Kategori
Film Review

Film Review: Rapel Marvel I

Berkat langganan Disney+ dan berkesempatan nonton di bioskop dengan selamat, sehat, wal afiat, aku berhasil memuaskan FOMO sama film dan serial MCU pasca awal pandemi. Tapi baru sekarang ada mood dan luang buat ngerapel review semuanya. Masuk akal juga kalau review-nya dirapel karena setiap film dan serial MCU sudah tidak dapat benar-benar berdiri sendiri lagi.

Oh ya, spoiler alert.

Wanda Vision

Awalnya seperti parodi yang unik dari opera sabun Amerika dari era 50-an sampai 2000-an yang dibintangi Wanda dan Vision. Namun, perlahan ‘realita’ ini terusik dan terkuaklah bahwa dunia opera sabun itu adalah ciptaan Wanda sebagai coping mechanism atas kehilangan Vision dan penderitaan lain yang dialami sepanjang hidupnya.

Ya, mungkin kalau stress kamu juga suka ngayal masuk ke dunia drakor, anime, atau OVJ.

Aku kurang paham mengenai batas kekuatan Wanda ini yang meski sumbernya beda tapi dianggap sama dengan sihir miliki Agatha. Tapi sebagaimana warga kota yang nampak memaafkan Wanda setelah dikendalikan untuk ikut main di opera sabun-nya, aku bisa mengabaikan itu. Wanda Vision adalah pembuka yang spektakular untuk serial MCU di Disney+.

Falcon and Winter Soldier

Agak meh, tapi sebenarnya mengangkat isu-isu yang cukup dalam; bukan sekedar tiga cowok yang harusnya nanganin teroris pengungsian tapi malah rebutan perisai. Masing-masing karakter punya masalah yang unik seperti PTSD, rasisme, dan heroisme di dunia di mana manusia super menyelamatkan dunia namun dunia yang diselamatkan dibangun berdasarkan dunia nyata yang kita alami, dengan masalah-masalahnya.

Tapi bagian favorit saya di serial ini ada di dialog berikut:

Bucky Barnes: Why did you give up that shield?
Sam: Why are you making such a big deal out of something that has nothing to do with you?
Bucky Barnes: Steve believed in you. He trusted you. He gave you that shield for a reason. That shield that is… that is everything he stood for. That is his legacy. He gave you that shield, and you threw it away like it was nothing.
Sam: Shut up.
Bucky: So maybe he was wrong about you. And if he was wrong about you, then he was wrong about me!

Dalam tingkat personal, kepercayaan Steve pada Bucky adalah yang membuatnya percaya kalau dia bisa menebus dosa-dosanya di masa lampau. Saat Sam mengingkari kepercayaan Steve padanya untuk mewarisi perisai Captain America, Bucky merasa keyakinannya goyah dan menjadi marah pada Sam. Ini rumit memang, tapi kerasa.

LOKI

Loki yang kabur bawa Tesseract di film Endgame ditangkap TVA, semacam polisi yang tugasnya mangkas alur waktu agar tidak bercabang. TVA ini menentukan mana skenario yang boleh jalan, seperti Avengers kembali ke masa lalu buat ngambil Infinity Stones, dan mana yang perlu dipangkas, seperti Loki kabur bawa Tesseract. Anggap TVA ini Kevin Feige atau eksekutif Marvel/Disney yang punya wewenang nentuin mana yang canon mana yang gak.

Setelah maraton film Thor dan Avengers, Loki tobat, dan menerima saat dipaksa jadi agen TVA buat nangkap versi lain dari dirinya yang mengancam TV. Tapi dia pikir TVA itu geje dan berencana buat mengambil alih. Upaya pertobatan, godaan kekuasaan, dan pencarian jati diri ini berakhir dengan Loki menggapai self-love… uh, secara teknis dan literal. Dan juga filosofis.

Tapi gini, kalau Loki yang kabur harus dipangkas dan Tony dkk. yang di Endgame dianggap canon, kenapa mereka ga ditangkap padahal menyebabkan Loki kabur? Kalau kejadian saat Tony dkk. mencuri Tesseract ikut kepangkas juga, berarti mereka ga punya motivasi buat balik ke masa lalu yang ada bapaknya Tony buat ngambil Tesseract? Terus kenapa Loki ditangkap dan ga langsung dihapus aja dan kenapa orang-orang dan dunia yang dipangkas dikirim ke ujung waktu buat dimaka- ah sudahlah. Konsep ruang, waktu, dan multiverse di serial ini lebih enak ditonton daripada dipikirin.

