Kategori
Film Review

Series Review: She-Hulk: Attorney at Law

Saya menonton ini back-to-back dengan Ms. Marvel dan jika keduanya dibandingkan, menurutku Ms. Marvel lebih baik. Sangat disayangkan karena sebenarnya She-Hulk lebih fun tapi ujung-ujungnya terlalu kacau untuk dinikmati.

Jennifer Walters mengalami kecelakaan saat liburan bersama sepupunya, Bruce Banner, dan saat darah Bruce menetes pada luka terbuka di lengan Jen, kekuatan Hulk pada Bruce jadi ‘menular’ ke Jen. Ternyata Jen juga memiliki DNA spesial yang membuatnya lebih mampu mengendalikan kesadaran saat berubah jadi Hulk. Setelah menguasai kemampuan Hulk dengan kecepatan di luar dugaan Bruce, Jen berusaha kembali ke kehidupannya yang semula dan melanjutkan karir sebagai pengacara, meski Bruce tidak setuju.

Premisnya cukup menarik dan berhasil dibuat kocak. Saya suka bagaimana film ini menampilkan dampak dunia yang berisi orang-orang dengan kekuatan super pada bidang peradilan dan hukum. Pada tiap episode yang singkat (30 menitan, tidak sepert serial MCU lainnya), Jen dan kawan-kawannya yang bekerja di divisi superhuman sebuah kantor hukum ternama menangani influencer dengan kekuatan super, penipu yang dapat berubah bentuk dari New Asgard, mantan supervillain yang tobat, dan lainnya. Ini memberikan perspektif yang cukup segar dan realistis terkait aktivitas-aktivitas manusia super saat berlawanan dengan hukum.

Karakter Jen Walters juga cukup ‘cute’, seperti selalu nahan kesel meski mukanya senyum-senyum. Jen menampilkan bagaimana kekuatan Hulk digunakan jika dimiliki perempuan, yang sudah biasa menghadapi banyak kekesalan dan stress terkait gender dalam hidup maupun karir. Ini adalah suguhan eksplorasi yang unik terkait topik tersebut.

Karakter lain yang menarik adalah The Abomination alias Emil Blonsky. Antagonis dari The Incredible Hulk ini dibantu mendapat pembebasan bersyarat oleh Jen. Setelahnya, ia jadi semacam ketua cult dan support group untuk orang-orang berkekuatan super agar memiliki kepribadian yang lebih baik. Hal positif untuk mengurangi kejahatan yang seharusnya dibikin oleh bilyuner macam Tony Stark.

Oh, ada satu hal lagi yang berkesan, yaitu end credit tiap episode yang dibuat seperti sketsa ruang peradilan dan berubah-ubah sesuai event yang terjadi pada tiap episode. Niat banget.

Sayangnya beberapa hal menarik tersebut diganggu dengan hal-hal medioker atau mentah Sekarang soal hal-hal yang mengganggu di serial ini. adalah proses Jen mendapatkan kekuatan Hulk yang terlalu kebetulan, kemudian menguasai kekuatannya secara cepat sambil agak membunuh karakter Hulk jadi sok heroik dan mudah iri. Ya, ga apa-apa sih biar cepat fokus ke kehidupannya sebagai pengacara.

Kemudian lampshading atau breaking fourth wall juga kadang berlebihan. Jen Walters sadar kalau dirinya berada dalam serial! Bagiku ini agak mengurangi immersion dan mengacaukan world building di MCU yang dampaknya ceritanya jadi kurang meyakinkan. Setidaknya, ini tidak sesuai untuk MCU dengan alasan yang akan saya sampaikan nanti. Sempat diindikasikan kalau ini terkait dengan kekuatan Hulk nya, tapi tidak dijelaskan bagaimana hubungannya.

Lalu sampailah di episode-episode terakhir saat Jen dan Matt Murdock alias Daredevil jadi pasangan instan. Entah ini sesuai dengan karakter Daredevil di serial lainnya atau tidak, tapi meski dalam serial ini kita sudah diperlihatkan bahwa Jen bisa langsung tidur bareng dengan seorang cowok yang baru ditemuinya dalam sehari, mungkin tidak terlalu out of character bagi Jen. Tapi bagiku, proses bikin chemistry-nya terlalu cepat untuk romansa di antara 2 karakter penting.

Di episode akhir ini juga She-hulk juga jadi lebih destruktif tanpa memperhatikan konsekuensi legal nya, bahkan sebelum mengamuk. Agak menyimpang dari karakternya sebagai pengacara. Emil melanggar syarat pembebasannya karena dibayar jadi pembicara di komunitas anti She-Hulk dan kembali ditangkap. Plotnya disampaikan secara ngasal dan menyia-nyiakan ide cult/support group di awal.

