Kategori
Film Review

Series Review: She-Hulk: Attorney at Law

Saya menonton ini back-to-back dengan Ms. Marvel dan jika keduanya dibandingkan, menurutku Ms. Marvel lebih baik. Sangat disayangkan karena sebenarnya She-Hulk lebih fun tapi ujung-ujungnya terlalu kacau untuk dinikmati.

Jennifer Walters mengalami kecelakaan saat liburan bersama sepupunya, Bruce Banner, dan saat darah Bruce menetes pada luka terbuka di lengan Jen, kekuatan Hulk pada Bruce jadi ‘menular’ ke Jen. Ternyata Jen juga memiliki DNA spesial yang membuatnya lebih mampu mengendalikan kesadaran saat berubah jadi Hulk. Setelah menguasai kemampuan Hulk dengan kecepatan di luar dugaan Bruce, Jen berusaha kembali ke kehidupannya yang semula dan melanjutkan karir sebagai pengacara, meski Bruce tidak setuju.

Premisnya cukup menarik dan berhasil dibuat kocak. Saya suka bagaimana film ini menampilkan dampak dunia yang berisi orang-orang dengan kekuatan super pada bidang peradilan dan hukum. Pada tiap episode yang singkat (30 menitan, tidak sepert serial MCU lainnya), Jen dan kawan-kawannya yang bekerja di divisi superhuman sebuah kantor hukum ternama menangani influencer dengan kekuatan super, penipu yang dapat berubah bentuk dari New Asgard, mantan supervillain yang tobat, dan lainnya. Ini memberikan perspektif yang cukup segar dan realistis terkait aktivitas-aktivitas manusia super saat berlawanan dengan hukum.

Karakter Jen Walters juga cukup ‘cute’, seperti selalu nahan kesel meski mukanya senyum-senyum. Jen menampilkan bagaimana kekuatan Hulk digunakan jika dimiliki perempuan, yang sudah biasa menghadapi banyak kekesalan dan stress terkait gender dalam hidup maupun karir. Ini adalah suguhan eksplorasi yang unik terkait topik tersebut.

Karakter lain yang menarik adalah The Abomination alias Emil Blonsky. Antagonis dari The Incredible Hulk ini dibantu mendapat pembebasan bersyarat oleh Jen. Setelahnya, ia jadi semacam ketua cult dan support group untuk orang-orang berkekuatan super agar memiliki kepribadian yang lebih baik. Hal positif untuk mengurangi kejahatan yang seharusnya dibikin oleh bilyuner macam Tony Stark.

Oh, ada satu hal lagi yang berkesan, yaitu end credit tiap episode yang dibuat seperti sketsa ruang peradilan dan berubah-ubah sesuai event yang terjadi pada tiap episode. Niat banget.

Sayangnya beberapa hal menarik tersebut diganggu dengan hal-hal medioker atau mentah Sekarang soal hal-hal yang mengganggu di serial ini. adalah proses Jen mendapatkan kekuatan Hulk yang terlalu kebetulan, kemudian menguasai kekuatannya secara cepat sambil agak membunuh karakter Hulk jadi sok heroik dan mudah iri. Ya, ga apa-apa sih biar cepat fokus ke kehidupannya sebagai pengacara.

Kemudian lampshading atau breaking fourth wall juga kadang berlebihan. Jen Walters sadar kalau dirinya berada dalam serial! Bagiku ini agak mengurangi immersion dan mengacaukan world building di MCU yang dampaknya ceritanya jadi kurang meyakinkan. Setidaknya, ini tidak sesuai untuk MCU dengan alasan yang akan saya sampaikan nanti. Sempat diindikasikan kalau ini terkait dengan kekuatan Hulk nya, tapi tidak dijelaskan bagaimana hubungannya.

Lalu sampailah di episode-episode terakhir saat Jen dan Matt Murdock alias Daredevil jadi pasangan instan. Entah ini sesuai dengan karakter Daredevil di serial lainnya atau tidak, tapi meski dalam serial ini kita sudah diperlihatkan bahwa Jen bisa langsung tidur bareng dengan seorang cowok yang baru ditemuinya dalam sehari, mungkin tidak terlalu out of character bagi Jen. Tapi bagiku, proses bikin chemistry-nya terlalu cepat untuk romansa di antara 2 karakter penting.

