
Untuk film yang merangkum area seluas 4,5 juta kilometer persegi dalam 100 menit lebih, film ini terasa sepi-sepi nanggung. Memang benar bahwa film ini berhasil menampilkan keramaian dunia yang terinspirasi dari berbagai budaya di Asia Tenggara (dicampur dengan beberapa elemen modern tentunya). Hanya saja, kenapa terasa kurang meriah?
Raya and The Last Dragon menceritakan tentang petualangan Raya mencari naga Sisudatu dan mengumpulkan pecahan batu naga untuk mengembalikan ayahnya dan penduduk Kumandra yang diubah menjadi patung oleh Druun (hmm, tidak terinspirasi dari Dr. Stone tentunya, mungkin). Namun dalam perjalanannya, naga Sisudatu mendorong Raya untuk menyatukan kembali Kumandra yang terpecah dalam 5 bangsa (Tail, Talon, Spine, Heart, dan Fang). Namun Raya tidak yakin itu akan berhasil karena orang-orang Kumandra susah dipercaya.
‘Trust’ atau saling percaya ini menjadi tema utama dalam film. Sayangnya, saya merasa tema ini terlalu dipaksakan. Raya diceritakan sulit mempercayai orang lain karena pernah dikhianati, namun rasanya terlalu ceria dan terbuka untuk dunia yang seharusnya post-apocalyptic. Melenceng dari stereotip protagonis judes penyendiri memang unik, tapi jadi kurang nyambung dengan setting dunia yang suram.
Penduduk Kumandra juga tidak terlalu diceritakan secara detail bagaimana dan mengapa mereka saling bermusuhan. Hal tersebut seharusnya dieksplorasi agar tema soal saling percaya ini menjadi lebih kentara dan tertuturkan dengan alami. Namun itu sulit karena penduduk Kumandra hampir semuanya menjadi patung. Bagaimana perbedaan gaya hidup dan karakter tiap bangsa berbentrokan? Entah, kita hanya diberi tahu kalau dulu setelah naga mengalahkan Druun dan batu naga disimpan di bangsa Heart yang makmur, mereka jadi bermusuhan.
Dari penduduk tiap bangsa yang ditemui Raya pun kita tidak mendapat banyak. Interaksi antar karakter dan konflik di awal dengan Raya berlangsung singkat sebelum akhirnya bergabung. Latar belakang semuanya sama: keluarga mereka jadi patung. Itu jadi benang merah persamaan antar karakter, namun menghilangkan keunikan masing-masing dalam hubungannya dengan tema dan setting.
Kumandra memang tanah post-appocalyptic yang ‘seharusnya’ sepi, namun di beberapa daerah seperti Talon dan Fang, masih banyak orang. Namun nanggung juga. Misal ada adegan Namaari dari bangsa Fang yang sepulang mengejar Raya di daerah Tail meminta tambahan pasukan untuk mencegatnya di daerah Spine. Saat Namaari dan Raya bertemu di Spine, Namaari datang bersama pasukan dengan jumlah dan peralatan yang… ga jauh beda dengan saat mengejar Raya di Tail.
Namun rasanya pelaku utama yang bikin film ini terasa kurang adalah scoring musiknya. Memang terdengar ada instrumen tradisional yang unik di film ini, namun scoring di banyak tempat kurang pas untuk meningkatkan emosi di tiap adegan. Rasanya saya kurang sreg dengan editing, tone warna dan pencahayaan juga, tapi entahlah. Yang jelas pada akhirnya, saya merasa Raya and The Last Dragon menjadi film yang kurang kolosal dan emosional meski memiliki titik-titik plot potensial untuk itu.
Tapi kalau soal representasi budaya, film ini cukup baik dalam memanfaatkan keragaman Asia Tenggara menjadi kekayaan visual. Awalnya saya kira film ini hanya terinspirasi dari budaya Indochina dan daerah Utara dari Asia Tenggara saja, tapi ternyata seluruhnya. Padahal, tidak masalah kalau film ini misal mengambil budaya Vietnam saja atau Filipina saja. Orang Melayu dan Jawa bisa nunggu kok.