Black Widow

Film yang harusnya dirilis 1-2 tahun lalu tapi diundur-undur bahkan sebelum pandemi ini akhirnya rilis di bioskop Indonesia beberapa bulan lalu. Awalnya aku berharap film ini bisa memberikan kedalaman pada karakter Black Widow yang dikorbankan di Endgame untuk mendapatkan batu akik; tanpa dapet adegan upacara pemakaman kayak Tony Stark. Sayangnya ceritanya terasa kurang berhasil mengangkat film ini lebih dari sekedar film aksi yang dibintangi Black Widow.

Sebenarnya aksinya seru, dan cerita reuni keluarga palsunya untuk menjatuhkan The Red Room yang melatih agen-agen cewek seperti Natasha cukup menarik. Tapi serasa banyak potensi yang tidak dioptimalkan seperti backstory terkait The Budapest Operation dan karakter Taskmaster yang bisa meniru gaya bertarung Avengers namun dikalahkan secara anti-klimaks karena dia hanya agen lain yang perlu diselamatkan. Entah kenapa tiap kali Marvel bikin film dengan tokoh utama cewek, klimaksnya ga seru.

Sebenarnya film ini lebih menarik kalau digali lagi lebih dalam, tapi kalau dilihat dari permukaan, film ini kurang memiliki intensitas yang memuaskan dan berbekas. Satu-satunya cara film ini memiliki dampak yang luas adalah dengan menempatkannya sebagai backstory buat karakter Yelena yang nampaknya bakal muncul di film atau serial MCU lain.

Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings

Film ini sangat mengikuti formula ‘Hero’s Journey’ ala MCU. Shang-Chi dan Katy yang tadinya hidup santai dikejar bapak Shang Chi buat bantu dia ‘membebaskan’ ibunya yang dia anggap dikurung di desanya. Lalu mereka menghadapi monster yang tak sengaja dibebaskan bapaknya dengan mengeluarkan kekuatan yang tersimpan dalam dirinya. Kurasa, itu agak terlalu instan.

Sebagai film MCU pertama yang merepresentasikan Asian American sebagai protagonis, film ini cukup ok dengan aksi-aksi yang menarik dan tie-in yang jelas dengan dunia MCU secara keseluruhan, khususnya Ironman 3. Mungkin hal-hal itu yang paling menarik buatku selain pengkarakteran Shaun (Shang-Chi) dan Katy (Ruiwen), setidaknya di awal film saat mereka belum masuk ke dunia magis yang menghancurkan realita mereka.

Film ini juga sedikit mengangkat isu orang China-Amerika, baik yang imigran ataupun turunan, yang seringkali mengalami krisis identitas karena tidak diterima sebagai orang Amerika maupun China. Saat kembali ke kehidupan lama mereka, Shang-Chi yang imigran memilih kembali ke identitas lamanya sedangkan Katy memilih untuk tetap menggunakan nama Amerikanya. Namun apapun pilihan mereka, itu tidak terlalu penting karena pada akhirnya mereka sama-sama ‘entitled millenials’ yang kebanyakan maen.

Venom: Let There Be Carnage

Lupakan Carnage di sini. Ini film bromance antara Venom dan Eddy Brock.

Eddy mewawancarai terpidana hukuman mati, Cletus Kassidy, dan dengan bantuan Venom membantu menemukan jenazah korban-korban pembunuhannya. Itu berakibat jadwal hukuman matinya dipercepat. Saat diundang untuk menemui Cletus untuk terakhir kalinya, Cletus menggigit tangan Eddy hingga berdarah. Dan darah Eddy yang mengandung sel Venom masuk ke tubuh Cletus, jadi beringas saat eksekusi suntik mati dilakukan dan POW! Jadilah Carnage.

Anyway, Eddy yang sepanjang film berantem dengan Venom, akhirnya berhasil mengalahkan Carnage, karena Eddy dan Venom lebih akur daripada Cletus dan Carnage. Kenapa Cletus dan Carnage ga akur? Karena Carnage ga akur sama pacarnya Cletus. Jadi pesannya moralnya, cari pacar yang bisa akur sama temen?

Overall, ini film superhero/anti-hero biasa di mana ada masalah lalu dihantam sampai beres. Adegan berantem di akhirnya lumayan seru sih. Tapi kelihatannya hype film ini justru post-credit scene nya. Spoiler alert, Eddy dan Venom liburan, di kasur berduaan. Nonton TV, muncul gambar cowok, terus dijilat. Jangan mikir yang enggak-enggak, ini beneran.

Btw emang Venom ada di MCU? Well…’


Jadi secara umum film dan serial MCU masih lumayan worth buat ditonton, meski nonton cuma FOMO. Selama nonton berbagai serial atau film MCU yang rilis sekarang-sekarang, aku selalu mikir, bagaimana mereka menangani dunia pasca Endgame? Latar itu yang menurut saya akan jadi tantangan dalam narasi di dunia Marvel. Tapi mungkin jadi titik penasaran bagi fans.

Kategori
Film Review

Film Review: Raya and The Last Dragon

Untuk film yang merangkum area seluas 4,5 juta kilometer persegi dalam 100 menit lebih, film ini terasa sepi-sepi nanggung. Memang benar bahwa film ini berhasil menampilkan keramaian dunia yang terinspirasi dari berbagai budaya di Asia Tenggara (dicampur dengan beberapa elemen modern tentunya). Hanya saja, kenapa terasa kurang meriah?

Raya and The Last Dragon menceritakan tentang petualangan Raya mencari naga Sisudatu dan mengumpulkan pecahan batu naga untuk mengembalikan ayahnya dan penduduk Kumandra yang diubah menjadi patung oleh Druun (hmm, tidak terinspirasi dari Dr. Stone tentunya, mungkin). Namun dalam perjalanannya, naga Sisudatu mendorong Raya untuk menyatukan kembali Kumandra yang terpecah dalam 5 bangsa (Tail, Talon, Spine, Heart, dan Fang). Namun Raya tidak yakin itu akan berhasil karena orang-orang Kumandra susah dipercaya.

‘Trust’ atau saling percaya ini menjadi tema utama dalam film. Sayangnya, saya merasa tema ini terlalu dipaksakan. Raya diceritakan sulit mempercayai orang lain karena pernah dikhianati, namun rasanya terlalu ceria dan terbuka untuk dunia yang seharusnya post-apocalyptic. Melenceng dari stereotip protagonis judes penyendiri memang unik, tapi jadi kurang nyambung dengan setting dunia yang suram.

Penduduk Kumandra juga tidak terlalu diceritakan secara detail bagaimana dan mengapa mereka saling bermusuhan. Hal tersebut seharusnya dieksplorasi agar tema soal saling percaya ini menjadi lebih kentara dan tertuturkan dengan alami. Namun itu sulit karena penduduk Kumandra hampir semuanya menjadi patung. Bagaimana perbedaan gaya hidup dan karakter tiap bangsa berbentrokan? Entah, kita hanya diberi tahu kalau dulu setelah naga mengalahkan Druun dan batu naga disimpan di bangsa Heart yang makmur, mereka jadi bermusuhan.

Dari penduduk tiap bangsa yang ditemui Raya pun kita tidak mendapat banyak. Interaksi antar karakter dan konflik di awal dengan Raya berlangsung singkat sebelum akhirnya bergabung. Latar belakang semuanya sama: keluarga mereka jadi patung. Itu jadi benang merah persamaan antar karakter, namun menghilangkan keunikan masing-masing dalam hubungannya dengan tema dan setting.

Kumandra memang tanah post-appocalyptic yang ‘seharusnya’ sepi, namun di beberapa daerah seperti Talon dan Fang, masih banyak orang. Namun nanggung juga. Misal ada adegan Namaari dari bangsa Fang yang sepulang mengejar Raya di daerah Tail meminta tambahan pasukan untuk mencegatnya di daerah Spine. Saat Namaari dan Raya bertemu di Spine, Namaari datang bersama pasukan dengan jumlah dan peralatan yang… ga jauh beda dengan saat mengejar Raya di Tail.

Namun rasanya pelaku utama yang bikin film ini terasa kurang adalah scoring musiknya. Memang terdengar ada instrumen tradisional yang unik di film ini, namun scoring di banyak tempat kurang pas untuk meningkatkan emosi di tiap adegan. Rasanya saya kurang sreg dengan editing, tone warna dan pencahayaan juga, tapi entahlah. Yang jelas pada akhirnya, saya merasa Raya and The Last Dragon menjadi film yang kurang kolosal dan emosional meski memiliki titik-titik plot potensial untuk itu.

Tapi kalau soal representasi budaya, film ini cukup baik dalam memanfaatkan keragaman Asia Tenggara menjadi kekayaan visual. Awalnya saya kira film ini hanya terinspirasi dari budaya Indochina dan daerah Utara dari Asia Tenggara saja, tapi ternyata seluruhnya. Padahal, tidak masalah kalau film ini misal mengambil budaya Vietnam saja atau Filipina saja. Orang Melayu dan Jawa bisa nunggu kok.

Dari pakaiannya, 5 bangsa di Kumandra menurutku masing-masing terinspirasi oleh Melayu (Spine), Siam/Thailand (Heart), Jawa (Fang), Dayak (Spine), dan lainnya (saya kurang ngeh Tail terinspirasi dari budaya mana). Saya rasa Fang, yang paling culas dari 5 bangsa, terinspirasi dari Majapahit karena… eh, cocok aja. Bangsa Fang mirip Majapahit zaman Gajah Mada yang cerdik dan manipulatif dipimpin ratu yang sukses.

Secara umum, film ini tidak ingin mengambil langsung budaya dan mitologi sesuai dengan aslinya. Film ini lebih seperti mengambil inspirasi dari suatu budaya, lalu membuat dunia baru dengannya. Ini menghindari masalah sensitif kalau-kalau ada yang tersinggung karena budayanya atau kepercayaannya digambarkan secara keliru. Ini juga memungkinkannya untuk memasukkan elemen-elemen modern yang familiar untuk penonton global.

Hal menarik lainnya ditampilkan saat orang berubah menjadi patung mengambil pose yang mirip patung-patung di candi. Meski perubahannya agak maksa dan tidak dijelaskan kenapa mengambil pose tersebut, saya rasa itu keren juga. Tak lupa berbagai kuliner Asia Tenggara yang masing-masing unik namun memiliki kemiripan, yang dalam film ini, digunakan sebagai simbol pemersatu.

Namun elemen modern di film ini kadang ganggu juga. Terutama kostum Ratu Virana dan Namaari yang meski keren tapi terlalu kontras dengan pakaian penduduk Fang lainnya. Di hal lain, seperti kostum Raya dan senjatanya yang terinspirasi dari keris tapi bisa memanjang seperti cambuk terlihat sangat keren. Mungkin saya juga bisa menolerir eyeliner dan Tuktuk yang entah terinspirasi dari makhluk mitologi mana, tapi agak heran juga kenapa makhluk itu tidak terlihat di tempat-tempat lain di Kumandra, selain yang dinaiki Raya.

Aspek lain yang sering muncul di sejarah, budaya, dan mitologi Asia Tenggara juga berhasil dipresentasikan (sesuai interpretasi Disney). Misalnya kesatria dan pemimpin perempuan (yang selalu muncul di sejarah dan dongeng Asia Tenggara), ritual-ritual persembahan (kenapa pakai lilin dan bukan kemenyan?), dan penghormatan pada air sebagai sumber kehidupan.

Koreografi Raya lawan Namaari (hampir hanya mereka berdua yang berantem di film ini), meski agak ‘janky’ karena mungkin keluwesannya terbatas teknik animasi, selalu menarik dan membuat pertarungannya seru. Elemen dari berbagai seni beladiri Asia Tenggara seperti silat, thai-boxing, Arnis, dan lainnya, juga saya rasakan dalam adegan-adegan duel.

Di luar aspek budaya, teknis visual dalam film ini masih selevel film-film animasi Disney. Meski rasanya ada yang kurang, ada hal-hal yang berkesan seperti animasi air mengalir ke atas atau naga-naga yang terbang dengan menginjak air di udara. Lewat visual juga, film ini menujukkan perkembangan karakter dan penampilan Raya dari yang dekil dan curigaan di awal menjadi bersih di akhir karena mulai mempercayai orang lain.

Tapi langkah baik dalam visual dan aspek adaptasi budaya ini tidak cukup untuk membuat saya benar-benar menyukai film ini. Aku ingin menyukainya, namun rasanya film ini cuma jadi alasan agar Disney bisa menjual merchandise Disney Princess ke Asia Tenggara karena, ‘hey sekarang ada Disney Princess dari Asia Tenggara lho!’ Mungkin aku harus menonton ulang film ini saat kondisi hati lebih enak dan gak terganggu suasana pandemi. Dengan begitu, mungkin aku bisa lebih mengapresiasi film yang hampir seluruhnya susah-susah dibuat secara remote dan WFH ini.