Di episode akhir ini juga She-hulk juga jadi lebih destruktif tanpa memperhatikan konsekuensi legal nya, bahkan sebelum mengamuk. Agak menyimpang dari karakternya sebagai pengacara. Emil melanggar syarat pembebasannya karena dibayar jadi pembicara di komunitas anti She-Hulk dan kembali ditangkap. Plotnya disampaikan secara ngasal dan menyia-nyiakan ide cult/support group di awal.

Dan di adegan klimaks episode akhir yang sengaja dibikin kacau, She-hulk mendobrak fourth wall untuk memprotest episode terakhir ini ke kru produksi film dan menggunakan kemampuan debatnya untuk memaksa K.E.V.I.N., AI yang mungkin representasi Kevin Feige, bosnya MCU, sehingga ia mengubah adegan pertempuran di episode terakhir itu.

Bagian ini bikin saya garuk-garuk kepala. Saya dengar She-hulk sejak dari komiknya memang sudah biasa mendobrak fourth wall. Tapi di MCU yang sudah bejibun dengan magic system dari berbagai mitologi, sci-fi yang gak terlalu mustahil, dan apalagi multiverse, world-building nya jadi makin membingungkan; tidak ada konsistensi. Saya jadi ga bisa percaya dengan ceritanya. MCU jadi dunia yang segala hal bisa terjadi; batasnya ga jelas.

Breaking the fourth wall itu terlalu overpowered. Bayangkan Thanos kalahnya pakai cara itu. Gak seru kan?

Jadi serial yang bisa jadi lumayan ini sangat disayangkan ga dibikin lebih serius dikit. Mungkin serial ini cuma mau mengingatkan ke penggemar MCU yang suka kritik dan protes di medsos: ‘udah abang-abang, ini cuma tontonan’.

Btw, agak mengecewakan kalau Marvel terlalu fokus membangun franchise daripada world-building. Mungkin phase Marvel ini memang lebih ingin mengenalkan franchise baru, mengangkat karakter dan aktor muda baru agar bisa move on dan gak terikat dengan aktor-aktor yang bisa menua, meninggal, atau berkasus.

Kategori
Film Review

Series Review: Ms. Marvel

Ada perasaan dilematis mendengar bakal ada superhero muslim di MCU. Di satu sisi, karakter muslim diangkat ke muka, bukan sekedar alat biar filmnya terlihat ‘diverse’ tanpa menambah apapun dalam cerita. Contohnya, di dua film Spiderman MCU ada karakter latar berhijab yang kadang-kadang muncul. Di sisi lain, rasanya mustahil menampilkan muslim di dunia superhero Barat dengan elemen-elemen fantasi-nya sendiri.

Saya tidak tahu bagaimana sebaiknya menampilkan identitas muslim dalam media Barat tanpa terkesan stereotipikal, pandering, atau sekedar menggaet perhatian penonton muslim. Bahkan kalau dipikir-pikir saya juga tidak tahu bagaimana representasi muslim di film, serial, atau media lokal saat ini. Fun-fact yang mungkin tidak relevan: sampai saat ini tidak ada pembawa acara berita di stasiun TV besar yang berjilbab.

Karakter Ms. Marvel juga sebenarnya sudah lama dibuat dalam komik. Komik superhero Barat (atau komik dalam Bahasa Inggris) dengan karakter muslim seperti The 99 juga sudah lama terbit yang mungkin jadi referensi untuk membuat karakter superhero muslim. Namun, karena saya tidak pernah membaca komik-komik tersebut, ekspektasi saya masih rendah.

Menurutku masih wajar (tapi mengecewakan) kalau karakter muslim ini akan hanya diberi label muslim dan hanya memperlihatkan selewat nilai Islam yang dia anut. Tapi kalau tidak pernah ditunjukkan adegan solat dalam aksinya, misalnya, apakah masih bisa disebut superhero muslim? Superhero MCU lain tidak punya masalah ini karena agama atau kepercayaannya bukan bagian dari identitasnya.

Ternyata secara keseluruhan serial original Disney + ini lumayan juga. Ceritanya tentang Kamala Khan, remaja muslim Amerika keturunan Pakistan yang terobsesi dengan Captain Marvel. Sebagai aksesoris tambahan untuk ikutan lomba cosplay, ia menggunakan gelang (mungkin bukan terjemahan yang tepat untuk ‘bangle’) warisan neneknya. Tanpa diduga, gelang tersebut membangkitkan kekuatan Noor yang membuatnya mampu menciptakan semacam material bercahaya. Selanjutnya ia terlibat petualangan terkait gelang tersebut.

