Kategori
Devlog/Studlog Gaming Diary

Gaming Diary #9 – 2024 05 16

Soal controller dan mitologi.

Genshin Impact

Mari bicara soal controller. Khususnya terkait minigame ryhthm di event kali ini. Stick adalah controller terbaik untuk bermain game, secara umum. Keyboard bagus untuk game RTS, FPS, dan game-game lain yang butuh akurasi saat memilih objek dan UI atau membidik target tembakan. Namun, khususnya pada keyboard laptop, posisi bermain jadi tidak enak. Kalau pakai stick, bisa main sambil nyender dan jaga jarak dari layar, meski ga enak buat milih UI atau bidik sasaran.

Touch screen sebenarnya jelek karena tidak ada sensasi sentuhan yang bisa memberi tahu pemain tombol apa yang disentuh. Namun, masih oke untuk UI karena tidak perlu mengarahkan kursor atau mengingat shortcut. Lihat tombol, tinggal sentuh. Membidik pun masih lebih oke daripada stick.

Sedangkan untuk game rhythm yang mengharuskan menyentuh daerah tertentu di layar, touch screen terasa sempurna dan alami. Tinggal memposisikan jari di dekat tempat keluarnya nada lalu sentuh pada saat yang tepat. Meski masih keitung susah, tapi masih doable.

Saya mencoba minigame rhythm menggunakan keyboard maupun stick rasanya sangat susah! Saya memang tidak biasa main game rhythm khususnya di PC, tapi mengingat tombol yang bisa digunakan dan kapan ditekannya harusnya tidak sesulit ini. Tapi begitulah, ini seperti orang yang bukan musisi mencoba main musik :D. Atau mungkin ini cuma skill issue yang bisa diobati dengan ‘git gud’.

Hades

Berhasil lewatin Elysium dan masuk ke Castle of Styx. Lalu kalah sama tikus… Yup. Bukan tikus mitologi macem-macem, tapi tikus got biasa. Game ini masih saja memunculkan hal-hal yang baru.

Yang semakin menarik adalah visual dan ceritanya. Landasan mitologi Yunaninya dibikin subversif dengan modern dan menarik, termasuk karakter-karakternya. Namun, agak sulit menjelaskan subversinya kalau tidak punya konteks wawasan terhadap cerita-cerita dalam mitologi Yunani. Mitologi Yunani adalah salah satu produk budaya yang berhasil dipopulerkan negara-negara Barat sejak dahulu kala, mungkin bersamaan dengan penyebaran ide-ide filsafat dan demokrasi. Meski demikian, itu bukan hal yang wajib diketahui oleh orang-orang di luar Barat. Seingatku, di sekolah hanya disebut sekilas. Bahkan, media yang berdasarkan mitologi Yunani terawal yang saya tahu (Saint Seiya) tidak terlalu membahas soal dewa-dewi Olympus dan semacamnya.

Saya jadi kepikiran kalo target market game ini sebenarnya keitung niche juga karena orang yang familiar dengan mitologi Yunani tidak terlalu banyak. Sekarang, bayangkan bikin game dengan mitologi atau folklore lokal. Target marketnya bahkan terlalu kecil untuk disebut niche. Banyak orang yang sudah lupa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *