Berkat langganan Disney+ dan berkesempatan nonton di bioskop dengan selamat, sehat, wal afiat, aku berhasil memuaskan FOMO sama film dan serial MCU pasca awal pandemi. Tapi baru sekarang ada mood dan luang buat ngerapel review semuanya. Masuk akal juga kalau review-nya dirapel karena setiap film dan serial MCU sudah tidak dapat benar-benar berdiri sendiri lagi.
Oh ya, spoiler alert.
Wanda Vision

Awalnya seperti parodi yang unik dari opera sabun Amerika dari era 50-an sampai 2000-an yang dibintangi Wanda dan Vision. Namun, perlahan ‘realita’ ini terusik dan terkuaklah bahwa dunia opera sabun itu adalah ciptaan Wanda sebagai coping mechanism atas kehilangan Vision dan penderitaan lain yang dialami sepanjang hidupnya.
Ya, mungkin kalau stress kamu juga suka ngayal masuk ke dunia drakor, anime, atau OVJ.
Aku kurang paham mengenai batas kekuatan Wanda ini yang meski sumbernya beda tapi dianggap sama dengan sihir miliki Agatha. Tapi sebagaimana warga kota yang nampak memaafkan Wanda setelah dikendalikan untuk ikut main di opera sabun-nya, aku bisa mengabaikan itu. Wanda Vision adalah pembuka yang spektakular untuk serial MCU di Disney+.
Falcon and Winter Soldier

Agak meh, tapi sebenarnya mengangkat isu-isu yang cukup dalam; bukan sekedar tiga cowok yang harusnya nanganin teroris pengungsian tapi malah rebutan perisai. Masing-masing karakter punya masalah yang unik seperti PTSD, rasisme, dan heroisme di dunia di mana manusia super menyelamatkan dunia namun dunia yang diselamatkan dibangun berdasarkan dunia nyata yang kita alami, dengan masalah-masalahnya.
Tapi bagian favorit saya di serial ini ada di dialog berikut:
Bucky Barnes: Why did you give up that shield?
Sam: Why are you making such a big deal out of something that has nothing to do with you?
Bucky Barnes: Steve believed in you. He trusted you. He gave you that shield for a reason. That shield that is… that is everything he stood for. That is his legacy. He gave you that shield, and you threw it away like it was nothing.
Sam: Shut up.
Bucky: So maybe he was wrong about you. And if he was wrong about you, then he was wrong about me!
Dalam tingkat personal, kepercayaan Steve pada Bucky adalah yang membuatnya percaya kalau dia bisa menebus dosa-dosanya di masa lampau. Saat Sam mengingkari kepercayaan Steve padanya untuk mewarisi perisai Captain America, Bucky merasa keyakinannya goyah dan menjadi marah pada Sam. Ini rumit memang, tapi kerasa.
LOKI

Loki yang kabur bawa Tesseract di film Endgame ditangkap TVA, semacam polisi yang tugasnya mangkas alur waktu agar tidak bercabang. TVA ini menentukan mana skenario yang boleh jalan, seperti Avengers kembali ke masa lalu buat ngambil Infinity Stones, dan mana yang perlu dipangkas, seperti Loki kabur bawa Tesseract. Anggap TVA ini Kevin Feige atau eksekutif Marvel/Disney yang punya wewenang nentuin mana yang canon mana yang gak.
Setelah maraton film Thor dan Avengers, Loki tobat, dan menerima saat dipaksa jadi agen TVA buat nangkap versi lain dari dirinya yang mengancam TV. Tapi dia pikir TVA itu geje dan berencana buat mengambil alih. Upaya pertobatan, godaan kekuasaan, dan pencarian jati diri ini berakhir dengan Loki menggapai self-love… uh, secara teknis dan literal. Dan juga filosofis.
Tapi gini, kalau Loki yang kabur harus dipangkas dan Tony dkk. yang di Endgame dianggap canon, kenapa mereka ga ditangkap padahal menyebabkan Loki kabur? Kalau kejadian saat Tony dkk. mencuri Tesseract ikut kepangkas juga, berarti mereka ga punya motivasi buat balik ke masa lalu yang ada bapaknya Tony buat ngambil Tesseract? Terus kenapa Loki ditangkap dan ga langsung dihapus aja dan kenapa orang-orang dan dunia yang dipangkas dikirim ke ujung waktu buat dimaka- ah sudahlah. Konsep ruang, waktu, dan multiverse di serial ini lebih enak ditonton daripada dipikirin.
Black Widow