Karena fokus representasinya lebih pada komunitas Pakistan di Amerika, yang lebih mungkin dipahami orang-orang Hollywood yang bikin serial ini, penggambarannya jadi lebih riil (sepertinya). Meski nilai dan budaya yang ditampilkan baik lewat penokohan, dialog, dan adegan adalah muslim Pakistan, ternyata ada beberapa hal yang cukup relatable bagi muslim di luar komunitas tersebut.

Banyak hal yang unik bagi muslim di Amerika, seperti keterasingan di sekolah, pergulatan identitas, dan perayaan Idul Adha yang seperti festival. Tapi ada juga hal yang sangat relatable seperti (sigh) maling sendal di masjid! Netizen Indonesia (setidaknya di Twitter) sempat heboh karena ini. Ga ada yang mengira kalau maling sendal ada juga di Amerika. See FBI? Masalah dunia Islam saat ini bukan terorisme, tapi maling sendal!

Adegan festival perayaan Idul Adha cukup menarik buatku. Hari raya yang biasanya kita rayakan masing-masing keluarga di rumah, diselenggarakan seperti festival publik yang dihadiri seluruh komunitas. Saya tidak yakin jika itu sudah kebiasaan di sana, tapi sangat masuk akal jika komunitas minoritas yang erat merayakan hari raya bersama. Ini juga bagus buat syiar menangkal prasangka negatif dari masyarakat di luar komunitas.

Saya cukup oke dengan penggambaran karakter-karakter muslim yang tidak seragam atau stereotipikal. Muslim di sini kelakuannya macem-macem meski megang nilai-nilai yang jadi batasan. Yah, seperti di kita lah. Bedanya karena minoritas, mereka lebih terikat erat dengan masjid sebagai pusat kegiatannya.

Keluarga Kamala beragam juga karakternya. Kakaknya sangat paling alim, do’a suka lama, janggut lebat, kemana-mana pakai gamis, tapi masih keitung gaul. Orangtuanya keitung moderat meski ibunya cukup ketat soal pergaulan dan kurang suka dengan superhero yang suka pakai baju ketat (meski soal ini agak tidak konsisten di akhir). Kamala sendiri meski tergolong imajinatif, rebel, dan terobsesi menjadi superhero, ia masih tergolong menjaga diri.

Ada adegan saat dia mencoba kostum cosplaynya, dia berpikir untuk menutup bagian yang terlalu nyetak di pinggangnya. Penggambaran subtle mengenai nilai yang dia pegang cukup sering ditampilkan meski kadang terasa inkonsisten. Kamala hampir ciuman beberapa kali dan selalu digagalkan oleh Bruno, teman dekatnya.

Btw Bruno ini non-muslim yang karena akrab dengan Kamala dan keluarganya jadi cukup aware dan hafal dengan budaya Muslim Pakistan. Tipe-tipe non-muslim yang kadang lebih paham Islam dari muslim. Kurang syahadat aja.

Adegan yang cukup berkesan terkait kontras nilai Islami dengan budaya barat adalah saat Kamala menghadiri Avengercon dan pesta di rumah temannya. Entah apa saya saja yang merasa tidak nyaman melihat adegan tersebut atau memang adegan tersebut sengaja dibuat tidak nyaman? Menghadiri event terkait hal yang saya sukai lalu merasa tidak nyaman dengan suasananya adalah pengalaman yang familiar buatku.

Masih banyak aspek Islam dan Muslim yang diperlakukan dengan baik dalam serial ini. Misalnya, saat adegan shalat dan pembacaan Al-Quran, musik latar dimatikan hingga benar-benar senyap. Kemudian, ada juga karakter-karakter menarik seperti Nakia, sobat lain Kamala, yang berhijab (hijab gaul sih) karena dianggap terlalu putih buat jadi muslim tapi terlalu ‘etnik’ buat jadi orang kulit putih, atau imam masjid yang ramah banget bahkan kepada polisi yang menggrebek masjidnya.

Rasanya tidak ada aspek kehidupan minoritas Muslim di Amerika yang tidak disinggung dalam serial ini. Termasuk adegan terakhir saat Kamala membantu menyelundupkan Kamran ke luar negeri karena memiliki kekuatan super dan dianggap berbahaya oleh otoritas. Terlihat seperti alegori dari upaya melindungi terduga teroris karena pasti akan disiksa habis-habisan kalau ditangkap.