Kategori
Devlog/Studlog

Releasing at Last

So, Lone Pong, the project that I’ve been working on for months finally released on GooglePlay, made it my first mobile game I personally released on the platform. From the last DevLog post to now, the game has been through many polishing, visual redesign, some rewrites, and publication deadlock by not knowing how release procedure works nowadays in GooglePlay.

But it’s done, all done. I don’t think it will be totally fun, but still, I’m confident that the gameplay is unique enough to attract people to try. So I’ll try to share it on a few social media groups or channels I can get into.

The biggest take from this project is to make a plan beforehand and stick to it, if you don’t want to suffer.

Anyway, here’s the links:

Google Play and the Google Play logo are trademarks of Google LLC.

itch.io and the itch.io logo are trademarks of itch corp

And here’s a gameplay video:

Too lazy to cut it into a shorter video…

What’s next? I’m considering experimenting on making 3D games in Unity, or writing new interactive story with Twine, or perhaps getting back to RPG Maker and make my purchase of the software worth it. But I think, I should learn some basics of Unity 3D and story writing first before deciding on my next portfolio project.

I’m also applying to several companies and job offerings for financial stability and proper hand-on experience in game industry, but so far, nothing conclusive. I think I’ll keep planning for self-learning and solo-developing, while also finding a way to make some money. Keep moving forward.

Kategori
Devlog/Studlog

Classic Rookie Mistake

Main menu of LonePong

So I’m working on this project I call ‘Lone Pong’ I’ve been working on for months. The idea comes from a lesson from a game programming online course by DiLO Academy on creating a pong game with the Unity engine. I didn’t finish the course by the way. Every time I tested the project, I found myself playing pong alone.

So I thought that I could modify the script, make it a mobile game controlled by touch, single-player, add a chat-like mechanism every time the ball bounce, and monetize it with an ad. That seemed easy. Just a few more things to learn, right?

Ha-ha.

Read the title.

Over months of frustration, distraction, and low motivation, I learned these kinds of stuff (most I’ll forget in days):

  • How to implement effective and responsive multi-touch control on mobile devices. It’s the hardest thing in the project, I think, because many of its concepts are still beyond my comprehension. And when I asked a friend to test the touch control, he said it wasn’t responsive enough. Another reason why touch-screen is a terrible controller; It’s technically difficult.
  • How to develop for mobile, especially Android. I learned stuff like SDK requirements, device screen resolution, orientation rotation, the difference between screen coordinate with world coordinate (ask me that, and I’ll still be confused), and the best way to test your game for mobile. Unity Remote app is quite convenient if you know the right setup, and your game doesn’t mind the dropped down frame-rate. Really, it’s just projecting display to the mobile device. But for this project, Unity Remote couldn’t simulate the responsiveness of the touch control I wanted to implement, so I stopped using it. Instead, I save the APK file on OneDrive, access the file from the OneDrive mobile app, download, and install. A little bit complicated, but it works for me.
  • To make chatboxes appear every time the ball bounces to a racket, I learned layout components so the chatboxes could show aesthetically correct. There’s a lot of things to think about the mechanism as to how and when a chatbox appears. After a lot of trials, it’s still imperfect.
  • To show a scripted chat conversation, I learned how to read from a text file (a concept I learned the hard-dysfunctional way before finding the easier-better way) and store the data from the file to a List (a data format I’ve just learned).
  • To show a log of the conversation, I had to learn about scroll rect/scroll view. It needed a long time until I get it working properly.
  • I have to re-learn how to implement audio and manage UI in the game. As simple as it may sound, a toggle button is a damn-difficult problem.
Initial ball placement need readjustment

Of course, there’s a million little things I had to learn and re-learn. Not to mention a bunch of stuff I have to learn to add to this project, like social media sharing, tutorial, mobile-ad implementation, animation, polishing, etc. Sure the best practice is to learn only one thing per project. But if we just want to learn a feature or technique, isn’t it better to implement it to a halfway project than start from scratch? Well, sometimes it is. Next time, I’ll try to limit new things I want to implement.

