Meski sudah menyelesaikan quest yang harus pakai crafting, saya tetap terdorong untuk mencoba-coba membuat benda lewat crafting. Mencari bahan adalah bagian tersulitnya. Meski tahu di mana nyarinya pun sepertinya tetap perlu untung-untungan dapetnya kalau harus diperoleh lewat mulung sampah atau mancing.
Kerja serabutan per jam pun sudah jarang. Entah apakah cukup uang dari berkebun dan crafting. Sepertinya crafting ini arahnya untuk menyelesaikan misi-misi di Balai Desa, tempat yang terbuka kalau sudah beli rumah. Misi-misi di Balai Desa umumnya memerlukan benda-benda yang perlu diperoleh dari crafting (atau beli di toko) dan membuka bangunan baru di Desa Citampi yang memberikan fitur permainan tambahan.
Konten game ini lebih luas dari dugaan. Bahkan saya belum mencoba fitur hewan piaraan. Mungkin didapat dari memberi makan kucing atau anjing liar di sekitar desa.
Saya juga mencoba fitur masak. Dari panduan resep masak, ternyata ada beberapa bahan yang sederhana. Daging tambah arang jadi steak, telur tambah tepung jadi roti, tiga tikus jadi baso, daging tambah daging jad- eh bentar.
… entah gameplay decision apaan ini. Bukan soal imersifitas atau ngajarin gosip ga bener tapi…
…satu micin jadi tiga snack.
Dahlah.
Genshin Impact
Ga banyak main hari ini. Cuma ngabisin resin. Btw versi ini sebenarnya lebih padat konten daripada versi sebelumnya yang sepi (entah itu karena emang kontennya abis atau by design buat slow down biar pemainnya ga cape ngikutin). Hanya saja, rasanya tidak ada sesuatu yang menjadi penanda versi ini. Tidak seperti tahun lalu misalnya versi 3.6 ditandai dengan Akademia Extravaganza dan 3.7 ditandai dengan event kompetisi TCG. Versi 4.6 ini seperti lebih kentara dengan rilis Arlecchino daripada event Iridescent Tour.
Akhirnya berani juga pake coupon nya dan setidaknya untuk kali ini ngurus crafting dulu biar bisa beresin quest. Jadinya beli item-item expendable yang bikin kerjaan crafting dan berkebun lebih cepat dan hemat energi, sama buka akses ke panduan crafting dan panduan cari barang dan bahan. Namun, ternyata harus bayar coupon tiap kali buka panduan. Jadi, kalau ga bisa inget informasi dari panduan, pemain bakal buka berkali-kali.
Kalau lihat ini jadi kepikiran dua hal:
Rp 16.000 buat beli 5.000 coupon mungkin ga kemurahan, pemain sepertinya didorong untuk berkali-kali beli ini
Saya jadi merasa kalau beli panduan bukan gameplay ‘normal’ dari game ini. Seperti gamenya bilang kalau normalnya pemain perlu eksperimen sendiri buat nemu resep crafting. Namun, gamenya sendiri mendorong pemain untuk beli karena bakal sangat sulit melakukan crafting tanpa panduan.
Di sisi lain, crafting dan berkebun sebenarnya gameplay opsional sih, kecuali kalau ada quest yang ngeharusin bikin benda lewat crafting. Cari duit dengan kerja serabutan aja masih bisa banget, dan ini mungkin ga didorong buat ngabisin copupon.
Genshin Impact
Hari ini nyobain (dan beresin) event Windtrace. Berdasarkan komen di medsos, umumnya pemain Genshin ga terlalu suka main multiplayer, tapi Windtrace adalah salah satu event minigame multiplayer yang selalu ditunggu-tunggu.
Windtrace pada dasarnya main petak umpet. Tiga pemain berperan sebagai ‘pemberontak’ yang lari dan sembunyi, satu pemain lain berperan sebagai ‘pemburu’ mengejar ketiga pemain lain untuk ditangkap dalam waktu tertentu. Jika waktu habis, pemberontak menang, sedangkan jika semua pemberontak ditangkap, pemburu menang.
Kali ini, aturannya diubah. Pemberontak harus mengaktifkan empat mesin di area permainan agar menang, sedangkan pemburu akan menang jika waktu habis atau menangkap semua pemberontak. Ini membuat pemberontak tidak cukup hanya sembunyi di tempat yang sulit dijangkau untuk menang dan harus lari-lari untuk mengaktifkan mesin sambil menghindar. Di sisi lain, pemburu juga jadi harus lari ke sana ke mari untuk mencegah mesin diaktifkan sambil menangkap pemberontak.
Menurut beberapa komen di medsos, ini membuat permainan cenderung lebih menguntungkan pemburu. Memang sebelumnya Windtrace terlalu mudah buat pemberontak. Saya kurang sependapat dengan itu. Mungkin karena skill issue di sisi saya, tapi saya hanya pernah menang sekali sebagai pemberontak dan itu juga sangat repot. Jadi, cukup balance :p .
Cukup menarik memang bagaimana permainan bisa jadi sangat berbeda dengan mengubah beberapa aturan.
Hades
Belum menemukan hal yang baru lagi, tapi bos di Elysium susah sekali ya. Death Defiance seringkali habis sekaligus di sini. Btw saya rasa game ini lebih mengutamakan serangan jarak jauh daripada serangan frontal dari dekat.
Hari ini cuma sempat main game ini dan belum menemukan hal baru lagi selain berhasil nembus Temple of Styx untuk menghadapi Hades. Meski masih lebih suka bereksperimen sesuka hati, penasaran juga sebenarnya kombinasi Boon apa saja yang paling bikin karakternya terasa kuat. Memang ada fitur-fitur upgrade yang permanen yang kayaknya lebih ngaruh buat memudahkan permainan, tapi perlu farming material banyak. Seperti upgrade aspect senjata yang perlu Titan Blood, yang agak sulit didapatkan.
Cara untuk mendapatkannya adalah mengalahkan bos level Tartarus, tapi itu juga kadang-kadang ga dikasih. Mungkin perlu Give Up berkali-kali sehabis menyelesaikan Tartarus atau sebelum melawan boss kalau bonus materialnya bukan Titan Blood agar lebih cepat farming materialnya. Saya sepertinya tidak begitu suka gaya bermain seperti itu
Dengan Titan Blood yang terbatas rasanya tidak mungkin nge-upgrade semua senjata. Jadinya lebih hati-hati kalau mau upgrade senjata. Mending upgrade dikit semuanya atau fokus di satu senjata aja?
Hari ini ngabisin resin pake melawan bos mingguan dan beresin event quest. Entah kenapa bos terbaru ‘The Knave’ pas ngomong tidak ada subtitlenya, ga kaya ‘The Balladeer’, “La Signora’, dan ‘Childe’. The Knave ini pola serangannya sebenarnya cukup mudah, tapi sekalinya kena cukup sakit. Tambah lagi ada beberapa serangan yang memberikan efek Bond of Life yang cukup nguras HP dan katanya sih bisa dilepas kalau nyerang pakai charge attack, tapi beberapa kali pakai charge attack ga lepas juga. Meski demikian, dibanding ‘The Balladeer’ atau ‘Raiden Shogun’, bos ini lebih tidak sulit atau ngerepotin (kalau ga ada masalah ping gede atau stick macet seperti yang saya alami).
Event Quest Iridescent Tour ini serasa pendek. Storynya cuma dua bagian dari yang biasanya tiga bagian atau lebih. Konten minigamenya sebenarnya lumayan, tapi meski memiliki cutscene, skala event nya terasa sekecil event potion dan cat café di update sebelumnya. Sejak Lantern Festival terakhir, rasanya tidak ada event dengan skala besar, konten banyak dan cerita yang panjang dan memberikan dampak pada karakterisasi. Bahkan, Lantern Festival terakhir juga skalanya terasa lebih kecil daripada Lantern Festival tahun-tahun sebelumnya.
Mungkin cuma perasaan saja, tapi menarik juga untuk meneliti perkembangan event belakangan ini atau perubahan persepsiku sebagai pemain lama terkait event.
Btw, di event ini ada interaksi karakter yang hanya muncul di waktu tertentu pada jangka yang singkat dan banyak pemain melewatkannya. Saya juga cukup kesal, meski tidak ada dampak gameplay yang signifikan. Adegan interaksinya bisa ditonton di YouTube, tapi kenapa saya merasa harus mengalaminya langsung?
Hades
Sekarang agak sulit nembus Elysium. Namun sudah berkali-kali sesi permainan, nampaknya stok dialog game ini belum habis. Memang setiap dialog dibatasi. Ga ada percakapan dua karakter atau lebih yang bolak-balik sampai puluhan kali. Paling banter mungkin lima kali-an dan umunya hanya satu kali. Mungkin, ini yang bikin dialognya ga abis-abis dan copywriternya bisa nyetok banyak dan ngasih eksposisi cerita dikit-dikit dicicil.
Isi codex yang mengandung banyak informasi terkait karakter, musuh, dan benda-benda dalam permainan juga dibikin mudah dibaca dengan menyorot bagian yang baru muncul sehingga pemain bacanya bisa nyicil. Meski demikian, codex ini dibuat sebagai buku catatan pribadi Achilles, sehingga kalimat dan POV penulisannya agak bikin pemilihan katanya sulit dipahami.
Btw, masih ada satu bagian lagi dari codex ini yang belum kebuka sama sekali.
Battle of Souls
Code Atma, game bikinan Agate Studio yang cukup populer di kalangan gamer lokal, kini lahir kembali dengan nama Battle of Souls. Sepertinya begitu. Meski dulu saya sempat mengelola operasional game ini, saya belum dapat info orang dalam mengenai ini. Lihat-lihat di forum, ada beberapa yang beda meski secara umum sama. Di Google Play, developer/publisher-nya adalah Pixel Revolution Inc.
Saya baru nyoba buka sampai tutorial awal saja, jadi belum lihat-lihat lebih jauh lagi. Jadi sejauh yang saya mainkan, gameplaynya masih sama, AFK RPG. Tutorialnya masih sama, mengenalkan konsep skill, row, dll. Dan, adegan pembukanya masih sama. Mungkin besok-besok saya lihat lebih jauh lagi.
Berhasil membuktikan kalau minigame rhythm memang lebih baik pake touch screen. Musik yang baru, langsung level Master, dapet rank Discantus (lebih dari 90%). Dan itu mainnya sambil rebahan di kasur pakai satu tangan.
Mungkin yang saya sadari adalah, sulit untuk tidak pindah ke ‘mode dua jari’ saat bermain. Saat bermain game rhythm menggunakan keyboard atau stick, jari saya sudah ‘dikunci’ atau ‘ditugaskan’ pada tombol-tombol tertentu sehingga semua jari pasti akan kepakai main. Masalahnya, meski saya tahu tombol mana yang perlu ditekan, kadang saya lupa jari mana yang ditugaskan di tombol tersebut.
Pada touch screen, jari saya tidak terasa terkunci di satu tombol sehingga kalau kalau lupa jari mana yang lebih deket ke tombol, bisa pakai jari yang paling aktif (telunjuk kiri dan kanan). Tambah lagi, gambar not dan tombol pada dasarnya sama sehingga ga perlu terlalu mikir lagi.
Kalau saya lebih jago bermain piano atau ngetik pake keyboard, mungkin saya bisa lebih jago lagi. Yang jago keduanya sudah terlatih untuk membuat semua jari tangan lebih aktif dan koordinatif.
Hades
Berhasil melewati Temple of Styx dan melawan Hades, lalu kalah. Setelahnya, masih ada lagi variasi dalam permainan khususnya di level pertama dengan munculnya musuh dan miniboss baru. Sepertinya variasi musuh di level pertama ini dibikin paling kentara karena setiap pemain pasti ngulang dari sini lagi tiap main. Jadi, biar ga bosen, dibikin variasinya lebih banyak.
Minigame mancing juga mulai saya coba dan cukup bantu progress karena bisa dituker jadi item. Lalu ada ruangan administrasi yang baru dibuka dengan membayar item dan menyimpan fitur untuk menampilkan detail data tiap sesi bermain.
Sepertinya konten game ini masih ada lagi yang belum terbuka.
Ga main game apapun hari ini. Mau curhat aja terkait sikap para gamer belakangan ini, mulai dari kecenderungan rasis, misogini, fanatik, toksik, self-entitled (ah apalah dalam bahasa Indonesia), dan mengarah pada kriminal. Ya, mungkin saya hanya menghakimi dari minoritas (?) di media sosial dan berita, sedangkan orang-orang di sosial media dan yang masuk berita adalah yang rasis, toksik, kriminal, dst. Namun, perasaan bahwa gamer (khususnya gamer lokal) bukanlah model manusia yang ‘pantas’ masih terbawa di benak saya sehingga membuat saya ragu kalau mau terjun ke industri game. Saya harus ‘menghibur’ orang-orang seperti itu? Yang benar saja.
Apakah video game yang berperan membikin orang-orang jadi setoksik itu? Atau hanya menjadi wadah bagi bocah kematian yang memang salah asuh dari awal? Apakah media jurnalisme game juga berperan menjadi wadah buat gamer-gamer toksik bersuara dan menjadi standar normal kepribadian komunitas gamer?
Atau mungkin saya salah. Kebanyakan gamer tidak seperti itu. Atau mungkin saya benar, tapi saya bisa mengubahnya. Caranya, dengan membuat game yang bukan untuk orang-orang seperti itu, tapi untuk orang-orang baik; gamer atau pun bukan.
Atau, bikin game untuk orang-orang seperti itu agar jadi sedikit lebih baik? Hah. Kalau sebuah produk bisa bikin orang lebih baik, orang baik bakal lebih banyak. Atau memang sudah lebih banyak ya?
Sepertinya saya terlalu membesar-besarkan masalah dan mengawang-ngawangkan solusinya. Namun, saya percaya bahwa kata-kata punya kekuatan. Setiap karya media massa punya pengaruh. Mungkin alih-alih selalu dikendalikan oleh data terkait nafsu dan ego pemain, pengembang bisa lebih menyadari kemampuannya dalam mempengaruhi pemain.
Belakangan hanya main Hades dan Genshin Impact. Rasanya ‘gatal’ yang saya rasa cuma bisa digaruk pakai itu. Sedangkan game yang masih ingin saya coba seperti Citampi Stories dan Paper, Please belum saya mainkan lagi. Rasanya malas. Kenapa ya?
Malas main game tertentu saya rasa ada alasannya masing-masing. Untuk Citampi, saya merasa kalau main itu lagi harus mikir lebih keras buat mengisi hari dengan optimal. Apalagi sudah beli 5.000 coupon yang harus dibelanjakan dengan hati-hati agar tidak mubazir ke progress permainan.
Sedangkan untuk Paper, Please, saya malas main karena game ini benar-benar menuntut kesigapan kita menghadapi situasi dalam tekanan mental dan waktu. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, game ini beban moralnya tinggi. Jadi, perlu meluangkan waktu dan energi untuk siap memainkannya. Juga, mungkin dengan menurunkan standar moral, atau segera close program dan buka lagi setelah melakukan kesalahan bisa mengoptimalkan waktu saya agar bisa lebih cepat tamat.
Yang Digaruk oleh Kedua Game Ini
Game aksi pertempuran sebenarnya bisa sangat melelahkan. Namun kalau tidak lagi cape, saya rasa gameplay pertempuran di kedua game ini adalah yang paling memuaskan. Ada kesamaan pola pikir yang sering saya gunakan di kedua game ini, yaitu coba-coba. Di Genshin saya sering bereksperimen dengan kombinasi karakter agar tidak bosan menggunakan komposisi karakter yang itu-itu saja. Saya selalu ingin mencoba agar karakter selemah apapun tetap bisa berguna dalam tim yang tepat dengan penggunaan yang tepat pula.
Namun, saya tidak terlalu tertarik untuk cape-cape mikirin agar semua karakter di-build dengan optimal, atau menggunakan artefact dan senjata yang tepat. Saya melakukan itu agak ngasal dan mikir kalau sempat saja. Bahkan, meski ada fitur panduan untuk ngebuild karakter, saya hampir tak pernah pakai. Rasanya kalau terlalu ngikut panduan jadi terlalu membatasi kebebasan bereksperimen.
Begitupun di Hades, saya selalu mikir ‘pakai senjata apa kali ini?’ atau ‘ah, kali ini mau fokus dapet boon dari Athena’ atau ‘ah, kali ini mau coba fokus pakai cast’. Meski demikian, pilihan saya di game ini agak dikendalikan oleh bonus pendapatan Darkness pada senjata dan sistem Fates yang akan memberikan bonus jika sudah melakukan hal-hal tertentu dalam game (misal, pernah mengambil semua boon dari Dionysus). Meski rasanya ada pola tertentu dalam pemilihan senjata, upgrade karakter, pilihan boon, pilihan artifact, dan lain-lain yang lebih bisa membantu saya bermain dan bertahan hidaup sampai jauh, saya tidak terlalu mikir. Saya selalu tergoda untuk coba-coba pakai cara bermain yang berbeda,
Jadi, kesimpulannya, saya lebih suka bereksperimen, dan tidak terlalu suka mikir untuk mengambil keputusan. Lucu juga karena keduanya bisa digabung untuk pengalaman bermain yang lebih positif, sepertinya.
Mari bicara soal controller. Khususnya terkait minigame ryhthm di event kali ini. Stick adalah controller terbaik untuk bermain game, secara umum. Keyboard bagus untuk game RTS, FPS, dan game-game lain yang butuh akurasi saat memilih objek dan UI atau membidik target tembakan. Namun, khususnya pada keyboard laptop, posisi bermain jadi tidak enak. Kalau pakai stick, bisa main sambil nyender dan jaga jarak dari layar, meski ga enak buat milih UI atau bidik sasaran.
Touch screen sebenarnya jelek karena tidak ada sensasi sentuhan yang bisa memberi tahu pemain tombol apa yang disentuh. Namun, masih oke untuk UI karena tidak perlu mengarahkan kursor atau mengingat shortcut. Lihat tombol, tinggal sentuh. Membidik pun masih lebih oke daripada stick.
Sedangkan untuk game rhythm yang mengharuskan menyentuh daerah tertentu di layar, touch screen terasa sempurna dan alami. Tinggal memposisikan jari di dekat tempat keluarnya nada lalu sentuh pada saat yang tepat. Meski masih keitung susah, tapi masih doable.
Saya mencoba minigame rhythm menggunakan keyboard maupun stick rasanya sangat susah! Saya memang tidak biasa main game rhythm khususnya di PC, tapi mengingat tombol yang bisa digunakan dan kapan ditekannya harusnya tidak sesulit ini. Tapi begitulah, ini seperti orang yang bukan musisi mencoba main musik :D. Atau mungkin ini cuma skill issue yang bisa diobati dengan ‘git gud’.
Hades
Berhasil lewatin Elysium dan masuk ke Castle of Styx. Lalu kalah sama tikus… Yup. Bukan tikus mitologi macem-macem, tapi tikus got biasa. Game ini masih saja memunculkan hal-hal yang baru.
Yang semakin menarik adalah visual dan ceritanya. Landasan mitologi Yunaninya dibikin subversif dengan modern dan menarik, termasuk karakter-karakternya. Namun, agak sulit menjelaskan subversinya kalau tidak punya konteks wawasan terhadap cerita-cerita dalam mitologi Yunani. Mitologi Yunani adalah salah satu produk budaya yang berhasil dipopulerkan negara-negara Barat sejak dahulu kala, mungkin bersamaan dengan penyebaran ide-ide filsafat dan demokrasi. Meski demikian, itu bukan hal yang wajib diketahui oleh orang-orang di luar Barat. Seingatku, di sekolah hanya disebut sekilas. Bahkan, media yang berdasarkan mitologi Yunani terawal yang saya tahu (Saint Seiya) tidak terlalu membahas soal dewa-dewi Olympus dan semacamnya.
Saya jadi kepikiran kalo target market game ini sebenarnya keitung niche juga karena orang yang familiar dengan mitologi Yunani tidak terlalu banyak. Sekarang, bayangkan bikin game dengan mitologi atau folklore lokal. Target marketnya bahkan terlalu kecil untuk disebut niche. Banyak orang yang sudah lupa.
Game ini masih menyimpan banyak konten baru setelah lebih dari 20 kali percobaan kabur dari Underworld. Misalnya, ada tantangan acak di mana Thanatos akan muncul dan berlomba dengan pemain untuk mengalahkan lawan lebih banyak. Jika pemain mengalahkan lebih banyak lawan, ia akan dapat bonus.
Senjata terakhir juga baru bisa kubuka hari ini, yaitu sebuah senapan mesin… di game berlatar mitologi Yunani. Mungkin ini adalah senjata yang paling sulit digunakan. Pelurunya terbatas sehingga perlu ada jeda untuk isi ulang dan serangan special nya agak sulit diarahkan. Boon tertentu akan mengupgrade senjata tersebut jadi lebih bagus, misalnya pelurunya jadi tidak terbatas. Namun, damagenya masih terlalu kecil untuk terasa sebagai senjata yang kuat. Sepertinya hanya untuk orang yang ingin tantangan. Kalau fokus mengambil boon dan item yang tepat bisa jadi lebih terasa kuat.
Genshin Impact
Masih hanya aktivitas rutin dan memainkan mini game event. Ada minigame melengkapi nada yang hilang dari lagu. Sebenarnya sangat mudah kalau brute force coba-coba nada dari pilihan yang ada, tapi saya tertantang untuk nebak sekali jalan dengan mendengarnya saja. Yah, ga punya natural perfect pitch pun sepertinya masih cukup mudah untuk itu. Btw, sistem notasi musik di Genshin memang sama dengan not balok ya?
Satu lagi yang saya sadari, ternyata banyak talent karakter Mondstadt dan Liyue yang saya dapat pas awal-awal main Genshin yang belum di level up sampai mentok sesuai levelnya. Mungkin perlu waktu khusus farming material talenta untuk karakter Mondstadt kapan-kapan. Entah kenapa karakter ini banyak yang belum ke-level up. Mungkin keburu nge-build karakter yang lebih baru. Namun, kebanyakanpas awal main sudah cukup berguna meski salah build atau ga beres di level up.
Hanya main sebentar untuk menghabiskan jam kerja dan energi di sisa hari yang ada. Karena perlu bahan-bahan untuk bikin benda keperluan quest, saya habiskan waktu dan energi karakter untuk mancing dengan pancing khusus yang bisa sekalian nangkap sampah. Meski belum ada petunjuk juga bahan yang diperlukan itu dapatnya dari mana.
Jadi kepikiran, kalau dulu saya dapat petunjuk seperti itu dari mana? Dulu saya senang baca majalah game untuk dapat cheat atau trik rahasia dan kadang ada juga panduan seperti resep crafting atau masak dalam sebuah game yang ada fitur crafting dan masak. Apakah dulu saya juga pake itu buat tahu resep masak di game semisal Harvest Moon?
Buku panduan bermain game, baik terbitan tidak resmi developer/publisher nya maupun panduan yang datang berbarengan dengan salinan fisik game nya, sudah jadi bagian dari game sejak lama. Namun, apakah desain sebuah gameplay selalu mempertimbangkan adanya buku panduan atau majalah? Bagaimana saat internet mulai populer digunakan untuk mencari panduan bermain?
Mengingat hal ini, saya jadi merasa konyol sendiri berpikir bahwa semua informasi tentang game harus ada di dalam game nya itu sendiri. Jadi, apakah menyediakan panduan dalam game yang bisa dibuka dengan bayar currency premium (di game ini namanya coupon, sebelumnya aku salah nyebutnya ticket :p) adalah desain yang baik? Apakah pemain lebih baik cari guide nya di internet? Atau, apakah membiarkan pemain cari tahu sendiri soal resep, lokasi bahan, waktu keluarnya jenis ikan tertentu, dll. lewat coba-coba dan bereksplorasi sendiri dalam gamenya?
Akhirnya jadi pilihan pemain mau cari guide di internet atau eksplorasi di gamenya sendiri. Namun, kalau saya bikin game sejenis, saya tidak tahu mana yang lebih baik.
Akhirnya lagi, saya beli item in-app 5.000 coupon seharga Rp 16.000 (belum termasuk pajak). Masih kemurahan menurutku, tapi baru akan terasa sepadan atau tidaknya setelah saya coba pakai.
Genshin Impact
Hari ini lebih banyak ngabisin resin buat battle. Lawan 4 bos mingguan cukup buat ngabisin 150 resin (30 x 3 + 60). Lawan boss mingguan meski lama dan susah semakin diperlukan untuk material level up karakter dan material bikin senjata (kalau hoki), jadi tiga kali per minggu sepertinya akan kurang. Sisanya, ngabisin condensed resin buat farming material di domain.
Battle merupakan bagian yang paling memuaskan (sekaligus melelahkan) di Genshin Impact. Mencoba beragam kombinasi karakter dan menemukan loop penggunaan skill yang efektif untuk mengalahkan musuh tertentu selalu memberikan kepuasan tersendiri. Terlebih kalau menemukan kombinasi yang unik dan membuatku berpikir ‘Hmm, ternyata bisa ya ngalahinnya pakai cara ini. Lambat sih, tapi menarik.’ Sayangnya, kalau koneksi internet lagi bapuk, ping gede, pergantian karakter delay berdetik-detik, dan bahkan damage-nya delay, rasanya pingin banting stik.
Btw saya mulai Event Quest Iridescent Tour dan menemukan masalah dalam cerita. Di event ini, Itto dan Jendral Gorou bekerjasama untuk mengadakan konser di Pulau Watatsumi dan Paimon kaget mereka bisa kenal. Ini tidak konsisten dengan cerita di event Akitsu Kimodameshi di mana Itto, Gorou, dan Paimon sudah pernah bertemu dan berinteraksi (meski Gorou tidak mengenalkan diri sebagai Jendral).
Akibatnya, saya jadi berpikir kalau cerita-cerita di event tidak canon. Artinya, dalam rangkaian cerita Traveller/Pengembara menjelajahi berbagai negara di Teyvat, Scaramouche tidak pernah bertemu Mona, Collei tidak pernah berteman dengan Sucrose, dan Freminett tidak pernah membantu seorang ibu dengan kelainan mental untuk menerima kematian anaknya.
Event quest memang sifatnya opsional, jadi ceritanya mungkin sengaja dibuat agar tidak memerlukan konteks dari cerita opsional lain atau diperlukan untuk memahami potongan cerita lain di game ini. Sehingga, pemain yang baru gabung tidak merasa ketinggalan meski kelewat event yang hanya bisa diakses sekian waktu saja.
Awalnya, saya selalu ingin agar event-event temporer memiliki cerita agar saya bisa tertarik. Namun, akibatnya akan ada pemain yang kelewat cerita tertentu karena baru mulai bermain. Jadi yah, mungkin bukan salah model live servicenya, tapi memang sebaiknya tidak ada cerita yang canon di event. Konon, bakal ada fitur untuk mengakses event-event lama di Genshin agar bisa ngikutin ceritanya.
Btw, ada satu karakter di event quest ini, Dvorak, yang masih ingat pernah ketemu Pengembara dan Paimon di Lantern Rite Festival. Jadi… hanya Akitsu Kimodameshi yang tidak canon? Entahlah mungkin bad-writing saja.