Melanjutkan dari tulisan ini yang dipublikasikan pada… ya Allah, bulan Juni, saya akhirnya menyelesaikan proyek iseng-iseng ngetes pake Godot. Di titik ini, saya juga sudah nonton satu video lagi dari Brackeys, ngerjain outsource proyek game pake Godot, dan juga pake Unity. Jadi, saya sudah eksplorasi lebih (tapi belum jauh) soal sintaks-sintaks GDScript, lihat cara orang lain pake Godot, dan bandingin lagi Unity sama Godot.
Beberapa hal yang saya temukan (terutama setelah banding-bandingin sama Unity):
Kesan sederhana dan mudah masih kerasa banget. Node built-in yang ada cukup lengkap. Yang kerasa bantu banget tuh Touch Screen Button buat bikin tombol virtual di layar sentuh. Node itu juga bisa dibikin hilang atau muncul kalau tergantung apakah buka gamenya di mobile atau PC. Cocok buat game yang dipublish di itch.io dan bisa dijalanin di browser. Sayangnya node ini bukan kelompok node Control yang bisa diatur-atur layoutnya pake node control lain. Soal atur-atur layout…
Tata letak UI itu perjuangan. Di Godot ada jenis kelompok node control yang khusus ngatur tata letak UI, contohnya Node Margin, node HBoxContainer, VBoxContainer, dan NinePatchRect. Objek-objek yang di Unity biasanya termasuk objek UI biasanya masuk kelompok ini. Meskipun banyak pilihan, rasanya masih agak terbatasi. Misalnya, kalau mau bikin tombol yang asetnya dari spritesheet, dan bisa pakai 9-slice, maka harus pakai Node TextureButton. Kalau baru nyadar setelah bikin banyak Button, susah dah. Makanya lebih susah bikin ukuran pixel yang konsisten kalau style gamenya pixel art. Tambah lagi kustomisasi node (warna, outline, dll.) yang terikat banget sama konsep theme (susah jelasinnya). Sebenarnya kalau udah kekuasain bisa mudah-mudah aja sih, tapi rasanya lebih mudah bikin pixel art yang konsisten dan slicing spritesheet yang pixel perfect di Unity.
Tapi, tata letak UI di Unity juga perjuangan sih. Terakhir nyobain Unity, entah kenapa susah banget masang font pixel art (mungkin gara-gara pake TMP Text). Kekurangan Unity di tata letak ada juga di ketidakjelasan objek mana yang ngatur tata letak objek lainnya karena fungsi-fungsi semacam itu adanya di component yang bisa nempel di GameObject mana saja. Di Godot, fungsi-fungsi yang biasanya diatur lewat component bisa diatur pakai node. Jadinya lebih mudah kalau pingin bikin jelas objek mana saja yang ngatur tata letak. Sebenarnya kalau serampangan tetap bisa bikin bingung, tapi kalau mau rapih bisa aja. Sayangnya itu bakal bikin hirarki atau tree dari node-node nya terlalu panjang dan belibet. Satu hal lagi yang ga dibikin jelas di Unity…
Di Unity, tidak jelas objek mana saja yang punya skrip bikinan kita. Di Unity, skrip itu bisa ditempelkan berapapun karena pada dasarnya component yang built-in juga script. Di Godot, skrip bikinan hanya bisa nempel di satu node dan node yang ditempelin skrip kelihatan di tree. Namun, jadi kepikiran. Kalau di Unity bisa pasang 2 skrip bikinan sendiri (meski kayaknya bad practice), apa ekuivalennya di Godot? Bikin node baru di-child nya?
Godot itu ringan, kalau udah nyoba alternatif lainnya. Ya, saya juga baru nyadar soal ringannya Godot ini pas buka Unity lagi 😀 Instalasi lama, buka proyek baru lama, nge-run buat tes lama, dst.
Btw, ngebandingin Godot – Unity kayaknya bakal panjang. Kesimpulanku sih, kalau dibandingin kelengkapan fitur di editor-nya, Unity rasanya lebih lengkap dan powerful. Godot terasa lebih sederhana dan mudah saja sih.
Export HTML hanya di versi-versi tertentu. Ini yang agak bikin kecewa karena sebelumnya pake Godot 4.2.2 yang ternyata gak support export ke web. Tapi, gak masalah buat download dan buka proyek di Godot 4.3, yang bisa export HTML, karena instalasi dan buka proyek ga lama.
Kesimpulannya sementara soal Godot ini, kayaknya masih oke buat lanjut makennya. Meski kalau diminta rekomendasiin enjin game dev kayaknya bakal nyaranin Unity karena masih oke juga dan banyak yang make. Atau Unreal, yang rasanya lebih oke kalau jenjang karirnya mau panjang. Saya make Godot ini lebih karena pingin dukung proyek open source aja sih, dan itu istilahnya ‘alasan ideologis’ yang belum berani saya sarankan ke orang lain.
Terakhir, saya mau bagiin hasil kerjaan pertama pakai Godot ini, yang bikinnya berantakan dan asal jadi karena masih eksplorasi fitur-fitur. lol. Semoga lain kali bisa nunjukin game yang lebih proper pake Godot ini.





