[PERINGATAN SPOILER]
Jarang-jarang ada cerita pendek manga dijadiin anime. Namun, Look Back adalah cerita besutan Tatsuki Fujimoto yang dibuat saat ia istirahat setelah kesuksesan bagian pertama Chainsaw Man yang membuatnya terkenal. Setengah semi-autobiografi, setengah ode untuk korban pembantaian dan pembakaran di Kyoto Animation pada 2019, cerita pendek tersebut menarasikan persahabatan duo mangaka Fujino dan Kyomoto yang tragis dan mengharukan.
Membaca manga tersebut waktu dulu sukses membuat saya tertohok dan ini mungkin karya Fujimoto yang lebih berkesan daripada Chainsaw Man. Namun, menonton versi animenya dengan ekspektasi mendapatkan perasaan yang lebih besar daripada waktu itu, adalah kekeliruan. Saya tidak mendapatkan semacam upgrade dari ke-tertohok-an dan kesedihan saat pertama membaca manganya meski kali ini dengan animasi yang cukup cantik dan pengisi suara yang cukup pas.
SEDIKIT GANJEL YANG MUNGKIN GA TEPAT
Mungkin salah satu faktor yang membuatku merasa begitu adalah tiket harga penuh akhir pekan di CGV (Rp 50.000) untuk animasi sepanjang kurang dari 1 jam (meski kali ini saya ditraktir). Animasi ini terasa lebih cepat berlaly daripada waktu saya membaca manganya. Mungkin hanya karena saya pembaca yang lamban, dan saya bisa merasa Kyomoto hidup lebih lama daripada waktu di anime nya.
Saya juga merasa ada beberapa bagian yang lebih bisa dianimasikan daripada dibikin slide. Satu hal lagi, meski gaya ilustrasi Fujimoto yang tidak rapih memiliki alasan kuat untuk dipertahankan di animenya, saya lebih membayangkan gaya ilustrasi yang lebih mulus dan konsisten.
Namun, saya masih bisa mengapresiasi cerita ini. Lagipula, sepertinya lebih wajar kalau saya mereview sebuah film anime daripada sebuah manga pendek one-shot. Maka, saya bisa melakukan look back untuk film ‘Look Back’ ini dengan melihatnya dari sebuah jarak.
‘Mengapa kamu menggambar?’
Saya rasa pertanyaan yang dilontarkan menjelang akhir film itu bisa menjadi kerangka untuk mengulasnya secara keseluruhan. Pertanyaan tersebut tidak dijawab secara eksplisit lewat kata- kata di bagian mana pun dalam film. Namun, saya merasa bahwa Fujino mendapat jawaban tersebut melalui rasa yang dia tunjukkan lewat hal-hal yang dia lakukan. Dan jawaban atas pertanyaan itu berevolusi mengikuti pengalaman hidup Fujino.

Di awal film, Fujino si bocah SD menggambar karena suka dipuji. Orang-orang memuji komik 4 panel-nya di koran sekolah (meski gambarnya jelek, mungkin seperti Fujimoto), sampai dia harus berbagi slot dengan Kyomoto, anak yang tidak pernah masuk kelas, yang gambarnya lebih bagus. Menyadari hal tersebut, Fujino berusaha keras agar gambarnya lebih bagus.
Hiperfiksasi Fujino untuk menggambar setiap hari membuatnya terisolir dari teman dan keluarganya. Nilai pelajaran sekolahnya pun jeblok. Meski sudah melalui semua itu, ia sadar bahwa gambarnya masih jauh di bawah Kyomoto. Akhirnya dia berhenti menggambar, membuang semua buku sketsanya, dan kembali bergaul dengan teman dan keluarga. Motivasinya berdasar pujian atau obsesi untuk jadi yang terbaik tidak akan bertahan lama.
Fujino disuruh gurunya untuk mengantarkan ijazah kelulusan SD kepada Kyomoto di rumahnya. Karena tidak ada yang menjawab saat ia mengetuk, dan karena pintu rumahnya tidak dikunci, ia nyelonong masuk dan menemukan sepotong kertas dengan empat panel komik. Tiba-tiba saja ia iseng menggambar di panel tersebut untuk mengejek Kyomoto yang jarang keluar kamar. Tiba-tiba juga kertasnya jatuh dan menyelip masuk ke kamar Kyomoto. Fujino panik dan kabur dari rumah itu.
Di luar rumah, ia dikejar Kyomoto yang memanggilnya ‘sensei’ dan bilang pada Fujino kalau dia adalah penggemarnya. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, ia sangat senang. Mungkin di kepalanya, ia serasa dipuji oleh rivalnya yang lebih baik darinya, yang menganggap dirinya inspirasi bagi rivalnya itu. Sampai di rumah, ia langsung menggambar.

Mungkin di sini Fujino masih terlihat seakan ia lanjut menggambar karena menyadari kalau ia menang di atas Kyomoto, menganggap gambarnya ternyata lebih bagus, atau minimal diakui oleh Kyomoto. Namun, saya ingin menganggap bahwa Fujino dan Kyomoto yang kemudian jadi sepasang mangaka cilik dengan nama Kyo Fujino menggambar karena kehadiran satu sama lain. Kyomoto menggambar bersama idolanya, Fujino menggambar bersama rivalnya yang lebih baik, namun mengakuinya.
Meski Fujino lebih dominan dan Kyomoto bergantung padanya, pertemanan mereka menghasilkan puluhan karya komik. Namun, saat mereka mendapat kesempatan untuk membuat komik serial, Kyomoto memutuskan untuk lanjut kuliah seni dan berpisah dengan Fujino. Meski dipaksa Fujino untuk tetap tinggal dan membantunya, Kyomoto tetap ngotot. Fujino akhirnya membuat manga sendiri, dibantu dengan asisten-asisten yang datang dan pergi. Komiknya sukses, dibuat anime, dan ia kini tinggal di apartemen besar. Kegiatan menggambarnya kini adalah sebuah karir yang sukses.

Sampai ia mendengar kabar dari ibunya tentang Kyomoto. Seorang yang kurang waras membantai seniman-seniman di tempat Kyomoto kuliah, dan ia adalah salah satu korbannya. Setelah upcara pemakaman, Fujino mendatangi rumahnya dan menemukan komik 4-panel yang dia gambar, yang membuat Kyomoto keluar dari kamarnya. Ia menyesal menggambar komik itu dan merobeknya, membayangkan apa yang akan terjadi jika Kyomoto dan ia tidak pernah bertemu. Andai ia tetap berhenti menggambar dan lanjut latihan karate bersama kakaknya, mungkin ia bisa menyelamatkan Kyomoto di kampusnya.
Sejujurnya di bagian ini, adegan film sulit dideskripsikan. Saya hanya bisa merasakan maksudnya, sepertinya sih.
Di akhir film, Fujino kembali ke meja kerjanya, menempelkan sepotong kertas dengan 4 panel kosong di kaca jendela. Lalu, lanjut menggambar dari pagi sampai malam. Mungkin untuk menjaga kenangan Kyomoto agar tetap hidup. Mungkin juga karena 4 panel kosong itu bisa mengingatkannya untuk menggambar, apapun alasannya. Apapun perasaan yang mengantarkanmu pada goresan pensil.

Dengan mengulasnya seperti ini, saya merasa film ini akan beresonansi dengan kreator dan seniman, apapun bidangnya. Meski rasanya saya tidak akan mendapatkan apa-apa kalau nonton ulang filmnya atau baca ulang manganya, saya punya satu alasan untuk melakukannya. Saya ingin Kyomoto tetap hidup.