I’ve been trying to always have a non-zero percent progress per day for this project. But I think it’s still unproductive. I feel that there’s a lot of impediment to my progress that makes me vulnerable to distraction and procrastination.

Lack of technical skill to make this game visually fancy should not be one of them. Sure, my design skill is limited, but the project never intended to showcase its visual beauty, rather its gameplay and writing. Still, I feel the game will impress fewer people with its current visual style.

I also lost some motivation to give 100% in this project throughout the writing process for the conversation. I thought that I can’t make an engaging and compelling dialog to showcase. From there on, I started to think that this game is a project that only need to be finished; not promoted. Still, I want to try share and ad features. However, I have some idea that may could improve the writing.

But the largest hurdle in this project (besides Genshin Impact and Mobile Legend), is my own laptop. I’ve met blue screen twice! On Windows 10! It makes me rethink my game-dev learning plan. Should I hold off from using Unity until I have enough money to buy a more suitable PC? Should I just focusing more on using lighter game engine like Twine or Construct?

The answer lies after I finish this darn project.

Anyway, this devlog has become too long and whiny. But with this, I can see the progress I’ve been going through and the things I need to fix. Also, I think I have a grasp idea now on what part of my game-dev journey needs help.

But I need to get this project done first!

Kategori
Devlog/Studlog

Saying ‘Done’ To My First Twine Story

Twine sucks!

Untuk tool yang mengklaim bisa bikin banyak hal, menambahkan audio dan menata visual, bahkan styling yang cukup sederhana, dalam Twine cukup menyiksa.

Styling sederhana seperti alignment dan heading malah mengganggu transisi teks. Untuk menambahkan audio tidak ada macro-nya! Efek transisi passage tidak mudah untuk diubah-ubah. Setidaknya, ini yang terjadi saat saya menggunakan format Harlowe 2.0.1 dalam Twine 2.

Memang sih bisa pakai CSS dan Javascript karena Twine ini web/HTML based. Tapi implementasinya berdasarkan kerangka Twine (dan format Harlowe) yang membuat kode CSS dan Javascript yang dibuat tidak berjalan sesuai harapan (memang sih ngatur CSS biar sesuai harapan biasanya repot, tapi ini jadi lebih repot lagi). Saya baca sekilas di forum-forum, banyak yang mengeluhkan soal ini, terutama soal audio.

Karena saya tidak ingin terlalu berlama-lama di proyek ini, saya memutuskan untuk menjadikan ini text based saja. Rencana menambahkan audio dan efek-efek visual di-scrap. Mungkin saya perlu pindah belajar engine atau tool lain, tapi saya akan coba sekali lagi pakai Twine. Just one more push. Sepertinya memang perlu belajar dari basic principle lewat tutorial-tutorial. Mungkin juga perlu belajar format lain dalam Twine selain Harlowe 2.

Anyway, saya sudah memperlihatkan cerita interaktif ini ke beberapa teman, dan mendapatkan beberapa respon. Kebanyakan akan saya tampung untuk membuat karya selanjutnya yang lebih baik.

  • Beberapa pilihan kurang ada suspense-nya, jadi tidak merasakan resiko apa-apa saat memilih.
  • Tone cerita kurang konsisten. Tengahnya komedi tapi endingnya serius. Mungkin perlu dijaga agar konsisten komedi terus atau serius terus.
  • Tidak ada audio yang mendukung mood. Masalah teknis sih.
  • Banyak yang tidak bisa menemukan pilihan menuju good better ending. Kebanyakan dapat ending mati dibegal. Sepertinya pilihan menuju ending yang saya harapkan terlalu sempit dan saya rasanya bisa menduga bagian mana yang membuat hal ini.
  • Kurang panjang. Mungkin kalau nulisnya udah lebih ahli atau lebih rajin.
  • Pada halaman ‘live’, banyak yang merasa perpindahan halaman terlalu cepat. Sepertinya saya bisa segera tangani ini.

Menurut saya, penting untuk fokus dalam satu aspek saja saat belajar membuat sesuatu. Terlepas kritik dan masukan yang akan kita terima. Saya tadinya ingin memberikan banyak efek visual dan audio yang saya anggap sederhana dalam proyek ini. Tapi setelah menemukan kebuntuan teknis, saya anggap proyek ini hanya untuk latihan membuat cerita dan membangun percabangannya. Yaitu dengan membuat cerita utama, kemudian mengembangkan pilihan-pilihan percabangan yang memperkaya cerita.

