Kategori
Game Review Gaming Diary

Gaming Diary #8 – 2024 05 15

Hades

Game ini masih menyimpan banyak konten baru setelah lebih dari 20 kali percobaan kabur dari Underworld. Misalnya, ada tantangan acak di mana Thanatos akan muncul dan berlomba dengan pemain untuk mengalahkan lawan lebih banyak. Jika pemain mengalahkan lebih banyak lawan, ia akan dapat bonus.

Senjata terakhir juga baru bisa kubuka hari ini, yaitu sebuah senapan mesin… di game berlatar mitologi Yunani. Mungkin ini adalah senjata yang paling sulit digunakan. Pelurunya terbatas sehingga perlu ada jeda untuk isi ulang dan serangan special nya agak sulit diarahkan. Boon tertentu akan mengupgrade senjata tersebut jadi lebih bagus, misalnya pelurunya jadi tidak terbatas. Namun, damagenya masih terlalu kecil untuk terasa sebagai senjata yang kuat. Sepertinya hanya untuk orang yang ingin tantangan. Kalau fokus mengambil boon dan item yang tepat bisa jadi lebih terasa kuat.

Genshin Impact

Masih hanya aktivitas rutin dan memainkan mini game event. Ada minigame melengkapi nada yang hilang dari lagu. Sebenarnya sangat mudah kalau brute force coba-coba nada dari pilihan yang ada, tapi saya tertantang untuk nebak sekali jalan dengan mendengarnya saja. Yah, ga punya natural perfect pitch pun sepertinya masih cukup mudah untuk itu. Btw, sistem notasi musik di Genshin memang sama dengan not balok ya?

Satu lagi yang saya sadari, ternyata banyak talent karakter Mondstadt dan Liyue yang saya dapat pas awal-awal main Genshin yang belum di level up sampai mentok sesuai levelnya. Mungkin perlu waktu khusus farming material talenta untuk karakter Mondstadt kapan-kapan. Entah kenapa karakter ini banyak yang belum ke-level up. Mungkin keburu nge-build karakter yang lebih baru. Namun, kebanyakanpas awal main sudah cukup berguna meski salah build atau ga beres di level up.

Kategori
Devlog/Studlog Game Review Gaming Diary

Gaming Diary #7 – 2024 05 14

Citampi Stories

Hanya main sebentar untuk menghabiskan jam kerja dan energi di sisa hari yang ada. Karena perlu bahan-bahan untuk bikin benda keperluan quest, saya habiskan waktu dan energi karakter untuk mancing dengan pancing khusus yang bisa sekalian nangkap sampah. Meski belum ada petunjuk juga bahan yang diperlukan itu dapatnya dari mana.

Jadi kepikiran, kalau dulu saya dapat petunjuk seperti itu dari mana? Dulu saya senang baca majalah game untuk dapat cheat atau trik rahasia dan kadang ada juga panduan seperti resep crafting atau masak dalam sebuah game yang ada fitur crafting dan masak. Apakah dulu saya juga pake itu buat tahu resep masak di game semisal Harvest Moon?

Buku panduan bermain game, baik terbitan tidak resmi developer/publisher nya maupun panduan yang datang berbarengan dengan salinan fisik game nya, sudah jadi bagian dari game sejak lama. Namun, apakah desain sebuah gameplay selalu mempertimbangkan adanya buku panduan atau majalah? Bagaimana saat internet mulai populer digunakan untuk mencari panduan bermain?

Mengingat hal ini, saya jadi merasa konyol sendiri berpikir bahwa semua informasi tentang game harus ada di dalam game nya itu sendiri. Jadi, apakah menyediakan panduan dalam game yang bisa dibuka dengan bayar currency premium (di game ini namanya coupon, sebelumnya aku salah nyebutnya ticket :p) adalah desain yang baik? Apakah pemain lebih baik cari guide nya di internet? Atau, apakah membiarkan pemain cari tahu sendiri soal resep, lokasi bahan, waktu keluarnya jenis ikan tertentu, dll. lewat coba-coba dan bereksplorasi sendiri dalam gamenya?

Akhirnya jadi pilihan pemain mau cari guide di internet atau eksplorasi di gamenya sendiri. Namun, kalau saya bikin game sejenis, saya tidak tahu mana yang lebih baik.

Akhirnya lagi, saya beli item in-app 5.000 coupon seharga Rp 16.000 (belum termasuk pajak). Masih kemurahan menurutku, tapi baru akan terasa sepadan atau tidaknya setelah saya coba pakai.

Genshin Impact

Hari ini lebih banyak ngabisin resin buat battle. Lawan 4 bos mingguan cukup buat ngabisin 150 resin (30 x 3 + 60). Lawan boss mingguan meski lama dan susah semakin diperlukan untuk material level up karakter dan material bikin senjata (kalau hoki), jadi tiga kali per minggu sepertinya akan kurang. Sisanya, ngabisin condensed resin buat farming material di domain.

Battle merupakan bagian yang paling memuaskan (sekaligus melelahkan) di Genshin Impact. Mencoba beragam kombinasi karakter dan menemukan loop penggunaan skill yang efektif untuk mengalahkan musuh tertentu selalu memberikan kepuasan tersendiri. Terlebih kalau menemukan kombinasi yang unik dan membuatku berpikir ‘Hmm, ternyata bisa ya ngalahinnya pakai cara ini. Lambat sih, tapi menarik.’ Sayangnya, kalau koneksi internet lagi bapuk, ping gede, pergantian karakter delay berdetik-detik, dan bahkan damage-nya delay, rasanya pingin banting stik.

Btw saya mulai Event Quest Iridescent Tour dan menemukan masalah dalam cerita. Di event ini, Itto dan Jendral Gorou bekerjasama untuk mengadakan konser di Pulau Watatsumi dan Paimon kaget mereka bisa kenal. Ini tidak konsisten dengan cerita di event Akitsu Kimodameshi di mana Itto, Gorou, dan Paimon sudah pernah bertemu dan berinteraksi (meski Gorou tidak mengenalkan diri sebagai Jendral).

Akibatnya, saya jadi berpikir kalau cerita-cerita di event tidak canon. Artinya, dalam rangkaian cerita Traveller/Pengembara menjelajahi berbagai negara di Teyvat, Scaramouche tidak pernah bertemu Mona, Collei tidak pernah berteman dengan Sucrose, dan Freminett tidak pernah membantu seorang ibu dengan kelainan mental untuk menerima kematian anaknya.

Event quest memang sifatnya opsional, jadi ceritanya mungkin sengaja dibuat agar tidak memerlukan konteks dari cerita opsional lain atau diperlukan untuk memahami potongan cerita lain di game ini. Sehingga, pemain yang baru gabung tidak merasa ketinggalan meski kelewat event yang hanya bisa diakses sekian waktu saja.

Awalnya, saya selalu ingin agar event-event temporer memiliki cerita agar saya bisa tertarik. Namun, akibatnya akan ada pemain yang kelewat cerita tertentu karena baru mulai bermain. Jadi yah, mungkin bukan salah model live servicenya, tapi memang sebaiknya tidak ada cerita yang canon di event. Konon, bakal ada fitur untuk mengakses event-event lama di Genshin agar bisa ngikutin ceritanya.

Btw, ada satu karakter di event quest ini, Dvorak, yang masih ingat pernah ketemu Pengembara dan Paimon di Lantern Rite Festival. Jadi… hanya Akitsu Kimodameshi yang tidak canon? Entahlah mungkin bad-writing saja.

Kategori
Devlog/Studlog Game Review Gaming Diary

Gaming Diary #6 – 2024 05 13

Genshin Impact

Masih cool down sehabis beresin world quest kemarin. Jadinya cuma nyisirin area baru untuk beresin tantangan dan ambil peti-peti harta karun. Ternyata ada peti yang kelewat di suatu tempat dan lokasinya bisa dicapai lewat manjat atau buka pintu dengan buku khusus. Ini agak aneh juga, jadinya si pintu terkunci itu ga berguna. Meski kalau mau dapat achievement, si buku khusus harus dipake.

Btw, nemu teks begini:

Yes, yes, I got that reference.

Hades

Sekarang jadi sering mentok pas lawan bos di Asphodel. Mungkin karena dapat boon yang kurang bagus. Atau juga karena masalah di kontroler yang kupakai bikin karakter ga bisa ngadep ke arah yang benar.