Dan di adegan klimaks episode akhir yang sengaja dibikin kacau, She-hulk mendobrak fourth wall untuk memprotest episode terakhir ini ke kru produksi film dan menggunakan kemampuan debatnya untuk memaksa K.E.V.I.N., AI yang mungkin representasi Kevin Feige, bosnya MCU, sehingga ia mengubah adegan pertempuran di episode terakhir itu.

Bagian ini bikin saya garuk-garuk kepala. Saya dengar She-hulk sejak dari komiknya memang sudah biasa mendobrak fourth wall. Tapi di MCU yang sudah bejibun dengan magic system dari berbagai mitologi, sci-fi yang gak terlalu mustahil, dan apalagi multiverse, world-building nya jadi makin membingungkan; tidak ada konsistensi. Saya jadi ga bisa percaya dengan ceritanya. MCU jadi dunia yang segala hal bisa terjadi; batasnya ga jelas.

Breaking the fourth wall itu terlalu overpowered. Bayangkan Thanos kalahnya pakai cara itu. Gak seru kan?

Jadi serial yang bisa jadi lumayan ini sangat disayangkan ga dibikin lebih serius dikit. Mungkin serial ini cuma mau mengingatkan ke penggemar MCU yang suka kritik dan protes di medsos: ‘udah abang-abang, ini cuma tontonan’.

Btw, agak mengecewakan kalau Marvel terlalu fokus membangun franchise daripada world-building. Mungkin phase Marvel ini memang lebih ingin mengenalkan franchise baru, mengangkat karakter dan aktor muda baru agar bisa move on dan gak terikat dengan aktor-aktor yang bisa menua, meninggal, atau berkasus.

Kategori
Film Review

Series Review: Ms. Marvel

Ada perasaan dilematis mendengar bakal ada superhero muslim di MCU. Di satu sisi, karakter muslim diangkat ke muka, bukan sekedar alat biar filmnya terlihat ‘diverse’ tanpa menambah apapun dalam cerita. Contohnya, di dua film Spiderman MCU ada karakter latar berhijab yang kadang-kadang muncul. Di sisi lain, rasanya mustahil menampilkan muslim di dunia superhero Barat dengan elemen-elemen fantasi-nya sendiri.

Saya tidak tahu bagaimana sebaiknya menampilkan identitas muslim dalam media Barat tanpa terkesan stereotipikal, pandering, atau sekedar menggaet perhatian penonton muslim. Bahkan kalau dipikir-pikir saya juga tidak tahu bagaimana representasi muslim di film, serial, atau media lokal saat ini. Fun-fact yang mungkin tidak relevan: sampai saat ini tidak ada pembawa acara berita di stasiun TV besar yang berjilbab.

Karakter Ms. Marvel juga sebenarnya sudah lama dibuat dalam komik. Komik superhero Barat (atau komik dalam Bahasa Inggris) dengan karakter muslim seperti The 99 juga sudah lama terbit yang mungkin jadi referensi untuk membuat karakter superhero muslim. Namun, karena saya tidak pernah membaca komik-komik tersebut, ekspektasi saya masih rendah.

Menurutku masih wajar (tapi mengecewakan) kalau karakter muslim ini akan hanya diberi label muslim dan hanya memperlihatkan selewat nilai Islam yang dia anut. Tapi kalau tidak pernah ditunjukkan adegan solat dalam aksinya, misalnya, apakah masih bisa disebut superhero muslim? Superhero MCU lain tidak punya masalah ini karena agama atau kepercayaannya bukan bagian dari identitasnya.

Ternyata secara keseluruhan serial original Disney + ini lumayan juga. Ceritanya tentang Kamala Khan, remaja muslim Amerika keturunan Pakistan yang terobsesi dengan Captain Marvel. Sebagai aksesoris tambahan untuk ikutan lomba cosplay, ia menggunakan gelang (mungkin bukan terjemahan yang tepat untuk ‘bangle’) warisan neneknya. Tanpa diduga, gelang tersebut membangkitkan kekuatan Noor yang membuatnya mampu menciptakan semacam material bercahaya. Selanjutnya ia terlibat petualangan terkait gelang tersebut.

Karena fokus representasinya lebih pada komunitas Pakistan di Amerika, yang lebih mungkin dipahami orang-orang Hollywood yang bikin serial ini, penggambarannya jadi lebih riil (sepertinya). Meski nilai dan budaya yang ditampilkan baik lewat penokohan, dialog, dan adegan adalah muslim Pakistan, ternyata ada beberapa hal yang cukup relatable bagi muslim di luar komunitas tersebut.

Banyak hal yang unik bagi muslim di Amerika, seperti keterasingan di sekolah, pergulatan identitas, dan perayaan Idul Adha yang seperti festival. Tapi ada juga hal yang sangat relatable seperti (sigh) maling sendal di masjid! Netizen Indonesia (setidaknya di Twitter) sempat heboh karena ini. Ga ada yang mengira kalau maling sendal ada juga di Amerika. See FBI? Masalah dunia Islam saat ini bukan terorisme, tapi maling sendal!

