, bakal banyak yang menuntut mereka atas kejahatan-kejahatan yang dilakukannya. Namun, kalau di dunia nyata sih, lebih banyak lagi penjahat perang yang tidak dihukum meski berada di pihak yang kalah. Apalagi kalau menang.
SOAL MIKASA DAN KELUARGA BARUNYA
Mikasa diceritakan kembali sendirian lebih dulu ke Pulau Paradis (bagaimana? Apa ada perahu yang bisa dipake buat nyebrang ke sana?). Menguburkan kepala Eren, yang dia penggal sendiri, di bawah pohon tempat mereka biasa bermain waktu kecil. Masih menangisi kehilangannya (lalu ada burung yang membetulkan syal Mikasa dan orang berspekulasi Eren berubah jadi burung, tapi lupakan soal itu).
Pada sebuah montase epilog, diperlihatkan Mikasa yang sering mengunjungi makam Eren, lalu bersama seorang lelaki, lalu bersama dengan anak-anak. Dan, lelakinya punya potongan rambut mirip Jean. Jadi, apakah akhirnya Mikasa menerima Jean, yang sudah lama menaksirnya lalu mengambil kesempatan setelah Eren tak ada? Tidak bisa dipastikan. Namun, berdasarkan dialog terakhir Armin dan Eren, setidaknya Mikasa menikah sepeninggal Eren sudah diperkirakan.
Kembali ke adegan pertemuan Mikasa dengan Ymir, sangat cocok bahwa setelahnya Mikasa akan mencoba kebahagiaan dalam melahirkan kehidupan ke dunia; mencoba hal terbaik yang dilakukan Ymir. Adegan pertemuan itu sepaket dengan montase epilog. Keduanya adalah tambahan dari versi revisi yang sepaket untuk menekankan hal itu. Siapapun pria yang bersamanya, masuk akal jika Mikasa memilih menikah dan memiliki anak daripada sendiri seumur hidup.
Seberapa mungkin bahwa pria itu Jean? Terakhir diperlihatkan dia sedang merapikan rambutnya untuk ‘gadis-gadis yang melihatnya di buku sejarah’, tapi mungkin itu dalih untuk mengalihkan pertanyaan Reiner… yang sedang dikritik Jean karena masih naksirin Historia yang sudah berkeluarga. Dengan konteks pembicaraan soal ‘gebetan lama’, bisa jadi setidaknya Jean memang masih ingin mendekati Mikasa. Jadi, ada kemungkinan bahwa pria di epilog itu Jean. Namun, kasihan juga kalau dia menikahi orang yang seumur hidup berkabung atas kepergian orang yang sebenarnya paling dicintainya.
Montase epilog terakhir yang menampilkan Mikasa memperlihatkan tubuh renta dalam upacara pemakaman. Dalam adegan pemakamannya tersebut, Mikasa masih mengenakan syal merah pemberian Eren di pertemuan pertama mereka yang tragis.
DAN SIKLUS ITU BERLANJUT
Cerita-cerita yang merefleksikan tentang siklus peperangan biasanya berakhir pada salah satu dari dua kesimpulan: siklus ini bisa diakhiri atau tidak. Attack on Titan memilih yang terakhir. Bagian-bagian akhir montase memperlihatkan perkembangan Pulau Paradis dari sudut pandang pohon tempat Eren (dan Mikasa) dikuburkan. Pada akhirnya, jauh setelah menara-menara futuristis dibangun, Pulau Paradis kembali luluh lantak dalam peperangan. Hingga ribuan tahun berlalu dan seorang anak dan anjingnya berlarian di antara puing-puing yang ditutupi hutan, lalu berhenti di depan pohon makam yang sudah berubah menjadi seperti pohon tempat pertama kali Ymir menemukan kekuatan Titan.
Montase epilog itu adalah tambahan versi ‘tankobon’ atau jilid manga yang tidak ada di versi awal yang rilis di majalah Bessatsu Shonen. Versi awalnya berhenti sampai adegan burung yang membetulkan syal Mikasa. Di titik itu, ending terasa optimistis dengan Armin yang akan melakukan negosiasi damai dengan Historia. Aku pikir, ‘wow jadi siklus peperangan di dunia bakal berhenti di sini, naif juga.’ Namun, setelah versi revisi ini, endingnya jadi pesimis-realistis.
Di anime, ada perbedaan kecil terkait bentuk bangunan saat Pulau Paradis mengalami peperangan lagi; bangunan di versi awal terasa lebih mirip era modern saat ini sedangkan di anime terlihat lebih futuristis. Mungkin ingin mengesankan bahwa kejadian ini jauh terjadi di masa depan dan Eren berhasil menghentikan siklus peperangan (atau setidaknya mencegah kehancuran Pulau Paradis) sampai beberapa generasi. Ini seperti ingin menekankan keberhasilan Eren jauh dari motivasi awalnya untuk melindungi teman-temannya.
Aku masih terbuka terkait ending seperti apa yang lebih baik untuk cerita ‘grimdark’ yang menyinggung siklus peperangan dan kemanusiaan seperti Attack on Titan. Jujur, semakin tua, semakin tidak tahan dengan cerita yang gelap, sadis, dan pesimistis. Cerita yang setidaknya berakhir dengan secercah harapan, atau lebih jauh lagi, sangat optimis-utopis mungkin (biasanya) lebih jelek. Namun, di tengah dunia yang makin gelap, rasanya lebih ingin cerita yang berakhir bahagia.
ARTIS FANART ATTACK ON TITAN TERBAIK ADALAH MANGAKANYA SENDIRI
Dan… adegan paska kredit tiba-tiba menampilkan Eren, Armin, dan Mikasa di usia remaja habis menonton film Attack on Titan di bioskop. Geek-Armin in komplain mengenai endingnya yang menurutnya kurang jelas dan masih menyisakan banyak hal tak terjawab. Goth-Mikasa, yang berurai air mata sehabis nonton film tersebut, mendebatnya. Menurutnya endingnya sengaja begitu biar fans bisa menafsirkannya masing-masing. Lalu, mereka menanyakan pendapat Eren, yang hanya menjawab bahwa ia senang menonton film bersama mereka berdua.
Aku baru tahu bahwa alternate universe ini dari Attack on School Caste, parodi bikinan Hajime Isayama sendiri yang muncul sebagai selipan di jilid manga dan punya ceritanya sendiri. Karakter-karakter dari Attack on Titan muncul dengan peran yang agak beda. Levi jadi tukang bersih-bersih di bioskop. Dan ada setengah Marco di kursi bioskop di belakang Eren (setelah membaca cerita lain dari parodi ini, aku sadar itu bukan setengah Marco, tapi HANTU setengah Marco).
Adegan di paska kredit [FF2] ini juga ada muncul di selipan volume terakhir dengan dialog yang kurang lebih sama. Jadi Hajime Isayama sudah lama menyadari bahwa ending Attack on Titan ini kontroversial dan kurang lebih membagi penggemar jadi Geek-Armin dan Goth-Mikasa. Entah yang mana yang lebih banyak (sepertinya Armin, seenggaknya yang lebih vokalnya). Yang jelas, aku tidak relate dengan Eren; aku nonton film ini sendirian, Yeager!
SEKUEL ATAU SEMESTA ALTERNATIF?
Ah, setelah Eren menjawab, ia melanjutkan bahwa kalau filmnya ada sekuel, ia ingin menontonnya bersama Armin dan Mikasa. Lalu, kamera menyorot ke adegan yang tidak ada di manga; di bukit belakang perkotaan yang menjadi latar ketiga kawan tersebut berdiri sebatang pohon yang tinggi menjulang. Seperti pohon yang ditemukan Ymir.
Apa ini menandakan kalau seri ini akan ada sekuelnya? Atau spin-off? Atau cerita lain berdasarkan semesta Attack on School Caste? Atau berdasarkan karakter anak laki-laki bersyal coklat (atau merah kusam?) yang menemukan pohon di akhir cerita? Atau cerita tentang apa yang terjadi setelah Armin dkk. sampai di Pulau Paradis dan melakukan upaya-upaya perdamaian, tentang Connie dan ibunya yang kembali menjadi manusia, tentang upaya Historia mengambil kekuasaan kembali dari militan Yeagerist, atau tentang Levi, Onyankopon, Yelena, Pieck, Annie, Reiner, Jean, Gabi, Falco, Annie, Hitch, dan karakter-karakter lain yang berkesan dan masih kita ingin ketahui nasibnya lebih jauh?
Di satu sisi, masih banyak yang bisa dieksplorasi dari karakter-karakter tersebut. Di sisi lain, sudahlah, biarkan mereka beristirahat. Biarkan Hajime Isayama, asisten-asistennya, dan para animator beristirahat. Biarkan cerita lain dari mangaka lain terdengar.
Di sisi lain-lainnya lagi, ada teori gila seperti ini.
GANJEL RASA TAK BERNAMA
Belakangan rasa sakit, atau mungkin lebih ke ‘mengganjal’, selalu ada sehabis menamatkan suatu seri. Aku merasakan ini juga sehabis menamatkan Macross Frontier tahun lalu. Dan saat ini pun, aku masih belum mantap memberi nama pada rasa ini. Apakah kecewa karena akhir ceritanya kurang sesuai harapan, baik sebagian atau keseluruhan? Atau justru karena ceritanya berakhir dan kita tidak akan melihat karakter-karakter dalam cerita lagi?
Apapun itu, aku berprasangka bahwa menuliskannya bisa mengurangi rasa itu. Mungkin aku benar, mungkin tidak. Mungkin aku jadi lebih memahami ceritanya saat menulis. Lalu aku lebih bisa mengapresiasi ceritanya, atau menemukan hal yang lebih jelek dari dugaan. Bagi kebanyakan penulis, hanya ada satu kesempatan untuk menyampaikan ceritanya kepada pembaca; yang pertama. Menurutku, setelah itu lewat, hal terbaik adalah untuk menerimanya. Apapun rasa yang kita bawa ke depan.
Biarkan suatu cerita selesai.
Mengingat nasib tragis karakter-karakternya, kayaknya kalau endingnya kayak gini, ga jelek-jelek amat
Bonus: Sebenarnya bukan penggemar fanatik banget Attack on Titan, tapi jarang-jarang ada serial anime yang bikin aku ‘coping’ seperti ini:
“Even so, the lives you gave birth to, are why I’m alive today. Rest in peace, Ymir.” Beres 11 Maret 2025, beberapa minggu setelah nonton The Last Attack, dan setelah menyadari pentingnya adegan tambahan ini.“Last dedication.” Beres sekitar 14 November 2023, sekitar waktu tayang episode terakhir animenya.“… Kalau diliatin dekat-dekat, bakal kelihatan corat-coret adegan epilog dari manganya.” Dicorat-coret habis baca episode manga terakhir. Perkiraan tanggal dibuat ada di bawah.“Sudah hampir 4 tahun. Masih berat.”
Nonton ini mungkin udah sebulan lalu. Butuh waktu lama buat mengapresiasinya karena ceritanya sendiri ga seru. Ga ada drama atau konflik yang kentara. Cozy aja gitu. Namun, ga masalah sih kalau ada film yang sajian utamanya ‘vibe’ dengan animasi warna-warni dan musik yang asik seperti ini.
Anime ini bercerita tentang Totsuko, cewek yang bisa melihat ‘warna’ dari seseorang. Mungkin semacam bisa baca aura, tapi lebih kayak sinestesia. Ia melihat kalau warna orang kebanyakan itu pucet. Dia sendiri ga tahu warna dia sendiri seperti apa.
Sampai suatu hari dia ketemu Kimi yang punya warna yang cantik. Totsuko jadi semacam kepo atau terobsesi dengan Kimi. Saat Kimi tiba-tiba dropout dari sekolah, Totsuko mencari-cari Kimi dan menemukannya sedang latihan gitar sambil nyambi kerjaan di sebuah toko buku bekas terpencil. Di sana juga ia bertemu dengan Rui yang tertarik dengan suara gitar Kimi. Karena gugup bikin-bikin alasan mencari Kimi, Totsuko nyeletuk mau bikin band lalu mengajak Kimi dan Rui buat gabung.
Dibanding ceritanya, musiknya lebih menarik. Ada tiga lagu utama yang ceritanya dibikin oleh masing-masing karakter utama dan merefleksikan perasaan mereka. Aku baru denger lagi musik-musiknya sekarang dan makin suka. Kalau suka dengan J-POP alternatif atau indie, bakal langsung suka.
Karena Totsuko bersekolah di sekolah asrama Kristen, bandnya terkesan jadi band religi. Dengan waktu rilis yang deket Natal dan ada adegan natalan, kayaknya film ini memang dimaksudkan buat jadi film natalan.
Aku mencoba menghubungkan soal kemampuan Totsuko melihat warna dan tema musikal dalam film ini. Orang-orang yang warnanya cerah di mata Totsuko adalah yang suka bermusik. Totsuko juga baru bisa melihat warnanya sendiri saat sedang menari. Jadi, apa kata kuncinya? Musik? Seni? Passion? Apapun itu, aku setuju. Orang yang bisa musik dan punya passion, vibe-nya memang beda.
Sepertinya film ini sudah ga tayang di bioskop Indo. Kalau muncul di layanan streaming, aku tetep rekomendasiin.
Btw. Perspektif itu susah dan kenapa tiap aku gambar selalu kekecilan? -_-
Ada perasaan dilematis mendengar bakal ada superhero muslim di MCU. Di satu sisi, karakter muslim diangkat ke muka, bukan sekedar alat biar filmnya terlihat ‘diverse’ tanpa menambah apapun dalam cerita. Contohnya, di dua film Spiderman MCU ada karakter latar berhijab yang kadang-kadang muncul. Di sisi lain, rasanya mustahil menampilkan muslim di dunia superhero Barat dengan elemen-elemen fantasi-nya sendiri.
Saya tidak tahu bagaimana sebaiknya menampilkan identitas muslim dalam media Barat tanpa terkesan stereotipikal, pandering, atau sekedar menggaet perhatian penonton muslim. Bahkan kalau dipikir-pikir saya juga tidak tahu bagaimana representasi muslim di film, serial, atau media lokal saat ini. Fun-fact yang mungkin tidak relevan: sampai saat ini tidak ada pembawa acara berita di stasiun TV besar yang berjilbab.
Karakter Ms. Marvel juga sebenarnya sudah lama dibuat dalam komik. Komik superhero Barat (atau komik dalam Bahasa Inggris) dengan karakter muslim seperti The 99 juga sudah lama terbit yang mungkin jadi referensi untuk membuat karakter superhero muslim. Namun, karena saya tidak pernah membaca komik-komik tersebut, ekspektasi saya masih rendah.
Menurutku masih wajar (tapi mengecewakan) kalau karakter muslim ini akan hanya diberi label muslim dan hanya memperlihatkan selewat nilai Islam yang dia anut. Tapi kalau tidak pernah ditunjukkan adegan solat dalam aksinya, misalnya, apakah masih bisa disebut superhero muslim? Superhero MCU lain tidak punya masalah ini karena agama atau kepercayaannya bukan bagian dari identitasnya.
Ternyata secara keseluruhan serial original Disney + ini lumayan juga. Ceritanya tentang Kamala Khan, remaja muslim Amerika keturunan Pakistan yang terobsesi dengan Captain Marvel. Sebagai aksesoris tambahan untuk ikutan lomba cosplay, ia menggunakan gelang (mungkin bukan terjemahan yang tepat untuk ‘bangle’) warisan neneknya. Tanpa diduga, gelang tersebut membangkitkan kekuatan Noor yang membuatnya mampu menciptakan semacam material bercahaya. Selanjutnya ia terlibat petualangan terkait gelang tersebut.
Karena fokus representasinya lebih pada komunitas Pakistan di Amerika, yang lebih mungkin dipahami orang-orang Hollywood yang bikin serial ini, penggambarannya jadi lebih riil (sepertinya). Meski nilai dan budaya yang ditampilkan baik lewat penokohan, dialog, dan adegan adalah muslim Pakistan, ternyata ada beberapa hal yang cukup relatable bagi muslim di luar komunitas tersebut.
Banyak hal yang unik bagi muslim di Amerika, seperti keterasingan di sekolah, pergulatan identitas, dan perayaan Idul Adha yang seperti festival. Tapi ada juga hal yang sangat relatable seperti (sigh) maling sendal di masjid! Netizen Indonesia (setidaknya di Twitter) sempat heboh karena ini. Ga ada yang mengira kalau maling sendal ada juga di Amerika. See FBI? Masalah dunia Islam saat ini bukan terorisme, tapi maling sendal!
Adegan festival perayaan Idul Adha cukup menarik buatku. Hari raya yang biasanya kita rayakan masing-masing keluarga di rumah, diselenggarakan seperti festival publik yang dihadiri seluruh komunitas. Saya tidak yakin jika itu sudah kebiasaan di sana, tapi sangat masuk akal jika komunitas minoritas yang erat merayakan hari raya bersama. Ini juga bagus buat syiar menangkal prasangka negatif dari masyarakat di luar komunitas.
Saya cukup oke dengan penggambaran karakter-karakter muslim yang tidak seragam atau stereotipikal. Muslim di sini kelakuannya macem-macem meski megang nilai-nilai yang jadi batasan. Yah, seperti di kita lah. Bedanya karena minoritas, mereka lebih terikat erat dengan masjid sebagai pusat kegiatannya.
Keluarga Kamala beragam juga karakternya. Kakaknya sangat paling alim, do’a suka lama, janggut lebat, kemana-mana pakai gamis, tapi masih keitung gaul. Orangtuanya keitung moderat meski ibunya cukup ketat soal pergaulan dan kurang suka dengan superhero yang suka pakai baju ketat (meski soal ini agak tidak konsisten di akhir). Kamala sendiri meski tergolong imajinatif, rebel, dan terobsesi menjadi superhero, ia masih tergolong menjaga diri.
Ada adegan saat dia mencoba kostum cosplaynya, dia berpikir untuk menutup bagian yang terlalu nyetak di pinggangnya. Penggambaran subtle mengenai nilai yang dia pegang cukup sering ditampilkan meski kadang terasa inkonsisten. Kamala hampir ciuman beberapa kali dan selalu digagalkan oleh Bruno, teman dekatnya.
Btw Bruno ini non-muslim yang karena akrab dengan Kamala dan keluarganya jadi cukup aware dan hafal dengan budaya Muslim Pakistan. Tipe-tipe non-muslim yang kadang lebih paham Islam dari muslim. Kurang syahadat aja.
Adegan yang cukup berkesan terkait kontras nilai Islami dengan budaya barat adalah saat Kamala menghadiri Avengercon dan pesta di rumah temannya. Entah apa saya saja yang merasa tidak nyaman melihat adegan tersebut atau memang adegan tersebut sengaja dibuat tidak nyaman? Menghadiri event terkait hal yang saya sukai lalu merasa tidak nyaman dengan suasananya adalah pengalaman yang familiar buatku.
Masih banyak aspek Islam dan Muslim yang diperlakukan dengan baik dalam serial ini. Misalnya, saat adegan shalat dan pembacaan Al-Quran, musik latar dimatikan hingga benar-benar senyap. Kemudian, ada juga karakter-karakter menarik seperti Nakia, sobat lain Kamala, yang berhijab (hijab gaul sih) karena dianggap terlalu putih buat jadi muslim tapi terlalu ‘etnik’ buat jadi orang kulit putih, atau imam masjid yang ramah banget bahkan kepada polisi yang menggrebek masjidnya.
Rasanya tidak ada aspek kehidupan minoritas Muslim di Amerika yang tidak disinggung dalam serial ini. Termasuk adegan terakhir saat Kamala membantu menyelundupkan Kamran ke luar negeri karena memiliki kekuatan super dan dianggap berbahaya oleh otoritas. Terlihat seperti alegori dari upaya melindungi terduga teroris karena pasti akan disiksa habis-habisan kalau ditangkap.
