Kategori
Gaming Diary

Pesta Pernikahan dan Komik – Gaming Diary #26

Gaming Diary #26 – 2024 06 02

Citampi Stories

Hari ini saya mencoba melamar Windy dengan memberinya item Cincin Kawin di ‘Omegamart’, tempat dia kerja. Pas dilamar, responnya hanya satu blok dialog: ‘wah ini hari terbaik dalam hidupku, kita nikah hari minggu ini ya!’ LOL! Saya sudah terima kalau dialog di game ini sederhana, langsung, dan eksplisit agar mudah dipahami terutama mengenai instruksi permainan. Namun, yang  ini bikin saya mengalami cognitive dissonance karena terlalu singkat dan gampangin. Seakan keputusan besar seperti menikah ini terasa ringan saja di game ini. Yah, namanya juga game sih.

Apalagi saya sering dengar kalau menyiapkan pernikahan itu repotnya minta ampun. Sementara di game ini, saya melamar hari Senin, nikah hari Minggu, dan di antara keduanya, menjalani hari-hari seperti biasa. Seperti nyoba-nyoba maksimalin fitur tukang abu gosok yang bisa nuker sampah jadi barang yang sedikit lebih berguna meski rada gacha. Atau menemukan kalau pot bikinan pun bisa retak, somplak, dan ga bisa dipake lagi. Lalu, upgrade tempat crafting dan media pembibitan.

Sampai akhirnya hari Minggu tiba juga.

Semua penduduk Citampi, termasuk orang tua karakter pemain dan mertuanya ada di resepsi pernikahan. Juga termasuk dua karakter yang belum pernah saya temui selama main, Isma dan Tasya yang sepertinya pilihan untuk dinikahi juga.

Selepas adegan pernikahan, karakter kembali ke rumah dan game memberitahukan bahwa penduduk Citampi dengan tingkat hubungan 4 hati ke atas akan memberikan hadiah saat pernikahan. Tunggu, yang bisa dapat 4 hati cuma gadis-gadis yang bisa dikencani. Er… jadi game ini mendukung perilaku playboy??

Yah, n-namanya juga game. Saya tidak terpikir untuk coba-coba dengan berbagai gadis karena sudah lock-in dengan Windy dari awal. Rasanya seperti itu lebih efisien mainnya. Eh, disclaimer, pilihan gadis di game ini tidak mencerminkan preferensi saya pribadi ya. Ini mah hanya mencoba memenuhi fantasi ngencanin kasir minimarket berambut pink yang doyan nge-gym.

Enggak, Bu, saya lagi gak naksir dengan kasir Indomaret.

Hhhh… susah buat ga terlihat aneh saat nikahin cewek di game apapun status pernikahanmu sebenarnya. Kalau belum nikah dikatain creepy incel, kalau udah nikah dikatain ga setia.

Ada fitur-fitur yang akan terbuka setelah menikah. Tingkatan hati istri bisa meningkat lagi, dan istri bisa disuruh-suruh… Kapan-kapan lagi deh eksplorasinya.

Pesta Komik Bandung 2024

Sebagai yang pernah ke Comifuro, berkunjung ke Pesta Komik Bandung 2024 di BEC bikin saya bingung: mana fanart Genshin nya? Apa mereka ga tahu kalau itu merchandise yang paling sering laku? 😀 LOL.

Ya, itu bedanya event ini; ini bukan sekedar pasar untuk jualan, tapi ajang bagi komikus lokal untuk memamerkan karya orisinalnya. Bukan selebrasi atas kultur populer, tapi atas medium komik yang akan menciptakan budaya populer baru.

(Foto dari adik yang datang pas hari pertamanya)

Area pameran sebenarnya cukup oke meski cuma seluas Lobi BEC. Ada panggung di dekatnya sehingga acara di panggung bisa terdengar oleh semua pengunjung, kalau sound systemnya bagus!