Adegan festival perayaan Idul Adha cukup menarik buatku. Hari raya yang biasanya kita rayakan masing-masing keluarga di rumah, diselenggarakan seperti festival publik yang dihadiri seluruh komunitas. Saya tidak yakin jika itu sudah kebiasaan di sana, tapi sangat masuk akal jika komunitas minoritas yang erat merayakan hari raya bersama. Ini juga bagus buat syiar menangkal prasangka negatif dari masyarakat di luar komunitas.

Saya cukup oke dengan penggambaran karakter-karakter muslim yang tidak seragam atau stereotipikal. Muslim di sini kelakuannya macem-macem meski megang nilai-nilai yang jadi batasan. Yah, seperti di kita lah. Bedanya karena minoritas, mereka lebih terikat erat dengan masjid sebagai pusat kegiatannya.

Keluarga Kamala beragam juga karakternya. Kakaknya sangat paling alim, do’a suka lama, janggut lebat, kemana-mana pakai gamis, tapi masih keitung gaul. Orangtuanya keitung moderat meski ibunya cukup ketat soal pergaulan dan kurang suka dengan superhero yang suka pakai baju ketat (meski soal ini agak tidak konsisten di akhir). Kamala sendiri meski tergolong imajinatif, rebel, dan terobsesi menjadi superhero, ia masih tergolong menjaga diri.

Ada adegan saat dia mencoba kostum cosplaynya, dia berpikir untuk menutup bagian yang terlalu nyetak di pinggangnya. Penggambaran subtle mengenai nilai yang dia pegang cukup sering ditampilkan meski kadang terasa inkonsisten. Kamala hampir ciuman beberapa kali dan selalu digagalkan oleh Bruno, teman dekatnya.

Btw Bruno ini non-muslim yang karena akrab dengan Kamala dan keluarganya jadi cukup aware dan hafal dengan budaya Muslim Pakistan. Tipe-tipe non-muslim yang kadang lebih paham Islam dari muslim. Kurang syahadat aja.

Adegan yang cukup berkesan terkait kontras nilai Islami dengan budaya barat adalah saat Kamala menghadiri Avengercon dan pesta di rumah temannya. Entah apa saya saja yang merasa tidak nyaman melihat adegan tersebut atau memang adegan tersebut sengaja dibuat tidak nyaman? Menghadiri event terkait hal yang saya sukai lalu merasa tidak nyaman dengan suasananya adalah pengalaman yang familiar buatku.

Masih banyak aspek Islam dan Muslim yang diperlakukan dengan baik dalam serial ini. Misalnya, saat adegan shalat dan pembacaan Al-Quran, musik latar dimatikan hingga benar-benar senyap. Kemudian, ada juga karakter-karakter menarik seperti Nakia, sobat lain Kamala, yang berhijab (hijab gaul sih) karena dianggap terlalu putih buat jadi muslim tapi terlalu ‘etnik’ buat jadi orang kulit putih, atau imam masjid yang ramah banget bahkan kepada polisi yang menggrebek masjidnya.

Rasanya tidak ada aspek kehidupan minoritas Muslim di Amerika yang tidak disinggung dalam serial ini. Termasuk adegan terakhir saat Kamala membantu menyelundupkan Kamran ke luar negeri karena memiliki kekuatan super dan dianggap berbahaya oleh otoritas. Terlihat seperti alegori dari upaya melindungi terduga teroris karena pasti akan disiksa habis-habisan kalau ditangkap.

Ada juga topik spesifik terkait Pakistan, seperti sejarah nasional dan mitologi atau folklore nya yang diangkat. Khususnya terkait ‘Partition’ atau peristiwa pemisahan India dan Pakistan setelah kemerdekaan India pada 1947. Penduduk muslim di India bermigrasi (secara sukarela atau karena ancaman kekerasan) ke daerah Pakistan dan penduduk Hindu di daerah Pakistan bermigrasi ke India. Ini merupakan peristiwa yang traumatis dalam sejarah Pakistan dan India yang banyak dikenang masyarakat kedua negara tersebut hingga sekarang. Sebagian drama di keluarga Kamala dan petualangannya bersama gelang ajaib yang ia warisi menggunakan latar peristiwa tersebut.

Saya merasa cukup mengenai representasi aspek-aspek Islam dan (mungkin juga) Pakistan dalam serial ini. Namun untuk menjadi representasi yang baik, serial ini terkendala oleh aspek-aspek teknis yang wajib ada, seperti plot, akting, karakterisasi, dll.