Ada juga topik spesifik terkait Pakistan, seperti sejarah nasional dan mitologi atau folklore nya yang diangkat. Khususnya terkait ‘Partition’ atau peristiwa pemisahan India dan Pakistan setelah kemerdekaan India pada 1947. Penduduk muslim di India bermigrasi (secara sukarela atau karena ancaman kekerasan) ke daerah Pakistan dan penduduk Hindu di daerah Pakistan bermigrasi ke India. Ini merupakan peristiwa yang traumatis dalam sejarah Pakistan dan India yang banyak dikenang masyarakat kedua negara tersebut hingga sekarang. Sebagian drama di keluarga Kamala dan petualangannya bersama gelang ajaib yang ia warisi menggunakan latar peristiwa tersebut.

Saya merasa cukup mengenai representasi aspek-aspek Islam dan (mungkin juga) Pakistan dalam serial ini. Namun untuk menjadi representasi yang baik, serial ini terkendala oleh aspek-aspek teknis yang wajib ada, seperti plot, akting, karakterisasi, dll.

Alur ceritanya agak maksa. Beberapa adegan klimaks diselesaiakan dengan ‘talk-no-jutsu’ yang kurang meyakinkan. Akting pemerannya cukup lumayan, tapi kalau dibandingkan dengan akting karakter SMA di MCU lainnya (misal Spiderman) rasanya agak kurang. Adegan aksi juga biasa saja. Kecuali satu adegan aksi saat Kamala diserang dan dia belum menguasai kekuatannya. Cukup terasa meski Kamala bisa lolos dari serangan tersebut tapi cara bertarungnya benar-benar menunjukkan bahwa dia masih amatir.

Saya juga tidak bisa membahas banyak tentang kekuatan super dan latar Kamala yang agak berbeda dengan di komik. Namun kekuatannya di serial ini rasanya cocok dengan latarnya sebagai keturunan Clandestine dari nenek buyutnya. Btw Clandestine di ini disebut juga sebagai Djin. Yak, protagonis muslim di MCU ini ternyata anak jin (yah kalau mau lebih akurat, Clandestine di sini katanya sih mungkin beda dengan Djin yang disebutkan dalam mitologi dan teks keagamaan).

Tapi diakhir seri, ternyata terungkap bahwa Kamala juga mungkin seorang mutan karena keluarganya yang lain tidak memiliki Noor seperti dirinya. Duh mba, kasian banget udah mah muslim minoritas, turunan imigran, anak jin, cewek, terus mutan juga. Dipersekusi 5 kali lipat!

Hal positif terakhir yang ingin saya angkat adalah terkait penggunaan VFX 2D di beberapa adegan, khususnya saat Kamala berkhayal. Gayanya seperti grafiti digabung dengan gaya fanart seadanya dengan warna-warna yang cerah dan mungkin sedikit elemen etnik Pakistan. Sayangnya adegan-adegan ini lebih banyak terjadi di episode-episode awal. Namun gaya visual yang menarik ini dipakai juga di end credit tiap episode.

Serial ini agak nanggung sebagai tipikal serial remaja ataupun serial aksi Marvel, mungkin karena porsi isu berat dan representasi yang ingin dibawanya akan sulit membuatnya jadi serial yang ringan. Atau mungkin ceritanya kurang berhasil menjalin semuanya lebih rapih. Namun setidaknya kekhawatiran saya soal misrepresentasi cukup terobati.

Kategori
Film Review

Film Review: Rapel Marvel I

Berkat langganan Disney+ dan berkesempatan nonton di bioskop dengan selamat, sehat, wal afiat, aku berhasil memuaskan FOMO sama film dan serial MCU pasca awal pandemi. Tapi baru sekarang ada mood dan luang buat ngerapel review semuanya. Masuk akal juga kalau review-nya dirapel karena setiap film dan serial MCU sudah tidak dapat benar-benar berdiri sendiri lagi.

Oh ya, spoiler alert.

Wanda Vision

Awalnya seperti parodi yang unik dari opera sabun Amerika dari era 50-an sampai 2000-an yang dibintangi Wanda dan Vision. Namun, perlahan ‘realita’ ini terusik dan terkuaklah bahwa dunia opera sabun itu adalah ciptaan Wanda sebagai coping mechanism atas kehilangan Vision dan penderitaan lain yang dialami sepanjang hidupnya.