Sepanjang sesi bermain kali ini, karena sering kalah, saya jadi khawatir kalau-kalau dialog yang saya temukan akan berulang menjadi sama seperti sebelumnya, atau NPC yang bisa diajak bicara jadi ngilang. Namun, sejauh ini sudah 18 kali kalah, belum ada dialog yang berulang. Kalaupun ada, paling dari teks-teks pendek atau celetukan si karakter utama atau narator.

Dapet senjata baru (Twin Fists) dan beberapa kali melawan boss yang berbeda-beda di level pertama (Tartarus). Game ini terlalu ngotot agar setiap grind dan pengulangan tidak membosankan.

Kategori
Devlog/Studlog Game Review Gaming Diary

Gaming Diary #5 – 2024 05 12

Hades

Sekarang, saya sudah merasa Tartarus dan Asphodel cukup mudah diselesaikan. Saya juga lebih merasa kalau kemudahan ini berkat semakin sadar soal pola serang musuh, gaya bermain saat menggunakan senjata tertentu, dan pilihan boon (bonus temporer) yang tepat dengan gaya bermain. Elysium masih terasa lebih sulit meski Asphodel lebih terasa chaotic. Di Elysium, saya mati selalu oleh musuh biasa.

Saya baru menyadari juga kalau saat memilih senjata ada bonus yang secara acak diberikan pada salah satu senjata. Sepertinya developer game ini ingin agar pemain mencoba gaya bermain yang variatif. Saya jadi kepikiran, dari sisi pemain, apa untungnya mencoba gaya bermain yang berbeda-beda? Developer mungkin berpikir kalau pemain hanya bermain dengan gaya bermain satu senjata saja, maka ia akan cepat bosan. Namun, bagaimana kalau pemain sudah nyaman pakai satu senjata tertentu saja?

Yah, developer mendorong pemain untuk melakukan sesuatu dengan iming-iming benefit bukanlah suatu paksaan. Pemain masih bebas bermain dengan cara yang ia suka, cuman ga didukung aja.

Saya penasaran apa yang akan terjadi kalau satu karakter NPC dikasih Nectar berkali-kali untuk memaksimalkan level hati nya. Satu kali dapat artifact, dua kali ga dapat apa-apa.

Btw liat di forum game designer ngebahas Hades 2, mereka ngebahas sampai ke nilai damage karakternya sepadan atau ga. Mungkin saya juga perlu membahas sampai ke angka, ga cuma feeling.

Citampi Stories

Main sebentar, masih mencoba mencari rutinitas baru setelah pindah rumah. Masih stuck nyelesain quest bikin peralatan gym yang bahan-bahannya belum ketemu. Juga, belum mutusin mau beli in-app purchase yang mana.

Lihat sekilas, paket in-app purchase nya kebanyakan paket fitur. Kalau dipikir-pikir, jualan fitur tambahan di game gratisan cukup fair ya. Dibanding kalau jual game berbayar harga penuh tapi jualan fitur tambahan lagi. Namun, untuk game ini, fitur tambahan sepertinya ga terlalu perlu. Justru ticket yang jadi currency premium lebih berguna kelihatannya.

Yah, yang manapun, in-app purchase di game ini hampir semuanya terjangkau. Entah apakah ini cukup profiitable buat developernya atau ga.

Kategori
Devlog/Studlog Game Review Gaming Diary

Gaming Diary #4 – 2024 05 11

Moses & Plato: Last Train to Clawville (Demo)

Moses & Plato: Last Train to Clawville adalah game point and click adventure dari studio The Wild Gentlemen asal Hungaria dan diterbitkan (?) oleh Toge Production asal Indonesia. Game ini baru keluar demonya.

Pada dasarnya ini adalah cerita interaktif yang mungkin mempunyai percabangan tergantung aktivitas pemain. Pemain berperan sebagai Moses, rubah detektif yang ditugaskan mengawal seorang (atau seekor) dubes dari negara lain dalam perjalanan kereta. Di perjalanan, dubes tersebut terbunuh dan karakter yang kita mainkan dituduh sebagai pelakunya. Cerita di demo baru sampai ke sana sih, tapi sepertinya pemain akan mencoba mencari bukti dan petunjuk pelaku sebenarnya.