Alur ceritanya agak maksa. Beberapa adegan klimaks diselesaiakan dengan ‘talk-no-jutsu’ yang kurang meyakinkan. Akting pemerannya cukup lumayan, tapi kalau dibandingkan dengan akting karakter SMA di MCU lainnya (misal Spiderman) rasanya agak kurang. Adegan aksi juga biasa saja. Kecuali satu adegan aksi saat Kamala diserang dan dia belum menguasai kekuatannya. Cukup terasa meski Kamala bisa lolos dari serangan tersebut tapi cara bertarungnya benar-benar menunjukkan bahwa dia masih amatir.

Saya juga tidak bisa membahas banyak tentang kekuatan super dan latar Kamala yang agak berbeda dengan di komik. Namun kekuatannya di serial ini rasanya cocok dengan latarnya sebagai keturunan Clandestine dari nenek buyutnya. Btw Clandestine di ini disebut juga sebagai Djin. Yak, protagonis muslim di MCU ini ternyata anak jin (yah kalau mau lebih akurat, Clandestine di sini katanya sih mungkin beda dengan Djin yang disebutkan dalam mitologi dan teks keagamaan).

Tapi diakhir seri, ternyata terungkap bahwa Kamala juga mungkin seorang mutan karena keluarganya yang lain tidak memiliki Noor seperti dirinya. Duh mba, kasian banget udah mah muslim minoritas, turunan imigran, anak jin, cewek, terus mutan juga. Dipersekusi 5 kali lipat!

Hal positif terakhir yang ingin saya angkat adalah terkait penggunaan VFX 2D di beberapa adegan, khususnya saat Kamala berkhayal. Gayanya seperti grafiti digabung dengan gaya fanart seadanya dengan warna-warna yang cerah dan mungkin sedikit elemen etnik Pakistan. Sayangnya adegan-adegan ini lebih banyak terjadi di episode-episode awal. Namun gaya visual yang menarik ini dipakai juga di end credit tiap episode.

Serial ini agak nanggung sebagai tipikal serial remaja ataupun serial aksi Marvel, mungkin karena porsi isu berat dan representasi yang ingin dibawanya akan sulit membuatnya jadi serial yang ringan. Atau mungkin ceritanya kurang berhasil menjalin semuanya lebih rapih. Namun setidaknya kekhawatiran saya soal misrepresentasi cukup terobati.

Kategori
Game Review

Game Review: Figure Fantasy

Gameplay yang apik, tema yang menarik, cerita, dan waifu. Tapi belum tentu kamu akan suka.

Ide dan tema utama game ini adalah idle RPG dengan karakter action figure atau figurine (tipe-tipe figure yang kadang tergolong NSFW, tergantung standar NSFW-mu). Game ini seakan ingin memberi pengalaman memiliki action figure secara digital dan… well… lebih terjangkau. Iklan nya dengan jelas memperlihatkan hal tersebut; action figure yang awalnya diam tiba-tiba beraksi saat pemiliknya tidak ada. Bayangkan Toy Story tapi pakai figurine dengan cerita ala anime.

Namun cerita di gamenya sendiri berbeda. Pemain, pemilik karakter figurine utama, adalah satu-satunya manusia yang bisa berbicara dan melihat figurine bergerak. Dan dengan desain karakter figurine yang tergolong seksi memanggilmu dengan sebutan ‘master’ lumayan bikin cringe. Ceritanya agak kurang jelas di awal, apa mereka pakai bahasa Inggris? Tapi lama-lama penasaran juga.

Dari segi gameplay, meski awalnya terasa seperti idle RPG yang hasil pertarungannya random kecuali level karaktermu terpaut jauh di atas musuh, ternyata ada kedalaman strategi yang cukup menarik. Misalnya, posisi karakter menentukan musuh mana yang akan diserangnya lebih dulu. Tiap karakter juga memiliki role dan skill ulti dengan AoE yang berbeda-beda sehingga penempatan karakter di awal akan sangat berpengaruh.

Gameplay tersebut didukung dengan berbagai fitur dan mode permainan standar Idle RPG lainnya seperti idle income, gacha, levelling karakter, equipment, dsb.. Reset dan retire (gift) karakter juga dapat dengan mudah dilakukan. Selain kamu bisa skip ceritanya, kamu juga bisa skip battlenya, kalau kamu yakin menang, kecuali pada battle yang terkait cerita dan boss battle.

Fitur tambahan lain memperkuat tema action figure game ini seperti fitur AR untuk menempatkan figure digital di ruang fisik. Tidak penting memang, tapi memperkuat kesan tematik game ini. Sayangnya meski karakter pada AR dapat menari-nari (ugh) tapi kita bisa mengatur pose figure saat mau difoto.

Tema figure ini juga dengan sangat baik membalut setiap fitur standar idle RPG tadi. Misalnya retire jadi gift dan altar (untuk menyamakan level karakter tertentu dengan level terendah dari 5 karakter dengan level tertinggi) menjadi Otaku Town (pajangan), dll.