Ya, mungkin kalau stress kamu juga suka ngayal masuk ke dunia drakor, anime, atau OVJ.

Aku kurang paham mengenai batas kekuatan Wanda ini yang meski sumbernya beda tapi dianggap sama dengan sihir miliki Agatha. Tapi sebagaimana warga kota yang nampak memaafkan Wanda setelah dikendalikan untuk ikut main di opera sabun-nya, aku bisa mengabaikan itu. Wanda Vision adalah pembuka yang spektakular untuk serial MCU di Disney+.

Falcon and Winter Soldier

Agak meh, tapi sebenarnya mengangkat isu-isu yang cukup dalam; bukan sekedar tiga cowok yang harusnya nanganin teroris pengungsian tapi malah rebutan perisai. Masing-masing karakter punya masalah yang unik seperti PTSD, rasisme, dan heroisme di dunia di mana manusia super menyelamatkan dunia namun dunia yang diselamatkan dibangun berdasarkan dunia nyata yang kita alami, dengan masalah-masalahnya.

Tapi bagian favorit saya di serial ini ada di dialog berikut:

Bucky Barnes: Why did you give up that shield?
Sam: Why are you making such a big deal out of something that has nothing to do with you?
Bucky Barnes: Steve believed in you. He trusted you. He gave you that shield for a reason. That shield that is… that is everything he stood for. That is his legacy. He gave you that shield, and you threw it away like it was nothing.
Sam: Shut up.
Bucky: So maybe he was wrong about you. And if he was wrong about you, then he was wrong about me!

Dalam tingkat personal, kepercayaan Steve pada Bucky adalah yang membuatnya percaya kalau dia bisa menebus dosa-dosanya di masa lampau. Saat Sam mengingkari kepercayaan Steve padanya untuk mewarisi perisai Captain America, Bucky merasa keyakinannya goyah dan menjadi marah pada Sam. Ini rumit memang, tapi kerasa.

LOKI

Loki yang kabur bawa Tesseract di film Endgame ditangkap TVA, semacam polisi yang tugasnya mangkas alur waktu agar tidak bercabang. TVA ini menentukan mana skenario yang boleh jalan, seperti Avengers kembali ke masa lalu buat ngambil Infinity Stones, dan mana yang perlu dipangkas, seperti Loki kabur bawa Tesseract. Anggap TVA ini Kevin Feige atau eksekutif Marvel/Disney yang punya wewenang nentuin mana yang canon mana yang gak.

Setelah maraton film Thor dan Avengers, Loki tobat, dan menerima saat dipaksa jadi agen TVA buat nangkap versi lain dari dirinya yang mengancam TV. Tapi dia pikir TVA itu geje dan berencana buat mengambil alih. Upaya pertobatan, godaan kekuasaan, dan pencarian jati diri ini berakhir dengan Loki menggapai self-love… uh, secara teknis dan literal. Dan juga filosofis.

Tapi gini, kalau Loki yang kabur harus dipangkas dan Tony dkk. yang di Endgame dianggap canon, kenapa mereka ga ditangkap padahal menyebabkan Loki kabur? Kalau kejadian saat Tony dkk. mencuri Tesseract ikut kepangkas juga, berarti mereka ga punya motivasi buat balik ke masa lalu yang ada bapaknya Tony buat ngambil Tesseract? Terus kenapa Loki ditangkap dan ga langsung dihapus aja dan kenapa orang-orang dan dunia yang dipangkas dikirim ke ujung waktu buat dimaka- ah sudahlah. Konsep ruang, waktu, dan multiverse di serial ini lebih enak ditonton daripada dipikirin.

Black Widow

Film yang harusnya dirilis 1-2 tahun lalu tapi diundur-undur bahkan sebelum pandemi ini akhirnya rilis di bioskop Indonesia beberapa bulan lalu. Awalnya aku berharap film ini bisa memberikan kedalaman pada karakter Black Widow yang dikorbankan di Endgame untuk mendapatkan batu akik; tanpa dapet adegan upacara pemakaman kayak Tony Stark. Sayangnya ceritanya terasa kurang berhasil mengangkat film ini lebih dari sekedar film aksi yang dibintangi Black Widow.