Sebenarnya gak niat belanja banyak, tapi agak menyesal juga baru niat belanja pas kebanyakan stand sudah mau beberes padahal banyak art yang bagus. Jadi ga bisa nyobain commission.

Acara penghargaan rada canggung karena banyak nominator dan pemenang yang udah pulang. Saya jadi tahu siapa komikus yang sedang naik daun saat ini dan karya-karya yang menarik. Memang tidak ada niat beli komik saat itu, tapi yah lumayan buat referensi beli komik kedepannya.

Saya diingatkan lagi kalau komikus dan ilustrator di Indonesia, bahkan di Bandung saja, itu banyak sekali. Hanya saja, saya cukup ngeri sama diri sendiri saat melihat banyak seniman ini dan berpikir ‘bagaimana saya akan menggunakan mereka?’ Duh, saya sudah sebegitu kapitalisnya kah?

Apapun yang akan mereka tempuh, jalannya tidak akan mudah.

Kategori
Devlog/Studlog Gaming Diary

Sebuah Permainan dan Budaya Yang Dilahirkannya – Gaming Diary #25

Gaming Diary #25 – 2024 06 01

Genshin Impact

Versi baru akan rilis beberapa hari lagi, dan sekarang masih masa sepi. Fitur toko sudah di-refresh dan item-item baru sudah muncul. Yang paling ditunggu tentunya menukar Masterless Stardust dengan Wishing Items yang dibatasi per bulannya. Masterless Stardust yang didapat setelah mendapatkan senjata bintang 3 saat gacha juga bisa ditukar dengan material peningkatan level karakter dan senjata yang normalnya didapat dari mengalahkan monster. Kalau lagi butuh tapi males (atau kasihan) berburu, sesekali saya lakukan. Tapi keitung jarang sih.

Mungkin suatu waktu saya perlu menghitung jumlah Masterless Stardust yang biasa saya dapatkan per bulan dan berapa yang diperlukan untuk menukarnya dengan item-item penting. Mungkin sebaiknya juga mempelajari keterkaitan ekonomi dari item-item yang diperlukan dan dihasilkan dari aktivitas gacha/wishing.

Game ini sebenarnya sangat membutuhkan resource management, tapi saya yang ingin bermain secara kasual tentu saja malas melakukannya.

Citampi Stories

Game ini jadi lebih mudah kalau sudah tahu bagaimana cara menemukan benda-benda tertentu. Setelah hafal bahan-bahan crafting tertentu, mancing dengan Pancingan Magnet yang dapat menarik benda lain selain ikan (kalau ikannya dapet) jadi penting karena banyak material yang hanya bisa didapat dengan mancing di kolam tertentu. Misalnya, tanah liat hanya bisa didapat dari empang depan Masjid dan gelondongan kayu hanya bisa didapat di kolam dekat sebuah rumah di Area 4.

Sepertinya keuangan tidak sekencang waktu masih sering jadi Food Vlogger. Namun meski hanya jualan hasil panen dan sampah pulungan, saya tetap ga kekurangan uang.

Btw, beli 5.000 coupon memang sangat sepadan dengan kegunaannya.

A Game With Dangerous Community

Persib juara liga setelah 10 tahun dan Kota Bandung jadi ladang selebrasi. Entah di mana titik kumpulannya, mungkin hanya motor-motoran konvoy keliling kota. Saya bukan fans Persib atau klub olahraga apapun, tapi hanya teringat satu hal yang terlalu dibiasakan oleh budaya masyarakat kita sehingga lupa, dan ini terkait dengan game development. Oke, memang sepertinya ga nyambung, tapi dengar dulu.

Sepak bola adalah sebuah game sebagaimana semua olahraga adalah game. Makanya Olimpiade disebut Olympic Game. Event olah raga level benua Asia disebut Asian Games. Sepak bola hanya satu jenis permainan fisik yang terkenal. Iya, sepak bola juga sebuah olahraga, sama seperti nge-gym. Bedanya nge-gym ga ada aturan yang bikin tujuannya bikin fun. Tujuan nge-gym selalu untuk kesehatan atau membentuk tubuh (‘olah’ ‘raga’).

