Kategori
Gaming Diary

Pesta Pernikahan dan Komik – Gaming Diary #26

Gaming Diary #26 – 2024 06 02

Citampi Stories

Hari ini saya mencoba melamar Windy dengan memberinya item Cincin Kawin di ‘Omegamart’, tempat dia kerja. Pas dilamar, responnya hanya satu blok dialog: ‘wah ini hari terbaik dalam hidupku, kita nikah hari minggu ini ya!’ LOL! Saya sudah terima kalau dialog di game ini sederhana, langsung, dan eksplisit agar mudah dipahami terutama mengenai instruksi permainan. Namun, yang  ini bikin saya mengalami cognitive dissonance karena terlalu singkat dan gampangin. Seakan keputusan besar seperti menikah ini terasa ringan saja di game ini. Yah, namanya juga game sih.

Apalagi saya sering dengar kalau menyiapkan pernikahan itu repotnya minta ampun. Sementara di game ini, saya melamar hari Senin, nikah hari Minggu, dan di antara keduanya, menjalani hari-hari seperti biasa. Seperti nyoba-nyoba maksimalin fitur tukang abu gosok yang bisa nuker sampah jadi barang yang sedikit lebih berguna meski rada gacha. Atau menemukan kalau pot bikinan pun bisa retak, somplak, dan ga bisa dipake lagi. Lalu, upgrade tempat crafting dan media pembibitan.

Sampai akhirnya hari Minggu tiba juga.

Semua penduduk Citampi, termasuk orang tua karakter pemain dan mertuanya ada di resepsi pernikahan. Juga termasuk dua karakter yang belum pernah saya temui selama main, Isma dan Tasya yang sepertinya pilihan untuk dinikahi juga.

Selepas adegan pernikahan, karakter kembali ke rumah dan game memberitahukan bahwa penduduk Citampi dengan tingkat hubungan 4 hati ke atas akan memberikan hadiah saat pernikahan. Tunggu, yang bisa dapat 4 hati cuma gadis-gadis yang bisa dikencani. Er… jadi game ini mendukung perilaku playboy??

Yah, n-namanya juga game. Saya tidak terpikir untuk coba-coba dengan berbagai gadis karena sudah lock-in dengan Windy dari awal. Rasanya seperti itu lebih efisien mainnya. Eh, disclaimer, pilihan gadis di game ini tidak mencerminkan preferensi saya pribadi ya. Ini mah hanya mencoba memenuhi fantasi ngencanin kasir minimarket berambut pink yang doyan nge-gym.

Enggak, Bu, saya lagi gak naksir dengan kasir Indomaret.

Hhhh… susah buat ga terlihat aneh saat nikahin cewek di game apapun status pernikahanmu sebenarnya. Kalau belum nikah dikatain creepy incel, kalau udah nikah dikatain ga setia.

Ada fitur-fitur yang akan terbuka setelah menikah. Tingkatan hati istri bisa meningkat lagi, dan istri bisa disuruh-suruh… Kapan-kapan lagi deh eksplorasinya.

Pesta Komik Bandung 2024

Sebagai yang pernah ke Comifuro, berkunjung ke Pesta Komik Bandung 2024 di BEC bikin saya bingung: mana fanart Genshin nya? Apa mereka ga tahu kalau itu merchandise yang paling sering laku? 😀 LOL.

Ya, itu bedanya event ini; ini bukan sekedar pasar untuk jualan, tapi ajang bagi komikus lokal untuk memamerkan karya orisinalnya. Bukan selebrasi atas kultur populer, tapi atas medium komik yang akan menciptakan budaya populer baru.

(Foto dari adik yang datang pas hari pertamanya)

Area pameran sebenarnya cukup oke meski cuma seluas Lobi BEC. Ada panggung di dekatnya sehingga acara di panggung bisa terdengar oleh semua pengunjung, kalau sound systemnya bagus!

Sebenarnya gak niat belanja banyak, tapi agak menyesal juga baru niat belanja pas kebanyakan stand sudah mau beberes padahal banyak art yang bagus. Jadi ga bisa nyobain commission.

Acara penghargaan rada canggung karena banyak nominator dan pemenang yang udah pulang. Saya jadi tahu siapa komikus yang sedang naik daun saat ini dan karya-karya yang menarik. Memang tidak ada niat beli komik saat itu, tapi yah lumayan buat referensi beli komik kedepannya.

Saya diingatkan lagi kalau komikus dan ilustrator di Indonesia, bahkan di Bandung saja, itu banyak sekali. Hanya saja, saya cukup ngeri sama diri sendiri saat melihat banyak seniman ini dan berpikir ‘bagaimana saya akan menggunakan mereka?’ Duh, saya sudah sebegitu kapitalisnya kah?

Apapun yang akan mereka tempuh, jalannya tidak akan mudah.

Kategori
Devlog/Studlog Gaming Diary

Sebuah Permainan dan Budaya Yang Dilahirkannya – Gaming Diary #25

Gaming Diary #25 – 2024 06 01

Genshin Impact

Versi baru akan rilis beberapa hari lagi, dan sekarang masih masa sepi. Fitur toko sudah di-refresh dan item-item baru sudah muncul. Yang paling ditunggu tentunya menukar Masterless Stardust dengan Wishing Items yang dibatasi per bulannya. Masterless Stardust yang didapat setelah mendapatkan senjata bintang 3 saat gacha juga bisa ditukar dengan material peningkatan level karakter dan senjata yang normalnya didapat dari mengalahkan monster. Kalau lagi butuh tapi males (atau kasihan) berburu, sesekali saya lakukan. Tapi keitung jarang sih.

Mungkin suatu waktu saya perlu menghitung jumlah Masterless Stardust yang biasa saya dapatkan per bulan dan berapa yang diperlukan untuk menukarnya dengan item-item penting. Mungkin sebaiknya juga mempelajari keterkaitan ekonomi dari item-item yang diperlukan dan dihasilkan dari aktivitas gacha/wishing.

Game ini sebenarnya sangat membutuhkan resource management, tapi saya yang ingin bermain secara kasual tentu saja malas melakukannya.

Citampi Stories

Game ini jadi lebih mudah kalau sudah tahu bagaimana cara menemukan benda-benda tertentu. Setelah hafal bahan-bahan crafting tertentu, mancing dengan Pancingan Magnet yang dapat menarik benda lain selain ikan (kalau ikannya dapet) jadi penting karena banyak material yang hanya bisa didapat dengan mancing di kolam tertentu. Misalnya, tanah liat hanya bisa didapat dari empang depan Masjid dan gelondongan kayu hanya bisa didapat di kolam dekat sebuah rumah di Area 4.

Sepertinya keuangan tidak sekencang waktu masih sering jadi Food Vlogger. Namun meski hanya jualan hasil panen dan sampah pulungan, saya tetap ga kekurangan uang.

Btw, beli 5.000 coupon memang sangat sepadan dengan kegunaannya.

A Game With Dangerous Community

Persib juara liga setelah 10 tahun dan Kota Bandung jadi ladang selebrasi. Entah di mana titik kumpulannya, mungkin hanya motor-motoran konvoy keliling kota. Saya bukan fans Persib atau klub olahraga apapun, tapi hanya teringat satu hal yang terlalu dibiasakan oleh budaya masyarakat kita sehingga lupa, dan ini terkait dengan game development. Oke, memang sepertinya ga nyambung, tapi dengar dulu.

Sepak bola adalah sebuah game sebagaimana semua olahraga adalah game. Makanya Olimpiade disebut Olympic Game. Event olah raga level benua Asia disebut Asian Games. Sepak bola hanya satu jenis permainan fisik yang terkenal. Iya, sepak bola juga sebuah olahraga, sama seperti nge-gym. Bedanya nge-gym ga ada aturan yang bikin tujuannya bikin fun. Tujuan nge-gym selalu untuk kesehatan atau membentuk tubuh (‘olah’ ‘raga’).

Bedanya lagi dengan nge-gym, klub gym tidak (belum) punya budaya fanatisme yang mengarah pada kekerasan dan vandalisme. Seperti yang dilakukan oleh pelempar batu memecah jendela kereta menuju Bandung, tepat di sebelah seorang ibu dan anaknya. Atau adanya aksi razia plat luar kota, atau kecerobohan yang menyebabkan seorang pemuda jatuh dari bus dua tingkat atap terbuka dan meninggal.

Meski jatuhnya satu korban pun sudah terlalu banyak, jika dibandingkan dengan sejarah fanatisme klub sepak bola, selebrasi Persib tahun ini tergolong jinak. Tetap saja, motor-motor yang  bergerombol, mengibarkan bendera ke segala arah, dan meraungkan knalpotnya sudah membuat jalanan Bandung semakin mencekam sejak Jum’at. Tentu kecuali jika kamu ikut dalam perayaan itu.

Seperti satpam di kompleks saya yang mengajak anak bayinya ikut motor-motoran sambil mencari angin. Sebuah kegiatan bonding yang meluluhkan hati. Meski saya tidak tahu bagaimana anak ini akan tumbuh. Apakah bayi itu akan hanya mengasosiasikan Persib sebagai kenangan bersama ayahnya? Ataukah ia akan masuk lebih jauh ke dalam budaya fans Persib yang menganut tribalisme fanatik dan mengharuskan kekerasan serta pesta pora lepas kendali sebagai bagian dari budayanya?

Saya sangat tergoda untuk mendukung ide penghukuman terhadap klub bola yang membiarkan (atau apalagi meraih keuntungan dari) budaya kekerasan dalam komunitas pendukungnya. Namun, secara objektif, idealnya setiap aksi kriminal dan ilegal ditindak kasus per kasus dan tidak mengarah ke organisasi yang memang tidak secara gamblang meng-orkestrasi tindakan tersebut.

Di sisi lain, ketika sebuah game membuat anak kecanduan, lalu membunuh kerabatnya untuk uang, atau ketika sebuah game menormalisasi budaya toksik dalam komunitasnya, saya berpendapat bahwa pengembang game tersebut harus bertanggungjawab dan bertindak. Pengembang game harus menyadari bahwa karyanya punya pengaruh. Meski dampaknya pada tiap orang sulit ditebak, minimal sadari dulu saja kalau punya dampak. Kalau kita tidak menutup mata, dan masih manusia, kita akan belajar untuk mengurangi pengaruh yang buruk dan meningkatkan yang baik.

Ini perlu lebih dituntut apalagi dalam game yang sudah menimbulkan banyak dampak dalam bentuk kerusakan fisik pemain akibat cedera, kehilangan nyawa akibat konflik antar suporter, atau kehilangan nyawa penonton karena penyelenggaraan pertandingan yang kurang memperhatikan keamanan. PSSI selaku ‘pengembang game sepak bola’ di Indonesia perlu memiliki kesadaran dan melakukan tindakan normalisasi budaya buruk. Minimal, untuk mencegah jatuhnya satu korban pun. Meski yang saya dengar, mereka baru gerak kalau korbannya sudah 135 atau lebih.

Eh enggak ding, lepas tangan juga.

Kategori
Devlog/Studlog Gaming Diary

Slow Living di Citampi – Gaming Diary #24

Gaming Diary #24 – 2024 05 31

Genshin Impact

Mau nulis singkat saja karena memang tidak banyak hal menarik. Saat ini sedang masa sepi menjelang rilis versi baru. Challenge di event sudah beres semua (kecuali yang susah), tidak ada event lain yang lagi jalan (kecuali Overflowing Mastery), dan semua area baru sudah dijelajahi (belum 100% karena sengaja nunda buka Shrine of Depths). Jadi hampir ga ada aktivitas penting di Genshin, selain mungkin ngumpulin material levelup talent.

Citampi Stories

Masih mencoba mencari fokus kegiatan dan rutinitas. Masih eksplorasi fitur-fitur yang ada. Untungnya memang game ini tidak ada deadline selain keharusan membayar utang dalam 1 tahun yang sudah saya lewati. Jadi, tidak perlu terburu-buru untuk cari uang, mencoba semua, dan menikah. Ga ada semacam mekanisme yang menuntut pemain untuk segera menikah di game ini meski menikah dijadikan sebagai quest utama. Namun, karena sudah ada gadis yang diajak kencan dua kali (dan ngasih kode), juga sudah beli cincin kawin, mungkin saya akan coba sebentar lagi.

Kategori
Devlog/Studlog Gaming Diary

Bayda Harbor – Gaming Diary #23

Gaming Diary #23 – 2024 05 30

Genshin Impact

Baru menjelajahi daerah Bayda Harbor yang rilis bareng daerah Nostoi/Petrichor. Ternyata, orang-orang ga berlebihan pas bilang cuma ada tiga peti harta karun di sekitaran sini. Ini tempat kosong banget. Bukannya matre, tapi keberadaan peti harta karun, potongan lore, quest, atau hal-hal unik lain akan mendorong pemain untuk menjelajahi setiap sudut daerah yang sudah susah-susah dibangun. Dari sisi developer, ini seperti hal yang mubazir. Sedangkan jika dibuat cuma untuk mengisi peta pun, yang ini rasanya tidak dilakukan dengan baik dan merusak imersifitas.

Saat membuat peta terbuka atau open world seperti dalam game ini, ada dua hal yang dipertimbangkan: Jalur perjalanan pemain dan jalur perjalanan orang-orang dalam dunia gamenya.

Jalur perjalanan pemain merupakan jalur yang didesain untuk dilewati pemain. Asal jalurnya seru dan menyenangkan (memberi pengalaman yang tepat), tidak masalah kalau jalurnya harus manjat tebing, menyelam lautan, terbang, atau menerobos belantara selama karakter yang dimainkan diberi kemampuan untuk melakukannya.

Namun, dalam dunia game yang diisi orang-orang biasa, perlu ada penjelasan bagaimana orang-orang pindah dari satu daerah ke daerah lain yang biasa dilalui (misal dari desa ke kota). Maka suatu daerah perlu jalan, jalur perairan, atau jaringan transportasi yang mungkin sebenarnya tidak harus dilalui pemain, namun membantu imersifitas yang membuat pemain merasa sedang menjelajahi dunia yang nyata. Jalur ini juga bisa membantu mengarahkan pemain untuk menjelajahi daerah tersebut daripada berjalan-jalan tanpa arah tujuan. Minimal, itu akan memicu rasa penasaran pemain untuk menjelajah.

Bayda Harbor tidak memiliki jalur ini. Jalannya terputus dengan daerah lain di negara yang sama. Padahal, tempat-tempat lain di Sumeru yang memiliki penduduk terhubung dengan jaringan jalan. Bahkan dari Port Ormos hingga Sumeru City terhubung dengan sebuah sungai. Bayda Harbor memiliki jalan yang terhubung dengan danau buntu dan… kemah rampok Eremite.

Saat pertama kali masuk Fontaine pun pemain berangkat dari daerah di padang pasir Sumeru yang terputus dengan jaringan jalan. Yah, di padang pasir ga ada jalan, sih. Namun rasanya mustahil orang Sumeru ke Fontaine lewat tempat itu atau Bayda Harbor.

Mungkin kedepannya ada penjelasan soal keanehannya. Mungkin akan ada konten tambahan di Bayda Harbor. Mungkin juga akan ada daerah lain di Sumeru yang lebih masuk akal sebagai pelabuhan di sisi Utara menuju Fontaine. Sementara ini, saya rasa geografi di Teyvat meski indah kadang ga masuk akal dengan laut dan sungai yang terpotong air terjun, kepulauan tinggi di atas laut yang masih bisa tenggelam, dan pulau terbang… eh pulau terbang masih masuk akal sih.

Kategori
Devlog/Studlog Gaming Diary

Game Designer’s God Complex – Gaming Diary #22

Gaming Diary #22 – 2024 05 29

Genshin Impact

Ternyata hari ini gak banyak main. Hanya Genshin dan itupun lebih ke rutinitas biasa. Namun, saya kok baru menyadari kalau bos mingguan Arlecchino susah banget. Tidak ada fase-fase rumit dan defense atau HP nya ga terlalu besar, tapi serangannya sakit banget. Sepertinya banyak serangannya yang bisa one-hit-kill.

Jadi kebayang bagaimana balancing tingkat kesulitannya. Saya jadi mikir-mikir apa saja pertimbangan utamanya. Mungkin Arlecchino dibuat sulit karena playable dan pemain perlu dibuat merasa karakter ini sangat kuat sehingga mereka tertarik untuk memainkannya. Lagipula, dalam cutscene cerita karakternya, Arlecchino tidak pernah dikalahkan Pengembara, jadi wajar kalau susah.

Namun, harusnya pemain sudah biasa dengan karakter yang keren saat jadi lawan berubah jadi cupu saat jadi playable. Jadi, kalau dibikin mudah mungkin sudah ga masalah? Entahlah.

Game Designer’s God Complex

Banyak hal-hal yang berhubungan saat menentukan suatu aturan dalam game. Mengubah satu variabel bisa berpengaruh pada variabel lain. Memudahkan satu aspek bisa jadi malah mempersulit aspek lain atau membuatnya tidak menyenangkan untuk dimainkan.

Saya jadi ingat ketika pertama kali ikut bikin game. Menciptakan game dan menentukan aturan-aturannya membuat saya merasa seperti tuhan pencipta dunia. Namun, tanpa Kemahatahuan dan Kemahakuasaan membuat sering terjebak situasi dilematis saat ingin membuat suatu aturan yang meningkatkan satu aspek tapi berpengaruh ke penurunan di aspek lain. Kira-kira sama lah seperti pembuat undang-undang di pemerintahan atau sistem di organisasi.

Saya jadi belajar soal keadilan dalam penciptaan alam. Sesuatu yang terlihat tidak adil mungkin kalau dibikin ‘adil’ malah akan mengacaukan alam. Misalnya, karena terikat gravitasi kita tidak bisa terbang dan akan mati kalau jatuh dari ketinggian tertentu. Namun, kalau gravitasi dihilangkan, kita ga bisa berjalan di Bumi dan organ-organ tubuh ga akan bisa bekerja dengan baik.

Membuat keputusan yang serasa merugikan pemain tapi membuat gamenya bekerja dengan baik, seperti itulah pekerjaan game designer.

Kategori
Devlog/Studlog Gaming Diary

Orang Natlan Ga Keliatan – Gaming Diary #21

Gaming Diary #21 – 2024 05 28

Genshin Impact

Karena disinggung pada dialog di event Saurian dan sudah ada preview nya saat Special Program kemarin, mungkin saatnya membahasa region Natlan. Ini adalah region yang paling ‘misterius’ di Genshin karena jarang disebut.

Yang saya ingat dari dialog-dialog terkait Natlan:

  • Pemandian air panas di Inazuma terinspirasi dari Natlan
  • Ada seorang NPC di Fontaine yang punya pacar orang Natlan
  • Di akhir cerita utama Fontaine disebutkan kalau Natlan adalah negeri para naga dan orang-orangnya ga bisa melancong karena lagi ada perang atau ada aturan yang ga ngebolehin keluar.

Udah. Itu aja. Baru pas preview kemarin dan event Saurian diperlihatkan sedikit visual terkait Natlan, naga-naganya, dan lansekapnya.

Namun, tidak dengan orangnya. Ini. Aneh. Banget.

Gini, sejak awal rilis Genshin Impact, semua orang dari ketujuh bangsa sudah pernah diperlihatkan. Selain orang Mondstadt dan Liyue, kita bisa ketemu peneliti Sumeru yang berkelana ke berbagai tempat, beberapa orang Fontaine, salah satunya penulis yang meneliti cerita daerah di jalan menuju Liyue, pedagang/agen/diplomat Snezhnaya, termasuk Fatui, dan terakhir Atsuko, orang Inazuma yang terjebak di Liyue karena politik isolasi di Inazuma. Orang Natlan adalah satu-satunya yang belum pernah diperlihatkan di dalam game.

Satu-satunya orang Natlan yang pernah saya lihat adalah seorang karakter yang muncul di trailer Genshin Impact menjelang rilis awal. Oh, satu lagi. Vannesa dan kaumnya dari komik Prologue yang merupakan budak-budak di Mondstadt keturunan Natlan.

Di event Saurian, kita bisa menanyakan pada karakter bernama Rajit yang pernah ke Natlan kenapa kita belum pernah ketemu dengan satu pun orang Natlan. Artinya, Hoyoverse paham kalau pemain menyadari masalah ini. Dan, jawabannya…

Sepertinya Hoyoverse juga belum nemu argumen yang tepat. Kalau pakai argumen aturan sosial atau politik kayak Inazuma rasanya mengada-ada. Setidaknya, ketika mendengar politik isolasi Inazuma saya bisa berasumsi bahwa ini terinspirasi dari politik isolasi yang dilakukan Jepang sebelum era restorasi Meiji.

Prasangka buruk saya, Hoyoverse belum punya ide bagaimana merepresentasikan orang Natlan yang katanya terinspirasi dari Afrika, Amerika Latin, dan Spanyol (?) tanpa menyinggung orang-orang yang direpresentasikan.

Sepertinya Natlan ini akan divisualkan sebagai budaya ‘tribal’ generik anime yang mencomot beberapa inspirasi dari berbagai budaya yang disebut di atas. Mungkin saat nanti melihat Natlan, saya tidak akan setakjub seperti waktu melihat Sumeru.

Btw, dari event Saurian, sudah diperlihatkan topi orang Natlan yang mirip helm Conquistador, penjajah Spanyol yang datang ke Amerika Selatan.

Battle of Souls

Entah kenapa main ini selalu pas udah mulai ngantuk. Sejauh yang saya coba sampai awal chapter 1-1, tidak terlihat ada perubahan dari segi cerita. Seingat saya. Mungkin ada bonus-bonus yang agak berubah, tapi saya tidak bisa mengingatnya.

Hal beda yang paling kentara adalah adanya fitur Roulette yang pada dasarnya adalah gacha material dan item pakai currency permata. Fitur ini sepertinya untuk ‘agak’ membantu pemain meningkatkan level Atma nya agar lebih kuat dan meningkatkan value dari currency permata sehingga orang kalau mau beli IAP lebih fokus ke currency permata. Mungkin sih, ini analisis asal aja. Yang penting, adanya fitur ini menunjukkan kalau Battle of Souls tidak sekedar ganti merek Code Atma. Ada development yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas gamenya.

Selain itu, menurut yang saya baca di forum ada beberapa desain visual Atma yang dimodifikasi, tapi saya belum cek satu-satu.

Game ini sebenarnya masih dalam tahap Closed Beta Test (CBT) dan masih dalam pengembangan. Mungkin masih bakal banyak perubahan kedepannya.

Yang cukup membuat saya lega adalah melihat halaman credit yang menyertakan nama-nama tim pengembang Battle of Souls dan pengembang Code Atma. Intinya saya bisa memastikan ini memang kerjasama resmi (bukan kloningan, lol) antara Pixel Revolution dan Agate Studio. Oh, juga Iskra.

(googling Iskra)

“We believe the future of gaming is on the blockchain.”

…oh, ok.

Kategori
Devlog/Studlog Gaming Diary

Perkembangan Karakter – Gaming Diary #20

Gaming Diary #20 – 2025 05 27

Genshin Impact

Baru saja membereskan Story Quest Cyno yang kedua. Ini salah satu cerita karakter yang menarik buat saya karena fokus pada si karakternya, bukan ke NPC yang dibantu oleh karakter tersebut. Yah, memang melibatkan NPC penting juga sih.

Game ini juga sepertinya sudah lebih nyaman bikin adegan dua atau lebih karakter yang bisa dimainkan bertarung dalam cutscene dan salah satunya kalah. Ini agak mengganggu dalam kasus Neuvillette vs Childe atau Arlecchino vs Lyney yang keduanya sama-sama karakter bintang 5 karena seakan menunjukkan kalau satu karakter lebih kuat dari karakter lain. Jadi seperti gamenya mendorong pemain untuk nge-pull di banner karakter yang menang tersebut daripada karakter satunya. Masuk akal mengingat adegan Neuvillette dan Arlecchino rilis sebelum atau saat banner karakternya rilis. Namun, ini kalau berasumsi bahwa pemain punya asumsi power scale di cerita sesuai dengan di gameplay nya.

Cyno vs Sethos, agak beda karena Sethos adalah karakter bintang 4 yang belum rilis. Sethos (SPOILER ALERT) kalah dan ini masuk akal. Meski demikian, saat saya menulis ini, gameplay Sethos sudah diperlihatkan pada Special Program beberapa hari lalu dan sangat berbeda dengan cutscene pada cerita Cyno. Senjata yang dipakenya saja beda. Di akhir cerita, Sethos memberikan kekuatannya pada Cyno. Jadi seakan-akan Sethos di-downgrade ke bintang 4 setelah kalah dari Cyno (lol gak lah).

Satu hal lain yang ingin saya kritisi adalah kurangnya perkembangan karakter dalam cerita. Cyno dalam cerita ini dan cerita-cerita sebelumnya tidak begitu banyak berubah. Caranya berpikir, apa yang dia yakini, dan interaksinya dengan orang-orang masih sama. Gameplay nya juga akan sama meski mendapat kekuatan baru. Yah, memang karakter Cyno sudah well-known dan well-established sih, jadi mau dikembangin seperti apa lagi? Di cerita ini malah yang mengalami perkembangan karakter adalah Collei yang diceritakan jadi lebih pandai berkomunikasi.

Namun, saya lebih suka cerita seperti Story Quest Dehya yang awalnya membenci mendiang ayahnya menjadi lebih respek dan lebih memahami perannya sebagai orang padang pasir. Minimal perkembangan seperti itu yang saya harapkan dari sebuah cerita; perasaan pemain yang semakin kaya karena cerita tercermin pada karakter yang berkembang karena cerita yang dialaminya.

Kategori
Gaming Diary

Offline Yu-Gi-Oh TCG – Gaming Diary #19

Gaming Diary #19 – 2025 05 26

Adik mengajak ke Brotherhood Game Store yang tempatnya deket rumah. Katanya tempat jualan kartu-kartu TCG dan suka ada turnamen TCG juga di sana. Yah, kenapa tidak? Meski masih agak capek karena motor-motoran kemarennya, saya ikut saja untuk lihat-lihat.

Sampai di sana, tempatnya agak kurang sesuai dengan ekspektasi. Kupikir bakal penuh dengan rak-rak dan etalase, tapi ini seperti kedai bakso dengan bangku dan meja berjejer rapi. Kayaknya memang lantai pertama toko ini jualan bakso, tapi di rak gantung yang nempel di dinding dan kasir berjejer berkotak-kotak kartu TCG yang bermacam-macam, dari One Piece, Pokemon, dll. Sudah ada beberapa orang yang sedang ngobrol dan minum kopi (dari luar), jadi kalau mau lihat-lihat kartunya agak karagok. Mungkin daripada game store, tempat ini lebih cocok disebut sebagai basecamp komunitas TCG dan Beyblade.

Kata adik, turnamen mulainya jam 2, sesuai dengan waktu kedatangan kami ke sana. Ternyata turnamennya baru mulai jam 3. Acaranya di lantai dua, di ruang yang seperti showcase buat pamer kartu-kartu TCG dan beberapa statue dan figure Pokemon. Tentunya ada meja panjang yang digunakan untuk turnamen. Pas udah pada duduk pun para peserta masih pada ngobrol. Di sini kayaknya orang-orang lebih banyak ngobrol soal permainannya daripada mainnya. Yah, namanya juga komunitas. Sampai akhirnya seseorang, mungkin referee dan yang punya tempat meneriakkan pasangan lawan tanding dalam turnamen. Suaranya lantang dan jelas banget.

Turnamen ini itungannya turnamen lokal yang mematuhi aturan standar TCG seperti harus pakai sleeve (kurang paham alasannya, mungkin untuk mengurangi kecurangan?). Peserta turnamen sepertinya langsung datang tanpa daftar sebelumnya. Adik saya bawa kartu tapi ga punya sleeve jadi kami hanya bisa nonton. Cuman kami berdua yang hanya nonton.

Saya belum paham apakah sistemnya liga atau bracket. Bahkan, saya baru tahu kalau yang ditandingin adalah TCG Yu-Gi-Oh bukan Pokemon. Saya tahu Yu-Gi-Oh, tapi ini baru pertama kalinya nonton duel TCG offline. Saya dulu suka main sih di PC dan Duel Link yang di mobile jadi cukup paham aturan dasarnya. Terakhir main beberapa tahun lalu. Di Duel Link, aturannya disederhanakan. Namun, pada waktu itu pun aturan main untuk TCG offline seingatku sudah sangat rumit dengan Chain-Link, Extra Deck, Extra Monster Field, dll. Jadi, saya tidak berharap buat bisa paham alur pertandingan turnamen ini.

Namun saya masih coba biar lebih bisa ngikutin, jadi saya nontonin duel antara dua peserta yang kelihatannya pemula. Saya salah. Keduanya pro. Sepertinya tidak ada pemula di turnamen ini. Satu duelist memasang kartu dan beruntun mengeluarkan kartu-kartu turunan dari efek-efeknya (note: di turnamen ini kayaknya ga ada kartu monster yang tipe nya normal, minimal effect) sambil dia mengkonfirmasi efek dari kartu yang dia pakai ke lawannya terutama kalau ada efek yang perlu keputusan lawan. Lawannya belum dapat giliran. Jadi kayak lagi dibacain kartu tarot.

Nah, ini yang bikin saya tidak ngerti dengan turnamen TCG offline. Saya biasa main lewat game yang aturan dan efek-efek kartu dieksekusi oleh komputer. Bagaimana aturan bisa dieksekusi di pertandingan offline? Apalagi efek kartu dan aturan Yu-Gi-Oh sudah jadi sangat rumit. Kalau yang saya lihat sekilas, aturannya dihafal dan dikonfirmasi kedua belah pihak. Atau nanya referee kalau lupa.

Untuk efek kartu, sepertinya mereka juga menghafalkan atau cek internet. Memang di kartu ada keterangannya, tapi kebanyakan kartu di sini pakai Bahasa Jepang! Ada juga yang Inggris, tapi kalaupun mereka bisa baca Jepang atau Inggris, tulisannya kecil banget. Mau ga mau harus dihafal. Seorang hafizh Quran sepertinya punya kapasitas otak yang cocok jadi duelist dan vice versa. Nanya ke orang lain untuk memahami cara kerja efek kartu juga tidak terhindarkan. Makanya jadi kepikiran, duel TCG ini ga bisa jalan kalau ga di komunitas.

Dan sepertinya tidak ada konflik dalam memahami aturan atau efek kartu. Maksudku, mereka hanya konfirmasi satu sama lain pakai pemahaman masing-masing. Tidak ada check and balance dari pihak ketiga. Tidak ada mekanisme untuk mencegah penipuan. Kalau ibaratnya sistem pemerintahan, tidak akan ada yang bisa jalan dengan cara seperti ini. Namun, sepertinya mereka sepakat untuk bermain sesuai aturan agar bisa sama-sama senang, and it works! Imagine world peace under the rule of duelists.

Saya masih merasa akan lebih efektif kalau sistem dan aturan diatur kompute- tunggu, apa ini berarti aku juga setuju kalau pemerintah dipegang sama robot?

Saya berjalan-jalan melihat pertandingan lain. Ada yang sudah selesai dengan cepat, ada yang masih bertanding. Saya sama sekali tidak bisa mengikuti setiap pertandingan, bagaimana strateginya, dan cara kerja tiap kartu. Sebagai penonton, saya juga tidak bisa nguping terlalu dekat. Lalu, saya kembali ke duelist yang pertama saya tonton. Mereka berdua sudah memasang kartu di sisi meja masing-masih, seperti sedang saling membacakan tarot.

Turnamen ini ternyata dibatasi waktu, dan tepat pukul 4, pertandingan berakhir. Saya juga harus segera mengantar adik ke kampusnya, jadi tidak tahu apakah ada pertandingan lanjutan atau tidak.

Berkunjung ke sini adalah pengalaman yang cukup menarik dan juga canggung. Mungkin pengalamannya akan beda kalau saya benar-benar mencoba ikutan duel. Saya tidak begitu cocok dengan komunitas seperti ini. Namun, menurutku komunitas-komunitas hobi permainan yang berada di tengah-tengah kota seperti ini ibaratnya goresan warna yang merusak tembok kelabu kehidupan dewasa yang membosankan.

Btw, adik saya memperhatikan kalau peserta duel kebanyakan orang dewasa, yang baginya adalah usia 20-an. Saya tidak memperhatikan itu, karena menganggap 20-an masih bayi.

Kategori
Gaming Diary

Gaming Diary #18 – 2024 05 25

Terhalang Bahasa

Belakangan medsos ramai berwacana soal bahasa di video game. Katanya, Wuthering Waves yang di hype-kan sebagai ‘genshin killer’ dan baru rilis diprotes banyak gamer karena ga ada Bahasa Indonesianya. Bahkan orang-orang sampai ngasih rating 1 di Google Play. Saya tidak melihat ada orang ngasih review jelek karena bahasa di Google Play, tapi saya percaya ini adalah fenomena yang sudah semakin normal karena pernah mengalaminya.

Saya pernah ngurus operasional game Code Atma yang sempat dirilis hanya dalam Bahasa Inggris dan orang-orang banyak juga yang ngeluh soal ini. Awalnya saya juga sempat merasa heran kenapa diprotes. Saya termasuk orang yang biasa main game berbahasa Inggris sejak kecil dan cukup bangga bisa belajar Bahasa Inggris dari game. Mungkin anak-anak zaman sekarang manja. Saya sempat berpikir begitu.

Apakah Dulu Ada Pilihan?

Sekarang, saya jadi berpikir kalau dulu itu kita hanya gak punya pilihan saja, jadinya kepaksa dikit-dikit belajar Bahasa Inggris. Atau nebak-nebak arti teks di menu dan coba-coba saja mana yang pilihannya benar. Kita tidak membiarkan bahasa menghalangi kita untuk bermain. Yah, meski jadi ga terlalu ngerti ceritanya (kalau dipikir-pikir, saya tidak terlalu ingat detail cerita game-game yang saya mainkan dulu mungkin karena memang tidak pernah ngerti). Intinya, keseruan, kenangan bermain game, dulu tidak terhalang bahasa, ya karena tidak punya pilihan. Pilihannya ga ngerti dan coba-coba atau tidak main sama sekali. Ya masa pilih ga main? Ga ada juga pilihan ngeluh di medsos atau kasih bintang satu.

Btw soal sistem rating pake bintang ini problematik sih buat game yang modelnya service, tapi nanti lagi deh dibahasnya.

Zaman sekarang, game sudah banyak yang dilokalisasi ke Bahasa Indonesia dan lebih mudah diakses, baik itu game luar maupun lokal. Mungkin bisa dibilang, gamer zaman sekarang, yang muda maupun tua, menganggap Bahasa Indonesia adalah standar untuk game yang rilis di Indonesia, atau tepatnya, game yang mereka bisa akses. Tentu saja bahasa asing akan menjadi asing buat mereka. Apalagi kalau gamenya di market kan ke mereka dan di-hype kan ke mereka juga, jadinya tidak sesuai ekspektasi.

Saya jadi mikir, kalau dulu saya mengalami kondisi seperti itu tanpa ada medsos dan rating, apakah saya akan main gamenya?

Memang banyak aspek bermain di sini, seperti pendidikan Bahasa Inggris di sekolah zaman sekarang dan kemungkinan review bombing oleh fans (atau marketing) game lain seperti Genshin. Meski mengkhawatirkan, itu topik lain.

Ada aspek lain seperti bahasa audiovisual dan interaktifitas yang general serta konteks UI dan kontrol yang dipelajari bertahun-tahun oleh gamer. Hal-hal tersebut membuat coba-coba pencet tombol meski ga ngerti tulisannya bisa dilakukan oleh gamer pada zaman dulu. Mungkin perlu bahasan lebih lanjut lagi kapan-kapan.

Mungkin Marketnya Bukan Kita

Aspek lain yang menarik adalah apakah yang kecewa itu target market game tersebut? Jika sebuah game tidak ada versi bahasa tertentu, maka developernya menganggap si pengguna bahasa tersebut bukan market yang penting sih. Lokalisasi itu mahal. Makanya perlu pilih-pilih agar kalau dilokalisasi di suatu bahasa bisa ningkating penjualan IAP dari pengguna bahasa tersebut. Indonesia setahu saya market yang luas untuk game-game freemium tapi konversi dari free-user ke paying-user nya rendah. Jadi, meski yang main banyak, yang bayar dikit, duitnya juga lebih kecil. Mungkin ada data yang bisa membantah hal ini, tapi sejauh yang saya tahu, ini berlaku untuk game yang umum (kecuali gamenya populer banger-nget).

Jadi, sebenarnya kalau mau suatu game ada versi Bahasa Indonesianya, mungkin lebih masuk akal kalau protesnya bukan lewat review bombing, tapi beli IAP nya. Yah, mau atau tidak, itu terserah.

Kalau gamer Indonesia bukan target marketnya, kenapa kita bisa tahu dan ikut nge-hype soal suatu game? Marketing zaman sekarang memang sepertinya sulit mengisolir suatu kampanye ke market tertentu. Jadi pasti bocor ke market yang FOMO dan ikut ke-hype. Atau memang dimarketkan ke Indonesia buat ningkatin hype global meski tidak diprioritaskan sebagai penghasil duit. Namun, memang, saat informasi suatu produk sampai ke yang bukan marketnya, potensi masalahnya lebih besar (kecuali kalau produknya sendiri yang bermasalah).

Bahasa Indonesia Ala Video Game

Saya sendiri berpikir bahwa idealnya semua game yang rilis di Indonesia menggunakan Bahasa Indonesia. Sejujurnya saya baru kepikiran ini beberapa tahun ke belakang saja. Awalnya adalah karena baca twit yang mengkritik Bahasa Indonesia di Genshin. Bilangnya banyak ‘missed chance’ yang bisa bikin lebih enak kata-katanya. Lalu aku pikir, ‘Loh!? Di Genshin ada Bahasa Indonesianya!??’. Langsung aku coba ubah di setting, lalu baca-baca terjemahannya sebentar, dan mikir, ‘hmm, iya banyak missed chance’. Terjemahan di Genshin, bahkan sampai sekarang, seperti pakai bahasa netizen. Bukan seperti bahasa biasa yang digunakan seorang karakter game dalam setting fantasi.

Lah, emang Bahasa Indonesia yang dipake oleh karakter game itu kayak gimana???

Dan ini nih. Pertanyaan ini yang membuat saya bertahan pake subtitle Bahasa Indonesia di Genshin, dan kedepannya di game-game lain juga kalau ada akan coba pakai Bahasa Indonesia. Saya ingin mencoba ikut membiasakan Bahasa Indonesia dalam kegiatan nge-game dan kalau bikin game. Dan jujur, ini juga yang bikin saya mulai peduli soal bahasa secara umum.

Saya percaya (sebenarnya perlu belajar lagi) bahwa media bisa membentuk bahasa. Jadi, bahasa yang berkembang di kultur gaming bisa mempengaruhi penggunaan bahasa arus utama, seperti penggunaan istilah NPC, noob, dan istilah-istilah lain dalam gaming. Saya juga percaya bahwa kalau ingin game jadi produk budaya dan seni dari suatu kebudayaan, maka harus menggunakan bahasa budaya tersebut. Ya, mungkin banyak yang tidak peduli, karena ya ngapain? Saya juga tidak punya dasar yang kuat.

Namun, saya yakin, bahasa lokal memegang peranan penting kalau ingin video game dianggap jadi sesuatu yang penting.

Kategori
Gaming Diary

Gaming Diary #17 – 2025 05 24

Jalan-jalan di Bandung

Kenapa? Jalan-jalan di sekitaran Braga termasuk main/gaming juga kan? Meski bukan permainan dengan aturan dan lain-lain, saya rasa jalan-jalan di area dengan konteks sejarah dan visual yang unik adalah kegiatan yang menyenangkan. Khususnya bagi anak-anak atau orang yang baru lihat. Bahkan, bagi yang sudah berkali-kali melihatnya, ini kegiatan yang menyenangkan.

Jadi buat saya, jalan-jalan ke daerah Braga, Asia-Afrika, Banceuy, dan Balai Kota bareng keluarga pada hari ini adalah sebuah kegiatan bermain. Setidaknya, kegiatan ini bisa dilabeli oleh dua atau tiga kategori dalam Gamer Motivation Model (oleh Quantic Foundry).

Berjalan-jalan melihat-lihat bangunan tua bersejarah adalah kegiatan eksplorasi yang menarik karena ada cerita juga dibaliknya. Bangunan-bangunan antik sangat gamblang dalam menunjukkan bahwa suatu tempat punya sejarah. Dan saat kita menjejakkan kaki ke dekatnya sambil melihatnya dalam jarak dekat, kita masuk dalam sejarah itu atau setidaknya melihat bahwa sejarah itu nyata. Memang perlu konteks yang diceritakan sendiri agar bisa memahami suatu bangunan lebih dari objek estetik.

Sebenarnya akan lebih baik lagi kalau sebelum melihatnya sudah punya pengetahuan tertentu soal sejarah terkait. Karena itu saya agak heran ponakan saya yang sudah 5 SD sepertinya belum tahu soal Konferensi Asia Afrika. Mungkin juga tidak tahu soal ASEAN. Apa sih yang diajarkan di IPS dan PMP ke anak-anak sekarang? Ponakan saya sebenarnya cukup tertarik soal sejarah dan pingin masuk ke musem Asia Afrika. Sayangnya tempat itu sedang tutup (sejak 21 April).

Berjalan ke tempat-tempat bersejarah dan atau tempat menarik lainnya bisa menjadi hiburan atau permainan yang menyenangkan. Mungkin perlu struktur ‘permainan’ yang lebih teratur agar lebih menarik. Jadi bagus juga kalau ada tur keliling tempat bersejarah di Bandung buat anak-anak yang dilakukan setiap minggu misalnya. Memang sih di Bandung ada Bandros, tapi melihat selewat pake kendaraan dan mengamati sambil jalan itu akan memberi perspektif berbeda.

Tantangannya memang trotoar di Bandung kan ga semuanya bagus. Dan, Bandung tidak punya area ‘kota tua’ yang terkonsentrasi di satu titik. Namun, masih bisa lah dipetakan agar kegiatan jalan-jalan bersejarah atau ‘scavenger hunt’ bisa diadakan. Atau mungkin ada komunitas yang menyelenggarakan ya?

The Nice Park

The Nice Park Bandung adalah objek wisata yang baru memasuki trial opening (jadi tempatnya masih relatif bersih dan bagus, petugasnya masih semangat dan ramah). Informasi jam buka dan harga tiketnya bisa cari di IG. Btw ini tempatnya bukan di Bandung, tapi Cimahi.

Tempat ini terdiri dari mini zoo dan playground. Saya tidak mau bicara banyak soal area kebun binatangnya karena buat saya kebun binatang itu konsep yang problematis dan dilematis, tapi perlu saya khawatirkan dua hal:

  • Beberapa hewan adalah nokturnal. Jadi, waktu tidur mereka diganggu oleh anak-anak yang juga tidak melihat hewan tersebut saat lagi aktif dan menarik.
  • Ada petting area buat kelinci, yang telinganya tajam itu, di dekat playground yang berisik. Yah ga terlalu berisik banget juga sih, buat telinga manusiaku.

Area playground yang ber-rumput sintetis punya banyak wahana dan permainan, mulai dari yang sederhana seperti jungkat-jungkit, serodotan, kora-kora manual, ayunan puter manual, hamster wheel manual, hingga seluncur ban dan flying fox pendek. Semuanya cukup menyenangkan baik untuk anak-anak maupun orang-orang dewasa yang mereka bawa. Sebenarnya, beberapa permainan akan lebih menyenangkan kalau dimainkan bareng orang dewasa. Seluncur ban bisa lebih ngebut dan nabrak kumpulan bean bag di bawahnya sampai bola-bola isiannya muncrat kalau dinaikin orang dewasa bareng bocah.

Hanya saja beberapa permainan tidak diawasi. Misalnya di area main pasir (yang biasanya ada di mall itu). Karena tidak diawasi, anak-anak bebas saja menghamburkan pasir ke luar area meja kotak pasir dan berserakan di lantai sehingga hanya tersisa sedikit saja. Yah, kalau sudah itung-itungan rugi pasir yang jatuh sih, ga apa-apa.

Meski tidak paham bagaimana tempat ini bisa dikelola dan dirawat dengan baik, khususnya karena beberapa penghuninya adalah hewan langka, saya rasa tempat ini bisa menjadi semacam ‘one-stop’ untuk liburan bareng anak-anak ke kota Bandung Cimahi.

Oh, pastikan bawa kendaraan pribadi. Angkot susah, taksi online kalau kesorean juga susah.