Kategori
Devlog/Studlog Gaming Diary

Gaming Diary #10 – 2024 05 17

Game yang Tidak Dimainkan

Belakangan hanya main Hades dan Genshin Impact. Rasanya ‘gatal’ yang saya rasa cuma bisa digaruk pakai itu. Sedangkan game yang masih ingin saya coba seperti Citampi Stories dan Paper, Please belum saya mainkan lagi. Rasanya malas. Kenapa ya?

Malas main game tertentu saya rasa ada alasannya masing-masing. Untuk Citampi, saya merasa kalau main itu lagi harus mikir lebih keras buat mengisi hari dengan optimal. Apalagi sudah beli 5.000 coupon yang harus dibelanjakan dengan hati-hati agar tidak mubazir ke progress permainan.

Sedangkan untuk Paper, Please, saya malas main karena game ini benar-benar menuntut kesigapan kita menghadapi situasi dalam tekanan mental dan waktu. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, game ini beban moralnya tinggi. Jadi, perlu meluangkan waktu dan energi untuk siap memainkannya. Juga, mungkin dengan menurunkan standar moral, atau segera close program dan buka lagi setelah melakukan kesalahan bisa mengoptimalkan waktu saya agar bisa lebih cepat tamat.

Yang Digaruk oleh Kedua Game Ini

Game aksi pertempuran sebenarnya bisa sangat melelahkan. Namun kalau tidak lagi cape, saya rasa gameplay pertempuran di kedua game ini adalah yang paling memuaskan. Ada kesamaan pola pikir yang sering saya gunakan di kedua game ini, yaitu coba-coba. Di Genshin saya sering bereksperimen dengan kombinasi karakter agar tidak bosan menggunakan komposisi karakter yang itu-itu saja. Saya selalu ingin mencoba agar karakter selemah apapun tetap bisa berguna dalam tim yang tepat dengan penggunaan yang tepat pula.

Namun, saya tidak terlalu tertarik untuk cape-cape mikirin agar semua karakter di-build dengan optimal, atau menggunakan artefact dan senjata yang tepat. Saya melakukan itu agak ngasal dan mikir kalau sempat saja. Bahkan, meski ada fitur panduan untuk ngebuild karakter, saya hampir tak pernah pakai. Rasanya kalau terlalu ngikut panduan jadi terlalu membatasi kebebasan bereksperimen.

Begitupun di Hades, saya selalu mikir ‘pakai senjata apa kali ini?’ atau ‘ah, kali ini mau fokus dapet boon dari Athena’ atau ‘ah, kali ini mau coba fokus pakai cast’.  Meski demikian, pilihan saya di game ini agak dikendalikan oleh bonus pendapatan Darkness pada senjata dan sistem Fates yang akan memberikan bonus jika sudah melakukan hal-hal tertentu dalam game (misal, pernah mengambil semua boon dari Dionysus). Meski rasanya ada pola tertentu dalam pemilihan senjata, upgrade karakter, pilihan boon, pilihan artifact, dan lain-lain yang lebih bisa membantu saya bermain dan bertahan hidaup sampai jauh, saya tidak terlalu mikir. Saya selalu tergoda untuk coba-coba pakai cara bermain yang berbeda,

Jadi, kesimpulannya, saya lebih suka bereksperimen, dan tidak terlalu suka mikir untuk mengambil keputusan. Lucu juga karena keduanya bisa digabung untuk pengalaman bermain yang lebih positif, sepertinya.

Kategori
Game Review Gaming Diary

Gaming Diary #1 – 2024 05 08

Citampi Stories

Akhirnya kebeli juga rumah, setelah nabung dan nyogok beberapa warga biar tanda hatinya naik. Seperti sudah diduga, masih banyak mekanik gameplay yang belum saya ketahui. Setelah beli rumah banyak fitur dan aktivitas yang sepertinya ga mungkin bisa dieksplorasi semua.

Citampi Stories memang permainan simulasi kehidupan di sebuah desa atau kota kecil, seperti Harvest Moon (anjir, sulit menjelaskan genre ini tanpa nyebut Harvest Moon). Bedanya, kalau Harvest Moon fokusnya nyari duit lewat bertani dan menambang bijih besi, di sini kita dapat duit dari kerja serabutan dan jualan sampah-sampah yang dipulung. Ada gameplay nanam tanaman dan jual hasilnya untuk duit, tapi bukan fokus. Salah satu fokus lainnya adalah bersosialisasi, kencan, cari istri, jadi ada elemen dating simulator gitu, lah.

Saya sebenarnya ga terlalu suka game simulator seperti ini karena gameplay-nya dibatasi waktu. Namun, kalau sudah menemukan rutinitas harian yang pas, game ini jadi terasa lebih mudah dan bisa dinikmati. Saya juga salut dengan developer yang menggunakan side quest untuk membantu pemain tidak terjebak dalam rutinitas dan mencoba hal baru untuk berkembang.

Setelah beli rumah, aktivitas permainan sepertinya akan lebih banyak. Jumlah tanaman yang bisa ditumbuhkan di halaman rumah juga bertambah. Sepertinya tidak mungkin saya lakukan semua aktivitas tiap hari. Karena saya seorang completionist, saya tidak suka kalau sebuah game sebagian fiturnya hanya akan digunakan sebagian pemain dan fitur lain digunakan pemain lain. Hal ini juga bikin saya kurang suka fitur Teapot dan TCG di Genshin Impact. Namun, seperti dalam hidup, tidak semua orang harus bisa semuanya kan?

Genshin Impact

Sepertinya daerah pertama Sea of Bygone Era sudah bersih dari peti dan Hydroculus. Hydro Sigils belum nyampe 1500. Biar bisa nge-level up Fountain of Lucine sekaligus kayanya memang harus beresin semua area di Sea of Bygone Era dulu. Btw, area bawah laut memang menarik dan warna-warni, tapi rasanya pemandangan yang menarik buatku malah siluet burem yang kadang ada di ujung peta. Maksudku, coba lihat ini:

Paper, Please

Ga bisa. Udah ga bisa lagi. Keluarga terancam kelaparan, ngusir germo tetep aja ada PSK yang meninggal, ngelolosin orang yang dokumennya lengkap malah ternyata teroris, aturan makin belibet. Udah lah. Game ini susah. Bukan gameplaynya yang berat, tapi beban moralnya.

Di Paper, Please, kita bermain sebagai petugas imigrasi di pos perbatasan yang bertugas mengecek dokumen orang-orang yang lewat. Kita harus menolak orang yang dokumennya tidak lengkap atau palsu dan meloloskan yang sebaliknya. Apapun alasannya. Meski kita kasihan sama nenek yang mau mengunjungi cucunya setelah 6 tahun, harus ditolak kalau dokumennya ga lengkap. Sebab, pemerintah akan segera tahu kalau ada dokumen yang ga lengkap (YA KALAU ADA SISTEM KAYAK GITU, BUAT APA PETUGAS IMIGRASI CEK DOKUMEN???). Tiga kali meloloskan, atau menolak, karena tidak teliti sama aturan, gaji kita akan dipotong.

Kalau gaji dpotong, ga bisa beli makan buat keluarga. Kalau ga dikasih makan, keluarga akan mati.

Argh.

Beban moral pas bunuhin hewan lucu buat material level-up di Genshin mah ga seberapa dibanding ini.

Memang game ini berhak atas apresiasi dan penghargaan yang diterimanya. Namun, saya ga tahu kalau masih bisa tahan buat lanjut. Udah cukup terluka.

Hades

Ternyata controller rusak yang aku punya bisa juga dipakai main ini, selama ga nyentuh joystik sebelah kiri yang nge-drift. Lebih enak daripada pakai keyboard dan mouse. Memang jempol jadi sakit karena kontrol gerak karakter pakai D-pad, tapi aku sudah biasa seperti itu; aku main PS satu sebelum ada stik dual-shock.

Saya semakin paham elemen roguelike dari game ‘poster-boy’ genre roguelike ini. Kita menjelajah ruang-ruang secara acak, mati, lalu balik lagi dari awal. Setelah beresin ruang dapat bonus secara acak juga (atau milih dari pilihan acak) yang meningkatkan kekuatan karakter selama sesi permainan (sampai mati). Jadi, progress kita dalam satu sesi permainan tergantung bonus acak yang muncul. Kayak gacha, tapi soal progress game nya. Dan, ga pake duit. Genshin diginiin bakal gimana ya?

Sebenarnya ada keseimbangan antara keberuntungan acak, pilihan, dan kemampuan dalam gameplay nya. Setiap kali mati, pemain bisa meningkatkan kemampuan karakter secara permanen, tapi rasanya mempermudah permainan dengan cara ini progressnya lama. Developer seperti membatasi kecepatan peningkatan karakter lewat berkali-kali sesi bermain agar permainan tidak cepat terasa mudah, dan agar pemain bisa lebih jago bermainnya. Main dan mati berkali-kali agar kemampuan karakter dan pemain meningkat secara bertahap.

Mengulang-ulang sesi permainan setelah mati memang sangat membosankan. Karena itulah elemen naratif di game ini sangat membantu. Salah satu yang membuat Hades terkenal adalah cerita, dialog, dan interaksi antar karakter yang menarik. Dialognya hampir tidak pernah berulang setiap kali bertemu dengan karakter yang sama. Saat kembali ke House of Hades, tempat awal permainan setelah karakter mati, kadang ada progress cerita yang membuat pemain tidak bosan. Yah, mungkin ada batasnya sih.

Game ini juga ada semacam dating simulator. Saya belum tahu sedalam apa mekanisme gameplaynya, baru sekedar kasih hadiah, dapat item.

Kalau gamplay utama pertempurannya… cukup susah juga. Kadang area pertempuran menjadi sangat kacau dan chaos. Meski kunci memenangkan pertempuran adalah untuk tetap tenang dalam chaos dan selalu mencari cara aman untuk menyerang, hal itu bisa dilakukan kalau kita dapat privilege boon (bonus temporer) yang enak sih. Atau kalau jago.