Elemen lain yang dengan baik dibalut dengan tema figurine adalah fitur gacha yang ditampilkan sebagai pembelian box figurine random. Pemain membeli box dari merek/pabrikan tertentu dan merek ini jadi semacam faction seperti pada game idle RPG lain. Cara membuka box gacha nya juga cukup immersive.

Karakter-karakter dupe dapat dengan mudah dibedakan dengan karakter utama dari desainnya yang lebih seperti maskot humanoid daripada manusia. Meski dapat dengan mudah di retire, aku bisa membayangkan ada orang yang mengkoleksi karakter ini karena beberapa desainnya cukup lucu dan unik.

Sebenarnya masih banyak lagi fitur dan mode-mode permainan yang unik, seperti review karakter dari pemain lain untuk membantumu menentukan karakter mana yang akan dinaikkan levelnya dan fitur tower untuk mengajarkan beberapa tips battle dan strategi. Namun rasanya akan terlalu panjang untuk dibahas.

Live-ops dan event sendiri tidak ada yang macam-macam, hanya quest-quest yang kadang memberikan token khusus (token khusus ini juga muncul di idle income) yang bisa ditukar di menu khusus dengan item lain.

Dengan berbagai karakter yang cukup variatif dan menarik desainnya, game ini cukup membuat saya terpikat. Agak memalukan karena sepertinya saya lebih ter-hook oleh berbagai karakter waifu nya, t-tapi fitur-fiturnya juga menarik kok. Yah, tidak hanya waifu, aku juga tertarik dengan gameplay dan fiturnya… Oh dan meski game ini banyak menampilkan visual 3D tapi tidak terasa terlalu berat dijalankan di HP spek nanggung.

Jadi setidaknya game ini punya cerebral gameplay, waifu/husbando, dan cerita yang.. ‘meh’ tapi secara umum, tetap menarik untuk dicoba.

Kategori
Film Review

Film Review: Rapel Marvel I

Berkat langganan Disney+ dan berkesempatan nonton di bioskop dengan selamat, sehat, wal afiat, aku berhasil memuaskan FOMO sama film dan serial MCU pasca awal pandemi. Tapi baru sekarang ada mood dan luang buat ngerapel review semuanya. Masuk akal juga kalau review-nya dirapel karena setiap film dan serial MCU sudah tidak dapat benar-benar berdiri sendiri lagi.

Oh ya, spoiler alert.

Wanda Vision

Awalnya seperti parodi yang unik dari opera sabun Amerika dari era 50-an sampai 2000-an yang dibintangi Wanda dan Vision. Namun, perlahan ‘realita’ ini terusik dan terkuaklah bahwa dunia opera sabun itu adalah ciptaan Wanda sebagai coping mechanism atas kehilangan Vision dan penderitaan lain yang dialami sepanjang hidupnya.

Ya, mungkin kalau stress kamu juga suka ngayal masuk ke dunia drakor, anime, atau OVJ.

Aku kurang paham mengenai batas kekuatan Wanda ini yang meski sumbernya beda tapi dianggap sama dengan sihir miliki Agatha. Tapi sebagaimana warga kota yang nampak memaafkan Wanda setelah dikendalikan untuk ikut main di opera sabun-nya, aku bisa mengabaikan itu. Wanda Vision adalah pembuka yang spektakular untuk serial MCU di Disney+.

Falcon and Winter Soldier

Agak meh, tapi sebenarnya mengangkat isu-isu yang cukup dalam; bukan sekedar tiga cowok yang harusnya nanganin teroris pengungsian tapi malah rebutan perisai. Masing-masing karakter punya masalah yang unik seperti PTSD, rasisme, dan heroisme di dunia di mana manusia super menyelamatkan dunia namun dunia yang diselamatkan dibangun berdasarkan dunia nyata yang kita alami, dengan masalah-masalahnya.

Tapi bagian favorit saya di serial ini ada di dialog berikut:

Bucky Barnes: Why did you give up that shield?
Sam: Why are you making such a big deal out of something that has nothing to do with you?
Bucky Barnes: Steve believed in you. He trusted you. He gave you that shield for a reason. That shield that is… that is everything he stood for. That is his legacy. He gave you that shield, and you threw it away like it was nothing.
Sam: Shut up.
Bucky: So maybe he was wrong about you. And if he was wrong about you, then he was wrong about me!

Dalam tingkat personal, kepercayaan Steve pada Bucky adalah yang membuatnya percaya kalau dia bisa menebus dosa-dosanya di masa lampau. Saat Sam mengingkari kepercayaan Steve padanya untuk mewarisi perisai Captain America, Bucky merasa keyakinannya goyah dan menjadi marah pada Sam. Ini rumit memang, tapi kerasa.

LOKI

Loki yang kabur bawa Tesseract di film Endgame ditangkap TVA, semacam polisi yang tugasnya mangkas alur waktu agar tidak bercabang. TVA ini menentukan mana skenario yang boleh jalan, seperti Avengers kembali ke masa lalu buat ngambil Infinity Stones, dan mana yang perlu dipangkas, seperti Loki kabur bawa Tesseract. Anggap TVA ini Kevin Feige atau eksekutif Marvel/Disney yang punya wewenang nentuin mana yang canon mana yang gak.

Setelah maraton film Thor dan Avengers, Loki tobat, dan menerima saat dipaksa jadi agen TVA buat nangkap versi lain dari dirinya yang mengancam TV. Tapi dia pikir TVA itu geje dan berencana buat mengambil alih. Upaya pertobatan, godaan kekuasaan, dan pencarian jati diri ini berakhir dengan Loki menggapai self-love… uh, secara teknis dan literal. Dan juga filosofis.

Tapi gini, kalau Loki yang kabur harus dipangkas dan Tony dkk. yang di Endgame dianggap canon, kenapa mereka ga ditangkap padahal menyebabkan Loki kabur? Kalau kejadian saat Tony dkk. mencuri Tesseract ikut kepangkas juga, berarti mereka ga punya motivasi buat balik ke masa lalu yang ada bapaknya Tony buat ngambil Tesseract? Terus kenapa Loki ditangkap dan ga langsung dihapus aja dan kenapa orang-orang dan dunia yang dipangkas dikirim ke ujung waktu buat dimaka- ah sudahlah. Konsep ruang, waktu, dan multiverse di serial ini lebih enak ditonton daripada dipikirin.

Black Widow

Film yang harusnya dirilis 1-2 tahun lalu tapi diundur-undur bahkan sebelum pandemi ini akhirnya rilis di bioskop Indonesia beberapa bulan lalu. Awalnya aku berharap film ini bisa memberikan kedalaman pada karakter Black Widow yang dikorbankan di Endgame untuk mendapatkan batu akik; tanpa dapet adegan upacara pemakaman kayak Tony Stark. Sayangnya ceritanya terasa kurang berhasil mengangkat film ini lebih dari sekedar film aksi yang dibintangi Black Widow.

Sebenarnya aksinya seru, dan cerita reuni keluarga palsunya untuk menjatuhkan The Red Room yang melatih agen-agen cewek seperti Natasha cukup menarik. Tapi serasa banyak potensi yang tidak dioptimalkan seperti backstory terkait The Budapest Operation dan karakter Taskmaster yang bisa meniru gaya bertarung Avengers namun dikalahkan secara anti-klimaks karena dia hanya agen lain yang perlu diselamatkan. Entah kenapa tiap kali Marvel bikin film dengan tokoh utama cewek, klimaksnya ga seru.

Sebenarnya film ini lebih menarik kalau digali lagi lebih dalam, tapi kalau dilihat dari permukaan, film ini kurang memiliki intensitas yang memuaskan dan berbekas. Satu-satunya cara film ini memiliki dampak yang luas adalah dengan menempatkannya sebagai backstory buat karakter Yelena yang nampaknya bakal muncul di film atau serial MCU lain.

Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings

Film ini sangat mengikuti formula ‘Hero’s Journey’ ala MCU. Shang-Chi dan Katy yang tadinya hidup santai dikejar bapak Shang Chi buat bantu dia ‘membebaskan’ ibunya yang dia anggap dikurung di desanya. Lalu mereka menghadapi monster yang tak sengaja dibebaskan bapaknya dengan mengeluarkan kekuatan yang tersimpan dalam dirinya. Kurasa, itu agak terlalu instan.

Sebagai film MCU pertama yang merepresentasikan Asian American sebagai protagonis, film ini cukup ok dengan aksi-aksi yang menarik dan tie-in yang jelas dengan dunia MCU secara keseluruhan, khususnya Ironman 3. Mungkin hal-hal itu yang paling menarik buatku selain pengkarakteran Shaun (Shang-Chi) dan Katy (Ruiwen), setidaknya di awal film saat mereka belum masuk ke dunia magis yang menghancurkan realita mereka.

Film ini juga sedikit mengangkat isu orang China-Amerika, baik yang imigran ataupun turunan, yang seringkali mengalami krisis identitas karena tidak diterima sebagai orang Amerika maupun China. Saat kembali ke kehidupan lama mereka, Shang-Chi yang imigran memilih kembali ke identitas lamanya sedangkan Katy memilih untuk tetap menggunakan nama Amerikanya. Namun apapun pilihan mereka, itu tidak terlalu penting karena pada akhirnya mereka sama-sama ‘entitled millenials’ yang kebanyakan maen.

Venom: Let There Be Carnage

Lupakan Carnage di sini. Ini film bromance antara Venom dan Eddy Brock.

Eddy mewawancarai terpidana hukuman mati, Cletus Kassidy, dan dengan bantuan Venom membantu menemukan jenazah korban-korban pembunuhannya. Itu berakibat jadwal hukuman matinya dipercepat. Saat diundang untuk menemui Cletus untuk terakhir kalinya, Cletus menggigit tangan Eddy hingga berdarah. Dan darah Eddy yang mengandung sel Venom masuk ke tubuh Cletus, jadi beringas saat eksekusi suntik mati dilakukan dan POW! Jadilah Carnage.

Anyway, Eddy yang sepanjang film berantem dengan Venom, akhirnya berhasil mengalahkan Carnage, karena Eddy dan Venom lebih akur daripada Cletus dan Carnage. Kenapa Cletus dan Carnage ga akur? Karena Carnage ga akur sama pacarnya Cletus. Jadi pesannya moralnya, cari pacar yang bisa akur sama temen?

Overall, ini film superhero/anti-hero biasa di mana ada masalah lalu dihantam sampai beres. Adegan berantem di akhirnya lumayan seru sih. Tapi kelihatannya hype film ini justru post-credit scene nya. Spoiler alert, Eddy dan Venom liburan, di kasur berduaan. Nonton TV, muncul gambar cowok, terus dijilat. Jangan mikir yang enggak-enggak, ini beneran.

Btw emang Venom ada di MCU? Well…’


Jadi secara umum film dan serial MCU masih lumayan worth buat ditonton, meski nonton cuma FOMO. Selama nonton berbagai serial atau film MCU yang rilis sekarang-sekarang, aku selalu mikir, bagaimana mereka menangani dunia pasca Endgame? Latar itu yang menurut saya akan jadi tantangan dalam narasi di dunia Marvel. Tapi mungkin jadi titik penasaran bagi fans.

Kategori
Film Review

Film Review: Raya and The Last Dragon

Untuk film yang merangkum area seluas 4,5 juta kilometer persegi dalam 100 menit lebih, film ini terasa sepi-sepi nanggung. Memang benar bahwa film ini berhasil menampilkan keramaian dunia yang terinspirasi dari berbagai budaya di Asia Tenggara (dicampur dengan beberapa elemen modern tentunya). Hanya saja, kenapa terasa kurang meriah?

Raya and The Last Dragon menceritakan tentang petualangan Raya mencari naga Sisudatu dan mengumpulkan pecahan batu naga untuk mengembalikan ayahnya dan penduduk Kumandra yang diubah menjadi patung oleh Druun (hmm, tidak terinspirasi dari Dr. Stone tentunya, mungkin). Namun dalam perjalanannya, naga Sisudatu mendorong Raya untuk menyatukan kembali Kumandra yang terpecah dalam 5 bangsa (Tail, Talon, Spine, Heart, dan Fang). Namun Raya tidak yakin itu akan berhasil karena orang-orang Kumandra susah dipercaya.

‘Trust’ atau saling percaya ini menjadi tema utama dalam film. Sayangnya, saya merasa tema ini terlalu dipaksakan. Raya diceritakan sulit mempercayai orang lain karena pernah dikhianati, namun rasanya terlalu ceria dan terbuka untuk dunia yang seharusnya post-apocalyptic. Melenceng dari stereotip protagonis judes penyendiri memang unik, tapi jadi kurang nyambung dengan setting dunia yang suram.

Penduduk Kumandra juga tidak terlalu diceritakan secara detail bagaimana dan mengapa mereka saling bermusuhan. Hal tersebut seharusnya dieksplorasi agar tema soal saling percaya ini menjadi lebih kentara dan tertuturkan dengan alami. Namun itu sulit karena penduduk Kumandra hampir semuanya menjadi patung. Bagaimana perbedaan gaya hidup dan karakter tiap bangsa berbentrokan? Entah, kita hanya diberi tahu kalau dulu setelah naga mengalahkan Druun dan batu naga disimpan di bangsa Heart yang makmur, mereka jadi bermusuhan.

Dari penduduk tiap bangsa yang ditemui Raya pun kita tidak mendapat banyak. Interaksi antar karakter dan konflik di awal dengan Raya berlangsung singkat sebelum akhirnya bergabung. Latar belakang semuanya sama: keluarga mereka jadi patung. Itu jadi benang merah persamaan antar karakter, namun menghilangkan keunikan masing-masing dalam hubungannya dengan tema dan setting.

Kumandra memang tanah post-appocalyptic yang ‘seharusnya’ sepi, namun di beberapa daerah seperti Talon dan Fang, masih banyak orang. Namun nanggung juga. Misal ada adegan Namaari dari bangsa Fang yang sepulang mengejar Raya di daerah Tail meminta tambahan pasukan untuk mencegatnya di daerah Spine. Saat Namaari dan Raya bertemu di Spine, Namaari datang bersama pasukan dengan jumlah dan peralatan yang… ga jauh beda dengan saat mengejar Raya di Tail.

Namun rasanya pelaku utama yang bikin film ini terasa kurang adalah scoring musiknya. Memang terdengar ada instrumen tradisional yang unik di film ini, namun scoring di banyak tempat kurang pas untuk meningkatkan emosi di tiap adegan. Rasanya saya kurang sreg dengan editing, tone warna dan pencahayaan juga, tapi entahlah. Yang jelas pada akhirnya, saya merasa Raya and The Last Dragon menjadi film yang kurang kolosal dan emosional meski memiliki titik-titik plot potensial untuk itu.

Tapi kalau soal representasi budaya, film ini cukup baik dalam memanfaatkan keragaman Asia Tenggara menjadi kekayaan visual. Awalnya saya kira film ini hanya terinspirasi dari budaya Indochina dan daerah Utara dari Asia Tenggara saja, tapi ternyata seluruhnya. Padahal, tidak masalah kalau film ini misal mengambil budaya Vietnam saja atau Filipina saja. Orang Melayu dan Jawa bisa nunggu kok.

Dari pakaiannya, 5 bangsa di Kumandra menurutku masing-masing terinspirasi oleh Melayu (Spine), Siam/Thailand (Heart), Jawa (Fang), Dayak (Spine), dan lainnya (saya kurang ngeh Tail terinspirasi dari budaya mana). Saya rasa Fang, yang paling culas dari 5 bangsa, terinspirasi dari Majapahit karena… eh, cocok aja. Bangsa Fang mirip Majapahit zaman Gajah Mada yang cerdik dan manipulatif dipimpin ratu yang sukses.

Secara umum, film ini tidak ingin mengambil langsung budaya dan mitologi sesuai dengan aslinya. Film ini lebih seperti mengambil inspirasi dari suatu budaya, lalu membuat dunia baru dengannya. Ini menghindari masalah sensitif kalau-kalau ada yang tersinggung karena budayanya atau kepercayaannya digambarkan secara keliru. Ini juga memungkinkannya untuk memasukkan elemen-elemen modern yang familiar untuk penonton global.

Hal menarik lainnya ditampilkan saat orang berubah menjadi patung mengambil pose yang mirip patung-patung di candi. Meski perubahannya agak maksa dan tidak dijelaskan kenapa mengambil pose tersebut, saya rasa itu keren juga. Tak lupa berbagai kuliner Asia Tenggara yang masing-masing unik namun memiliki kemiripan, yang dalam film ini, digunakan sebagai simbol pemersatu.

Namun elemen modern di film ini kadang ganggu juga. Terutama kostum Ratu Virana dan Namaari yang meski keren tapi terlalu kontras dengan pakaian penduduk Fang lainnya. Di hal lain, seperti kostum Raya dan senjatanya yang terinspirasi dari keris tapi bisa memanjang seperti cambuk terlihat sangat keren. Mungkin saya juga bisa menolerir eyeliner dan Tuktuk yang entah terinspirasi dari makhluk mitologi mana, tapi agak heran juga kenapa makhluk itu tidak terlihat di tempat-tempat lain di Kumandra, selain yang dinaiki Raya.

Aspek lain yang sering muncul di sejarah, budaya, dan mitologi Asia Tenggara juga berhasil dipresentasikan (sesuai interpretasi Disney). Misalnya kesatria dan pemimpin perempuan (yang selalu muncul di sejarah dan dongeng Asia Tenggara), ritual-ritual persembahan (kenapa pakai lilin dan bukan kemenyan?), dan penghormatan pada air sebagai sumber kehidupan.

Koreografi Raya lawan Namaari (hampir hanya mereka berdua yang berantem di film ini), meski agak ‘janky’ karena mungkin keluwesannya terbatas teknik animasi, selalu menarik dan membuat pertarungannya seru. Elemen dari berbagai seni beladiri Asia Tenggara seperti silat, thai-boxing, Arnis, dan lainnya, juga saya rasakan dalam adegan-adegan duel.

Di luar aspek budaya, teknis visual dalam film ini masih selevel film-film animasi Disney. Meski rasanya ada yang kurang, ada hal-hal yang berkesan seperti animasi air mengalir ke atas atau naga-naga yang terbang dengan menginjak air di udara. Lewat visual juga, film ini menujukkan perkembangan karakter dan penampilan Raya dari yang dekil dan curigaan di awal menjadi bersih di akhir karena mulai mempercayai orang lain.

Tapi langkah baik dalam visual dan aspek adaptasi budaya ini tidak cukup untuk membuat saya benar-benar menyukai film ini. Aku ingin menyukainya, namun rasanya film ini cuma jadi alasan agar Disney bisa menjual merchandise Disney Princess ke Asia Tenggara karena, ‘hey sekarang ada Disney Princess dari Asia Tenggara lho!’ Mungkin aku harus menonton ulang film ini saat kondisi hati lebih enak dan gak terganggu suasana pandemi. Dengan begitu, mungkin aku bisa lebih mengapresiasi film yang hampir seluruhnya susah-susah dibuat secara remote dan WFH ini.