Kategori
Gaming Diary

Gaming Diary #18 – 2024 05 25

Jangan terlalu kasar sama gamer yang ga bisa bahasa enggres!

Terhalang Bahasa

Belakangan medsos ramai berwacana soal bahasa di video game. Katanya, Wuthering Waves yang di hype-kan sebagai ‘genshin killer’ dan baru rilis diprotes banyak gamer karena ga ada Bahasa Indonesianya. Bahkan orang-orang sampai ngasih rating 1 di Google Play. Saya tidak melihat ada orang ngasih review jelek karena bahasa di Google Play, tapi saya percaya ini adalah fenomena yang sudah semakin normal karena pernah mengalaminya.

Saya pernah ngurus operasional game Code Atma yang sempat dirilis hanya dalam Bahasa Inggris dan orang-orang banyak juga yang ngeluh soal ini. Awalnya saya juga sempat merasa heran kenapa diprotes. Saya termasuk orang yang biasa main game berbahasa Inggris sejak kecil dan cukup bangga bisa belajar Bahasa Inggris dari game. Mungkin anak-anak zaman sekarang manja. Saya sempat berpikir begitu.

Apakah Dulu Ada Pilihan?

Sekarang, saya jadi berpikir kalau dulu itu kita hanya gak punya pilihan saja, jadinya kepaksa dikit-dikit belajar Bahasa Inggris. Atau nebak-nebak arti teks di menu dan coba-coba saja mana yang pilihannya benar. Kita tidak membiarkan bahasa menghalangi kita untuk bermain. Yah, meski jadi ga terlalu ngerti ceritanya (kalau dipikir-pikir, saya tidak terlalu ingat detail cerita game-game yang saya mainkan dulu mungkin karena memang tidak pernah ngerti). Intinya, keseruan, kenangan bermain game, dulu tidak terhalang bahasa, ya karena tidak punya pilihan. Pilihannya ga ngerti dan coba-coba atau tidak main sama sekali. Ya masa pilih ga main? Ga ada juga pilihan ngeluh di medsos atau kasih bintang satu.

Btw soal sistem rating pake bintang ini problematik sih buat game yang modelnya service, tapi nanti lagi deh dibahasnya.

Zaman sekarang, game sudah banyak yang dilokalisasi ke Bahasa Indonesia dan lebih mudah diakses, baik itu game luar maupun lokal. Mungkin bisa dibilang, gamer zaman sekarang, yang muda maupun tua, menganggap Bahasa Indonesia adalah standar untuk game yang rilis di Indonesia, atau tepatnya, game yang mereka bisa akses. Tentu saja bahasa asing akan menjadi asing buat mereka. Apalagi kalau gamenya di market kan ke mereka dan di-hype kan ke mereka juga, jadinya tidak sesuai ekspektasi.

Saya jadi mikir, kalau dulu saya mengalami kondisi seperti itu tanpa ada medsos dan rating, apakah saya akan main gamenya?

Memang banyak aspek bermain di sini, seperti pendidikan Bahasa Inggris di sekolah zaman sekarang dan kemungkinan review bombing oleh fans (atau marketing) game lain seperti Genshin. Meski mengkhawatirkan, itu topik lain.

Ada aspek lain seperti bahasa audiovisual dan interaktifitas yang general serta konteks UI dan kontrol yang dipelajari bertahun-tahun oleh gamer. Hal-hal tersebut membuat coba-coba pencet tombol meski ga ngerti tulisannya bisa dilakukan oleh gamer pada zaman dulu. Mungkin perlu bahasan lebih lanjut lagi kapan-kapan.

Mungkin Marketnya Bukan Kita

Aspek lain yang menarik adalah apakah yang kecewa itu target market game tersebut? Jika sebuah game tidak ada versi bahasa tertentu, maka developernya menganggap si pengguna bahasa tersebut bukan market yang penting sih. Lokalisasi itu mahal. Makanya perlu pilih-pilih agar kalau dilokalisasi di suatu bahasa bisa ningkating penjualan IAP dari pengguna bahasa tersebut. Indonesia setahu saya market yang luas untuk game-game freemium tapi konversi dari free-user ke paying-user nya rendah. Jadi, meski yang main banyak, yang bayar dikit, duitnya juga lebih kecil. Mungkin ada data yang bisa membantah hal ini, tapi sejauh yang saya tahu, ini berlaku untuk game yang umum (kecuali gamenya populer banger-nget).

Jadi, sebenarnya kalau mau suatu game ada versi Bahasa Indonesianya, mungkin lebih masuk akal kalau protesnya bukan lewat review bombing, tapi beli IAP nya. Yah, mau atau tidak, itu terserah.

Kalau gamer Indonesia bukan target marketnya, kenapa kita bisa tahu dan ikut nge-hype soal suatu game? Marketing zaman sekarang memang sepertinya sulit mengisolir suatu kampanye ke market tertentu. Jadi pasti bocor ke market yang FOMO dan ikut ke-hype. Atau memang dimarketkan ke Indonesia buat ningkatin hype global meski tidak diprioritaskan sebagai penghasil duit. Namun, memang, saat informasi suatu produk sampai ke yang bukan marketnya, potensi masalahnya lebih besar (kecuali kalau produknya sendiri yang bermasalah).

Bahasa Indonesia Ala Video Game

Saya sendiri berpikir bahwa idealnya semua game yang rilis di Indonesia menggunakan Bahasa Indonesia. Sejujurnya saya baru kepikiran ini beberapa tahun ke belakang saja. Awalnya adalah karena baca twit yang mengkritik Bahasa Indonesia di Genshin. Bilangnya banyak ‘missed chance’ yang bisa bikin lebih enak kata-katanya. Lalu aku pikir, ‘Loh!? Di Genshin ada Bahasa Indonesianya!??’. Langsung aku coba ubah di setting, lalu baca-baca terjemahannya sebentar, dan mikir, ‘hmm, iya banyak missed chance’. Terjemahan di Genshin, bahkan sampai sekarang, seperti pakai bahasa netizen. Bukan seperti bahasa biasa yang digunakan seorang karakter game dalam setting fantasi.

Lah, emang Bahasa Indonesia yang dipake oleh karakter game itu kayak gimana???

Dan ini nih. Pertanyaan ini yang membuat saya bertahan pake subtitle Bahasa Indonesia di Genshin, dan kedepannya di game-game lain juga kalau ada akan coba pakai Bahasa Indonesia. Saya ingin mencoba ikut membiasakan Bahasa Indonesia dalam kegiatan nge-game dan kalau bikin game. Dan jujur, ini juga yang bikin saya mulai peduli soal bahasa secara umum.

Saya percaya (sebenarnya perlu belajar lagi) bahwa media bisa membentuk bahasa. Jadi, bahasa yang berkembang di kultur gaming bisa mempengaruhi penggunaan bahasa arus utama, seperti penggunaan istilah NPC, noob, dan istilah-istilah lain dalam gaming. Saya juga percaya bahwa kalau ingin game jadi produk budaya dan seni dari suatu kebudayaan, maka harus menggunakan bahasa budaya tersebut. Ya, mungkin banyak yang tidak peduli, karena ya ngapain? Saya juga tidak punya dasar yang kuat.

Namun, saya yakin, bahasa lokal memegang peranan penting kalau ingin video game dianggap jadi sesuatu yang penting.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *