Kategori
Devlog/Studlog Game Review Gaming Diary

Gaming Diary #4 – 2024 05 11

Cerita interaktif minim aksi dan kelincahan jari. Namun, tetap bikin cape baca.

Moses & Plato: Last Train to Clawville (Demo)

Moses & Plato: Last Train to Clawville adalah game point and click adventure dari studio The Wild Gentlemen asal Hungaria dan diterbitkan (?) oleh Toge Production asal Indonesia. Game ini baru keluar demonya.

Pada dasarnya ini adalah cerita interaktif yang mungkin mempunyai percabangan tergantung aktivitas pemain. Pemain berperan sebagai Moses, rubah detektif yang ditugaskan mengawal seorang (atau seekor) dubes dari negara lain dalam perjalanan kereta. Di perjalanan, dubes tersebut terbunuh dan karakter yang kita mainkan dituduh sebagai pelakunya. Cerita di demo baru sampai ke sana sih, tapi sepertinya pemain akan mencoba mencari bukti dan petunjuk pelaku sebenarnya.

Dari segi gameplay, saya bisa melihat bagaimana cerita interaktifnya akan dibuat non-linear. Selain mengamati benda-benda di lokasi dan menginterogasi karakter lain, pemain juga dibekali kemampuan mengendus, mendengar, dan melihat kondisi ruangan atau orang untuk mendapatkan petunjuk. Yah, karena detektifnya rubah, jadi bisa begitu.

Pada beberapa segmen, jumlah karakter yang bisa diajak ngobrol oleh pemain akan dibatasi sehingga pemain perlu memutuskan karakter mana yang akan memberi petunjuk ke arah yang benar. Ada juga mode interogasi khusus di mana pemain dapat memberondong karakter lain dengan banyak pertanyaan dan memutuskan apakah ia menjawab dengan jujur atau tidak.

Dialog-dialog utama di demo ini sudah menggunakan voice over dan sinkron dengan pergerakan mulut ilustrasi karakter. Dengan gaya ilustrasi dan animasi yang cantik, saya berpikir game ini cukup ambisius juga dalam segi audio visualnya. Yah, cerita interaktif bukan genre game populer, dan untuk bisa stand-out dengan game lain sepertinya harus jor-joran di pengisi suara dan gaya ilustrasinya.  

Masih ada kesalahan-kesalahan kecil atau ketidaknyamanan dalam game ini, tapi karena masih demo, buat saya tidak jadi soal. Namun, ada satu hal yang ganggu di awal. Saat pilihan dialog pertama muncul, saya tidak tahu harus memlilih sebagai siapa. Judul gamenya Moses & Plato, tapi tidak terlalu jelas di awal apakah kita memerankan Moses atau Plato, seekor kucing ambekan yang jadi partner Moses.

Saya tidak tahu apakah bakal beli gamenya kalau sudah rilis. Lihat dari pengisi suara dan gambarnya, kayaknya bakal mahal. Jadi, lihat nanti saja.

After Love EP (Demo)

After Love EP juga game yang lebih berupa cerita interaktif. Tidak banyak gameplaynya dan lebih berpusat pada penyampaian cerita lewat gambar dan teks dialog. Juga voice over, tapi hanya satu karakter saja.

Game ini bercerita tentang Rama, pentolan band indie yang kehilangan pacarnya secara tiba-tiba. Dia mengalami depresi selama setahun, menutup diri, dan berhenti nge-band selama itu. Suatu hari, dia ingin kembali nge-band dan mendengar suara-suara dari pacarnya. Mungkin hantunya atau khayalan, entah, dan suara itu satu-satunya voice over di sini selain di beberapa bagian cerita lain.

Buat saya visualnya cukup menarik. Desain karakternya lucu-lucu depresi gitu lah. Gimana ya ngejelasinnya. Lol. Kita bisa mengendalikan Rama berjalan-jalan di kota yang terinspirasi Jakarta yang visualnya ciamik juga diiringi musik ala-ala band indie lokal. Memang sih game ini kolaborasi dengan band L’alphalpa. Aku sering denger namanya, tapi belum pernah denger lagunya.

Ada minigame rhythm saat Rama ngeband atau latihan gitar yang menurut saya agak kurang enak dimainkan. Pertama kali main tidak ada petunjuknya dan kedatangan not nya kurang pas, atau hilang padahal salah di not sebelumnya saja. Ternyata masalahnya ada di kontroller saya dan pas pindah ke keyboard jadi lebih enak. Hehe. Tapi tetap agak kurang dapet feelnya, mungkin perlu visual cue tambahan saat miss? Entahlah. Sepanjang demo ini, saya belum melihat kaitan kemahiran bermain minigame ini dengan alur cerita.

Game ini masih demo, dan ini terlihat di beberap bagian yang kurang rapih. Misalnya masih ada karakter yang harusnya belum muncul di suatu lokasi. Namun, saya belum memainkan demo ini sampai mentok meski ceritanya sudah cukup panjang juga. Ceritanya akan berkutat di pergulatan Rama untuk move on, menjalani terapi, menjalin hubungan dengan teman band lama yang agak kesal karena tiba-tiba ditinggalkan Rama saat dia depresi, dan bakal ada elemen dating sim juga.

Sebagai tambahan, dulu saya sebenarnya pernah melamar jadi project manager untuk game ini, tapi ga lolos. Game ini kalau tidak salah sudah dikembangkan sejak 2020/2021, tapi sejak game director nya meninggal, progressnya jadi terhambat.

Saya pribadi berharap game ini bisa cukup sukses, meski tidak begitu paham bagaimana game dengan visual lokal, dan voice over dengan aksen indo bisa sukses di luar. Game dengan genre ini jelas tidak akan begitu populer di pasar lokal, tapi semoga saja.

Genshin Impact

Niatnya cuma main sebentar, tapi jadi ngeberesin world quest, ngumpullin semua Hydroculus, lalu ningkatin level Statue of The Seven di Fontaine dan Fountain of Lucine sampai mentok sekali klik. Namun, saat nge-pull dengan bonus yang didapat dari semua aktivitas itu, tetap belum bisa ngedapetin Arlecchino. Gitulah, kalau game tujuannya nge-gacha emang harus biasa kecewa.

Ngomong-ngomong soal world quest yang baru diselesaikan, ceritanya lumayan, cutscene nya cantik (dan ada semacam QTE), tapi dialognya lagi-lagi agak bikin sulit buat bikin ngerasa ‘oh ceritanya gitu’. Mungkin masalah terjemahan, mungkin karena gaya bicara karakter saat dialog, atau memang gaya penceritaannya agak sulit dipahami. Belakangan cerita di Genshin selalu seperti ini, dan saya rasa baru terasa saat masuk Fontaine. Atau sayanya yang mulai ga sabar baca ceritanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *