
Saya menonton ini back-to-back dengan Ms. Marvel dan jika keduanya dibandingkan, menurutku Ms. Marvel lebih baik. Sangat disayangkan karena sebenarnya She-Hulk lebih fun tapi ujung-ujungnya terlalu kacau untuk dinikmati.
Jennifer Walters mengalami kecelakaan saat liburan bersama sepupunya, Bruce Banner, dan saat darah Bruce menetes pada luka terbuka di lengan Jen, kekuatan Hulk pada Bruce jadi ‘menular’ ke Jen. Ternyata Jen juga memiliki DNA spesial yang membuatnya lebih mampu mengendalikan kesadaran saat berubah jadi Hulk. Setelah menguasai kemampuan Hulk dengan kecepatan di luar dugaan Bruce, Jen berusaha kembali ke kehidupannya yang semula dan melanjutkan karir sebagai pengacara, meski Bruce tidak setuju.

Premisnya cukup menarik dan berhasil dibuat kocak. Saya suka bagaimana film ini menampilkan dampak dunia yang berisi orang-orang dengan kekuatan super pada bidang peradilan dan hukum. Pada tiap episode yang singkat (30 menitan, tidak sepert serial MCU lainnya), Jen dan kawan-kawannya yang bekerja di divisi superhuman sebuah kantor hukum ternama menangani influencer dengan kekuatan super, penipu yang dapat berubah bentuk dari New Asgard, mantan supervillain yang tobat, dan lainnya. Ini memberikan perspektif yang cukup segar dan realistis terkait aktivitas-aktivitas manusia super saat berlawanan dengan hukum.
Karakter Jen Walters juga cukup ‘cute’, seperti selalu nahan kesel meski mukanya senyum-senyum. Jen menampilkan bagaimana kekuatan Hulk digunakan jika dimiliki perempuan, yang sudah biasa menghadapi banyak kekesalan dan stress terkait gender dalam hidup maupun karir. Ini adalah suguhan eksplorasi yang unik terkait topik tersebut.

Karakter lain yang menarik adalah The Abomination alias Emil Blonsky. Antagonis dari The Incredible Hulk ini dibantu mendapat pembebasan bersyarat oleh Jen. Setelahnya, ia jadi semacam ketua cult dan support group untuk orang-orang berkekuatan super agar memiliki kepribadian yang lebih baik. Hal positif untuk mengurangi kejahatan yang seharusnya dibikin oleh bilyuner macam Tony Stark.
Oh, ada satu hal lagi yang berkesan, yaitu end credit tiap episode yang dibuat seperti sketsa ruang peradilan dan berubah-ubah sesuai event yang terjadi pada tiap episode. Niat banget.

Sayangnya beberapa hal menarik tersebut diganggu dengan hal-hal medioker atau mentah Sekarang soal hal-hal yang mengganggu di serial ini. adalah proses Jen mendapatkan kekuatan Hulk yang terlalu kebetulan, kemudian menguasai kekuatannya secara cepat sambil agak membunuh karakter Hulk jadi sok heroik dan mudah iri. Ya, ga apa-apa sih biar cepat fokus ke kehidupannya sebagai pengacara.
Kemudian lampshading atau breaking fourth wall juga kadang berlebihan. Jen Walters sadar kalau dirinya berada dalam serial! Bagiku ini agak mengurangi immersion dan mengacaukan world building di MCU yang dampaknya ceritanya jadi kurang meyakinkan. Setidaknya, ini tidak sesuai untuk MCU dengan alasan yang akan saya sampaikan nanti. Sempat diindikasikan kalau ini terkait dengan kekuatan Hulk nya, tapi tidak dijelaskan bagaimana hubungannya.

Lalu sampailah di episode-episode terakhir saat Jen dan Matt Murdock alias Daredevil jadi pasangan instan. Entah ini sesuai dengan karakter Daredevil di serial lainnya atau tidak, tapi meski dalam serial ini kita sudah diperlihatkan bahwa Jen bisa langsung tidur bareng dengan seorang cowok yang baru ditemuinya dalam sehari, mungkin tidak terlalu out of character bagi Jen. Tapi bagiku, proses bikin chemistry-nya terlalu cepat untuk romansa di antara 2 karakter penting.
Di episode akhir ini juga She-hulk juga jadi lebih destruktif tanpa memperhatikan konsekuensi legal nya, bahkan sebelum mengamuk. Agak menyimpang dari karakternya sebagai pengacara. Emil melanggar syarat pembebasannya karena dibayar jadi pembicara di komunitas anti She-Hulk dan kembali ditangkap. Plotnya disampaikan secara ngasal dan menyia-nyiakan ide cult/support group di awal.
Dan di adegan klimaks episode akhir yang sengaja dibikin kacau, She-hulk mendobrak fourth wall untuk memprotest episode terakhir ini ke kru produksi film dan menggunakan kemampuan debatnya untuk memaksa K.E.V.I.N., AI yang mungkin representasi Kevin Feige, bosnya MCU, sehingga ia mengubah adegan pertempuran di episode terakhir itu.

Bagian ini bikin saya garuk-garuk kepala. Saya dengar She-hulk sejak dari komiknya memang sudah biasa mendobrak fourth wall. Tapi di MCU yang sudah bejibun dengan magic system dari berbagai mitologi, sci-fi yang gak terlalu mustahil, dan apalagi multiverse, world-building nya jadi makin membingungkan; tidak ada konsistensi. Saya jadi ga bisa percaya dengan ceritanya. MCU jadi dunia yang segala hal bisa terjadi; batasnya ga jelas.
Breaking the fourth wall itu terlalu overpowered. Bayangkan Thanos kalahnya pakai cara itu. Gak seru kan?
Jadi serial yang bisa jadi lumayan ini sangat disayangkan ga dibikin lebih serius dikit. Mungkin serial ini cuma mau mengingatkan ke penggemar MCU yang suka kritik dan protes di medsos: ‘udah abang-abang, ini cuma tontonan’.
Btw, agak mengecewakan kalau Marvel terlalu fokus membangun franchise daripada world-building. Mungkin phase Marvel ini memang lebih ingin mengenalkan franchise baru, mengangkat karakter dan aktor muda baru agar bisa move on dan gak terikat dengan aktor-aktor yang bisa menua, meninggal, atau berkasus.