Bedanya lagi dengan nge-gym, klub gym tidak (belum) punya budaya fanatisme yang mengarah pada kekerasan dan vandalisme. Seperti yang dilakukan oleh pelempar batu memecah jendela kereta menuju Bandung, tepat di sebelah seorang ibu dan anaknya. Atau adanya aksi razia plat luar kota, atau kecerobohan yang menyebabkan seorang pemuda jatuh dari bus dua tingkat atap terbuka dan meninggal.

Meski jatuhnya satu korban pun sudah terlalu banyak, jika dibandingkan dengan sejarah fanatisme klub sepak bola, selebrasi Persib tahun ini tergolong jinak. Tetap saja, motor-motor yang  bergerombol, mengibarkan bendera ke segala arah, dan meraungkan knalpotnya sudah membuat jalanan Bandung semakin mencekam sejak Jum’at. Tentu kecuali jika kamu ikut dalam perayaan itu.

Seperti satpam di kompleks saya yang mengajak anak bayinya ikut motor-motoran sambil mencari angin. Sebuah kegiatan bonding yang meluluhkan hati. Meski saya tidak tahu bagaimana anak ini akan tumbuh. Apakah bayi itu akan hanya mengasosiasikan Persib sebagai kenangan bersama ayahnya? Ataukah ia akan masuk lebih jauh ke dalam budaya fans Persib yang menganut tribalisme fanatik dan mengharuskan kekerasan serta pesta pora lepas kendali sebagai bagian dari budayanya?

Saya sangat tergoda untuk mendukung ide penghukuman terhadap klub bola yang membiarkan (atau apalagi meraih keuntungan dari) budaya kekerasan dalam komunitas pendukungnya. Namun, secara objektif, idealnya setiap aksi kriminal dan ilegal ditindak kasus per kasus dan tidak mengarah ke organisasi yang memang tidak secara gamblang meng-orkestrasi tindakan tersebut.

Di sisi lain, ketika sebuah game membuat anak kecanduan, lalu membunuh kerabatnya untuk uang, atau ketika sebuah game menormalisasi budaya toksik dalam komunitasnya, saya berpendapat bahwa pengembang game tersebut harus bertanggungjawab dan bertindak. Pengembang game harus menyadari bahwa karyanya punya pengaruh. Meski dampaknya pada tiap orang sulit ditebak, minimal sadari dulu saja kalau punya dampak. Kalau kita tidak menutup mata, dan masih manusia, kita akan belajar untuk mengurangi pengaruh yang buruk dan meningkatkan yang baik.

Ini perlu lebih dituntut apalagi dalam game yang sudah menimbulkan banyak dampak dalam bentuk kerusakan fisik pemain akibat cedera, kehilangan nyawa akibat konflik antar suporter, atau kehilangan nyawa penonton karena penyelenggaraan pertandingan yang kurang memperhatikan keamanan. PSSI selaku ‘pengembang game sepak bola’ di Indonesia perlu memiliki kesadaran dan melakukan tindakan normalisasi budaya buruk. Minimal, untuk mencegah jatuhnya satu korban pun. Meski yang saya dengar, mereka baru gerak kalau korbannya sudah 135 atau lebih.

Eh enggak ding, lepas tangan juga.

Kategori
Gaming Diary

Offline Yu-Gi-Oh TCG – Gaming Diary #19

Gaming Diary #19 – 2025 05 26

Adik mengajak ke Brotherhood Game Store yang tempatnya deket rumah. Katanya tempat jualan kartu-kartu TCG dan suka ada turnamen TCG juga di sana. Yah, kenapa tidak? Meski masih agak capek karena motor-motoran kemarennya, saya ikut saja untuk lihat-lihat.