Dari fokus tersebut, yang saya pelajari adalah: bener kata orang, bikin cerita percabangan itu berat! Selanjutnya aku akan coba bikin percabangan yang sedikit, tidak sporadis, teratur, tapi konsekuensial, atau kerasa ‘beda’-nya dan nambah pengalaman pembacanya.

Untuk proyek selanjutnya, saya akan belajar beberapa basic terlebih dahulu.

Kalau ingin mencoba cerita-interaktif yang baru saya buat ini, klik ini: https://kasumbagames.itch.io/takut

Terima kasih!

Kategori
Devlog/Studlog

Bikin Cerita Interaktif

Entah kenapa saya merasa harus mengasah skill membuat cerita terlebih dahulu. Jadi saya pakai Twine 2 untuk membuat cerita interaktif berbasis HTML.

Saya niatnya membuat cerita bercabang yang sederhana. Kata internet (atau entah tahu dari mana), bikin cerita yang linier dulu, baru dibikin cabang.

Cukup simple sih. Idenya sebagian besar sudah ada dikepala, tinggal dituangkan. Saya ingin menceritakan tentang masyarakat yang penuh ketakutan, sekalipun hal-hal supranatural yang biasanya menakutkan sudah tidak lagi dianggap menakutkan.

Ini sedikit banyak dipengaruhi oleh pandangan saya terhadap situasi perpolitikan di negeri ini. Namanya pengangguran. Karena ga fokus di kerjaan, jadinya banyak nyerap berita-berita negatif dalam negeri. Apalagi di situasi pandemi dan post-pemilu 2019 yang menyibakkan banyak realita miris dari NKRI ini.

Langsung aja cerita challengenya:

  • Belum bisa fokus dan mengelola prioritas. Masih suka stunned kalau overwhelmed. Padahal udah bikin post tentang warcry bulan lalu -_-.
  • Keep it simple itu susah! Selalu saja ada ide branching yang bikin tulisannya jadi banyak. Awalnya saya mencoba untuk mendokumentasikan branching di dokumen naskah utama. Di tengah-tengah, jadi nyerah. Langsung ketik aja di Twine.

Karya ini saya buat sebebas mungkin sebenarnya. Jadi, masih banyak kekurangan. Misalnya, saya biarkan sudut pandang pilihan berpindah-pindah. Harusnya cerita interaktif itu pakai narasi sudut pandang kedua. Pakai sudut pandang orang ketiga agak kurang personal. Ini udah sudut pandang ketiga, pindah-pindah lagi :p

Saya coba meminta teman untuk melakukan tes dan menguji ceritanya. Saat ini pun saya sedang dibantai 😀 Saya belum tahu bagaimana nanti menerapkan masukan-masukannya.

Sementara sudah saya publish di itch.io untuk dites teman-teman dekat, sambil saya perbaiki dan kembangkan lagi terutama di sisi audio dan visual.

https://kasumbagames.itch.io/takut

Kategori
Devlog/Studlog

hell0 wo12ld

Setelah beberapa tahun mempertahankan domain ini, akhirnya ada tulisan. Sampai sekarang masih belum ada sesuatu yang pantas untuk ditulis di media publik seperti ini. Kurasa. Rencananya ini adalah website untuk brand studio produksi video game saya, Kasuba Games. Nanti saya jelaskan lebih panjang soal itu. Website ini seharusnya menjadi pusat informasi dan showcase untuk studio game tersebut, layanan, dan terutama karya-karyanya. Tapi saat ini akan saya jadikan situs ini sebagai blog. Thok.

Apa keahlian yang saya bisa untuk masuk ke industri video game? Tidak ada. Meski technically saya pernah masuk ke sana. Saya merasa perlu banyak belajar, membangun video game sendiri sampai jadi, merasakan prosesnya secara benar, dan mengasah taste. Sendiri dulu, karena belum mau atau mampu melibatkan orang lain di sini. Males debat atau diskusi tanpa menjamin penghidupan orang lain itu.

So, yah. Kalau ada update soal game yang sedang saya ulik, atau catatan belajar dari video/artikel pengembangan game, saya post lagi.

PS: untuk saya di masa depan. Jangan malu baca ini meski kesannya kita crying for help. Well, yes it is a cry. A war cry before battle; to solidify our step towards the video game industry. Remember:

we can do this all-day