Kategori
Devlog/Studlog

Single Issue Voter (2019)

Badan masih lelah karena kemarin sok-sokan ikut demo sebentar pakai badan yang renta. Aku memutar video ini di TV sambil bersantai, mendengar pengurus Asosiasi Game Indonesia (AGI) 2019-2024 menyampaikan refleksi kepengurusan mereka selama 5 tahun. Yang patut dicatat, meski sudah saya ketahui sebelumnya, AGI berhasil membantu pemerintah untuk menelurkan kebijakan-kebijakan yang mendukung industri video game. Salah satu hasil pamungkasnya, Perpres No. 19/2024 tentang Percepatan Pengembangan Industri Gim Nasional (PERPRES No. 19 Tahun 2024 (bpk.go.id)).

Tidak hanya itu, AGI bercerita tentang orang-orang di pemerintahan dari kementrian (termasuk menkomarves) hingga presiden dengan diksi yang positif. Pemerintah sangat suportif sama industri gim, dan meski boomer-boomer itu tidak begitu paham, mereka bisa percaya serta mau belajar pada AGI dan pelaku industri. AGI juga salut dengan ketegasan orang-orang itu yang bisa memutuskan dan mengeksekusi tanpa banyak basa-basi. Memang sih ada oknum yang tidak mengenakkan, mereka bilang, tapi secara umum mereka memberi kesan pada pemirsa untuk tidak takut bekerjasama dengan pemerintah.

Sulit buatku untuk mempertahankan prasangka negatif; “ah, pemerintah mau dukung karena industri gim bisa jadi duit buat mereka”. Bahkan dengan prasangka negatif seperti itu, aku tak mau menyangkal hasil positifnya.

Hasil dari upaya AGI dan pemerintah sudah banyak dirasakan pelaku industri gim lewat banyaknya event seperti pameran, game jam, pelatihan, dan bantuan-bantuan lainnya. Termasuk perpres yang rilis sebelum pemilu di atas. Aku juga bisa mengapresiasi semua itu, bahkan meski saya mengalami semacam disonansi saat mendengar pujian pada pemerintah dalam masa #PeringatanDarurat. Ya, aku mungkin juga akan/sudah menikmati hasil kerja AGI dan pemerintah. Mereka sudah bekerja dengan sangat baik.

Aku juga ingin menepuk pundak sendiri yang 5 tahun lalu mencoblos presiden saat ini berkat melihat sekilas bagian debat presiden terakhir saat presiden terpilih menyebutkan data-data industri game di Indonesia. Kupikir, hey, dia punya pembisik dari industri gim, jadi pilih dia aja. Waktu itu sebenarnya aku rajin menyimak keseluruhan debat dan membuat rangkuman. Namun, kalau boleh jujur, bagian debat yang itu itulah yang menentukan. Bukannya ingin mengklaim punya andil dalam keberhasilan AGI dan pemerintah (yang mungkin saja tetap bisa kejadian kalau presidennya beda), tapi setidaknya aku tahu kalau argumenku saat milih sudah tepat. Sekarang aku tahu istilah bagi pemilih seperti itu: ‘Single issue voter’.

Single issue voter hanya fokus pada satu bidang yang paling ia pahami atau berpengaruh pada hidupnya dalam perkara pemilihan umum, atau upaya kolektif di masyarakat secara umum. Baginya, isu hukum, tata kelola pemerintahan, kemanusiaan, keadilan, dll. adalah hal di luar pemahamannya jadi tidak dia pedulikan. Mungkin peduli sih, tapi kalau mikirin semua aspek saat pemilu, bakal bingung sendiri. Jadi, yang tidak dipahami diabaikan, dan fokus pada yang dampaknya langsung pada bidangnya saja. Saya pikir, ini adalah cara pikir paling fair dan logis dalam nyoblos.

Pelan-pelan, aku sadar, kalau ‘single issue’-ku bukan sesuatu yang mendasar bagi sebuah negara atau daerah, ya percuma difokusin. Maksudnya, oke industri gim bagus, tapi gimana dengan landasan dasar bernegaranya? Bagaimana dengan hukum, keadilan, dan kemanusiaan? Basis negara ini bukan industri gim.

Kurasa meski industri gim berkembang namun, misalnya pendidikan masyarakat rendah, ya rugi juga. Lalu, masa ada orang yang mau beli gim kalau kebijakan ekonomi ga bikin orang cukup sejahtera buat nyisihin duit beli gim? Kalau orang-orang politik semaunya ngakalin aturan, apa jaminan aturan-aturan pemerintah terkait industri gim ga diotak-atik buat segilintir orang? Tanpa kepastian hukum dan integritas regulator, apa ada studio triple A luar yang mau invest di sini?

Balik lagi ke soal pendidikan. Aku bisa bayangkan game developer yang bikin naratif keren, cerita penuh makna, akan kecewa kalau pendidikan masyarakat dan literasi medianya rendah; rentan gagal atau salah menangkap makna dari karyanya (skenario terburuk, dicancel atau kena UU ITE karena itu). Terpaksa bikin game ke luar negeri lagi (sepertinya ini ga masalah buat banyak studio sih).

Aku paham, bahwa keberhasilan AGI tidak serta merta berarti keberpihakan pada rezim saat ini (dan 5 tahun ke depan, sayangnya) serta berbagai kebijakannya yang memakan korban. Pun para pekerja di industri gim, saya rasa memiliki pandangan yang majemuk terkait pemerintahan. Mereka punya hak untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah, dan juga hak untuk menyuarakan kritik dan aspirasi.

AGI bahkan sepertinya bisa membantu menyalurkan aspirasi pekerja industri gim terkait ketanagakerjaan dan regulasi. Di luar itu, tentunya akan canggung jika AGI atau studio gim anggota AGI melakukan kritik terhadap pemerintah. Misalnya, dari personal pengurus AGI atau dari organisasi lain yang terafiliasi tidak akan ada kritik terhadap keterkaitan Luhut dengan tambang yang bermasalah. Atau soal dinasti politik. Namun, itu persepsi saya saja, semoga salah.

Meski kepengurusan AGI sudah berganti, hubungan yang tetap lancar dengan pemerintah sepertinya terjamin. Dan aku pribadi masih tetap ingin agar kerja sama itu langgeng terus karena, seperti yang sudah kubilang, pelaku di industri gim berhak mendapatkan dukungan pemerintah. Namun, pekerja di industri gim sepertinya perlu memposisikan diri agar karya dan kritik mereka tidak berdampak pada hubungan AGI atau industri gim dengan pemerintah. Tentunya dalam pemerintahan yang sehat, ini tidak akan jadi persoalan. Dengan pemerintahan yang sekarang… begitulah…

Mungkin pandangan ini tidak begitu berarti karena berasal dari orang yang sedang tidak berada di dalam lingkup industri gim. Aku anggap ini hanya salah satu upaya menyelaraskan nilai yang kuanut dengan kondisi ril; merapikan alur logika pandangan pribadi terkait industri gim saat ini. Pun tulisan ini bukan untuk mengkritik AGI atau industri gim yang sangat butuh bantuan dan dukungan dalam berkarya.

Selalu ada tarik menarik antara kebutuhan bantuan dengan kebebasan berkarya dalam pengembangan gim atau karya seni apapun. Aku sudah melihat banyak studio bisa melaluinya dengan baik lewat berbagai cara. Dan setiap cara ada konsekuensinya, baik material maupun moral.