Ada juga topik spesifik terkait Pakistan, seperti sejarah nasional dan mitologi atau folklore nya yang diangkat. Khususnya terkait ‘Partition’ atau peristiwa pemisahan India dan Pakistan setelah kemerdekaan India pada 1947. Penduduk muslim di India bermigrasi (secara sukarela atau karena ancaman kekerasan) ke daerah Pakistan dan penduduk Hindu di daerah Pakistan bermigrasi ke India. Ini merupakan peristiwa yang traumatis dalam sejarah Pakistan dan India yang banyak dikenang masyarakat kedua negara tersebut hingga sekarang. Sebagian drama di keluarga Kamala dan petualangannya bersama gelang ajaib yang ia warisi menggunakan latar peristiwa tersebut.
Saya merasa cukup mengenai representasi aspek-aspek Islam dan (mungkin juga) Pakistan dalam serial ini. Namun untuk menjadi representasi yang baik, serial ini terkendala oleh aspek-aspek teknis yang wajib ada, seperti plot, akting, karakterisasi, dll.
Alur ceritanya agak maksa. Beberapa adegan klimaks diselesaiakan dengan ‘talk-no-jutsu’ yang kurang meyakinkan. Akting pemerannya cukup lumayan, tapi kalau dibandingkan dengan akting karakter SMA di MCU lainnya (misal Spiderman) rasanya agak kurang. Adegan aksi juga biasa saja. Kecuali satu adegan aksi saat Kamala diserang dan dia belum menguasai kekuatannya. Cukup terasa meski Kamala bisa lolos dari serangan tersebut tapi cara bertarungnya benar-benar menunjukkan bahwa dia masih amatir.
Saya juga tidak bisa membahas banyak tentang kekuatan super dan latar Kamala yang agak berbeda dengan di komik. Namun kekuatannya di serial ini rasanya cocok dengan latarnya sebagai keturunan Clandestine dari nenek buyutnya. Btw Clandestine di ini disebut juga sebagai Djin. Yak, protagonis muslim di MCU ini ternyata anak jin (yah kalau mau lebih akurat, Clandestine di sini katanya sih mungkin beda dengan Djin yang disebutkan dalam mitologi dan teks keagamaan).
Tapi diakhir seri, ternyata terungkap bahwa Kamala juga mungkin seorang mutan karena keluarganya yang lain tidak memiliki Noor seperti dirinya. Duh mba, kasian banget udah mah muslim minoritas, turunan imigran, anak jin, cewek, terus mutan juga. Dipersekusi 5 kali lipat!
Hal positif terakhir yang ingin saya angkat adalah terkait penggunaan VFX 2D di beberapa adegan, khususnya saat Kamala berkhayal. Gayanya seperti grafiti digabung dengan gaya fanart seadanya dengan warna-warna yang cerah dan mungkin sedikit elemen etnik Pakistan. Sayangnya adegan-adegan ini lebih banyak terjadi di episode-episode awal. Namun gaya visual yang menarik ini dipakai juga di end credit tiap episode.
Serial ini agak nanggung sebagai tipikal serial remaja ataupun serial aksi Marvel, mungkin karena porsi isu berat dan representasi yang ingin dibawanya akan sulit membuatnya jadi serial yang ringan. Atau mungkin ceritanya kurang berhasil menjalin semuanya lebih rapih. Namun setidaknya kekhawatiran saya soal misrepresentasi cukup terobati.
Berkat langganan Disney+ dan berkesempatan nonton di bioskop dengan selamat, sehat, wal afiat, aku berhasil memuaskan FOMO sama film dan serial MCU pasca awal pandemi. Tapi baru sekarang ada mood dan luang buat ngerapel review semuanya. Masuk akal juga kalau review-nya dirapel karena setiap film dan serial MCU sudah tidak dapat benar-benar berdiri sendiri lagi.
Oh ya, spoiler alert.
Wanda Vision
Awalnya seperti parodi yang unik dari opera sabun Amerika dari era 50-an sampai 2000-an yang dibintangi Wanda dan Vision. Namun, perlahan ‘realita’ ini terusik dan terkuaklah bahwa dunia opera sabun itu adalah ciptaan Wanda sebagai coping mechanism atas kehilangan Vision dan penderitaan lain yang dialami sepanjang hidupnya.
Ya, mungkin kalau stress kamu juga suka ngayal masuk ke dunia drakor, anime, atau OVJ.
Aku kurang paham mengenai batas kekuatan Wanda ini yang meski sumbernya beda tapi dianggap sama dengan sihir miliki Agatha. Tapi sebagaimana warga kota yang nampak memaafkan Wanda setelah dikendalikan untuk ikut main di opera sabun-nya, aku bisa mengabaikan itu. Wanda Vision adalah pembuka yang spektakular untuk serial MCU di Disney+.
Falcon and Winter Soldier
Agak meh, tapi sebenarnya mengangkat isu-isu yang cukup dalam; bukan sekedar tiga cowok yang harusnya nanganin teroris pengungsian tapi malah rebutan perisai. Masing-masing karakter punya masalah yang unik seperti PTSD, rasisme, dan heroisme di dunia di mana manusia super menyelamatkan dunia namun dunia yang diselamatkan dibangun berdasarkan dunia nyata yang kita alami, dengan masalah-masalahnya.