Dari segi gameplay, saya bisa melihat bagaimana cerita interaktifnya akan dibuat non-linear. Selain mengamati benda-benda di lokasi dan menginterogasi karakter lain, pemain juga dibekali kemampuan mengendus, mendengar, dan melihat kondisi ruangan atau orang untuk mendapatkan petunjuk. Yah, karena detektifnya rubah, jadi bisa begitu.

Pada beberapa segmen, jumlah karakter yang bisa diajak ngobrol oleh pemain akan dibatasi sehingga pemain perlu memutuskan karakter mana yang akan memberi petunjuk ke arah yang benar. Ada juga mode interogasi khusus di mana pemain dapat memberondong karakter lain dengan banyak pertanyaan dan memutuskan apakah ia menjawab dengan jujur atau tidak.

Dialog-dialog utama di demo ini sudah menggunakan voice over dan sinkron dengan pergerakan mulut ilustrasi karakter. Dengan gaya ilustrasi dan animasi yang cantik, saya berpikir game ini cukup ambisius juga dalam segi audio visualnya. Yah, cerita interaktif bukan genre game populer, dan untuk bisa stand-out dengan game lain sepertinya harus jor-joran di pengisi suara dan gaya ilustrasinya.  

Masih ada kesalahan-kesalahan kecil atau ketidaknyamanan dalam game ini, tapi karena masih demo, buat saya tidak jadi soal. Namun, ada satu hal yang ganggu di awal. Saat pilihan dialog pertama muncul, saya tidak tahu harus memlilih sebagai siapa. Judul gamenya Moses & Plato, tapi tidak terlalu jelas di awal apakah kita memerankan Moses atau Plato, seekor kucing ambekan yang jadi partner Moses.

Saya tidak tahu apakah bakal beli gamenya kalau sudah rilis. Lihat dari pengisi suara dan gambarnya, kayaknya bakal mahal. Jadi, lihat nanti saja.

After Love EP (Demo)

After Love EP juga game yang lebih berupa cerita interaktif. Tidak banyak gameplaynya dan lebih berpusat pada penyampaian cerita lewat gambar dan teks dialog. Juga voice over, tapi hanya satu karakter saja.

Game ini bercerita tentang Rama, pentolan band indie yang kehilangan pacarnya secara tiba-tiba. Dia mengalami depresi selama setahun, menutup diri, dan berhenti nge-band selama itu. Suatu hari, dia ingin kembali nge-band dan mendengar suara-suara dari pacarnya. Mungkin hantunya atau khayalan, entah, dan suara itu satu-satunya voice over di sini selain di beberapa bagian cerita lain.

Buat saya visualnya cukup menarik. Desain karakternya lucu-lucu depresi gitu lah. Gimana ya ngejelasinnya. Lol. Kita bisa mengendalikan Rama berjalan-jalan di kota yang terinspirasi Jakarta yang visualnya ciamik juga diiringi musik ala-ala band indie lokal. Memang sih game ini kolaborasi dengan band L’alphalpa. Aku sering denger namanya, tapi belum pernah denger lagunya.

Ada minigame rhythm saat Rama ngeband atau latihan gitar yang menurut saya agak kurang enak dimainkan. Pertama kali main tidak ada petunjuknya dan kedatangan not nya kurang pas, atau hilang padahal salah di not sebelumnya saja. Ternyata masalahnya ada di kontroller saya dan pas pindah ke keyboard jadi lebih enak. Hehe. Tapi tetap agak kurang dapet feelnya, mungkin perlu visual cue tambahan saat miss? Entahlah. Sepanjang demo ini, saya belum melihat kaitan kemahiran bermain minigame ini dengan alur cerita.

Game ini masih demo, dan ini terlihat di beberap bagian yang kurang rapih. Misalnya masih ada karakter yang harusnya belum muncul di suatu lokasi. Namun, saya belum memainkan demo ini sampai mentok meski ceritanya sudah cukup panjang juga. Ceritanya akan berkutat di pergulatan Rama untuk move on, menjalani terapi, menjalin hubungan dengan teman band lama yang agak kesal karena tiba-tiba ditinggalkan Rama saat dia depresi, dan bakal ada elemen dating sim juga.

