Sekarang, saya sudah merasa Tartarus dan Asphodel cukup mudah diselesaikan. Saya juga lebih merasa kalau kemudahan ini berkat semakin sadar soal pola serang musuh, gaya bermain saat menggunakan senjata tertentu, dan pilihan boon (bonus temporer) yang tepat dengan gaya bermain. Elysium masih terasa lebih sulit meski Asphodel lebih terasa chaotic. Di Elysium, saya mati selalu oleh musuh biasa.
Saya baru menyadari juga kalau saat memilih senjata ada bonus yang secara acak diberikan pada salah satu senjata. Sepertinya developer game ini ingin agar pemain mencoba gaya bermain yang variatif. Saya jadi kepikiran, dari sisi pemain, apa untungnya mencoba gaya bermain yang berbeda-beda? Developer mungkin berpikir kalau pemain hanya bermain dengan gaya bermain satu senjata saja, maka ia akan cepat bosan. Namun, bagaimana kalau pemain sudah nyaman pakai satu senjata tertentu saja?
Yah, developer mendorong pemain untuk melakukan sesuatu dengan iming-iming benefit bukanlah suatu paksaan. Pemain masih bebas bermain dengan cara yang ia suka, cuman ga didukung aja.
Saya penasaran apa yang akan terjadi kalau satu karakter NPC dikasih Nectar berkali-kali untuk memaksimalkan level hati nya. Satu kali dapat artifact, dua kali ga dapat apa-apa.
Btw liat di forum game designer ngebahas Hades 2, mereka ngebahas sampai ke nilai damage karakternya sepadan atau ga. Mungkin saya juga perlu membahas sampai ke angka, ga cuma feeling.
Citampi Stories
Main sebentar, masih mencoba mencari rutinitas baru setelah pindah rumah. Masih stuck nyelesain quest bikin peralatan gym yang bahan-bahannya belum ketemu. Juga, belum mutusin mau beli in-app purchase yang mana.
Lihat sekilas, paket in-app purchase nya kebanyakan paket fitur. Kalau dipikir-pikir, jualan fitur tambahan di game gratisan cukup fair ya. Dibanding kalau jual game berbayar harga penuh tapi jualan fitur tambahan lagi. Namun, untuk game ini, fitur tambahan sepertinya ga terlalu perlu. Justru ticket yang jadi currency premium lebih berguna kelihatannya.
Yah, yang manapun, in-app purchase di game ini hampir semuanya terjangkau. Entah apakah ini cukup profiitable buat developernya atau ga.
Moses & Plato: Last Train to Clawville adalah game point and click adventure dari studio The Wild Gentlemen asal Hungaria dan diterbitkan (?) oleh Toge Production asal Indonesia. Game ini baru keluar demonya.
Pada dasarnya ini adalah cerita interaktif yang mungkin mempunyai percabangan tergantung aktivitas pemain. Pemain berperan sebagai Moses, rubah detektif yang ditugaskan mengawal seorang (atau seekor) dubes dari negara lain dalam perjalanan kereta. Di perjalanan, dubes tersebut terbunuh dan karakter yang kita mainkan dituduh sebagai pelakunya. Cerita di demo baru sampai ke sana sih, tapi sepertinya pemain akan mencoba mencari bukti dan petunjuk pelaku sebenarnya.
Dari segi gameplay, saya bisa melihat bagaimana cerita interaktifnya akan dibuat non-linear. Selain mengamati benda-benda di lokasi dan menginterogasi karakter lain, pemain juga dibekali kemampuan mengendus, mendengar, dan melihat kondisi ruangan atau orang untuk mendapatkan petunjuk. Yah, karena detektifnya rubah, jadi bisa begitu.
Pada beberapa segmen, jumlah karakter yang bisa diajak ngobrol oleh pemain akan dibatasi sehingga pemain perlu memutuskan karakter mana yang akan memberi petunjuk ke arah yang benar. Ada juga mode interogasi khusus di mana pemain dapat memberondong karakter lain dengan banyak pertanyaan dan memutuskan apakah ia menjawab dengan jujur atau tidak.
Dialog-dialog utama di demo ini sudah menggunakan voice over dan sinkron dengan pergerakan mulut ilustrasi karakter. Dengan gaya ilustrasi dan animasi yang cantik, saya berpikir game ini cukup ambisius juga dalam segi audio visualnya. Yah, cerita interaktif bukan genre game populer, dan untuk bisa stand-out dengan game lain sepertinya harus jor-joran di pengisi suara dan gaya ilustrasinya.
Masih ada kesalahan-kesalahan kecil atau ketidaknyamanan dalam game ini, tapi karena masih demo, buat saya tidak jadi soal. Namun, ada satu hal yang ganggu di awal. Saat pilihan dialog pertama muncul, saya tidak tahu harus memlilih sebagai siapa. Judul gamenya Moses & Plato, tapi tidak terlalu jelas di awal apakah kita memerankan Moses atau Plato, seekor kucing ambekan yang jadi partner Moses.
Saya tidak tahu apakah bakal beli gamenya kalau sudah rilis. Lihat dari pengisi suara dan gambarnya, kayaknya bakal mahal. Jadi, lihat nanti saja.
After Love EP (Demo)
After Love EP juga game yang lebih berupa cerita interaktif. Tidak banyak gameplaynya dan lebih berpusat pada penyampaian cerita lewat gambar dan teks dialog. Juga voice over, tapi hanya satu karakter saja.
Game ini bercerita tentang Rama, pentolan band indie yang kehilangan pacarnya secara tiba-tiba. Dia mengalami depresi selama setahun, menutup diri, dan berhenti nge-band selama itu. Suatu hari, dia ingin kembali nge-band dan mendengar suara-suara dari pacarnya. Mungkin hantunya atau khayalan, entah, dan suara itu satu-satunya voice over di sini selain di beberapa bagian cerita lain.
Buat saya visualnya cukup menarik. Desain karakternya lucu-lucu depresi gitu lah. Gimana ya ngejelasinnya. Lol. Kita bisa mengendalikan Rama berjalan-jalan di kota yang terinspirasi Jakarta yang visualnya ciamik juga diiringi musik ala-ala band indie lokal. Memang sih game ini kolaborasi dengan band L’alphalpa. Aku sering denger namanya, tapi belum pernah denger lagunya.
Ada minigame rhythm saat Rama ngeband atau latihan gitar yang menurut saya agak kurang enak dimainkan. Pertama kali main tidak ada petunjuknya dan kedatangan not nya kurang pas, atau hilang padahal salah di not sebelumnya saja. Ternyata masalahnya ada di kontroller saya dan pas pindah ke keyboard jadi lebih enak. Hehe. Tapi tetap agak kurang dapet feelnya, mungkin perlu visual cue tambahan saat miss? Entahlah. Sepanjang demo ini, saya belum melihat kaitan kemahiran bermain minigame ini dengan alur cerita.
Game ini masih demo, dan ini terlihat di beberap bagian yang kurang rapih. Misalnya masih ada karakter yang harusnya belum muncul di suatu lokasi. Namun, saya belum memainkan demo ini sampai mentok meski ceritanya sudah cukup panjang juga. Ceritanya akan berkutat di pergulatan Rama untuk move on, menjalani terapi, menjalin hubungan dengan teman band lama yang agak kesal karena tiba-tiba ditinggalkan Rama saat dia depresi, dan bakal ada elemen dating sim juga.
Sebagai tambahan, dulu saya sebenarnya pernah melamar jadi project manager untuk game ini, tapi ga lolos. Game ini kalau tidak salah sudah dikembangkan sejak 2020/2021, tapi sejak game director nya meninggal, progressnya jadi terhambat.
Saya pribadi berharap game ini bisa cukup sukses, meski tidak begitu paham bagaimana game dengan visual lokal, dan voice over dengan aksen indo bisa sukses di luar. Game dengan genre ini jelas tidak akan begitu populer di pasar lokal, tapi semoga saja.
Genshin Impact
Niatnya cuma main sebentar, tapi jadi ngeberesin world quest, ngumpullin semua Hydroculus, lalu ningkatin level Statue of The Seven di Fontaine dan Fountain of Lucine sampai mentok sekali klik. Namun, saat nge-pull dengan bonus yang didapat dari semua aktivitas itu, tetap belum bisa ngedapetin Arlecchino. Gitulah, kalau game tujuannya nge-gacha emang harus biasa kecewa.
Ngomong-ngomong soal world quest yang baru diselesaikan, ceritanya lumayan, cutscene nya cantik (dan ada semacam QTE), tapi dialognya lagi-lagi agak bikin sulit buat bikin ngerasa ‘oh ceritanya gitu’. Mungkin masalah terjemahan, mungkin karena gaya bicara karakter saat dialog, atau memang gaya penceritaannya agak sulit dipahami. Belakangan cerita di Genshin selalu seperti ini, dan saya rasa baru terasa saat masuk Fontaine. Atau sayanya yang mulai ga sabar baca ceritanya.
Satu hal yang patut dicontoh, tapi juga secara pribadi sangat mengganggu, dari game ini adalah teknik monetisasinya. In-app purchase dan rewarded-ad nya ada di mana-mana. Saya sudah beli satu item untuk ngilangin banner iklan yang mengganggu di layar.
Item-item in-app lainnya ada untuk beli tiket, currency khusus di game yang sangat penting untuk membeli item-item berguna, beli kostum eksklusif, beli slot save tambahan, beli fitur ojol ke semua lokasi (fast-travel), sampai beli item khusus langsung. Terdapat juga bundle atau paket pembelian beberapa item.
Rewarded-ad tersedia saat ingin menambah penghasilan waktu kerja, memulihkan energi, mendapatkan tiket gratis, dan lain-lain. Lucunya, rewarded-ad ini ada yang bisa diakses lewat item TV dalam game. Lebih jauh lagi, pemain bisa mendapat rewarded-ad dengan hadiah lebih banyak kalau nonton iklannya di bioskop. Ini salah satu teknik yang menurut saya jenius.
Namun, saya selalu merasa risih kalau harus nonton iklan di game. Apalagi sudah bayar untuk menghilangkan iklan banner. Maka saat sudah bikin item meja produksi yang bisa mengolah kumpulan benda jadi benda lain, saya masih ngotot untuk tidak nonton iklan yang bisa membuka panduan resep olahan benda. Resep seperti itu seharusnya didapat dari permainan itu sendiri, seperti beli resep atau ngobrol dengan penduduk desa.
Maka saya cukup kesal saat dapat quest yang mengharuskan mengolah benda tapi tidak jelas bagaimana bikinnya. Harusnya ada tutorial yan- oh ada hint bahan-bahan nya deng di keterangan questnya. Hehe. Eh tapi tetep ada bahan yang ga jelas dapatnya darimana atau bikinnya gimana.
Sepertinya game ini didesain agar saat pemain sudah main jauh sampai beli rumah, maka harus segera dimonetisasi. Artinya, aktivitas-aktivitas baru yang bisa pemain lakukan tidak akan bisa efisien kalau pemain tidak beli item in-app. Saya juga sudah harus mempertimbangkan item mana yang lebih bernilai untuk dibeli.
Mikirin duit, buat saya, adalah aktivitas yang seharusnya tidak ada di tengah-tengah main game. Saya bisa membayangkan developernya ngeles, ‘Ya, ini kan game simulasi kehidupan. Mikirin apa yang harus dibeli itu bagian dari hidup!’ Namun juga, saya rasa mengeluarkan uang untuk game ini sepadan dengan keseruan yang didapatkan. Jadi, saya mulai mikir item mana yang paling sepadan harganya.
Genshin Impact
Hari ini ngebersihin peti, puzzle, dan tantangan area Domus Aurea sampai Hydro Sigils mencapai 1500. Tadinya mau langsung naikin level Fountain of Lucine sampai mentok sekaligus, tapi nanti aja deh, sekalian sama naikin level Statue of The Seven sekaligus.
Penjelajahan di area Domus Aurea dibantu kucing Monsieur Os yang tiba-tiba muncul dekat beberapa puzzle untuk memberi petunjuk, dan dekat area quest sampingan untuk bilang ‘quest ini nanti saja habis beres quest utama’. Penjelajahan juga dibantu Scylla, paus besar yang bisa tiba-tiba muncul dekat karakter pemain dan punya skill buat bantu pergerakan di perairan. Memang areanya cukup luas apalagi karena perairan yang bisa dijelajahi secara tiga dimensi jadi perlu bantuan biar cepet mencapai lokasi yang dimau. Namun, pas main hari ini saya lebih enak berenang dari peti ke peti tanpa bantuan.
Saat menjelajahi suatu area, saya selalu kepikiran soal mana yang lebih baik diduluin: beresin quest atau beresin peti? Ada beberapa targetan yang agak saya kejar saat ini: mengumpulkan semua Hydroculus dan Hydro Sigil agar bisa meningkatkan level Statue of The Seven dan Fountain of Lucine sekaligus (saat ini belum dinaikkan sekalipun), menyelesaikan quest di area baru sebelum mulai quest event, dan mengumpulkan primogem untuk pull sekali lagi di banner Arlecchino (semoga dapet pity -_-) sebelum bannernya ilang dalam beberapa hari.
Ini bikin penjelajahan terlalu buru-buru dan saya jadi kurang merasa nikmat. Namun, sebenarnya tidak buru-buru pun, penjelajahan bakal kerasa terlalu mudah dan cepat setelah sekian lama memburu peti, menyelesaikan puzzle, dan membereskan tantangan di sekitaran Teyvat.
Yah, mungkin perlu diatur pacing bermainnya agar lebih santai dan ga terjebak rencana yang kaku atau rutinitas.
Cuma main satu siklus hari. Seperti sudah diduga, seharian ga bisa kerja serabutan. Hanya ngurus tanaman (juga karena item yang mempersingkat waktu ngurus tanaman habis). Mungkin memang dalam game ini kalau sudah punya rumah dorongannya bakal lebih kerja sendiri di rumah daripada kerja serabutan.
Bikin meja produksi, tapi lupa energi lagi sekarat. Pingsan dan bangun kesiangan.
Btw, Cindy sudah 5 hati. Tinggal di lamar kah?
Genshin Impact
Short session juga, karena setelah membuka daerah baru dan memulai bagian ketiga dari World Quest Remuria, daily quest nya sudah keisi. Namun, perpindahan dari daerah Initium Iani ke Domus Aurea sambil berenang bareng Scylla… pemandangannya… musiknya… wow.
Ngambil dari Youtube karena ga sempet rekam. Ga nyangka bakal ada adegan kayak gini.
Sisanya ngabisin resin di domain. Mungkin hari ini ga ada sesi Genshin lagi.
Hades
Ternyata pakai joystik kiri masih bisa, asal gerak terus dan tekan tombol joystiknya biar errornya ilang sementara. Memang mending pakai joystik. D-pad kurang oke buat bergerak diagonal.
Niatnya cuma main satu sesi sampai mati, tapi sampai udah masuk area baru, Elysium, gak mati-mati. Entah kenapa rasanya kali ini lebih mudah. Padahal gak ada peningkatan kemampuan karakter yang signifikan dan jelas saya juga ga makin jago mainnya. Mungkin lagi hoki aja dapet musuh yang mudah dan bonus yang oke.
Karena belum mati jadi belum ada kemajuan soal ceritanya, tapi ketemu Eurydice di Asphodel. Kalau ga salah, pasangannya Orpheus ya?
Akhirnya kebeli juga rumah, setelah nabung dan nyogok beberapa warga biar tanda hatinya naik. Seperti sudah diduga, masih banyak mekanik gameplay yang belum saya ketahui. Setelah beli rumah banyak fitur dan aktivitas yang sepertinya ga mungkin bisa dieksplorasi semua.
Citampi Stories memang permainan simulasi kehidupan di sebuah desa atau kota kecil, seperti Harvest Moon (anjir, sulit menjelaskan genre ini tanpa nyebut Harvest Moon). Bedanya, kalau Harvest Moon fokusnya nyari duit lewat bertani dan menambang bijih besi, di sini kita dapat duit dari kerja serabutan dan jualan sampah-sampah yang dipulung. Ada gameplay nanam tanaman dan jual hasilnya untuk duit, tapi bukan fokus. Salah satu fokus lainnya adalah bersosialisasi, kencan, cari istri, jadi ada elemen dating simulator gitu, lah.
Saya sebenarnya ga terlalu suka game simulator seperti ini karena gameplay-nya dibatasi waktu. Namun, kalau sudah menemukan rutinitas harian yang pas, game ini jadi terasa lebih mudah dan bisa dinikmati. Saya juga salut dengan developer yang menggunakan side quest untuk membantu pemain tidak terjebak dalam rutinitas dan mencoba hal baru untuk berkembang.
Setelah beli rumah, aktivitas permainan sepertinya akan lebih banyak. Jumlah tanaman yang bisa ditumbuhkan di halaman rumah juga bertambah. Sepertinya tidak mungkin saya lakukan semua aktivitas tiap hari. Karena saya seorang completionist, saya tidak suka kalau sebuah game sebagian fiturnya hanya akan digunakan sebagian pemain dan fitur lain digunakan pemain lain. Hal ini juga bikin saya kurang suka fitur Teapot dan TCG di Genshin Impact. Namun, seperti dalam hidup, tidak semua orang harus bisa semuanya kan?
Genshin Impact
Sepertinya daerah pertama Sea of Bygone Era sudah bersih dari peti dan Hydroculus. Hydro Sigils belum nyampe 1500. Biar bisa nge-level up Fountain of Lucine sekaligus kayanya memang harus beresin semua area di Sea of Bygone Era dulu. Btw, area bawah laut memang menarik dan warna-warni, tapi rasanya pemandangan yang menarik buatku malah siluet burem yang kadang ada di ujung peta. Maksudku, coba lihat ini:
Paper, Please
Ga bisa. Udah ga bisa lagi. Keluarga terancam kelaparan, ngusir germo tetep aja ada PSK yang meninggal, ngelolosin orang yang dokumennya lengkap malah ternyata teroris, aturan makin belibet. Udah lah. Game ini susah. Bukan gameplaynya yang berat, tapi beban moralnya.
Di Paper, Please, kita bermain sebagai petugas imigrasi di pos perbatasan yang bertugas mengecek dokumen orang-orang yang lewat. Kita harus menolak orang yang dokumennya tidak lengkap atau palsu dan meloloskan yang sebaliknya. Apapun alasannya. Meski kita kasihan sama nenek yang mau mengunjungi cucunya setelah 6 tahun, harus ditolak kalau dokumennya ga lengkap. Sebab, pemerintah akan segera tahu kalau ada dokumen yang ga lengkap (YA KALAU ADA SISTEM KAYAK GITU, BUAT APA PETUGAS IMIGRASI CEK DOKUMEN???). Tiga kali meloloskan, atau menolak, karena tidak teliti sama aturan, gaji kita akan dipotong.
Kalau gaji dpotong, ga bisa beli makan buat keluarga. Kalau ga dikasih makan, keluarga akan mati.
Argh.
Beban moral pas bunuhin hewan lucu buat material level-up di Genshin mah ga seberapa dibanding ini.
Memang game ini berhak atas apresiasi dan penghargaan yang diterimanya. Namun, saya ga tahu kalau masih bisa tahan buat lanjut. Udah cukup terluka.
Hades
Ternyata controller rusak yang aku punya bisa juga dipakai main ini, selama ga nyentuh joystik sebelah kiri yang nge-drift. Lebih enak daripada pakai keyboard dan mouse. Memang jempol jadi sakit karena kontrol gerak karakter pakai D-pad, tapi aku sudah biasa seperti itu; aku main PS satu sebelum ada stik dual-shock.
Saya semakin paham elemen roguelike dari game ‘poster-boy’ genre roguelike ini. Kita menjelajah ruang-ruang secara acak, mati, lalu balik lagi dari awal. Setelah beresin ruang dapat bonus secara acak juga (atau milih dari pilihan acak) yang meningkatkan kekuatan karakter selama sesi permainan (sampai mati). Jadi, progress kita dalam satu sesi permainan tergantung bonus acak yang muncul. Kayak gacha, tapi soal progress game nya. Dan, ga pake duit. Genshin diginiin bakal gimana ya?
Sebenarnya ada keseimbangan antara keberuntungan acak, pilihan, dan kemampuan dalam gameplay nya. Setiap kali mati, pemain bisa meningkatkan kemampuan karakter secara permanen, tapi rasanya mempermudah permainan dengan cara ini progressnya lama. Developer seperti membatasi kecepatan peningkatan karakter lewat berkali-kali sesi bermain agar permainan tidak cepat terasa mudah, dan agar pemain bisa lebih jago bermainnya. Main dan mati berkali-kali agar kemampuan karakter dan pemain meningkat secara bertahap.
Mengulang-ulang sesi permainan setelah mati memang sangat membosankan. Karena itulah elemen naratif di game ini sangat membantu. Salah satu yang membuat Hades terkenal adalah cerita, dialog, dan interaksi antar karakter yang menarik. Dialognya hampir tidak pernah berulang setiap kali bertemu dengan karakter yang sama. Saat kembali ke House of Hades, tempat awal permainan setelah karakter mati, kadang ada progress cerita yang membuat pemain tidak bosan. Yah, mungkin ada batasnya sih.
Game ini juga ada semacam dating simulator. Saya belum tahu sedalam apa mekanisme gameplaynya, baru sekedar kasih hadiah, dapat item.
Kalau gamplay utama pertempurannya… cukup susah juga. Kadang area pertempuran menjadi sangat kacau dan chaos. Meski kunci memenangkan pertempuran adalah untuk tetap tenang dalam chaos dan selalu mencari cara aman untuk menyerang, hal itu bisa dilakukan kalau kita dapat privilege boon (bonus temporer) yang enak sih. Atau kalau jago.