Sampai di sana, tempatnya agak kurang sesuai dengan ekspektasi. Kupikir bakal penuh dengan rak-rak dan etalase, tapi ini seperti kedai bakso dengan bangku dan meja berjejer rapi. Kayaknya memang lantai pertama toko ini jualan bakso, tapi di rak gantung yang nempel di dinding dan kasir berjejer berkotak-kotak kartu TCG yang bermacam-macam, dari One Piece, Pokemon, dll. Sudah ada beberapa orang yang sedang ngobrol dan minum kopi (dari luar), jadi kalau mau lihat-lihat kartunya agak karagok. Mungkin daripada game store, tempat ini lebih cocok disebut sebagai basecamp komunitas TCG dan Beyblade.

Kata adik, turnamen mulainya jam 2, sesuai dengan waktu kedatangan kami ke sana. Ternyata turnamennya baru mulai jam 3. Acaranya di lantai dua, di ruang yang seperti showcase buat pamer kartu-kartu TCG dan beberapa statue dan figure Pokemon. Tentunya ada meja panjang yang digunakan untuk turnamen. Pas udah pada duduk pun para peserta masih pada ngobrol. Di sini kayaknya orang-orang lebih banyak ngobrol soal permainannya daripada mainnya. Yah, namanya juga komunitas. Sampai akhirnya seseorang, mungkin referee dan yang punya tempat meneriakkan pasangan lawan tanding dalam turnamen. Suaranya lantang dan jelas banget.

Turnamen ini itungannya turnamen lokal yang mematuhi aturan standar TCG seperti harus pakai sleeve (kurang paham alasannya, mungkin untuk mengurangi kecurangan?). Peserta turnamen sepertinya langsung datang tanpa daftar sebelumnya. Adik saya bawa kartu tapi ga punya sleeve jadi kami hanya bisa nonton. Cuman kami berdua yang hanya nonton.

Saya belum paham apakah sistemnya liga atau bracket. Bahkan, saya baru tahu kalau yang ditandingin adalah TCG Yu-Gi-Oh bukan Pokemon. Saya tahu Yu-Gi-Oh, tapi ini baru pertama kalinya nonton duel TCG offline. Saya dulu suka main sih di PC dan Duel Link yang di mobile jadi cukup paham aturan dasarnya. Terakhir main beberapa tahun lalu. Di Duel Link, aturannya disederhanakan. Namun, pada waktu itu pun aturan main untuk TCG offline seingatku sudah sangat rumit dengan Chain-Link, Extra Deck, Extra Monster Field, dll. Jadi, saya tidak berharap buat bisa paham alur pertandingan turnamen ini.

Namun saya masih coba biar lebih bisa ngikutin, jadi saya nontonin duel antara dua peserta yang kelihatannya pemula. Saya salah. Keduanya pro. Sepertinya tidak ada pemula di turnamen ini. Satu duelist memasang kartu dan beruntun mengeluarkan kartu-kartu turunan dari efek-efeknya (note: di turnamen ini kayaknya ga ada kartu monster yang tipe nya normal, minimal effect) sambil dia mengkonfirmasi efek dari kartu yang dia pakai ke lawannya terutama kalau ada efek yang perlu keputusan lawan. Lawannya belum dapat giliran. Jadi kayak lagi dibacain kartu tarot.

Nah, ini yang bikin saya tidak ngerti dengan turnamen TCG offline. Saya biasa main lewat game yang aturan dan efek-efek kartu dieksekusi oleh komputer. Bagaimana aturan bisa dieksekusi di pertandingan offline? Apalagi efek kartu dan aturan Yu-Gi-Oh sudah jadi sangat rumit. Kalau yang saya lihat sekilas, aturannya dihafal dan dikonfirmasi kedua belah pihak. Atau nanya referee kalau lupa.

Untuk efek kartu, sepertinya mereka juga menghafalkan atau cek internet. Memang di kartu ada keterangannya, tapi kebanyakan kartu di sini pakai Bahasa Jepang! Ada juga yang Inggris, tapi kalaupun mereka bisa baca Jepang atau Inggris, tulisannya kecil banget. Mau ga mau harus dihafal. Seorang hafizh Quran sepertinya punya kapasitas otak yang cocok jadi duelist dan vice versa. Nanya ke orang lain untuk memahami cara kerja efek kartu juga tidak terhindarkan. Makanya jadi kepikiran, duel TCG ini ga bisa jalan kalau ga di komunitas.

Dan sepertinya tidak ada konflik dalam memahami aturan atau efek kartu. Maksudku, mereka hanya konfirmasi satu sama lain pakai pemahaman masing-masing. Tidak ada check and balance dari pihak ketiga. Tidak ada mekanisme untuk mencegah penipuan. Kalau ibaratnya sistem pemerintahan, tidak akan ada yang bisa jalan dengan cara seperti ini. Namun, sepertinya mereka sepakat untuk bermain sesuai aturan agar bisa sama-sama senang, and it works! Imagine world peace under the rule of duelists.

Saya masih merasa akan lebih efektif kalau sistem dan aturan diatur kompute- tunggu, apa ini berarti aku juga setuju kalau pemerintah dipegang sama robot?

Saya berjalan-jalan melihat pertandingan lain. Ada yang sudah selesai dengan cepat, ada yang masih bertanding. Saya sama sekali tidak bisa mengikuti setiap pertandingan, bagaimana strateginya, dan cara kerja tiap kartu. Sebagai penonton, saya juga tidak bisa nguping terlalu dekat. Lalu, saya kembali ke duelist yang pertama saya tonton. Mereka berdua sudah memasang kartu di sisi meja masing-masih, seperti sedang saling membacakan tarot.

Turnamen ini ternyata dibatasi waktu, dan tepat pukul 4, pertandingan berakhir. Saya juga harus segera mengantar adik ke kampusnya, jadi tidak tahu apakah ada pertandingan lanjutan atau tidak.

Berkunjung ke sini adalah pengalaman yang cukup menarik dan juga canggung. Mungkin pengalamannya akan beda kalau saya benar-benar mencoba ikutan duel. Saya tidak begitu cocok dengan komunitas seperti ini. Namun, menurutku komunitas-komunitas hobi permainan yang berada di tengah-tengah kota seperti ini ibaratnya goresan warna yang merusak tembok kelabu kehidupan dewasa yang membosankan.

Btw, adik saya memperhatikan kalau peserta duel kebanyakan orang dewasa, yang baginya adalah usia 20-an. Saya tidak memperhatikan itu, karena menganggap 20-an masih bayi.

Kategori
Gaming Diary

Gaming Diary #17 – 2025 05 24

Jalan-jalan di Bandung

Kenapa? Jalan-jalan di sekitaran Braga termasuk main/gaming juga kan? Meski bukan permainan dengan aturan dan lain-lain, saya rasa jalan-jalan di area dengan konteks sejarah dan visual yang unik adalah kegiatan yang menyenangkan. Khususnya bagi anak-anak atau orang yang baru lihat. Bahkan, bagi yang sudah berkali-kali melihatnya, ini kegiatan yang menyenangkan.

Jadi buat saya, jalan-jalan ke daerah Braga, Asia-Afrika, Banceuy, dan Balai Kota bareng keluarga pada hari ini adalah sebuah kegiatan bermain. Setidaknya, kegiatan ini bisa dilabeli oleh dua atau tiga kategori dalam Gamer Motivation Model (oleh Quantic Foundry).

Berjalan-jalan melihat-lihat bangunan tua bersejarah adalah kegiatan eksplorasi yang menarik karena ada cerita juga dibaliknya. Bangunan-bangunan antik sangat gamblang dalam menunjukkan bahwa suatu tempat punya sejarah. Dan saat kita menjejakkan kaki ke dekatnya sambil melihatnya dalam jarak dekat, kita masuk dalam sejarah itu atau setidaknya melihat bahwa sejarah itu nyata. Memang perlu konteks yang diceritakan sendiri agar bisa memahami suatu bangunan lebih dari objek estetik.

Sebenarnya akan lebih baik lagi kalau sebelum melihatnya sudah punya pengetahuan tertentu soal sejarah terkait. Karena itu saya agak heran ponakan saya yang sudah 5 SD sepertinya belum tahu soal Konferensi Asia Afrika. Mungkin juga tidak tahu soal ASEAN. Apa sih yang diajarkan di IPS dan PMP ke anak-anak sekarang? Ponakan saya sebenarnya cukup tertarik soal sejarah dan pingin masuk ke musem Asia Afrika. Sayangnya tempat itu sedang tutup (sejak 21 April).

Berjalan ke tempat-tempat bersejarah dan atau tempat menarik lainnya bisa menjadi hiburan atau permainan yang menyenangkan. Mungkin perlu struktur ‘permainan’ yang lebih teratur agar lebih menarik. Jadi bagus juga kalau ada tur keliling tempat bersejarah di Bandung buat anak-anak yang dilakukan setiap minggu misalnya. Memang sih di Bandung ada Bandros, tapi melihat selewat pake kendaraan dan mengamati sambil jalan itu akan memberi perspektif berbeda.

Tantangannya memang trotoar di Bandung kan ga semuanya bagus. Dan, Bandung tidak punya area ‘kota tua’ yang terkonsentrasi di satu titik. Namun, masih bisa lah dipetakan agar kegiatan jalan-jalan bersejarah atau ‘scavenger hunt’ bisa diadakan. Atau mungkin ada komunitas yang menyelenggarakan ya?

The Nice Park

The Nice Park Bandung adalah objek wisata yang baru memasuki trial opening (jadi tempatnya masih relatif bersih dan bagus, petugasnya masih semangat dan ramah). Informasi jam buka dan harga tiketnya bisa cari di IG. Btw ini tempatnya bukan di Bandung, tapi Cimahi.

Tempat ini terdiri dari mini zoo dan playground. Saya tidak mau bicara banyak soal area kebun binatangnya karena buat saya kebun binatang itu konsep yang problematis dan dilematis, tapi perlu saya khawatirkan dua hal:

  • Beberapa hewan adalah nokturnal. Jadi, waktu tidur mereka diganggu oleh anak-anak yang juga tidak melihat hewan tersebut saat lagi aktif dan menarik.
  • Ada petting area buat kelinci, yang telinganya tajam itu, di dekat playground yang berisik. Yah ga terlalu berisik banget juga sih, buat telinga manusiaku.

Area playground yang ber-rumput sintetis punya banyak wahana dan permainan, mulai dari yang sederhana seperti jungkat-jungkit, serodotan, kora-kora manual, ayunan puter manual, hamster wheel manual, hingga seluncur ban dan flying fox pendek. Semuanya cukup menyenangkan baik untuk anak-anak maupun orang-orang dewasa yang mereka bawa. Sebenarnya, beberapa permainan akan lebih menyenangkan kalau dimainkan bareng orang dewasa. Seluncur ban bisa lebih ngebut dan nabrak kumpulan bean bag di bawahnya sampai bola-bola isiannya muncrat kalau dinaikin orang dewasa bareng bocah.

Hanya saja beberapa permainan tidak diawasi. Misalnya di area main pasir (yang biasanya ada di mall itu). Karena tidak diawasi, anak-anak bebas saja menghamburkan pasir ke luar area meja kotak pasir dan berserakan di lantai sehingga hanya tersisa sedikit saja. Yah, kalau sudah itung-itungan rugi pasir yang jatuh sih, ga apa-apa.

Meski tidak paham bagaimana tempat ini bisa dikelola dan dirawat dengan baik, khususnya karena beberapa penghuninya adalah hewan langka, saya rasa tempat ini bisa menjadi semacam ‘one-stop’ untuk liburan bareng anak-anak ke kota Bandung Cimahi.

Oh, pastikan bawa kendaraan pribadi. Angkot susah, taksi online kalau kesorean juga susah.