Sebagai tambahan, dulu saya sebenarnya pernah melamar jadi project manager untuk game ini, tapi ga lolos. Game ini kalau tidak salah sudah dikembangkan sejak 2020/2021, tapi sejak game director nya meninggal, progressnya jadi terhambat.

Saya pribadi berharap game ini bisa cukup sukses, meski tidak begitu paham bagaimana game dengan visual lokal, dan voice over dengan aksen indo bisa sukses di luar. Game dengan genre ini jelas tidak akan begitu populer di pasar lokal, tapi semoga saja.

Genshin Impact

Niatnya cuma main sebentar, tapi jadi ngeberesin world quest, ngumpullin semua Hydroculus, lalu ningkatin level Statue of The Seven di Fontaine dan Fountain of Lucine sampai mentok sekali klik. Namun, saat nge-pull dengan bonus yang didapat dari semua aktivitas itu, tetap belum bisa ngedapetin Arlecchino. Gitulah, kalau game tujuannya nge-gacha emang harus biasa kecewa.

Ngomong-ngomong soal world quest yang baru diselesaikan, ceritanya lumayan, cutscene nya cantik (dan ada semacam QTE), tapi dialognya lagi-lagi agak bikin sulit buat bikin ngerasa ‘oh ceritanya gitu’. Mungkin masalah terjemahan, mungkin karena gaya bicara karakter saat dialog, atau memang gaya penceritaannya agak sulit dipahami. Belakangan cerita di Genshin selalu seperti ini, dan saya rasa baru terasa saat masuk Fontaine. Atau sayanya yang mulai ga sabar baca ceritanya.

Kategori
Game Review Gaming Diary

Gaming Diary #1 – 2024 05 08

Citampi Stories

Akhirnya kebeli juga rumah, setelah nabung dan nyogok beberapa warga biar tanda hatinya naik. Seperti sudah diduga, masih banyak mekanik gameplay yang belum saya ketahui. Setelah beli rumah banyak fitur dan aktivitas yang sepertinya ga mungkin bisa dieksplorasi semua.

Citampi Stories memang permainan simulasi kehidupan di sebuah desa atau kota kecil, seperti Harvest Moon (anjir, sulit menjelaskan genre ini tanpa nyebut Harvest Moon). Bedanya, kalau Harvest Moon fokusnya nyari duit lewat bertani dan menambang bijih besi, di sini kita dapat duit dari kerja serabutan dan jualan sampah-sampah yang dipulung. Ada gameplay nanam tanaman dan jual hasilnya untuk duit, tapi bukan fokus. Salah satu fokus lainnya adalah bersosialisasi, kencan, cari istri, jadi ada elemen dating simulator gitu, lah.

Saya sebenarnya ga terlalu suka game simulator seperti ini karena gameplay-nya dibatasi waktu. Namun, kalau sudah menemukan rutinitas harian yang pas, game ini jadi terasa lebih mudah dan bisa dinikmati. Saya juga salut dengan developer yang menggunakan side quest untuk membantu pemain tidak terjebak dalam rutinitas dan mencoba hal baru untuk berkembang.

Setelah beli rumah, aktivitas permainan sepertinya akan lebih banyak. Jumlah tanaman yang bisa ditumbuhkan di halaman rumah juga bertambah. Sepertinya tidak mungkin saya lakukan semua aktivitas tiap hari. Karena saya seorang completionist, saya tidak suka kalau sebuah game sebagian fiturnya hanya akan digunakan sebagian pemain dan fitur lain digunakan pemain lain. Hal ini juga bikin saya kurang suka fitur Teapot dan TCG di Genshin Impact. Namun, seperti dalam hidup, tidak semua orang harus bisa semuanya kan?

Genshin Impact

Sepertinya daerah pertama Sea of Bygone Era sudah bersih dari peti dan Hydroculus. Hydro Sigils belum nyampe 1500. Biar bisa nge-level up Fountain of Lucine sekaligus kayanya memang harus beresin semua area di Sea of Bygone Era dulu. Btw, area bawah laut memang menarik dan warna-warni, tapi rasanya pemandangan yang menarik buatku malah siluet burem yang kadang ada di ujung peta. Maksudku, coba lihat ini:

Paper, Please

Ga bisa. Udah ga bisa lagi. Keluarga terancam kelaparan, ngusir germo tetep aja ada PSK yang meninggal, ngelolosin orang yang dokumennya lengkap malah ternyata teroris, aturan makin belibet. Udah lah. Game ini susah. Bukan gameplaynya yang berat, tapi beban moralnya.