Tapi bagian favorit saya di serial ini ada di dialog berikut:
Bucky Barnes: Why did you give up that shield? Sam: Why are you making such a big deal out of something that has nothing to do with you? Bucky Barnes: Steve believed in you. He trusted you. He gave you that shield for a reason. That shield that is… that is everything he stood for. That is his legacy. He gave you that shield, and you threw it away like it was nothing. Sam: Shut up. Bucky: So maybe he was wrong about you. And if he was wrong about you, then he was wrong about me!
Dalam tingkat personal, kepercayaan Steve pada Bucky adalah yang membuatnya percaya kalau dia bisa menebus dosa-dosanya di masa lampau. Saat Sam mengingkari kepercayaan Steve padanya untuk mewarisi perisai Captain America, Bucky merasa keyakinannya goyah dan menjadi marah pada Sam. Ini rumit memang, tapi kerasa.
LOKI
Loki yang kabur bawa Tesseract di film Endgame ditangkap TVA, semacam polisi yang tugasnya mangkas alur waktu agar tidak bercabang. TVA ini menentukan mana skenario yang boleh jalan, seperti Avengers kembali ke masa lalu buat ngambil Infinity Stones, dan mana yang perlu dipangkas, seperti Loki kabur bawa Tesseract. Anggap TVA ini Kevin Feige atau eksekutif Marvel/Disney yang punya wewenang nentuin mana yang canon mana yang gak.
Setelah maraton film Thor dan Avengers, Loki tobat, dan menerima saat dipaksa jadi agen TVA buat nangkap versi lain dari dirinya yang mengancam TV. Tapi dia pikir TVA itu geje dan berencana buat mengambil alih. Upaya pertobatan, godaan kekuasaan, dan pencarian jati diri ini berakhir dengan Loki menggapai self-love… uh, secara teknis dan literal. Dan juga filosofis.
Tapi gini, kalau Loki yang kabur harus dipangkas dan Tony dkk. yang di Endgame dianggap canon, kenapa mereka ga ditangkap padahal menyebabkan Loki kabur? Kalau kejadian saat Tony dkk. mencuri Tesseract ikut kepangkas juga, berarti mereka ga punya motivasi buat balik ke masa lalu yang ada bapaknya Tony buat ngambil Tesseract? Terus kenapa Loki ditangkap dan ga langsung dihapus aja dan kenapa orang-orang dan dunia yang dipangkas dikirim ke ujung waktu buat dimaka- ah sudahlah. Konsep ruang, waktu, dan multiverse di serial ini lebih enak ditonton daripada dipikirin.
Black Widow
Film yang harusnya dirilis 1-2 tahun lalu tapi diundur-undur bahkan sebelum pandemi ini akhirnya rilis di bioskop Indonesia beberapa bulan lalu. Awalnya aku berharap film ini bisa memberikan kedalaman pada karakter Black Widow yang dikorbankan di Endgame untuk mendapatkan batu akik; tanpa dapet adegan upacara pemakaman kayak Tony Stark. Sayangnya ceritanya terasa kurang berhasil mengangkat film ini lebih dari sekedar film aksi yang dibintangi Black Widow.
Sebenarnya aksinya seru, dan cerita reuni keluarga palsunya untuk menjatuhkan The Red Room yang melatih agen-agen cewek seperti Natasha cukup menarik. Tapi serasa banyak potensi yang tidak dioptimalkan seperti backstory terkait The Budapest Operation dan karakter Taskmaster yang bisa meniru gaya bertarung Avengers namun dikalahkan secara anti-klimaks karena dia hanya agen lain yang perlu diselamatkan. Entah kenapa tiap kali Marvel bikin film dengan tokoh utama cewek, klimaksnya ga seru.
Sebenarnya film ini lebih menarik kalau digali lagi lebih dalam, tapi kalau dilihat dari permukaan, film ini kurang memiliki intensitas yang memuaskan dan berbekas. Satu-satunya cara film ini memiliki dampak yang luas adalah dengan menempatkannya sebagai backstory buat karakter Yelena yang nampaknya bakal muncul di film atau serial MCU lain.
Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings
Film ini sangat mengikuti formula ‘Hero’s Journey’ ala MCU. Shang-Chi dan Katy yang tadinya hidup santai dikejar bapak Shang Chi buat bantu dia ‘membebaskan’ ibunya yang dia anggap dikurung di desanya. Lalu mereka menghadapi monster yang tak sengaja dibebaskan bapaknya dengan mengeluarkan kekuatan yang tersimpan dalam dirinya. Kurasa, itu agak terlalu instan.
Sebagai film MCU pertama yang merepresentasikan Asian American sebagai protagonis, film ini cukup ok dengan aksi-aksi yang menarik dan tie-in yang jelas dengan dunia MCU secara keseluruhan, khususnya Ironman 3. Mungkin hal-hal itu yang paling menarik buatku selain pengkarakteran Shaun (Shang-Chi) dan Katy (Ruiwen), setidaknya di awal film saat mereka belum masuk ke dunia magis yang menghancurkan realita mereka.
