Game for Bad People

Ga main game apapun hari ini. Mau curhat aja terkait sikap para gamer belakangan ini, mulai dari kecenderungan rasis, misogini, fanatik, toksik, self-entitled (ah apalah dalam bahasa Indonesia), dan mengarah pada kriminal. Ya, mungkin saya hanya menghakimi dari minoritas (?) di media sosial dan berita, sedangkan orang-orang di sosial media dan yang masuk berita adalah yang rasis, toksik, kriminal, dst. Namun, perasaan bahwa gamer (khususnya gamer lokal) bukanlah model manusia yang ‘pantas’ masih terbawa di benak saya sehingga membuat saya ragu kalau mau terjun ke industri game. Saya harus ‘menghibur’ orang-orang seperti itu? Yang benar saja.
Apakah video game yang berperan membikin orang-orang jadi setoksik itu? Atau hanya menjadi wadah bagi bocah kematian yang memang salah asuh dari awal? Apakah media jurnalisme game juga berperan menjadi wadah buat gamer-gamer toksik bersuara dan menjadi standar normal kepribadian komunitas gamer?
Atau mungkin saya salah. Kebanyakan gamer tidak seperti itu. Atau mungkin saya benar, tapi saya bisa mengubahnya. Caranya, dengan membuat game yang bukan untuk orang-orang seperti itu, tapi untuk orang-orang baik; gamer atau pun bukan.
Atau, bikin game untuk orang-orang seperti itu agar jadi sedikit lebih baik? Hah. Kalau sebuah produk bisa bikin orang lebih baik, orang baik bakal lebih banyak. Atau memang sudah lebih banyak ya?
Sepertinya saya terlalu membesar-besarkan masalah dan mengawang-ngawangkan solusinya. Namun, saya percaya bahwa kata-kata punya kekuatan. Setiap karya media massa punya pengaruh. Mungkin alih-alih selalu dikendalikan oleh data terkait nafsu dan ego pemain, pengembang bisa lebih menyadari kemampuannya dalam mempengaruhi pemain.
Game for good.