Dari pakaiannya, 5 bangsa di Kumandra menurutku masing-masing terinspirasi oleh Melayu (Spine), Siam/Thailand (Heart), Jawa (Fang), Dayak (Spine), dan lainnya (saya kurang ngeh Tail terinspirasi dari budaya mana). Saya rasa Fang, yang paling culas dari 5 bangsa, terinspirasi dari Majapahit karena… eh, cocok aja. Bangsa Fang mirip Majapahit zaman Gajah Mada yang cerdik dan manipulatif dipimpin ratu yang sukses.
Secara umum, film ini tidak ingin mengambil langsung budaya dan mitologi sesuai dengan aslinya. Film ini lebih seperti mengambil inspirasi dari suatu budaya, lalu membuat dunia baru dengannya. Ini menghindari masalah sensitif kalau-kalau ada yang tersinggung karena budayanya atau kepercayaannya digambarkan secara keliru. Ini juga memungkinkannya untuk memasukkan elemen-elemen modern yang familiar untuk penonton global.
Hal menarik lainnya ditampilkan saat orang berubah menjadi patung mengambil pose yang mirip patung-patung di candi. Meski perubahannya agak maksa dan tidak dijelaskan kenapa mengambil pose tersebut, saya rasa itu keren juga. Tak lupa berbagai kuliner Asia Tenggara yang masing-masing unik namun memiliki kemiripan, yang dalam film ini, digunakan sebagai simbol pemersatu.
Namun elemen modern di film ini kadang ganggu juga. Terutama kostum Ratu Virana dan Namaari yang meski keren tapi terlalu kontras dengan pakaian penduduk Fang lainnya. Di hal lain, seperti kostum Raya dan senjatanya yang terinspirasi dari keris tapi bisa memanjang seperti cambuk terlihat sangat keren. Mungkin saya juga bisa menolerir eyeliner dan Tuktuk yang entah terinspirasi dari makhluk mitologi mana, tapi agak heran juga kenapa makhluk itu tidak terlihat di tempat-tempat lain di Kumandra, selain yang dinaiki Raya.
Aspek lain yang sering muncul di sejarah, budaya, dan mitologi Asia Tenggara juga berhasil dipresentasikan (sesuai interpretasi Disney). Misalnya kesatria dan pemimpin perempuan (yang selalu muncul di sejarah dan dongeng Asia Tenggara), ritual-ritual persembahan (kenapa pakai lilin dan bukan kemenyan?), dan penghormatan pada air sebagai sumber kehidupan.
Koreografi Raya lawan Namaari (hampir hanya mereka berdua yang berantem di film ini), meski agak ‘janky’ karena mungkin keluwesannya terbatas teknik animasi, selalu menarik dan membuat pertarungannya seru. Elemen dari berbagai seni beladiri Asia Tenggara seperti silat, thai-boxing, Arnis, dan lainnya, juga saya rasakan dalam adegan-adegan duel.
Di luar aspek budaya, teknis visual dalam film ini masih selevel film-film animasi Disney. Meski rasanya ada yang kurang, ada hal-hal yang berkesan seperti animasi air mengalir ke atas atau naga-naga yang terbang dengan menginjak air di udara. Lewat visual juga, film ini menujukkan perkembangan karakter dan penampilan Raya dari yang dekil dan curigaan di awal menjadi bersih di akhir karena mulai mempercayai orang lain.
Tapi langkah baik dalam visual dan aspek adaptasi budaya ini tidak cukup untuk membuat saya benar-benar menyukai film ini. Aku ingin menyukainya, namun rasanya film ini cuma jadi alasan agar Disney bisa menjual merchandise Disney Princess ke Asia Tenggara karena, ‘hey sekarang ada Disney Princess dari Asia Tenggara lho!’ Mungkin aku harus menonton ulang film ini saat kondisi hati lebih enak dan gak terganggu suasana pandemi. Dengan begitu, mungkin aku bisa lebih mengapresiasi film yang hampir seluruhnya susah-susah dibuat secara remote dan WFH ini.