Film ini juga sedikit mengangkat isu orang China-Amerika, baik yang imigran ataupun turunan, yang seringkali mengalami krisis identitas karena tidak diterima sebagai orang Amerika maupun China. Saat kembali ke kehidupan lama mereka, Shang-Chi yang imigran memilih kembali ke identitas lamanya sedangkan Katy memilih untuk tetap menggunakan nama Amerikanya. Namun apapun pilihan mereka, itu tidak terlalu penting karena pada akhirnya mereka sama-sama ‘entitled millenials’ yang kebanyakan maen.
Venom: Let There Be Carnage
Lupakan Carnage di sini. Ini film bromance antara Venom dan Eddy Brock.
Eddy mewawancarai terpidana hukuman mati, Cletus Kassidy, dan dengan bantuan Venom membantu menemukan jenazah korban-korban pembunuhannya. Itu berakibat jadwal hukuman matinya dipercepat. Saat diundang untuk menemui Cletus untuk terakhir kalinya, Cletus menggigit tangan Eddy hingga berdarah. Dan darah Eddy yang mengandung sel Venom masuk ke tubuh Cletus, jadi beringas saat eksekusi suntik mati dilakukan dan POW! Jadilah Carnage.
Anyway, Eddy yang sepanjang film berantem dengan Venom, akhirnya berhasil mengalahkan Carnage, karena Eddy dan Venom lebih akur daripada Cletus dan Carnage. Kenapa Cletus dan Carnage ga akur? Karena Carnage ga akur sama pacarnya Cletus. Jadi pesannya moralnya, cari pacar yang bisa akur sama temen?
Overall, ini film superhero/anti-hero biasa di mana ada masalah lalu dihantam sampai beres. Adegan berantem di akhirnya lumayan seru sih. Tapi kelihatannya hype film ini justru post-credit scene nya. Spoiler alert, Eddy dan Venom liburan, di kasur berduaan. Nonton TV, muncul gambar cowok, terus dijilat. Jangan mikir yang enggak-enggak, ini beneran.
Btw emang Venom ada di MCU? Well…’
Jadi secara umum film dan serial MCU masih lumayan worth buat ditonton, meski nonton cuma FOMO. Selama nonton berbagai serial atau film MCU yang rilis sekarang-sekarang, aku selalu mikir, bagaimana mereka menangani dunia pasca Endgame? Latar itu yang menurut saya akan jadi tantangan dalam narasi di dunia Marvel. Tapi mungkin jadi titik penasaran bagi fans.
Untuk film yang merangkum area seluas 4,5 juta kilometer persegi dalam 100 menit lebih, film ini terasa sepi-sepi nanggung. Memang benar bahwa film ini berhasil menampilkan keramaian dunia yang terinspirasi dari berbagai budaya di Asia Tenggara (dicampur dengan beberapa elemen modern tentunya). Hanya saja, kenapa terasa kurang meriah?
Raya and The Last Dragon menceritakan tentang petualangan Raya mencari naga Sisudatu dan mengumpulkan pecahan batu naga untuk mengembalikan ayahnya dan penduduk Kumandra yang diubah menjadi patung oleh Druun (hmm, tidak terinspirasi dari Dr. Stone tentunya, mungkin). Namun dalam perjalanannya, naga Sisudatu mendorong Raya untuk menyatukan kembali Kumandra yang terpecah dalam 5 bangsa (Tail, Talon, Spine, Heart, dan Fang). Namun Raya tidak yakin itu akan berhasil karena orang-orang Kumandra susah dipercaya.
‘Trust’ atau saling percaya ini menjadi tema utama dalam film. Sayangnya, saya merasa tema ini terlalu dipaksakan. Raya diceritakan sulit mempercayai orang lain karena pernah dikhianati, namun rasanya terlalu ceria dan terbuka untuk dunia yang seharusnya post-apocalyptic. Melenceng dari stereotip protagonis judes penyendiri memang unik, tapi jadi kurang nyambung dengan setting dunia yang suram.
Penduduk Kumandra juga tidak terlalu diceritakan secara detail bagaimana dan mengapa mereka saling bermusuhan. Hal tersebut seharusnya dieksplorasi agar tema soal saling percaya ini menjadi lebih kentara dan tertuturkan dengan alami. Namun itu sulit karena penduduk Kumandra hampir semuanya menjadi patung. Bagaimana perbedaan gaya hidup dan karakter tiap bangsa berbentrokan? Entah, kita hanya diberi tahu kalau dulu setelah naga mengalahkan Druun dan batu naga disimpan di bangsa Heart yang makmur, mereka jadi bermusuhan.
Dari penduduk tiap bangsa yang ditemui Raya pun kita tidak mendapat banyak. Interaksi antar karakter dan konflik di awal dengan Raya berlangsung singkat sebelum akhirnya bergabung. Latar belakang semuanya sama: keluarga mereka jadi patung. Itu jadi benang merah persamaan antar karakter, namun menghilangkan keunikan masing-masing dalam hubungannya dengan tema dan setting.
Kumandra memang tanah post-appocalyptic yang ‘seharusnya’ sepi, namun di beberapa daerah seperti Talon dan Fang, masih banyak orang. Namun nanggung juga. Misal ada adegan Namaari dari bangsa Fang yang sepulang mengejar Raya di daerah Tail meminta tambahan pasukan untuk mencegatnya di daerah Spine. Saat Namaari dan Raya bertemu di Spine, Namaari datang bersama pasukan dengan jumlah dan peralatan yang… ga jauh beda dengan saat mengejar Raya di Tail.