Film yang harusnya dirilis 1-2 tahun lalu tapi diundur-undur bahkan sebelum pandemi ini akhirnya rilis di bioskop Indonesia beberapa bulan lalu. Awalnya aku berharap film ini bisa memberikan kedalaman pada karakter Black Widow yang dikorbankan di Endgame untuk mendapatkan batu akik; tanpa dapet adegan upacara pemakaman kayak Tony Stark. Sayangnya ceritanya terasa kurang berhasil mengangkat film ini lebih dari sekedar film aksi yang dibintangi Black Widow.
Sebenarnya aksinya seru, dan cerita reuni keluarga palsunya untuk menjatuhkan The Red Room yang melatih agen-agen cewek seperti Natasha cukup menarik. Tapi serasa banyak potensi yang tidak dioptimalkan seperti backstory terkait The Budapest Operation dan karakter Taskmaster yang bisa meniru gaya bertarung Avengers namun dikalahkan secara anti-klimaks karena dia hanya agen lain yang perlu diselamatkan. Entah kenapa tiap kali Marvel bikin film dengan tokoh utama cewek, klimaksnya ga seru.
Sebenarnya film ini lebih menarik kalau digali lagi lebih dalam, tapi kalau dilihat dari permukaan, film ini kurang memiliki intensitas yang memuaskan dan berbekas. Satu-satunya cara film ini memiliki dampak yang luas adalah dengan menempatkannya sebagai backstory buat karakter Yelena yang nampaknya bakal muncul di film atau serial MCU lain.
Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings

Film ini sangat mengikuti formula ‘Hero’s Journey’ ala MCU. Shang-Chi dan Katy yang tadinya hidup santai dikejar bapak Shang Chi buat bantu dia ‘membebaskan’ ibunya yang dia anggap dikurung di desanya. Lalu mereka menghadapi monster yang tak sengaja dibebaskan bapaknya dengan mengeluarkan kekuatan yang tersimpan dalam dirinya. Kurasa, itu agak terlalu instan.
Sebagai film MCU pertama yang merepresentasikan Asian American sebagai protagonis, film ini cukup ok dengan aksi-aksi yang menarik dan tie-in yang jelas dengan dunia MCU secara keseluruhan, khususnya Ironman 3. Mungkin hal-hal itu yang paling menarik buatku selain pengkarakteran Shaun (Shang-Chi) dan Katy (Ruiwen), setidaknya di awal film saat mereka belum masuk ke dunia magis yang menghancurkan realita mereka.
Film ini juga sedikit mengangkat isu orang China-Amerika, baik yang imigran ataupun turunan, yang seringkali mengalami krisis identitas karena tidak diterima sebagai orang Amerika maupun China. Saat kembali ke kehidupan lama mereka, Shang-Chi yang imigran memilih kembali ke identitas lamanya sedangkan Katy memilih untuk tetap menggunakan nama Amerikanya. Namun apapun pilihan mereka, itu tidak terlalu penting karena pada akhirnya mereka sama-sama ‘entitled millenials’ yang kebanyakan maen.
Venom: Let There Be Carnage

Lupakan Carnage di sini. Ini film bromance antara Venom dan Eddy Brock.
Eddy mewawancarai terpidana hukuman mati, Cletus Kassidy, dan dengan bantuan Venom membantu menemukan jenazah korban-korban pembunuhannya. Itu berakibat jadwal hukuman matinya dipercepat. Saat diundang untuk menemui Cletus untuk terakhir kalinya, Cletus menggigit tangan Eddy hingga berdarah. Dan darah Eddy yang mengandung sel Venom masuk ke tubuh Cletus, jadi beringas saat eksekusi suntik mati dilakukan dan POW! Jadilah Carnage.
Anyway, Eddy yang sepanjang film berantem dengan Venom, akhirnya berhasil mengalahkan Carnage, karena Eddy dan Venom lebih akur daripada Cletus dan Carnage. Kenapa Cletus dan Carnage ga akur? Karena Carnage ga akur sama pacarnya Cletus. Jadi pesannya moralnya, cari pacar yang bisa akur sama temen?
Overall, ini film superhero/anti-hero biasa di mana ada masalah lalu dihantam sampai beres. Adegan berantem di akhirnya lumayan seru sih. Tapi kelihatannya hype film ini justru post-credit scene nya. Spoiler alert, Eddy dan Venom liburan, di kasur berduaan. Nonton TV, muncul gambar cowok, terus dijilat. Jangan mikir yang enggak-enggak, ini beneran.
Btw emang Venom ada di MCU? Well…’
Jadi secara umum film dan serial MCU masih lumayan worth buat ditonton, meski nonton cuma FOMO. Selama nonton berbagai serial atau film MCU yang rilis sekarang-sekarang, aku selalu mikir, bagaimana mereka menangani dunia pasca Endgame? Latar itu yang menurut saya akan jadi tantangan dalam narasi di dunia Marvel. Tapi mungkin jadi titik penasaran bagi fans.