Sebenarnya aksinya seru, dan cerita reuni keluarga palsunya untuk menjatuhkan The Red Room yang melatih agen-agen cewek seperti Natasha cukup menarik. Tapi serasa banyak potensi yang tidak dioptimalkan seperti backstory terkait The Budapest Operation dan karakter Taskmaster yang bisa meniru gaya bertarung Avengers namun dikalahkan secara anti-klimaks karena dia hanya agen lain yang perlu diselamatkan. Entah kenapa tiap kali Marvel bikin film dengan tokoh utama cewek, klimaksnya ga seru.

Sebenarnya film ini lebih menarik kalau digali lagi lebih dalam, tapi kalau dilihat dari permukaan, film ini kurang memiliki intensitas yang memuaskan dan berbekas. Satu-satunya cara film ini memiliki dampak yang luas adalah dengan menempatkannya sebagai backstory buat karakter Yelena yang nampaknya bakal muncul di film atau serial MCU lain.

Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings

Film ini sangat mengikuti formula ‘Hero’s Journey’ ala MCU. Shang-Chi dan Katy yang tadinya hidup santai dikejar bapak Shang Chi buat bantu dia ‘membebaskan’ ibunya yang dia anggap dikurung di desanya. Lalu mereka menghadapi monster yang tak sengaja dibebaskan bapaknya dengan mengeluarkan kekuatan yang tersimpan dalam dirinya. Kurasa, itu agak terlalu instan.

Sebagai film MCU pertama yang merepresentasikan Asian American sebagai protagonis, film ini cukup ok dengan aksi-aksi yang menarik dan tie-in yang jelas dengan dunia MCU secara keseluruhan, khususnya Ironman 3. Mungkin hal-hal itu yang paling menarik buatku selain pengkarakteran Shaun (Shang-Chi) dan Katy (Ruiwen), setidaknya di awal film saat mereka belum masuk ke dunia magis yang menghancurkan realita mereka.

Film ini juga sedikit mengangkat isu orang China-Amerika, baik yang imigran ataupun turunan, yang seringkali mengalami krisis identitas karena tidak diterima sebagai orang Amerika maupun China. Saat kembali ke kehidupan lama mereka, Shang-Chi yang imigran memilih kembali ke identitas lamanya sedangkan Katy memilih untuk tetap menggunakan nama Amerikanya. Namun apapun pilihan mereka, itu tidak terlalu penting karena pada akhirnya mereka sama-sama ‘entitled millenials’ yang kebanyakan maen.

Venom: Let There Be Carnage

Lupakan Carnage di sini. Ini film bromance antara Venom dan Eddy Brock.

Eddy mewawancarai terpidana hukuman mati, Cletus Kassidy, dan dengan bantuan Venom membantu menemukan jenazah korban-korban pembunuhannya. Itu berakibat jadwal hukuman matinya dipercepat. Saat diundang untuk menemui Cletus untuk terakhir kalinya, Cletus menggigit tangan Eddy hingga berdarah. Dan darah Eddy yang mengandung sel Venom masuk ke tubuh Cletus, jadi beringas saat eksekusi suntik mati dilakukan dan POW! Jadilah Carnage.

Anyway, Eddy yang sepanjang film berantem dengan Venom, akhirnya berhasil mengalahkan Carnage, karena Eddy dan Venom lebih akur daripada Cletus dan Carnage. Kenapa Cletus dan Carnage ga akur? Karena Carnage ga akur sama pacarnya Cletus. Jadi pesannya moralnya, cari pacar yang bisa akur sama temen?

Overall, ini film superhero/anti-hero biasa di mana ada masalah lalu dihantam sampai beres. Adegan berantem di akhirnya lumayan seru sih. Tapi kelihatannya hype film ini justru post-credit scene nya. Spoiler alert, Eddy dan Venom liburan, di kasur berduaan. Nonton TV, muncul gambar cowok, terus dijilat. Jangan mikir yang enggak-enggak, ini beneran.

Btw emang Venom ada di MCU? Well…’


Jadi secara umum film dan serial MCU masih lumayan worth buat ditonton, meski nonton cuma FOMO. Selama nonton berbagai serial atau film MCU yang rilis sekarang-sekarang, aku selalu mikir, bagaimana mereka menangani dunia pasca Endgame? Latar itu yang menurut saya akan jadi tantangan dalam narasi di dunia Marvel. Tapi mungkin jadi titik penasaran bagi fans.