Namun rasanya pelaku utama yang bikin film ini terasa kurang adalah scoring musiknya. Memang terdengar ada instrumen tradisional yang unik di film ini, namun scoring di banyak tempat kurang pas untuk meningkatkan emosi di tiap adegan. Rasanya saya kurang sreg dengan editing, tone warna dan pencahayaan juga, tapi entahlah. Yang jelas pada akhirnya, saya merasa Raya and The Last Dragon menjadi film yang kurang kolosal dan emosional meski memiliki titik-titik plot potensial untuk itu.
Tapi kalau soal representasi budaya, film ini cukup baik dalam memanfaatkan keragaman Asia Tenggara menjadi kekayaan visual. Awalnya saya kira film ini hanya terinspirasi dari budaya Indochina dan daerah Utara dari Asia Tenggara saja, tapi ternyata seluruhnya. Padahal, tidak masalah kalau film ini misal mengambil budaya Vietnam saja atau Filipina saja. Orang Melayu dan Jawa bisa nunggu kok.
Dari pakaiannya, 5 bangsa di Kumandra menurutku masing-masing terinspirasi oleh Melayu (Spine), Siam/Thailand (Heart), Jawa (Fang), Dayak (Spine), dan lainnya (saya kurang ngeh Tail terinspirasi dari budaya mana). Saya rasa Fang, yang paling culas dari 5 bangsa, terinspirasi dari Majapahit karena… eh, cocok aja. Bangsa Fang mirip Majapahit zaman Gajah Mada yang cerdik dan manipulatif dipimpin ratu yang sukses.
Secara umum, film ini tidak ingin mengambil langsung budaya dan mitologi sesuai dengan aslinya. Film ini lebih seperti mengambil inspirasi dari suatu budaya, lalu membuat dunia baru dengannya. Ini menghindari masalah sensitif kalau-kalau ada yang tersinggung karena budayanya atau kepercayaannya digambarkan secara keliru. Ini juga memungkinkannya untuk memasukkan elemen-elemen modern yang familiar untuk penonton global.
Hal menarik lainnya ditampilkan saat orang berubah menjadi patung mengambil pose yang mirip patung-patung di candi. Meski perubahannya agak maksa dan tidak dijelaskan kenapa mengambil pose tersebut, saya rasa itu keren juga. Tak lupa berbagai kuliner Asia Tenggara yang masing-masing unik namun memiliki kemiripan, yang dalam film ini, digunakan sebagai simbol pemersatu.
Namun elemen modern di film ini kadang ganggu juga. Terutama kostum Ratu Virana dan Namaari yang meski keren tapi terlalu kontras dengan pakaian penduduk Fang lainnya. Di hal lain, seperti kostum Raya dan senjatanya yang terinspirasi dari keris tapi bisa memanjang seperti cambuk terlihat sangat keren. Mungkin saya juga bisa menolerir eyeliner dan Tuktuk yang entah terinspirasi dari makhluk mitologi mana, tapi agak heran juga kenapa makhluk itu tidak terlihat di tempat-tempat lain di Kumandra, selain yang dinaiki Raya.
Aspek lain yang sering muncul di sejarah, budaya, dan mitologi Asia Tenggara juga berhasil dipresentasikan (sesuai interpretasi Disney). Misalnya kesatria dan pemimpin perempuan (yang selalu muncul di sejarah dan dongeng Asia Tenggara), ritual-ritual persembahan (kenapa pakai lilin dan bukan kemenyan?), dan penghormatan pada air sebagai sumber kehidupan.
Koreografi Raya lawan Namaari (hampir hanya mereka berdua yang berantem di film ini), meski agak ‘janky’ karena mungkin keluwesannya terbatas teknik animasi, selalu menarik dan membuat pertarungannya seru. Elemen dari berbagai seni beladiri Asia Tenggara seperti silat, thai-boxing, Arnis, dan lainnya, juga saya rasakan dalam adegan-adegan duel.
Di luar aspek budaya, teknis visual dalam film ini masih selevel film-film animasi Disney. Meski rasanya ada yang kurang, ada hal-hal yang berkesan seperti animasi air mengalir ke atas atau naga-naga yang terbang dengan menginjak air di udara. Lewat visual juga, film ini menujukkan perkembangan karakter dan penampilan Raya dari yang dekil dan curigaan di awal menjadi bersih di akhir karena mulai mempercayai orang lain.
Tapi langkah baik dalam visual dan aspek adaptasi budaya ini tidak cukup untuk membuat saya benar-benar menyukai film ini. Aku ingin menyukainya, namun rasanya film ini cuma jadi alasan agar Disney bisa menjual merchandise Disney Princess ke Asia Tenggara karena, ‘hey sekarang ada Disney Princess dari Asia Tenggara lho!’ Mungkin aku harus menonton ulang film ini saat kondisi hati lebih enak dan gak terganggu suasana pandemi. Dengan begitu, mungkin aku bisa lebih mengapresiasi film yang hampir seluruhnya susah-susah dibuat secara remote dan WFH ini.