Kategori
Film Review

REVIEW FILM CATUR WULAN PERTAMA 2025

The Prosecutor

Untuk film pertama tahun ini, aku random aja datang tanpa rencana mau nonton film apa. Yang jelas, rasanya ‘haus kekerasan’; pingin nonton film aksi. Liat poster film ini di bioskop kayaknya meyakinkan. Kayak pernah dengar judulnya tapi ga tahu reviewnya.

Ini adalah film aksi Hongkong campur drama ruang sidang, meski di akhir lebih banyakan aksinya. Cukup memuaskan dahaga dengan aksi kungfu ala Donnie Yen yang berperan sebagai pensiunan polisi lanjut kuliah lagi buat jadi jaksa. Agak propaganda polisi dan sistem peradilan Hongkong, tapi menunjukkan juga sisi korupnya dikit.

Porsi aksi dan dramanya lumyan, meski ada adegan yang agak aneh seperti saat Donnie Yen masuk ruang sidang dengan muka bengep di penghujung film. Yah, tapi yang lebih konyol lagi sih, wig era Victorian yang masih wajib dipake hakim dan pengacara di ruang sidang di Hongkong. With all due respect sama tradisi ruang sidang di sana, tapi kalau perlu pakai tutup kepala, kenapa ga pakai topi tradisional ala Judge Bao?

1 Kakak 7 Ponakan

Remake dari sinetron 90’an yang diadaptasi dari novel (atau cerbung?) karya Remy Silado. Jujur dari sinetron itu yang aku ingat cuma Sandi Nayoan dan Novia Kolopaking, dua pemeran utamanya, beberapa adegan, serta lagu temanya. Bahkan, aku ga ingat 1 kakak dan 7 ponakan itu siapa aja.

Ceritanya, Moko, seorang calon arsitek harus menunda karirnya saat tiba-tiba kakak dan iparnya meninggal dalam waktu berdekatan. Pasalnya, Moko harus mengurus 2 ponakan, 1 ponakan almarhum kakaknya, dan tambah 1 lagi yang baru lahir. Oke, itu udah 4 ponakan. Lalu mantan gurunya datang dan memohon untuk menitip putrinya. Jadi 5. Lalu, kakak moko yang satu lagi, Osa (yang dulu diperankan Novia Kolopaking) dan iparnya, Eka, pulang dari Australia dan tinggal bersama mereka. Saat Maurin, pacar Moko, nyeletuk 7 ponakan itu termasuk kakak dan iparnya itu, penonton langsung ‘oooohh gitu’.

Moko yang harus berjuang dalam keluarga yang serba kekurangan, mengurus ponakan yang macem-macem, dan mencoba lagi meniti karir sebagai arsitek, merasa bertanggungjawab untuk menanggung beban itu sendirian. Bahkan dia sempat putus dengan pacarnya karena merasa masa depannya suram, sampai mereka dipertemukan lagi di tempat kerja baru Moko. Ponakan-ponakannya juga melihat Moko berkorban sendiri. Maka saat mereka didorong (atau dimanipulasi) oleh Eka untuk mencari kerja, meski kebanyakan mereka masih di bawah umur, mereka menurut saja karena merasa bersalah dan ingin membantu Moko.

Kunci film ini adalah saat Ais, anak titipan gurunya Moko yang suka main piano, bercerita pada Moko bahwa ia main piano untuk mengenang masa saat ia dan ayahnya masih bersama. Saat balik ditanya pakah Moko juga punya hal yang dilakukan untuk mengenang seseorang, kita diperlihatkan bahwa hal itu… ya semuanya; Alasan Moko mengurus ponakannya (dan mungkin juga menjadi arsitek, karena almarhum iparnya adalah arsitek juga) adalah untuk mengenang kakak dan iparnya. Di akhir, ia harus membagi perasaan itu dengan ponakan-ponakannya dan tidak menjadikannya beban sendiri.

Kecuali Eka.

Si brengsek.

Bagiku yang belum nonton remake Keluarga Cemara, semua karakter yang diperankan Ringgo itu ada aja brengsek-brengseknya. Film ini adalah standar atas kebrengsekan Ringgo.

Aku bersyukur ini film lokal pertama yang kutonton tahun ini. Pokoknya bagus. Tanya aja David Gadgetin.

Ah, terakhir, sebelumnya aku khawatir theme song yang lama ga dimasukin ke film ini. Soalnya, lagunya jadul dan kupikir ga akan bagus mau diremake kayak gimana juga. Ternyata lagunya ada. Meski ga jadi tema utama yang diulang-ulang. Lagu itu dimainkan oleh Ais pakai piano dan dinyanyikan bareng ‘adik-kakak’-nya sebagai adegan yang menyenangkan di tengah-tengah hidup mereka yang serba susah. Tentang bagaimana keluarga yang susah ini masih nyimpen piano, aku ga mau pikirin.

Perayaan Mati Rasa

Protagonisnya kurang bikin simpatik. Memang sih bapaknya jarang ada karena melaut, tapi bapaknya ini mencoba dekat sama anak-anaknya, meski kadang banyak nuntut sedikit ngajar. Si protagonis yang namanya aku lupa lagi ini kayak yang ngambek dengan ketidakhadiran bapaknya tapi malah menolak bapaknya pas lagi ada.

Ceritanya lumayan menarik sih. Pas bapaknya ini hilang di laut, si protagonis dan adeknya berusaha menyembunyikan ini dari ibu mereka yang lagi sakit jantung. Karena peristiwa perahu bapaknya yang hilang ini tersiar di berita-berita, mereka sampai motongin kabel-kabel TV di pasar kaen pas ibunya belanja. Lol.

Yang paling berkesan buatku di film ini malah Dinda anak tetangga yang lebih siaga jaga sang Ibu daripada dua anak cowoknya yang labil.

Flow

Animasi kucing nyelametin diri dari banjir ini pemenang Oscar kategori animasi. Ga ada dialog. Hanya animasi dengan gerakan yang semi realistik, tapi visual yang stylized. Sangat stylized, hingga setiap helai daun kayak yang digambar tangan satu-persatu.

Ceritanya sebenarnya kurang jelas, sih. Yang bisa kupahami, ceritanya si kucing yang kebanjiran dapet mimpi buat pergi ke tempat tertinggi. Berlayarlah ia pakai perahu. Di perjalanan, dia bertemu hewan-hewan lain yang ikut numpang dengan kelakuan yang beda-beda. Ada banyak adegan magis di film ini yang tidak terlalu jelas namun berperan dalam cerita.

Rasanya film ini memang lebih ke vibe saja daripada cerita, meski cukup jelas bahwa ini adalah soal pembelajaran agar si kucing yang biasa hidup sendiri bisa belajar hidup bersama hewan lain.

Oh, film ini produksi Latvia kalau ga salah, ko-produksi dengan Perancis dan Belgia. Hebat juga sih ada studio yang bisa ngalahin studio-studio Hollywood di Academy Awards. Well…. Selain Ghibli.

I’m Still Here

Film Brazil tentang keluarga yang bapaknya dihilangin sama militer. Film ini menang Oscar kategori film bahasa asing.

Menurutku, film-film seperti ini bisa jadi jembatan yang menghubungkan perasaan senasib buat negara-negara dengan masalah yang sama: militerisme diktatorial. Pengalaman luka satu keluarga yang akan terwariskan karena tidak ada kejelasan tentang anggota keluarganya yang dihilangkan, atau dieksekusi secara tidak adil, oleh pemerintah adalah universal. Bahkan bagi masyarakat di negara-negara ‘demokrasi’ sekalipun.

Dalam film ini, akta kematian bapaknya keluar setelah istrinya berpuluh tahun berjuang. Pelakunya? Jelas tak tersentuh. Ah, cerita klasik.

Hanya saja… karena keluarganya ini tergolong keluarga menengah atas yang berprivilege, aku kurang bisa bersimpati dibanding seperti saat nonton film Istirahatlah Kata-Kata atau Autobiografi.

Tapi, yah, dibrengsekin negara sakitnya sama saja kalau dah menyangkut nyawa. Berapapun duit yang kita punya.

Ne Zha 2

Ne Zha yang pertama kalau ga salah banyak yang ngomongin. Ne Zha 2 ini lebih banyak lagi yang ngomongin. Jadi, aku ajak Rais buat nonton ini di Garut.