Di Paper, Please, kita bermain sebagai petugas imigrasi di pos perbatasan yang bertugas mengecek dokumen orang-orang yang lewat. Kita harus menolak orang yang dokumennya tidak lengkap atau palsu dan meloloskan yang sebaliknya. Apapun alasannya. Meski kita kasihan sama nenek yang mau mengunjungi cucunya setelah 6 tahun, harus ditolak kalau dokumennya ga lengkap. Sebab, pemerintah akan segera tahu kalau ada dokumen yang ga lengkap (YA KALAU ADA SISTEM KAYAK GITU, BUAT APA PETUGAS IMIGRASI CEK DOKUMEN???). Tiga kali meloloskan, atau menolak, karena tidak teliti sama aturan, gaji kita akan dipotong.

Kalau gaji dpotong, ga bisa beli makan buat keluarga. Kalau ga dikasih makan, keluarga akan mati.

Argh.

Beban moral pas bunuhin hewan lucu buat material level-up di Genshin mah ga seberapa dibanding ini.

Memang game ini berhak atas apresiasi dan penghargaan yang diterimanya. Namun, saya ga tahu kalau masih bisa tahan buat lanjut. Udah cukup terluka.

Hades

Ternyata controller rusak yang aku punya bisa juga dipakai main ini, selama ga nyentuh joystik sebelah kiri yang nge-drift. Lebih enak daripada pakai keyboard dan mouse. Memang jempol jadi sakit karena kontrol gerak karakter pakai D-pad, tapi aku sudah biasa seperti itu; aku main PS satu sebelum ada stik dual-shock.

Saya semakin paham elemen roguelike dari game ‘poster-boy’ genre roguelike ini. Kita menjelajah ruang-ruang secara acak, mati, lalu balik lagi dari awal. Setelah beresin ruang dapat bonus secara acak juga (atau milih dari pilihan acak) yang meningkatkan kekuatan karakter selama sesi permainan (sampai mati). Jadi, progress kita dalam satu sesi permainan tergantung bonus acak yang muncul. Kayak gacha, tapi soal progress game nya. Dan, ga pake duit. Genshin diginiin bakal gimana ya?

Sebenarnya ada keseimbangan antara keberuntungan acak, pilihan, dan kemampuan dalam gameplay nya. Setiap kali mati, pemain bisa meningkatkan kemampuan karakter secara permanen, tapi rasanya mempermudah permainan dengan cara ini progressnya lama. Developer seperti membatasi kecepatan peningkatan karakter lewat berkali-kali sesi bermain agar permainan tidak cepat terasa mudah, dan agar pemain bisa lebih jago bermainnya. Main dan mati berkali-kali agar kemampuan karakter dan pemain meningkat secara bertahap.

Mengulang-ulang sesi permainan setelah mati memang sangat membosankan. Karena itulah elemen naratif di game ini sangat membantu. Salah satu yang membuat Hades terkenal adalah cerita, dialog, dan interaksi antar karakter yang menarik. Dialognya hampir tidak pernah berulang setiap kali bertemu dengan karakter yang sama. Saat kembali ke House of Hades, tempat awal permainan setelah karakter mati, kadang ada progress cerita yang membuat pemain tidak bosan. Yah, mungkin ada batasnya sih.

Game ini juga ada semacam dating simulator. Saya belum tahu sedalam apa mekanisme gameplaynya, baru sekedar kasih hadiah, dapat item.

Kalau gamplay utama pertempurannya… cukup susah juga. Kadang area pertempuran menjadi sangat kacau dan chaos. Meski kunci memenangkan pertempuran adalah untuk tetap tenang dalam chaos dan selalu mencari cara aman untuk menyerang, hal itu bisa dilakukan kalau kita dapat privilege boon (bonus temporer) yang enak sih. Atau kalau jago.

Kategori
Game Review

Game Review: Figure Fantasy

Gameplay yang apik, tema yang menarik, cerita, dan waifu. Tapi belum tentu kamu akan suka.

