
Ada perasaan dilematis mendengar bakal ada superhero muslim di MCU. Di satu sisi, karakter muslim diangkat ke muka, bukan sekedar alat biar filmnya terlihat ‘diverse’ tanpa menambah apapun dalam cerita. Contohnya, di dua film Spiderman MCU ada karakter latar berhijab yang kadang-kadang muncul. Di sisi lain, rasanya mustahil menampilkan muslim di dunia superhero Barat dengan elemen-elemen fantasi-nya sendiri.
Saya tidak tahu bagaimana sebaiknya menampilkan identitas muslim dalam media Barat tanpa terkesan stereotipikal, pandering, atau sekedar menggaet perhatian penonton muslim. Bahkan kalau dipikir-pikir saya juga tidak tahu bagaimana representasi muslim di film, serial, atau media lokal saat ini. Fun-fact yang mungkin tidak relevan: sampai saat ini tidak ada pembawa acara berita di stasiun TV besar yang berjilbab.
Karakter Ms. Marvel juga sebenarnya sudah lama dibuat dalam komik. Komik superhero Barat (atau komik dalam Bahasa Inggris) dengan karakter muslim seperti The 99 juga sudah lama terbit yang mungkin jadi referensi untuk membuat karakter superhero muslim. Namun, karena saya tidak pernah membaca komik-komik tersebut, ekspektasi saya masih rendah.
Menurutku masih wajar (tapi mengecewakan) kalau karakter muslim ini akan hanya diberi label muslim dan hanya memperlihatkan selewat nilai Islam yang dia anut. Tapi kalau tidak pernah ditunjukkan adegan solat dalam aksinya, misalnya, apakah masih bisa disebut superhero muslim? Superhero MCU lain tidak punya masalah ini karena agama atau kepercayaannya bukan bagian dari identitasnya.
Ternyata secara keseluruhan serial original Disney + ini lumayan juga. Ceritanya tentang Kamala Khan, remaja muslim Amerika keturunan Pakistan yang terobsesi dengan Captain Marvel. Sebagai aksesoris tambahan untuk ikutan lomba cosplay, ia menggunakan gelang (mungkin bukan terjemahan yang tepat untuk ‘bangle’) warisan neneknya. Tanpa diduga, gelang tersebut membangkitkan kekuatan Noor yang membuatnya mampu menciptakan semacam material bercahaya. Selanjutnya ia terlibat petualangan terkait gelang tersebut.
Karena fokus representasinya lebih pada komunitas Pakistan di Amerika, yang lebih mungkin dipahami orang-orang Hollywood yang bikin serial ini, penggambarannya jadi lebih riil (sepertinya). Meski nilai dan budaya yang ditampilkan baik lewat penokohan, dialog, dan adegan adalah muslim Pakistan, ternyata ada beberapa hal yang cukup relatable bagi muslim di luar komunitas tersebut.
Banyak hal yang unik bagi muslim di Amerika, seperti keterasingan di sekolah, pergulatan identitas, dan perayaan Idul Adha yang seperti festival. Tapi ada juga hal yang sangat relatable seperti (sigh) maling sendal di masjid! Netizen Indonesia (setidaknya di Twitter) sempat heboh karena ini. Ga ada yang mengira kalau maling sendal ada juga di Amerika. See FBI? Masalah dunia Islam saat ini bukan terorisme, tapi maling sendal!

Adegan festival perayaan Idul Adha cukup menarik buatku. Hari raya yang biasanya kita rayakan masing-masing keluarga di rumah, diselenggarakan seperti festival publik yang dihadiri seluruh komunitas. Saya tidak yakin jika itu sudah kebiasaan di sana, tapi sangat masuk akal jika komunitas minoritas yang erat merayakan hari raya bersama. Ini juga bagus buat syiar menangkal prasangka negatif dari masyarakat di luar komunitas.
Saya cukup oke dengan penggambaran karakter-karakter muslim yang tidak seragam atau stereotipikal. Muslim di sini kelakuannya macem-macem meski megang nilai-nilai yang jadi batasan. Yah, seperti di kita lah. Bedanya karena minoritas, mereka lebih terikat erat dengan masjid sebagai pusat kegiatannya.

Keluarga Kamala beragam juga karakternya. Kakaknya sangat paling alim, do’a suka lama, janggut lebat, kemana-mana pakai gamis, tapi masih keitung gaul. Orangtuanya keitung moderat meski ibunya cukup ketat soal pergaulan dan kurang suka dengan superhero yang suka pakai baju ketat (meski soal ini agak tidak konsisten di akhir). Kamala sendiri meski tergolong imajinatif, rebel, dan terobsesi menjadi superhero, ia masih tergolong menjaga diri.
Ada adegan saat dia mencoba kostum cosplaynya, dia berpikir untuk menutup bagian yang terlalu nyetak di pinggangnya. Penggambaran subtle mengenai nilai yang dia pegang cukup sering ditampilkan meski kadang terasa inkonsisten. Kamala hampir ciuman beberapa kali dan selalu digagalkan oleh Bruno, teman dekatnya.
Btw Bruno ini non-muslim yang karena akrab dengan Kamala dan keluarganya jadi cukup aware dan hafal dengan budaya Muslim Pakistan. Tipe-tipe non-muslim yang kadang lebih paham Islam dari muslim. Kurang syahadat aja.
Adegan yang cukup berkesan terkait kontras nilai Islami dengan budaya barat adalah saat Kamala menghadiri Avengercon dan pesta di rumah temannya. Entah apa saya saja yang merasa tidak nyaman melihat adegan tersebut atau memang adegan tersebut sengaja dibuat tidak nyaman? Menghadiri event terkait hal yang saya sukai lalu merasa tidak nyaman dengan suasananya adalah pengalaman yang familiar buatku.
Masih banyak aspek Islam dan Muslim yang diperlakukan dengan baik dalam serial ini. Misalnya, saat adegan shalat dan pembacaan Al-Quran, musik latar dimatikan hingga benar-benar senyap. Kemudian, ada juga karakter-karakter menarik seperti Nakia, sobat lain Kamala, yang berhijab (hijab gaul sih) karena dianggap terlalu putih buat jadi muslim tapi terlalu ‘etnik’ buat jadi orang kulit putih, atau imam masjid yang ramah banget bahkan kepada polisi yang menggrebek masjidnya.
Rasanya tidak ada aspek kehidupan minoritas Muslim di Amerika yang tidak disinggung dalam serial ini. Termasuk adegan terakhir saat Kamala membantu menyelundupkan Kamran ke luar negeri karena memiliki kekuatan super dan dianggap berbahaya oleh otoritas. Terlihat seperti alegori dari upaya melindungi terduga teroris karena pasti akan disiksa habis-habisan kalau ditangkap.
Ada juga topik spesifik terkait Pakistan, seperti sejarah nasional dan mitologi atau folklore nya yang diangkat. Khususnya terkait ‘Partition’ atau peristiwa pemisahan India dan Pakistan setelah kemerdekaan India pada 1947. Penduduk muslim di India bermigrasi (secara sukarela atau karena ancaman kekerasan) ke daerah Pakistan dan penduduk Hindu di daerah Pakistan bermigrasi ke India. Ini merupakan peristiwa yang traumatis dalam sejarah Pakistan dan India yang banyak dikenang masyarakat kedua negara tersebut hingga sekarang. Sebagian drama di keluarga Kamala dan petualangannya bersama gelang ajaib yang ia warisi menggunakan latar peristiwa tersebut.
Saya merasa cukup mengenai representasi aspek-aspek Islam dan (mungkin juga) Pakistan dalam serial ini. Namun untuk menjadi representasi yang baik, serial ini terkendala oleh aspek-aspek teknis yang wajib ada, seperti plot, akting, karakterisasi, dll.
Alur ceritanya agak maksa. Beberapa adegan klimaks diselesaiakan dengan ‘talk-no-jutsu’ yang kurang meyakinkan. Akting pemerannya cukup lumayan, tapi kalau dibandingkan dengan akting karakter SMA di MCU lainnya (misal Spiderman) rasanya agak kurang. Adegan aksi juga biasa saja. Kecuali satu adegan aksi saat Kamala diserang dan dia belum menguasai kekuatannya. Cukup terasa meski Kamala bisa lolos dari serangan tersebut tapi cara bertarungnya benar-benar menunjukkan bahwa dia masih amatir.

Saya juga tidak bisa membahas banyak tentang kekuatan super dan latar Kamala yang agak berbeda dengan di komik. Namun kekuatannya di serial ini rasanya cocok dengan latarnya sebagai keturunan Clandestine dari nenek buyutnya. Btw Clandestine di ini disebut juga sebagai Djin. Yak, protagonis muslim di MCU ini ternyata anak jin (yah kalau mau lebih akurat, Clandestine di sini katanya sih mungkin beda dengan Djin yang disebutkan dalam mitologi dan teks keagamaan).
Tapi diakhir seri, ternyata terungkap bahwa Kamala juga mungkin seorang mutan karena keluarganya yang lain tidak memiliki Noor seperti dirinya. Duh mba, kasian banget udah mah muslim minoritas, turunan imigran, anak jin, cewek, terus mutan juga. Dipersekusi 5 kali lipat!
Hal positif terakhir yang ingin saya angkat adalah terkait penggunaan VFX 2D di beberapa adegan, khususnya saat Kamala berkhayal. Gayanya seperti grafiti digabung dengan gaya fanart seadanya dengan warna-warna yang cerah dan mungkin sedikit elemen etnik Pakistan. Sayangnya adegan-adegan ini lebih banyak terjadi di episode-episode awal. Namun gaya visual yang menarik ini dipakai juga di end credit tiap episode.
Serial ini agak nanggung sebagai tipikal serial remaja ataupun serial aksi Marvel, mungkin karena porsi isu berat dan representasi yang ingin dibawanya akan sulit membuatnya jadi serial yang ringan. Atau mungkin ceritanya kurang berhasil menjalin semuanya lebih rapih. Namun setidaknya kekhawatiran saya soal misrepresentasi cukup terobati.