Dan benar kata orang-orang. Animasi dan ceritanya epic. Yah, meski untuk segi cerita banyak pengadeganan yang kurang pas. Kalau dari segi animasi, mantap banget. Kayaknya aku sudah bisa melihat gaya animasi China yang detail sekaligus stylized terdefinisikan dalam film ini.

Gilanya, animasi yang epic itu ga turun-turun kualitasnya sepanjang film. Seperti ga pake konsep ‘sakuga’ (ngebagusin animasi di beberapa adegan penting saja). Dan gitu terus selama 2 jam! Hollywood could never…

Mungkin aku agak rasis kalau ngomong gini, tapi kayaknya cuma negara dengan 1,5 miliar penduduk yang bisa mengimajinasikan pertempuran dua pasukan orang dan siluman berterbangan di langit bagaikan dua gumpalan partikel-partikel yang bertumbukan dan berhamburan.

Men… China udah jauh banget.

Btw, kalau ga salah, film ini jadi film terlaris sepanjang masa di China. Dan kalau ga salah, Nez Zha dan sahabat/rivalnya, Ao Bing, jadi semacam gay icon di sana.

Mobile Suit Gundam GQuuuuuuX

Mungkin bukan titik awal yang tepat buat mengenal Gundam. Film ini diawali dengan adegan yang sepertinya berasal dari potongan film/seri Gundam terdahulu. Belakangan aku baru tahu itu adalah semacam alternate timeline dari cerita aslinya. Berarti, mereka meremake beberapa adegan dengan visual dan musik gaya 80’an dan hasilnya oke juga.

Itu makan setengah durasi filmnya. Setengahnya lagi, adegan beberapa tahun setelahnya dengan visual dan musik gaya anime masa kini. Musiknya diisi oleh VTuber… Suisei kalau ga salah? Dan sebenarnya itu yang bikin Rais ngajak aku nonton ini. Kami berdua belum pernah nontoon Gundam sama sekali. Well… aku pernah lihat Witch from Mercury sih, sekilas.

Film ini sebenarnya episode pertama dari serial yang bakal dirilis beberapa minggu setelah filmnya. Jadi ini adalah semacam prolog, tapi setengah film ini habis oleh prolog dari prolog-nya ini.

Intinya sih, ini tuh tentang Gundam GQUUUUUUUUUX yang dibikin buat mencari Gundam Red (kalau ga salah itu namanya) milik Char-Aznabel (meski bukan fans Gundam, aku sering dengar nama itu). Dan gak tahu kenapa tapi aku ngerasa ada semacam ‘gay tension’ di antara kedua robot ini.

Jumbo

Berdasarkan pengalaman nonton Battle of Surabaya dan Si Juki The Movie yang pertama, kunci menikmati animasi lokal adalah ekspektasi. Aku berekspektasi tinggi saat BoS. Hasilnya kecewa berat. Aku gak punya ekspektasi apa-apa waktu nonton Si Juki. Hasilnya, film ini lebih berkesan daripada Star Wars yang aku tonton dalam waktu berdekatan.

Jadi, aku agak hati-hati dalam berekspektasi soal film ini. Memang aku sudah nunggu film ini sejak lama. Aku ngikutin update film ini dari Twitter sutradaranya, Ryan Adriandhy, dan secara teknis kelihatannya menjanjikan. Secara cerita, aku gak yakin. Memang film animasi ini katanya ingin jadi film animasi anak yang bisa dinikmati orang dewasa juga. Tapi, aku gak yakin.

Dan yah, hasilnya begitulah. Ada momen-momen menarik di filmnya, ada pacing yang kurang pas dan alur adegan yang kayaknya putus. Visualnya kadang terasa detail, tapi kadang gambar yang detail ada pada style yang tidak proporsional. Entah gimana jelasinnya. Kadang muka orang sampai keliatan pori-pori, kadang terasa flat dan low render. Aku kurang suka musiknya. Kurang pas dinyanyikan sama karakter-karakter anak di dalamnya. Tapi, aku bisa paham kalau lagu ini bisa populer.

Soal elemen magis yang kurang dijelaskan, kambing yang terlalu warna-warni, color grading yang kecoklatan, dan… yah, kayaknya kalau nitpicking kekurangan-kekurangannya, ga abis-abis. Salah sih nonton ini abis nonton Ne Zha. Lol.

Namun, tantang bagaimana anak-anak menghadapi kesedihan dan kehilangan, dan adegan SAP! SAP! SAP! juga… Panitia Datar? Aubrey Plaza/Daria-coded character di film animasi bocah? Film ini melebihi ekspektasi di satu sisi dan di bawah ekspektasi di sisi lain. Jadi yah, sesuai ekspektasi lah. Lol. Aku ga keberatan film ini jadi salah satu film lokal terlaris sepanjang masa, dan mungkin terlaris tahun ini.

Ya, film ini baru saja tembus rekor terlaris sepanjang masa.

Saat aku nonton di Chiwalk, antrean masuknya panjang banget (entah kenapa pintu dibukanya lama banget). Lalu ada 2 orang dewasa yang nyelak antrean buat masuk. 2 Om-om. Nyelak antrian. Buat nonton film anak. Adult animation fans are the worst. Lol.

Ah, tapi yang penting, penonton memberikan aplaus saat film berakhir. Ponakanku Kira nonton di waktu yang lain, dan katanya habis nonton orang-orang pada tepuk tangan juga.

Film animasi ini cukup pantas menjadi baseline untuk industri animasi lokal. Lucu juga. Di Indonesia dan China, film terlaris tahun ini adalah film animasi.

Pengepungan di Bukit Duri

Agak kecewa karena berharap lebih epic. Trailernya seperti menunjukkan kalau film ini bakal menampilkan banyak adegan pengepungan oleh massa yang rusuh ke sebuah sekolah. Ternyata yang mengepung cuma berandal-berandal SMA yang teradikalisasi oleh rumah tangga yang rusak dan masyarakat yang menormalisasi rasisme.

Well… sebenarnya gak teradikalisasipun anak-anak SMA itu berbahaya banget. Energi mereka di puncak, tapi otak mereka masih mangkrak.

Jokowi- eh, Joko Anwar bohong saat bilang ga bikin film horor. Film ini horor. Hantunya adalah remaja-remaja labil.

Namun, dia ga bohong waktu diwawancara dan bilang kalau film ini buat ngertiin plotnya ga perlu mikir. Ini memang lebih mudah dicerna dibanding film-film Joko Anwar yang pernah kutonton.

Secara umum masih bagus sih. Hanya saja, tema rasisme yang sepertinya tadinya mau dijadikan bahan pembicaraan, sepertinya jadi gimmick yang terpinggirkan. Dan, mengingat isu yang populer belakangan, aspek yang mencuat jadinya soal kenakalan remaja. Perlu nulis lebih panjang soal itu.

Intinya, sebagai film yang ingin membicarakan soal rasisme, film ini kurang berhasil. Memang sih, kita perlu membicarakan bagaimana rasisme ini mempengaruhi generasi muda kita. Namun, kayaknya kalau untuk menangkal rasisme, menampilkan bahwa orang keturunan Tionghoa sama-sama berjuang dan susah seperti orang ‘pribumi’ seperti di film Cek Toko Sebelah, itu lebih efektif. Setidaknya, bagiku yang sebenarnya agak rasis juga.

Dan kenapa kalau soal rasisme yang selalu dibahas adalah antara ‘pribumi’ dan keturunan Tionghoa? Memang sih, biasanya agamanya berbeda, gaya hidupnya berbeda, dan ada peristiwa traumatis yang menjadi talking point terkait rasisme terhadap mereka (Kerusuhan 98). Masyarakat kita sebenarnya rasis (atau mungkin lebih tepatnya xenofobik?) terhadap orang yang berbeda suku dan atau agama, apapun suku dan agamanya. Aku gak tahu peristiwa apa yang bisa diangkat untuk membahas itu, tapi kalau kita masih mau ‘memancing diskusi’ seperti Joko Anwar di film ini, semoga ada filmmaker yang berani mengangkat konflik laten antar suku dan antar agama di masyarakat kita yang masih terjadi.