Ide dan tema utama game ini adalah idle RPG dengan karakter action figure atau figurine (tipe-tipe figure yang kadang tergolong NSFW, tergantung standar NSFW-mu). Game ini seakan ingin memberi pengalaman memiliki action figure secara digital dan… well… lebih terjangkau. Iklan nya dengan jelas memperlihatkan hal tersebut; action figure yang awalnya diam tiba-tiba beraksi saat pemiliknya tidak ada. Bayangkan Toy Story tapi pakai figurine dengan cerita ala anime.

Namun cerita di gamenya sendiri berbeda. Pemain, pemilik karakter figurine utama, adalah satu-satunya manusia yang bisa berbicara dan melihat figurine bergerak. Dan dengan desain karakter figurine yang tergolong seksi memanggilmu dengan sebutan ‘master’ lumayan bikin cringe. Ceritanya agak kurang jelas di awal, apa mereka pakai bahasa Inggris? Tapi lama-lama penasaran juga.

Dari segi gameplay, meski awalnya terasa seperti idle RPG yang hasil pertarungannya random kecuali level karaktermu terpaut jauh di atas musuh, ternyata ada kedalaman strategi yang cukup menarik. Misalnya, posisi karakter menentukan musuh mana yang akan diserangnya lebih dulu. Tiap karakter juga memiliki role dan skill ulti dengan AoE yang berbeda-beda sehingga penempatan karakter di awal akan sangat berpengaruh.

Gameplay tersebut didukung dengan berbagai fitur dan mode permainan standar Idle RPG lainnya seperti idle income, gacha, levelling karakter, equipment, dsb.. Reset dan retire (gift) karakter juga dapat dengan mudah dilakukan. Selain kamu bisa skip ceritanya, kamu juga bisa skip battlenya, kalau kamu yakin menang, kecuali pada battle yang terkait cerita dan boss battle.

Fitur tambahan lain memperkuat tema action figure game ini seperti fitur AR untuk menempatkan figure digital di ruang fisik. Tidak penting memang, tapi memperkuat kesan tematik game ini. Sayangnya meski karakter pada AR dapat menari-nari (ugh) tapi kita bisa mengatur pose figure saat mau difoto.

Tema figure ini juga dengan sangat baik membalut setiap fitur standar idle RPG tadi. Misalnya retire jadi gift dan altar (untuk menyamakan level karakter tertentu dengan level terendah dari 5 karakter dengan level tertinggi) menjadi Otaku Town (pajangan), dll.

Elemen lain yang dengan baik dibalut dengan tema figurine adalah fitur gacha yang ditampilkan sebagai pembelian box figurine random. Pemain membeli box dari merek/pabrikan tertentu dan merek ini jadi semacam faction seperti pada game idle RPG lain. Cara membuka box gacha nya juga cukup immersive.

Karakter-karakter dupe dapat dengan mudah dibedakan dengan karakter utama dari desainnya yang lebih seperti maskot humanoid daripada manusia. Meski dapat dengan mudah di retire, aku bisa membayangkan ada orang yang mengkoleksi karakter ini karena beberapa desainnya cukup lucu dan unik.

Sebenarnya masih banyak lagi fitur dan mode-mode permainan yang unik, seperti review karakter dari pemain lain untuk membantumu menentukan karakter mana yang akan dinaikkan levelnya dan fitur tower untuk mengajarkan beberapa tips battle dan strategi. Namun rasanya akan terlalu panjang untuk dibahas.

Live-ops dan event sendiri tidak ada yang macam-macam, hanya quest-quest yang kadang memberikan token khusus (token khusus ini juga muncul di idle income) yang bisa ditukar di menu khusus dengan item lain.

Dengan berbagai karakter yang cukup variatif dan menarik desainnya, game ini cukup membuat saya terpikat. Agak memalukan karena sepertinya saya lebih ter-hook oleh berbagai karakter waifu nya, t-tapi fitur-fiturnya juga menarik kok. Yah, tidak hanya waifu, aku juga tertarik dengan gameplay dan fiturnya… Oh dan meski game ini banyak menampilkan visual 3D tapi tidak terasa terlalu berat dijalankan di HP spek nanggung.

Jadi setidaknya game ini punya cerebral gameplay, waifu/husbando, dan cerita yang.. ‘meh’ tapi secara umum, tetap menarik untuk dicoba.