Kategori
Gaming Diary

Offline Yu-Gi-Oh TCG – Gaming Diary #19

Gaming Diary #19 – 2025 05 26.

Pertama kali nonton turnamen TCG Yu-Gi-Oh offline. Ga ngerti tapi menarik.

Gaming Diary #19 – 2025 05 26

Adik mengajak ke Brotherhood Game Store yang tempatnya deket rumah. Katanya tempat jualan kartu-kartu TCG dan suka ada turnamen TCG juga di sana. Yah, kenapa tidak? Meski masih agak capek karena motor-motoran kemarennya, saya ikut saja untuk lihat-lihat.

Sampai di sana, tempatnya agak kurang sesuai dengan ekspektasi. Kupikir bakal penuh dengan rak-rak dan etalase, tapi ini seperti kedai bakso dengan bangku dan meja berjejer rapi. Kayaknya memang lantai pertama toko ini jualan bakso, tapi di rak gantung yang nempel di dinding dan kasir berjejer berkotak-kotak kartu TCG yang bermacam-macam, dari One Piece, Pokemon, dll. Sudah ada beberapa orang yang sedang ngobrol dan minum kopi (dari luar), jadi kalau mau lihat-lihat kartunya agak karagok. Mungkin daripada game store, tempat ini lebih cocok disebut sebagai basecamp komunitas TCG dan Beyblade.

Kata adik, turnamen mulainya jam 2, sesuai dengan waktu kedatangan kami ke sana. Ternyata turnamennya baru mulai jam 3. Acaranya di lantai dua, di ruang yang seperti showcase buat pamer kartu-kartu TCG dan beberapa statue dan figure Pokemon. Tentunya ada meja panjang yang digunakan untuk turnamen. Pas udah pada duduk pun para peserta masih pada ngobrol. Di sini kayaknya orang-orang lebih banyak ngobrol soal permainannya daripada mainnya. Yah, namanya juga komunitas. Sampai akhirnya seseorang, mungkin referee dan yang punya tempat meneriakkan pasangan lawan tanding dalam turnamen. Suaranya lantang dan jelas banget.

Turnamen ini itungannya turnamen lokal yang mematuhi aturan standar TCG seperti harus pakai sleeve (kurang paham alasannya, mungkin untuk mengurangi kecurangan?). Peserta turnamen sepertinya langsung datang tanpa daftar sebelumnya. Adik saya bawa kartu tapi ga punya sleeve jadi kami hanya bisa nonton. Cuman kami berdua yang hanya nonton.

Saya belum paham apakah sistemnya liga atau bracket. Bahkan, saya baru tahu kalau yang ditandingin adalah TCG Yu-Gi-Oh bukan Pokemon. Saya tahu Yu-Gi-Oh, tapi ini baru pertama kalinya nonton duel TCG offline. Saya dulu suka main sih di PC dan Duel Link yang di mobile jadi cukup paham aturan dasarnya. Terakhir main beberapa tahun lalu. Di Duel Link, aturannya disederhanakan. Namun, pada waktu itu pun aturan main untuk TCG offline seingatku sudah sangat rumit dengan Chain-Link, Extra Deck, Extra Monster Field, dll. Jadi, saya tidak berharap buat bisa paham alur pertandingan turnamen ini.

Namun saya masih coba biar lebih bisa ngikutin, jadi saya nontonin duel antara dua peserta yang kelihatannya pemula. Saya salah. Keduanya pro. Sepertinya tidak ada pemula di turnamen ini. Satu duelist memasang kartu dan beruntun mengeluarkan kartu-kartu turunan dari efek-efeknya (note: di turnamen ini kayaknya ga ada kartu monster yang tipe nya normal, minimal effect) sambil dia mengkonfirmasi efek dari kartu yang dia pakai ke lawannya terutama kalau ada efek yang perlu keputusan lawan. Lawannya belum dapat giliran. Jadi kayak lagi dibacain kartu tarot.

Nah, ini yang bikin saya tidak ngerti dengan turnamen TCG offline. Saya biasa main lewat game yang aturan dan efek-efek kartu dieksekusi oleh komputer. Bagaimana aturan bisa dieksekusi di pertandingan offline? Apalagi efek kartu dan aturan Yu-Gi-Oh sudah jadi sangat rumit. Kalau yang saya lihat sekilas, aturannya dihafal dan dikonfirmasi kedua belah pihak. Atau nanya referee kalau lupa.

Untuk efek kartu, sepertinya mereka juga menghafalkan atau cek internet. Memang di kartu ada keterangannya, tapi kebanyakan kartu di sini pakai Bahasa Jepang! Ada juga yang Inggris, tapi kalaupun mereka bisa baca Jepang atau Inggris, tulisannya kecil banget. Mau ga mau harus dihafal. Seorang hafizh Quran sepertinya punya kapasitas otak yang cocok jadi duelist dan vice versa. Nanya ke orang lain untuk memahami cara kerja efek kartu juga tidak terhindarkan. Makanya jadi kepikiran, duel TCG ini ga bisa jalan kalau ga di komunitas.

Dan sepertinya tidak ada konflik dalam memahami aturan atau efek kartu. Maksudku, mereka hanya konfirmasi satu sama lain pakai pemahaman masing-masing. Tidak ada check and balance dari pihak ketiga. Tidak ada mekanisme untuk mencegah penipuan. Kalau ibaratnya sistem pemerintahan, tidak akan ada yang bisa jalan dengan cara seperti ini. Namun, sepertinya mereka sepakat untuk bermain sesuai aturan agar bisa sama-sama senang, and it works! Imagine world peace under the rule of duelists.

Saya masih merasa akan lebih efektif kalau sistem dan aturan diatur kompute- tunggu, apa ini berarti aku juga setuju kalau pemerintah dipegang sama robot?

Saya berjalan-jalan melihat pertandingan lain. Ada yang sudah selesai dengan cepat, ada yang masih bertanding. Saya sama sekali tidak bisa mengikuti setiap pertandingan, bagaimana strateginya, dan cara kerja tiap kartu. Sebagai penonton, saya juga tidak bisa nguping terlalu dekat. Lalu, saya kembali ke duelist yang pertama saya tonton. Mereka berdua sudah memasang kartu di sisi meja masing-masih, seperti sedang saling membacakan tarot.

Turnamen ini ternyata dibatasi waktu, dan tepat pukul 4, pertandingan berakhir. Saya juga harus segera mengantar adik ke kampusnya, jadi tidak tahu apakah ada pertandingan lanjutan atau tidak.

Berkunjung ke sini adalah pengalaman yang cukup menarik dan juga canggung. Mungkin pengalamannya akan beda kalau saya benar-benar mencoba ikutan duel. Saya tidak begitu cocok dengan komunitas seperti ini. Namun, menurutku komunitas-komunitas hobi permainan yang berada di tengah-tengah kota seperti ini ibaratnya goresan warna yang merusak tembok kelabu kehidupan dewasa yang membosankan.

Btw, adik saya memperhatikan kalau peserta duel kebanyakan orang dewasa, yang baginya adalah usia 20-an. Saya tidak memperhatikan itu, karena menganggap 20-an masih bayi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *